
Malam semakin larut. Elvano langsung mengatar Bi Ijah ke rumahnya, setelah menjemput wanita paruh baya itu bersama Evan di rumah sang Mama. Setelah memastikan Bi Ijah masuk rumah, Elvano kembali melajukan mobilnya menuju rumah. Karena jarak rumah Bi Ijah dan rumahnya cukup dekat, tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai.
Ketika sampai, Anta turun dan langsung membawa Evan yang sedang digendongnya masuk rumah. Gadis itu langsung membawa Evan ke kamarnya.
"Nyenyak sekali tidurnya. Sepertinya dia sangat lelah." Gumam Anta sambil menatap Evan yang terlelap. Ia lalu mengusap rambut Evan. "Aku nggak nyangka, kamu bisa sangat dekat denganku. Walaupun orang bilang, nggak susah mengabil hati anak kecil. Tapi bagiku, tidak semudah yang mereka katakan. Bayi kecil sepertimu juga memiliki perasaan menolak dan menerima seseorang. Aku pikir akan sangat sulit membuatmu menerimaku. Ternyata aku salah. Kamu bahkan dekat denganku." Ucap Anta.
Aku harap, semoga kita saling menyayangi sampai kapanpun, meski aku sudah tidak bersama Papamu nanti. Lanjut Anta dalam hati.
Setelah berdiri cukup lama, Anta bergegas kembali ke kamar Elvano. Langkahnya perlahan memasuki kamar tersebut dan menutup pintu. Ia mengendap-endap menuju ranjang saat melihat Elvano duduk di sofa sambil memejamkan matanya.
"Mau maling?"
Deg...
Anta terpaku di tempat sambil meneguk salivanya. Ia seperti maling yang tertangkap basah oleh pemilik rumah.
"Anta,"
"I-iya, Mas." Perlahan gadis itu berbalik menatap Elvano. Keningnya mengerut ketika melihat Elvano masih memejamkan mata. Anta mendekat, sambil mengamati Elvano.
"Mas," Panggilnya, ragu.
"Mas El." Tidak ada jawaban. Anta sedikit menunduk, memastikan jika Elvano benar-benar tertidur.
"Apa?"
Deg...
Anta spontan menjauhkan tubuhnya dari Elvano. Dia sangat terkejut saat Elvano tiba-tiba bangun. Wajah terkejut Anta sangat lucu sehingga memicu kekehan kecil Elvano.
"Mas El jahat, tau nggak?" Tiba-tiba Anta membentak dengan mata berkaca-kaca.
Seketika Elvano menghentikan kekehannya dan berdiri. "Anta..."
Tanpa mendengar ucapan Elvano, Anta meninggalkan lelaki itu begitu saja dan memasuki kamar mandi.
"Kenapa aku dibilang jahat?" Gumam Elvano pelan. Laki-laki itu kembali duduk, namun matanya terus menatap kamar mandi. Setelah beberapa menit Anta tidak keluar, Elvano mendekati kamar mandi. Ia sedikit khawatir dengan gadis itu.
Tok... Tok... Tok...
"Anta?" Tidak ada respon dari si gadis.
"Anta." Hasilnya masih sama, membuat Elvano mendengus pelan.
"Anta, kalau kamu nggak jawab saya, saya dobrak pintunya."
"An..."
Ceklek...
Gadis itu menyembulkan kepalanya dari balik pintu, sementara bagian tubuhnya dari pinggang hingga kaki berada di balik pintu.
"M-Mas,"
"Apa? Kenapa kamu katain saya penjahat?"
"Maaf, Mas. Itu karena aku nggak suka dikejutkan seperti tadi." Anta menunduk kan wajanya. Dia benar-benar nggak sengaja mengatai Elvano.
"Terus, kenapa seperti ini? Bisa kan, kamu berdiri tegak tanpa harus dibalik pintu?"
"Itu... Aku boleh minta tolong?"
Elvano mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"
"Itu... To-tolong ambilin pembalut." Anta semakin menundukkan wajahnya. Malu sekali dia meminta tolong Elvano soal hal ini.
"Pembalut?"
"Itu... yang sering dipake perempuan pas datang bulan."
Elvano kembali mengerutkan keningnya. "Datang bulan? Apa itu?"
Anta berdecak dalam hati. Elvano ini benar-benar tidak tahu atau memang sengaja, pura-pura tidak tahu.
"Nggak jadi. Mas El tolong ambilin Anta haduk aja."
Masih dengan kebingungannya, namun Elvano mengangguk saja apa kata Anta. Laki-laki itu mengambil handuk dan memberikannya pada Anta. Setelah melilitkan handuk di pinggangnya, Anta keluar melewati Elvano begitu saja.
