Annanta

Annanta
Extra Part 4



Beberapa hari dirawat di rumah sakit, Anta dan bayinya pun diperbolehkan pulang. Devita turun dari mobil sembari menggendong sang cucu yang diberi nama Adrian Prasetya oleh Elvano.


Sementara Elvano, ia menggendong sang istri dan mendudukannya di kursi roda. Awalnya Anta menolak karena ia bisa berjalan tanpa harus menggunakan kursi roda. Namun, Elvano begitu keras kepala dan tidak mengizinkan Anta untuk berjalan.


"Selamat datang, Anta. Selamat datang ponakan Tante Dinda yang tampan." Suara Dinda heboh.


"Selamat datang ponakan Om Dika. Semoga kegantengan Om Dika menular ke Adrian," seru Dika tak kalah heboh dari sang Kakak. Ucapan Dika membuat Elvano yang semula tersenyum menatap tajam dirinya.


"Hehehe... Bercanda Bang," lanjut Dika cengengesan.


"Selamat datang Kak Anta, baby Adrian. Kak Tiara senang banget baby akhirnya pulang juga," ucap Tiara.


"Lho? Kok Kakak? Seharusnya Tante dong," sahut Haris. Laki-laki itu berdiri sambil merangkul pundak Devita yang sedang menggendong cucu mereka.


"Hehehe... Iya, Pa. Tiara kan masih SMA, masa udah dipanggil Tante aja. Nanti kalau Tiara udah lulus. Boleh deh dipanggil Tante."


"Bukannya udah dipanggil Tante sama Evan ya, Kak?" sahut Ricky.


"Evan itu udah kebiasaan panggil Tante karena di ajarin Kak Anta. Kak udah berkali-kali nyuruh Evan manggil Kakak tetap aja nggak bisa." Tiara berwajah lesu membuat semua tersenyum.


"Ricky senang dipanggil Om. Tapi Evan malah panggil Titi." Ucapan Ricky membuat semua terkekeh.


"Oh ya, dimana Evan sama Ara?" tanya Anta. Putranya tidak kelihatan sejak tadi. Selain itu, Dinda hanya bersama Fahri, tidak ada Ara bersama mereka.


"Evan masih tidur kak sama bibi. Dari tadi nangis panggil-panggil Kakak terus. Dikasi baju Kak Anta sama bibi, baru dia berhenti nangisnya. Terus ketiduran. Ara juga tidur."


Anta terdiam. Rasa bersalah tiba-tiba menyerangnya. Kasian sekali putranya itu. Ia meninggalkan Evan selama beberapa hari dirawat di rumah sakit. Mereka bertemu hanya lewat vidio call.


"Ya udah, ayo kita masuk. Nggak baik di luar terus," ucap Devita. Semuanya pun memasuki rumah dan berkumpul bersama.


***


"Mama."


"Iya, sayang."


Sejak bangun tidur, Evan tak sedetik pun jauh dari Anta. Balita itu sekarang berbaring sambil memeluk Anta yang juga ikut berbaring. Elvano sedang di kamar mandi. Sementara Adrian, bayi mungil itu tertidur di ranjangnya.


"Mama," panggil Evan lagi.


"Iya sayang. Ada apa sih anak Mama ini? Panggil-panggil terus dari tadi. Kangen ya sama Mama?"


"Tanen Mama." Anta terkekeh pelan mendengar Evan mengulangi ucapannya.


"Sayang banget sama Evan. Ayo, cium Mama dulu." Evan langsung bangkit duduk. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Anta. Kemudian ia berbalik, menatap ke arah ranjang Adrian.


"Tuu...." Tunjuknya.


Anta bangun duduk dan ikut menoleh, kemudian tersenyum tipis. "Itu adeknya Evan."


"Dede?"


"Hehehe... Iya, dede. Namanya Adrian."


"Yayan."


"Iya, Yayan. Hehehe... Lucu banget sih, anak Mama." Anta menangkup pipi Evan dan mencium seluruh wajahnya. Membuat balita lucu itu terkekeh.


"Kayaknya seru banget, lagi ngapain sih?" Suara Elvano yang baru selesai mandi terdengar. Ibu dan anak itu serentak menoleh.


"Papa."


"Mas ih, pakai baju dulu," seru Anta, membuat Elvano tersenyum menggoda.


"Kenapa? Kamu tergoda melihat tubuh suamimu ini? Hmm?" Elvano menaik turunkan alisnya sembari mendekat ke arah Anta dan Evan.


"Mas apaan sih? Jangan aneh-aneh deh. Ada Evan disini."


"Berarti—"


"Mas kalau nggak pakai baju, nggak usah ngomong sama aku." Langkah Elvano langsung terhenti.


"Iya iya, aku pakai baju." Elvano langsung berbalik, berjalan menuju lemari. Ia melihat-lihat baju di lemarinya lalu memilih kaus rumahan dan celana pendek selutut.


Setelah mengenakannya, ia kembali bergabung bersama istri dan anaknya.


"Sini, cium Papa dulu," ucap Elvano yang langsung mendapat kecupan dari Evan.


