Annanta

Annanta
Minta Izin



Anta menatap jam yang menempel di dinding dapur. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Gadis itu mengikat rambutnya yang tadi ia keramas, lalu memakai celemek, hendak memasak makan malam. Bi Ijah izin pulang cepat hari ini, hingga Anta sendiri yang akan mengurus makan malam. Beruntung, Evan sedang tertidur sekarang.


"Mas El pasti sampai sebentar lagi." Gumam Anta.


Saat tangannya bergerak memotong wortel, handphone miliknya berdering. Anta menghentikan kegiatannya dan meraih handphonenya. Panggilan masuk dari adiknya, Tiara.


"Hallo,"


"Hallo, Kak Anta."


"Tiara, ada apa, dek?"


"Kak, Kakak nggak lupakan besok sekolah Tiara barangkat ke tempat camping?"


"Iya, dek. Kakak nggak lupa. Kakak juga niatnya mau telpon kamu setelah masak."


"Syukurlah Kakak nggak lupa."


"Kakak nggak akan lupa. Sebentar Kakak transfer in uang jajan, ya?" Meskipun Elvano dingin dan acuh padanya, lelaki itu tidak pernah lupa memberinya uang bulanan. Anta tidak begitu menggunakannya karena semua kebutuhan rumah sudah terpenuhi, tanpa harus menguras uang bulanannya.


"Nggak usah, Kak. Tiara udah dapat dari Ibu." Balas anak itu. Ibu yang ia maksud adalah Bu Devita. Wanita itu memenuhi semua kebutuhan kedua adik Anta. Dia bahkan selalu menyempatkan diri menemui anak-anak itu sebulan dua kali.


"Itu dari Ibu. Dari Kakak tetap dari Kakak."


"Iya, deh. Tiara nurut aja. Tapi, Tiara mau minta tolong sama Kak Anta."


"Ada apa?" Anta meletakkan handphonenya di meja lalu memulai kembali kegiatan memotong wortel nya. Ia menghidupkan speaker agar bisa mendengar lebih jelas saat Tiara berbicara.


"Kak Anta pulang, ya? Temenin Ricky. Pelayan yang Ibu kirim lagi sakit. Nggak bisa jagain Ricky. Tiara segan mau ngomong sama Ibu. Kita udah banyak ngerepotin Ibu."


"Iya, Kakak pasti pulang." Jawab Anta, mantap. Ia yakin, Elvano tidak akan melarangnya. Dia bukan orang penting bagi Elvano. Ada atau tidak dirinya di rumah ini, tidak akan berpengaruh apa-apa. Tapi, bagaimana dengan Evan? Tidak, Evan punya Elvano disini. Anak itu akan baik-baik saja. Itu yang Anta pikirkan.


"Kakak benaran? Suami Kakak nggak marah?"


"Benaran, dek. Suami Kakak nggak akan marah." Balas Anta. Hingga sekarang, Tiara dan Ricky tidak tahu bagaimana hubungan ia dan Elvano. Biarlah menjadi rahasianya sendiri.


"Evan gimana?"


Anta terdiam. Ia akui, ia memikirkan putarnya itu. Walaupun keberadaan nya tidak berpengaruh apa-apa bagi Elvano, tapi tidak bagi Evan. Namun, Anta tidak bisa berbuat apa-apa. Elvano sudah pasti tidak mengizinkan nya membawa Evan.


"Tenang saja. Evan anaknya nggak rewel. Cuman 4 hari kan, kamu kemahnya? Lagian ada Papanya disini. Pasti dia baik-baik saja."


"Maafin Tiara, ya."


"Nggak apa-apa, dek."


Setelah beberapa menit berbincang, Tiara mengakhiri panggilannya. Anta melanjutkan acara memasaknya dengan serius. Hingga tanpa ia sadari, Elvano sudah pulang. Lelaki itu kini berdiri menatapnya dari arah pintu dapur. Anta yang membelakanginya tetap fokus pada apa yang ia kerjakan.


Senyum tipis tersungging di bibir Elvano. "Cantik." Gumamnya. Ia akui, Anta begitu cantik. Entah sudah berapa kali ia memuji gadis itu. Namun, ia merutuki dirinya yang selalu bersikap dingin dan acuh pada Anta. Dan sekarang, ia tidak tahu bagaimana cara mendekati Anta. Mungkin gadis itu tidak suka padanya karena sikap yang ia tunjukkan selama ini.


Elvano memasuki dapur dan berhenti di depan kulkas. "Buatkan saya kopi, Anta!"


Suara Elvano mengejutkan Anta. Gadis itu refleks berbalik dan mendapati Elvano membuka pintu kulkas lalu mengeluarkan sebotol air dingin.


"M-Mas El kapan sampainya?"


"5 menit lalu." Balasnya tanpa menoleh pada Anta. Lelaki itu meneguk airnya.


