
Setelah beberapa jam kepulangan Devita, Haris dan Dika ke rumah masing-masing, Elvano kembali membawa Anta ke kamar. Dia ingin istrinya itu istirahat dan merawat luka istrinya dengan baik, hingga bisa sembuh dengan cepat.
"Mas, turunin aku, Mas." Anta dengan wajah memerah meminta Elvano menurunkannya. Bagaimana tidak memerah? Elvano menggendongnya di depan Tiara, Ricky dan Bi Ijah, dan dengan santainya berjalan ke arah kamar mereka.
"Kamu lagi terluka, sayang. Jadi, diam aja, ya?"
"Mas, yang luka itu lengan aku, bukan kaki aku."
"Aku tahu. Tapi, aku sedang ingin gendong kamu."
Anta menarik nafasnya. Berdebat dengan Elvano, dia tidak akan menang. Lagi pula sudah terlanjur digendong dan sampai di kamar. Untuk apa berdebat minta diturunin lagi? Pasti diturunin di ranjang.
Elvano medudukkan Anta di ranjang. Senyum puas muncul di bibir laki-laki itu. Namun Anta hanya manyun.
"Cantik banget istri Elvano," ujarnya sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Anta.
"Nggak usah berlebihan deh Mas."
"Nggak berlebihan. Emang benar kok. Istrinya Elvano cantiiiik banget."
Anta mengulum senyum melihat ekspresi Elvano. Sebelah tangannya yang bebas terangkat mencubit pipi Elvano.
"Gemesin banget siihh, suami Anta."
"Nah, gitu dong senyum. Makin bertambah cantiknya."
"Hehehe... Mas ada-ada aja deh. Udah sana, lihatin Evan dulu. Kalau Ricky sama Tiaranya mau istirahat, bawa Evan kesini," ucap Anta.
"Siap, istriku." Elvano melakukan hormat pada Anta, membuat perempuan itu kembali terkekeh.
Elvano mengecup kening Anta sejenak, lalu keluar dari kamar. Saat menuruni tangga, handphone Elvano berdering. Ia segera meraihnya.
"Hallo, tuan."
"Hmm."
"Nona Viona ditabrak mobil saat kami mengejarnya."
"Lalu?"
"Dia meninggal, tuan."
"Meninggal?" Elvano cukup terkejut dengan berita yang disampaikan orang suruhannya. Vionna meninggal? Dia tidak percaya, tapi dia sendiri yang akan memastikannya.
"Urus jenazahnya. Kirim alamat kalian. Saya akan kesana."
"Baik, tuan."
Elvano mengakhiri telponnya kemudian berbalik, kembali ke kamar.
"Lho? Mana Evan, Mas?" tanya Anta, saat suaminya kembali tanpa Evan.
"Sayang, biarin Evan sama Tiara sama Ricky dulu. Kamu istirahat disini, okey. Kalau mereka mau istirahat, nanti aku suruh Bi Ijah yang jagain Evan. Mas mau pergi sebentar," ucap Elvano sambil menangkup wajah Anta.
"Mas mau kemana?"
"Mas mau memastikan Vionna benar-benar meninggal atau enggak."
"Hah? Ma-maksud Mas, mbak Vionna meninggal?"
Elvano mengangguk. "Mas tadi nyuruh orang buat cari Vionna. Orang itu baru saja telpon Mas kalau Vionna meninggal tertabrak mobil."
"Ya Allah, kasian sekali mbak Vionna. Ya udah, Mas kesana. Bantu urusin jenazah mbak Vionna. Kasian, Mas."
Elvano terdiam menatap wajah istrinya. Ia menatap lekat wajah cantik yang sekarang diliputi raut khawatir dan iba.
"Mas, kenapa malah lihatin aku?"
"Kamu terlalu baik, sayang. Vionna udah lukain kamu, dan kamu masih minta aku urusin jenazahnya," ucap Elvano.
"Mas, semua orang nggak pernah nggak buat kesalahan. Orang yang buat kesalahan, nggak selamanya nggak boleh kita baikin. Kalau kita bisa memaafkan, kenapa kita harus menaruh dendam?"
"Aku bersyukur punya istri kayak kamu," ucap Elvano.
Anta tersenyum. "Aku juga bersyukur punya suami kayak kamu, Mas," ucapnya. "Ayo, sana berangkat. Mas harus hati-hati bawa mobilnya. Nggak boleh ngebut-ngebut."
"Pasti. Mas akan hati-hati," jawab Elvano. Ia mendekat dan mengecup kening Anta sekali lagi. Setelah itu, ia meraih kunci mobilnya dan berjalan keluar kamar.
***
Anta terdiam di depan meja makan, tak berselera untuk mencicipi makanan yang terhidang. Tiara, Ricky dan Bi ijah yang sedang menyuapi Evan pun menatap heran pada Anta.
"Kak Anta." Tiara yang duduk dekat dengannya pun memanggil sambil menyentuh tangannya. Membuat Anta tersadar dari keterdimannya, dan menoleh pada Tiara.
"Ada apa? Kenapa Kakak nggak makan?" lanjut Tiara.
"Kakak lagi nggak pengen makan," jawab Anta lesu.
"Kok nggak pengen, Nak? Masakan Bibi nggak enak ya?" tanya Bi Ijah. Anta tidak biasanya seperti ini.
"Bukan gitu, Bi. Masakan Bibi udah pasti enak. Tapi, Anta lagi nggak pengen. Mungkin karena Mas El belum pulang," jawab Anta.
"Mau Ricky bantuin telpon kak Elvano, Kak?"
Anta menggeleng. "Nggak usah. Mas El pergi buat urusin jenazah mbak Vionna."