"Pinter banget anak Papa." Elvano mengacak-acak pelan rambut Evan.


"Jangan diacak-acakin, Mas." Anta menepis pelan tangan Elvano, lalu membenarkan kembali tatanan rambut Evan.


"Oh ya, sayang. Aku kan udah dapat sekali nih dari Evan. Sekarang giliran kamu."


"Giliran aku apa?" Anta masih fokus pada Evan. Setelah merasa rambut putranya itu sudah rapih, ia mengecup pipi Evan.


"Cium, sayang."


"Kan tadi udah."


"Beda sayang, tadi dari Evan. Sekarang aku mintanya dari kamu."


"Ya udah, sini deketan."


Elvano langsung sumringah. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Anta.


Cup.


Cup.


Cup.


Cup.


Elvano langsung terdiam mematung seraya menyentuh wajahnya. Jantungnya berdetak cepat. Telinganya juga memerah. Anta mengecup seluruh wajahnya dan diakhiri dengan kecupan dibibir.


"Ciee... Yang telinganya merah gara-gara dicium istri, hehehe...." Goda Anta sambil terkekeh.


"Hehehe...." Evan ikut terkekeh.


Sementara Elvano, ia menggaruk tengkuknya. Baru kali ini ia salah tingkah karena dicium Anta.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan di depan pintu kamar membuat kekehan Anta terhenti. Elvano segera berdiri dan membuka pintu.


"Eh, Kak Vano. Maaf ya, Tiara ganggu. Tiara disuruh Mama panggilin Kak Vano sama Kak Anta buat makan malam. Sama Evan juga.


Elvano mengangguk. "Sayang, kita dipanggil Mama makan malam. Kamu mau makan disini atau bareng mereka?"


"Pengennya bareng. Tapi, takut Adrian nya bangun."


"Ya udah. Kita makan disini aja. Biar aku yang bilangin ke Mama sama yang lain."


Elvano segera turun menuju ruang makan bersama Tiara. Setiba di sana, semua orang sudah menunggu. Fahri, Dinda, Ara, Tante Tia dan suaminya, juga Dika sudah berkumpul di ruang makan bersama Devita, Haris dan Ricky.


"Lho? Mana Anta?" tanya Devita.


"Anta pengennya makan disini. Tapi, karena Adrian tidur jadi kita makan di kamar aja, Ma. Takutnya Adrian bangun kita nggak dengar kalau makan disini."


"Ya udah. Kamu bawa makanan ke kamar. Sama makanan Evan juga."


"Nggak apa-apa. Om dulu pas Tante kamu melahirkan juga gitu. Kamu jagain istri kamu baik-baik," ucap Rusdi, Ayah Dinda dan Dika sambil tersenyum pada Elvano.


"Iya, Om."


"Ini Kak, makanan buat Kakak, Kak Anta sama Evan." Tiara memberikan makanan yang sudah Devita siapakan untuk ketiga orang itu.


"Kalau gitu, aku ke kamar dulu. Selamat makan," ucap Elvano, kemudian berlalu ke kamar setelah semua menjawab ucapan selamat makannya. Tiara membuntutinya sembari membawa minum untuk Anta, Elvano dan Evan.


"Makasih ya, Kakak jadi ngerepotin kamu," ucap Anta saat Tiara tiba di kamar.


"Nggak apa-apa, Kak. Tiara nggak merasa direpotin. Tiara malah senang bisa berbakti sama Kakak." Anta tersenyum mendengar ucapan adiknya. "Kalau gitu Tiara keluar dulu. Selamat makan."


"Selamat makan," sahut Anta dan Elvano bersamaan.


"Mam. Mama mam."


"Iya, sayang. Kita mam. Tunggu Mama ambilin buat Evan." Anta meraih makanan untuk Evan, lalu menyuapinya. Elvano menatap Anta yang telaten menyuapi Evan. Ia bersyukur, Mamanya memilih Anta sebagai istrinya. Dan begitu bersyukur karena Tuhan tidak memisahakan Anta darinya.


***


Berjemur di sinar matahari pagi baik untuk kesehatan. Setelah memandikan Evan dan Adrian, Anta dan Elvano membawa kedua putra mereka menuju halaman samping rumah, tepatnya di dekat kolam.


Elvano menggendong Evan, dan Anta mengendong Adrian. Keduanya terlihat tersenyum bahagia. Elvano juga sesekali membiarkan Evan mencium baby Adrian.


"Mama, dede."


"Iya, sayang. Adek. Sekarang Evan udah jadi Abang."


"Bang. Papa?"


"Papa? Papa ya jadi Papa," jawab Elvano, yang entah dimana letak lucunya hingga Evan terkekeh. Hal itu membuat Anta dan Elvano ikut terkekeh.


Laki-laki itu mengulurkan sebelah tangannya yang lenggang untuk merangkul sang istri. Sementara tangan sebelahnya masih setia menggendong Evan.


"Makasih sayang, aku bersyukur kamu masih disini. Masih terus bertahan dengan sifatku yang dulu yang nggak ada baik-baiknya sama kamu," ucap Elvano.