"Mas El minta dibuatkan kopi?"


"Hmm..." Jawabnya, hanya berdehem. "Antarkan ke ruang kerja."


"Iya, Mas."


"Dimana Evan?"


"Kenapa kamu masak sendiri? Dimana Bi Ijah?"


"Bibi izin sore tadi. Ada urusan keluarga, penting. Dia harus pulang."


Elvano mengangguk. Tanpa sepatah kata lagi, laki-laki itu berlalu dari dapur, menuju kamarnya.


"Lebih baik, setelah makan malam, baru aku bicarakan soal Tiara." Gumam Anta.


***


Setelah makan malam, Anta ke kamar Evan dan Elvano memilih menonton televisi di ruang tengah. Meski tatapannya ke televisi, tapi pikiran Elvano tertuju pada kejadian saat di ruang kerja tadi, ketika Anta mengantarkan kopi untuknya. Itu adalah kali pertama ia tidak marah saat salah satu dokumennya rusak. Ia malah merasa gemas dengan wajah panik Anta yang tak sengaja menumpahkan kopi ke dokumennya.


Elvano mengulas senyum saat membayangkan wajah lucu Anta.


"Mas El." Panggilan lembut itu mengusik pendengaran Elvano, dan membuatnya menoleh. Ia melihat Anta berdiri tak jauh darinya sambil menunduk, tak berani menatap mata Elvano.


"Ada apa?" Nada bicaranya dingin dan terkesan acuh.


Anta mendekat lagi dan duduk di sofa panjang, tempat yang sama dengan Elvano duduk. Wajahnya masih tertunduk takut.


"Ada apa?" Tanya Elvano sekali lagi.


"I-itu, aku mau minta izin sama Mas El. Aku mau nginap di rumah lamaku."


Elvano terdiam. Mood nya menonton seketika hilang. "Untuk apa?"


"Tiara ada acara camping dari sekolah. Kasihan Ricky, dia sendiri. Jadi Tiara minta bantuan aku jagain Ricky di rumah."


"Pelayan Mama?"


"Pelayan Mama lagi sakit. Nggak bisa jagain Ricky."


Elvano memfokuskan tatapannya pada layar televisi. "Pergi saja!" Ujarnya, acuh.


Anta mendongak menatap Elvano dengan senyum mengembang. "Benaran, Mas?"


"Hmm... Tapi, tanpa Evan."


Seketika senyum Anta meredup. Baru saja ia ingin meminta izin lagi untuk membawa serta Evan. Tapi, Elvano sudah memperingatinya lebih dulu.


Anta menarik nafasnya lalu menghembuskan nya. "Anta akan pergi sendiri." Gadis itu memaksakan senyum.


"Kapan berangkat?" Tak Anta sangaka, Elvano menanyakan kapan ia pergi. Apa lelaki itu benar-benar tidak suka dia ada di rumah itu?


"Besok pagi, Anta berangkat."


Elvano hanya mengangguk dengan tatapan masih fokus pada layar televisi. Jujur saja, ia tidak ingin melihat wajah gadis di sampingnya ini. Bisa-bisa ia mengubah keputusannya untuk tidak membiarkan Anta pergi. Sebenarnya, dia sudah menahannya sejak tadi. Rasanya tidak rela kalau Anta pergi.


"Kalau begitu, aku ke kamar dulu, Mas. Terima kasih."


"Hmm..." Dehemnya lagi.


Setelah ditinggal Anta ke kamar, Elvano memilih terus berdiam diri di ruang tengah. Hingga jam 12 malam, ia kembali ke kamarnya.


Setiba di kamar, mata Elvano tertuju pada tas kecil milik Anta. Elvano tebak, isinya pasti beberapa barang yang Anta perlukan saat di rumahnya nanti. Laki-laki itu mendengus kesal. Tatapannya kemudian beralih pada Anta yang tertidur. Ia mendekati ranjang dan menaikinya. Tubuhnya ia geserkan lebih dekat pada Anta.


"Apa dia sudah benar-benar tertidur?" Gumamnya. Tangannya terangkat dan melambai-lambai di depan wajah Anta. Tidak ada respon, membuat Elvano mecoba memastikan sekali lagi. Laki-laki itu kemudian mengusap pipi Anta. Pipi gadis itu lembut. Itu yang Elvano rasakan. Erangan kecil Anta membuat Elvano menjauhkan tangannya.


"Anta?" Elvano mencoba memastikan sekali lagi. Tidak ada jawaban membuat lelaki itu yakin, Anta memang benar-benar tertidur.


Senyum tipis muncul di bibir Elvano. Dengan kedua tangannya, Elvano menggeser Anta ke ranjang bagiannya, lalu ikut berbaring sambil memeluk gadis itu.


"Karena besok kamu pergi, aku ingin memelukmu semalaman." Gumam Elvano, mulai memejamkan matanya.