Penasaran, Elvano mengikuti Anta. Ia memerhatikan Anta yang membuka lemari lalu mengambil benda segitiga miliknya dan juga pembalut. Gadis itu tidak sadar jika Elvano memperhatikannya.
Anta berbalik dan terkejut melihat Elvano di belakangnya. "Mas El suka ngagetin!" Kesal Anta.
Elvano lagi-lagi mengerutkan dahinya. Kenapa Anta malam ini sering berubah-ubah sifatnya. Tiba-tiba marah, tiba-tiba takut padanya.
"Tadi itu apa?"
"Hah? Apa?"
"Yang bungkus warna biru gelap. Ada gambar bulan sabitnya. Terus..."
"Mas El nggak perlu tahu!" Anta langsung melengos pergi ke kamar mandi.
Elvano sampai melototkan matanya dengan reaksi Anta tersebut. Laki-laki itu terpancing rasa kesalnya dan kembali mengikuti Anta.
"Anta, kamu..."
Brak...
Anta menutup pintu kamar mandi begitu saja. Membuat Elvano melongo di depan pintu kamar mandi. "Anta! Kamu nggak tahu terima kasih, ya? Saya udah ambilin handuk buat kamu. Dan ini balasan kamu?" Hening. Tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar mandi.
"Anta!"
"Terima kasih, Mas."
Elvano langsung bungkam mendengar ucapan terima kasih itu. Suara Anta terdengar lebih lembut dari tadi. Membuat jntung Elvano kembali berdetak cepat.
Hanya suaranya, tapi bisa berdetak secepat ini. Batin Elvano, memegangi dadanya.
***
Suasana pagi begitu canggung antara Anta dan Elvano. Lebih tepatnya Anta yang merasa canggung. Dia sadar semalam dia sudah sedikit kelewatan.
"Biar saya ambil sendiri." Ujar Elvano dingin. Ucapannya membuat Anta yang hendak menyendokkan makanan ke piringnya terhenti. Gadis itu mendorong pelan makanan tersebut pada Elvano.
Elvano menyendokkan makanannya. Sesekali matanya melirik Anta yang menyibukkan dirinya dengan Evan.
"Saya nggak suka kelakuan kamu semalam." Kata Elvano tiba-tiba, seraya memasukkan makanan ke mulutnya.
Anta yang semula menundukkan wajahnya menatap Evan, semakin menundukkan kepalanya. "Maaf, Mas."
"Kalau ngomong, tatap mata saya. Semalam, kamu berani tatap mata saya."
Anta menegakkan tubuhnya menatap Elvano. Mata keduanya saling bertemu, namun Anta dengan cepat memutus kontak mata mereka, memilih manatap makanan yang ada di depan Elvano.
"Aku minta maaf, Mas."
Elvano acuh dan kembali memakan makanannya. Hingga makanan dipiringnya habis, Elvano tak menjawab satu kata pun permintaan maaf Anta. Elvano meneguk airnya, lalu berdiri. Laki-laki itu mendekati Evan dan mengecup puncak kepala Evan.
Seperti biasa, Anta dengan cepat meraih tangan Elvano dan menciumnya. Setelah itu, Anta dan Evan mengantar Elvano ke depan rumah.
Elvano mendekati mobilnya. Tapi, sebelum memasuki mobil, ia berbalik menatap Anta yang sedang menggendong Evan. "Saya belum memaafkan mu." Ujarnya.
"Ta..."
"Saya akan pikirkan cara kamu menebus kesalahanmu." Cetus Elvano, tanpa ingin ada bantahan. Laki-laki itu lalu benar-benar memasuki mobil dan melaju menjauh dari kediamannya.
Anta masuk ke rumah dengan wajah lesu. Apa kesalahannya semalam sangat fatal hingga harus ada cara menebusnya? Apakah dengan kata 'minta maaf' tidak bisa?
Anta menarik nafasnya pelan lalu mengecup pipi Evan. "Cara apa yang Papamu berikan untuk menebus kesalahan Mama? Apa Mama akan dihukum?" Anta berbicara dengan Evan. Evan yang tak mengerti hanya menatap Mamanya, lalu tersenyum. Ia pikir, Anta sedang mengajaknya bicara.
"Hehe... Ma... Ma... Ma..."
"Iya, sayang. Lupakan soal menebus kesalahan. Sekarang, Evan di stroller, ya? Mama mau bantu Bibi bersih meja makan." Anta menurunkan Evan ke strollernya. Gadis itu mengecup seluruh wajah Evan, membuat anak itu terkekeh. Anta juga terkekeh pelan. Bi Ijah yang baru saja dari dapur pun ikut terkekeh melihat Evan terkekeh.