"Udah sih, Mas. Yang udah lalu nggak usah dibahas lagi. Sekarang kita fokus sama kehidupan kita kedepannya. Fokus sama anak-anak kita." Elvano mengangguk lalu mengecup kening Anta.


Sementara di dekat pintu yang mengarah ke kolam, Tiara berdiri dengan senyum simpul. Ia turut bahagia melihat Kakaknya bahagia. Orang yang sudah berjuang untuk hidupnya dan Ricky akhirnya mendapatkan kebahagiaan.


"Senang ya, lihat bang Vano sama Anta bahagia gitu? Akhirnya mereka menemukan kebahagiaan mereka setelah semua yang mereka lewati. Terutama Anta." Suara Dika yang tiba-tiba muncul dan berdiri di sebelah Tiara membuat gadis itu menoleh.


"Kak Dika sejak kapan disini?"


"Barusan."


Tiara mengangguk. Ia kemudian kembali menatap ke arah Elvano dan Anta yang sedang bercanda dengan kedua putra mereka.


"Lihat Kak Anta senyum, rasanya bahagia banget. Tiara selalu berdoa untuk kebahagiaan Kak Anta. Dan akhirnya Tuhan mengabulkan doa Tiara."


"Aku juga bahagia lihat bang Vano sama Anta bahagia," timpal Dika.


"Semoga mereka selalu bersama dan terus bahagia," ucap Tiara.


"Dan semoga kita semua mendapatkan kebahgiaan bersama pasangan kita masing-masing," sahut Dika.


Ucapan lelaki itu membuat Tiara menatapnya. "Cieee... Kak Dika iri yah lihat kak Elvano udah punya istri sama anak?"


"Eh. Apaan kamu? Sembarangan aja."


"Udah... ngaku aja, Kak."


"Enggak."


"Iya."


"Enggak."


Anta dan Elvano yang mendengar suara ribut langsung berbalik. Keduanya menoleh ke arah Tiara dan Dika.


"Tiara? Kak Dika?" ucap Anta.


"Kalian ngapain di situ?" tanya Elvano.


"Nggak ngapa-ngapain, Bang," jawab Dika.


"Sini, gabung. Berjemur di matahari pagi kayak gini begus lho."


Dika dan Tiara saling menatap kemudian mengangguk mengiyakan ucapan Anta. Dua orang itu mendekat pada Anta, Elvano, Evan dan Adrian.


"Kamu kapan sampai?" Elvano menatap Dika.


"Barusan, Bang."


"Ngapain?"


"Hehehe... Mau numpang sarapan, Bang. Sekalian ngajak Evan, Ricky sama Tiara jalan-jalan. Tapi nggak jadi sarapan disini. Udah sarapan di warung. Tinggal ajak mereka jalan-jalan."


"Tiara malas jalan-jalan hari ini. Mau di rumah, main sama Evan sama Adrian," seru Tiara.


"Ya udah. Ajak Ricky aja."


"Nggak bisanya kamu sarapan disini." Anta menatap Dika sekilas. Hanya sekilas. Elvano masih sering cemburu sama Dika. Dia tidak ingin suaminya itu ngambek hanya karena ia menatap lama Dika.


"Lagi berantem sama Papa. Awalnya mau sarapan di rumah mbak Dinda, tapi males. Nanti di marahin mbak Dinda."


"Ya karena kamu jail sama Ara," sahut Elvano.


"Ara nya gemesin, Bang."


"Makanya buat anak sendiri."


"Mas!" tegur Anta. Mulut suaminya ini kadang-kadang nggak bisa di rem. Apa dia nggak lihat ada Tiara bersama mereka? Asal bicara saja.


"Apaan sih Bang."


"Terus? Kamu kan sering sarapan di rumah Mama."


"Yang ada aku bukan dikasi sarapan, tapi diceramahin tante."


"Ck. Makanya nurut aja apa kata Om Rusdi."


"Dika belum siap, Bang."


Anta dan Tiara yang sedikit tak mengerti dengan apa yang Elvano dan Dika bahas mulai mengabaikan kedua orang itu. Setelah merasa cukup berjemur, Tiara mengambil alih Evan dari gendongan Elvano, kemudian bersama Anta berpindah ke tempat duduk yang ada di pinggir kolam.


Melihat kedua wanita itu yang menjauh, Elvano dan Dika pun mengikuti mereka. Tak lama, Ricky datang dan ikut bergabung. Mereka berbincang dan saling melempar canda. Memperlihatkan keharmonisan yang membuat hati menghangat.


.......


.......


.......


...EXTRA PART ENDS...


Hallo semuanyaa... makasih buat kalian yang udah setia nungguin extra partnya. Ini extra part yang terakhir yaa.... Nggak ada tambahan lagi. Novel Annanta hanya sampai sini. Semoga kalian suka. Dan semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam segala urusan oleh Allah.


Jangan lupa mampir di novel Sahabat Possessive dan juga AKSARASENJA. Sampai jumpa di novel-novel Aquilaliza lainnya. Salam dari Aquilaliza.