"Hah? Nona Vionna meninggal, Nak?" kaget Bi Ijah. Baru tadi pagi mereka bertemu dan Vionna melukai lengan Anta. Sekarang, wanita itu meninggal.
"Iya, Bi. Orang suruhan Mas El yang kabarin."
"Ya Allah, kasian bener," ucap Bi Ijah.
Di halaman depan, Elvano memasukkan mobilnya ke garasi, kemudian memasuki rumah. Langkahnya langsung tertuju ke arah ruang makan.
"Mas El," senyum Anta langsung terukir di bibir. Wanita itu bangun dan berjalan mendekati suaminya.
"Jenazahnya udah selesai di makamkan, Mas?"
Elvano mengangguk. "Udah."
"Huufthh... Kasian sekali mbak Vionna," ucap Anta.
Elvano mengusap pelan rambut Anta. "Jangan pikirkan dia lagi. Ayo, makan dulu. Kamu udah makan?"
Anta menggeleng pelan. "Belum."
"Kenapa belum?" Elvano meraih tangan Anta dan mengajaknya duduk di kursi meja makan.
"Aku lagi nggak pengen makan."
"Makan, ya? Entar kamu sakit, sayang."
"Mas suapin," ucap Anta.
Elvano terdiam beberapa saat. Ia menatap lekat wajah istrinya. "Benaran mau disuap?" tanya Elvano meyakinkan. Dia sedikit ragu dengan permintaan Anta. Tidak biasanya istrinya bersikap manja seperti ini.
Anta mengangguk. Ia mendorong piringnya ke arah Elvano, lalu membuka mulutnya. Bi Ijah, Ricky dan Tiara mengulum senyum melihat tingkah Anta.
Elvano dengan lembut menyuapi istrinya. Hanya beberapa sendok makanan yang Anta makan. Setelah itu, wanita tersebut menggeleng, tak ingin makan lagi.
"Paapa... Mam... Mam... Mam..." celoteh Evan sambil menatap Papanya yang masih membujuk Anta untuk makan.
"Evan mau mam lagi, nak?" tanya Anta lembut. Tangan kanannya yang tak terluka terulur mengusap kepala Evan.
Evan menggeleng. Evan mengulur tangannya, meminta Anta untuk menggendongnya.
"Tuan muda sama Bibi aja, ya. Mama kan lagi sakit," ucap Bi Ijah.
"Nggak apa-apa, Bi, Evan sama Anta aja," ucap Anta. "Tolong bantuin Evan duduk di pangkuan Anta, Bi."
"Biar aku saja," ucap Elvano. Laki-laki itu bangun, kemudian mengangkat Evan ke pangkuan Anta. Anak itu langsung memeluk Anta setelah duduk di pangkuan sang Mama.
"Kangen ya, digendong Mama? Beberapa hari kedepan, peluk sama pangku aja, ya? Lengan Mama lagi sakit," ucap Anta sambil mencium puncak kepala Evan.
Elvano mengusap kepala putranya. " Nggak apa-apa. Bentar Evan tidur sama Mama sama Papa, okey? Evan bisa peluk Mama sepuasnya," seru Elvano.
"Oh ya, Tiara lupa kasi tahu Kak Elvano sama Kak Anta. Tiara temuin kotak di laci bawah meja yang ada di kamar Tiara."
"Kotak? Apa isinya?" tanya Elvano. Dia merasa tidak pernah menyimpan apapun di kamar itu.
"Tiara nggak tahu isinya."
"Setelah makan, kita lihat sama-sama isinya," ucap Elvano.
***
Selesai makan, semua berkumpul di ruang keluarga. Bi ijah sudah berpamit pulang setelah selesai berberes dibantu Tiara. Evan masih dalam posisi yang sama, yaitu di pangkuan Anta. Bedanya, tadi di ruang makan sementara sekarang di ruang tamu.
Tiara datang dari kamarnya dengan membawa kotak yang dia maksud. Ia meletakkannya di meja, tepat di depan Elvano dan Anta.
Elvano segera meraihnya dan membuka kotak tersebut. Dalam kotak itu, terdapat sepotong surat dan sebuah album yang di depannya bertuliskan happy birthday Elvano. Dia yakin, itu buatan Raka. Elvano meraih surat itu dan membacanya.
Selamat ulang tahun, adek kesayangan gue. Semoga makin tampan melebihi Papa tapi nggak boleh lebih dari gue. Semoga semua urusan hidup lo lancar. Gue selalu berharap yang terbaik buat lo. Hadiahnya nggak semahal perwatan Mama dan nggak semewah vila Papa. Tapi hadiahnya lebih berharga dari permata.
Gue sengaja tarohnya di kamar ini. Gue harap lo sendiri yang temuin atau orang lain juga boleh.
Seulas senyum muncul di bibir Elvano. Melihat dari tanggalnya, itu adalah ulang tahunnya dimana menjadi ulang tahun terakhirnya berasama sang abang.
Elvano membuka album tersebut. Seulas senyum kembali muncul di bibirnya. Abangnya memang sangat random. Tapi benar, album ini akan jadi hadiah berharga baginya.
"Papa. Paa... Paa..." celoteh Evan. Ia menunjuk-nunjuk ke arah album tersebut. Membuat Elvano menoleh padanya.
"Iya, Nak. Ini Papa, dan ini Papi kamu," ucap Elvano menunjuk dirinya kemudian menunjuk foto Raka.
Tiara dan Ricky saling menantap karena nggak mengerti. Anta yang melihanya pun tersenyum.
"Bang Raka, dia abang Mas El, ayah kandung Evan," ucap Anta.
"Maksud Kak Anta?" tanya Ricky dan Tiara bersamaan.
Anta menoleh pada Elvano. Ketika suaminya itu mengangguk, ia mulai menceritakan sebagian kisah mengenai siapa Evan sebenarnya.