
Dika terbangun saat jam menunjukkan pukul 2 malam. Ia sangat merasa kehausan dan bergegas keluar dari kamar Ricky. Langkahnya menuju dapur, mengambil minum. Namun, belum sempat tangannya menuangkan air, matanya menangkap sepasang suami istri yang sedang tertidur pulas sambil berpelukan di dipan tak jauh darinya berdiri.
Dika tersenyum getir. Sudah seerat itu hubungan Elvano dan Anta. Dika meletakkan kembali gelas yang sudah ia pegang dan kembali ke kamar. Rasa hausnya hilang seketika melihat Anta dan Elvano.
Pukul 5 pagi, Anta bangun dan mendapati Elvano masih tertidur memeluknya. Tangannya terulur mengusap pelan pipi sang suami.
"Mas, bangun. Udah pagi."
Tak ada respon dari Elvano. Laki-laki itu sepertinya masih mengantuk.
"Mas, bangun. Mas harus siap-siap ke kantor. Hari ini ada meeting sama klien kan?"
"Hmmm." Elvano bergumam pelan, lalu menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Anta. "Bentar lagi," ucapnya.
"Nggak ada bentar, Mas. Bentar lagi bi As datang. Mas juga harus siap-siap ke kantor. Perjalanannya ke kantor jauh, Mas."
"Cium dulu." Elvano menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Anta, kemudian menatap wajah istrinya itu.
"Jangan aneh-aneh deh, Mas."
"Ya udah kalau nggak mau. Aku akan terus peluk kamu sampai bi As datang. Atau sampai semua orang bangun dan lihat kita disini."
"Ya udah, ya udah. Anta cium." Anta mendekatkan wajahnya lalu mengecup pipi Elvano. "Udah," ucapnya.
"Sebelah kirinya!"
"Iihh... Kan udah."
"Tadi pipi kanan. Sekarang pipi kiri, sayang."
"Ya udah." Anta mengecup pipi kiri Elvano. Wanita itu menghembuskan nafasnya setelah melakukannya.
"Bibirnya cemburu nggak kamu cium." Elvano menunjuk bibirnya.
"Ish, nggak ah! Ayo bangun!"
"Sekali aja, sayang." Elvano memohon. Wajah memelasnya membuat Anta tak tega menolak. Anta kembali mendekatkan wajahnya dan...
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir Elvano.
"Ud... Hhmmpp...."
Ucapan Anta seketika terpotong oleh ciuman Elvano. Laki-laki itu dengan gerakan cepat mencium bibir Anta sebelum wanita itu menjauhkan wajahnya.
Dan tanpa mereka sadari, ada Devita dan Haris yang sedang memperhatikan mereka. Tadi, istri Haris itu ingin ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat Anta dan Elvano tertidur di dipan sambil berpelukan.
Wanita itu kembali ke kamar dan membangunkan Haris. Ia memaksa suaminya itu mengikutinya dan mereka menyaksikan semua tingkah laku putra mereka pada sang menantu.
"Hihi... Mama senang banget, Pa. Akhirnya Elvano suka juga sama Anta," bisik Devita.
"Iya, Ma. Papa juga senang. Tinggal tunggu kabar baik soal cucu kita."
"Iya, Pa."
"Ngomong-ngomong, Papa jadi pengen gangguin Elvano. Marah nggak ya dia, kalau Papa gangguin pas lagi ciuman gini?"
"Pasti Marah, Pa. Tapi, Mama juga pengen lihat reaksinya."
"Ya udah. Ayo, kita sama-sama gangguin." Devita mengangguk semangat. Suami istri itu pun memulai aksi mereka.
"Sayang, bibirnya cemburu kalau nggak kamu cium," ucap Haris setengah merengek, meniru apa yang Elvano lakukan tadi.
Deg...
Sontak, Anta melototkan matanya dan mendorong tubuh Elvano menjauh, hingga ciuman mereka terhenti. Ia langsung terduduk begitu juga dengan Elvano. Wajah gadis itu memerah. Ia sangat malu dan tidak berani menatap Papa dan Mama mertuanya. Dia seperti remaja yang ketahuan berbuat mesum.
Sementara Elvano, ia menggeram kesal. Ia menatap Papanya datar. Tapi, Haris maupun Devita tak peduli dengan tatapan Elvano.
"Sayang, ayo dong! Bibirnya belum di cium. Cium, ya? Sekali aja," ucap Haris lagi.
Haris mendekat dan Devita benar-benar mengecup bibirnya. Kedua orang tua itu lalu terkekeh bersama.
"Papa sama Mama apaan sih?" tanya Elvano datar. Seandainya di depannya ini bukan orang tuanya, sudah pasti ia berteriak di depan mereka dan mendorong mereka pergi dari ruangan tersebut.
"Lho? Kamu kapan datangnya, Vano?" tanya Devita, pura-pura terkejut.
"Iya, ya. Papa juga baru lihat kamu disini. Kapan kamu sampainya?"
"Semalam," jawab Elvano, masih dengan wajah datarnya.
"Kamu datang kesini malam-malam buat apa?"
"Ya mau ketemu istri sama anak Vano lah, Pa. Sekalian ketemu sama adik-adik ipar Vano. Mau ngapaian lagi?" jawabnya sedikit ketus. Bukannya marah, Haris dan Devita malah mengulun senyum.
"Oh ya, Pa. Ternyata ada yang dulu katanya nggak suka, sekarang ditinggal bentar, udah kangen aja." Devita melirik Elvano.
"Ma-Mama, Pa-Papa, An-Anta ma—"
"Hehehe... Kamu kenapa sayang, gugup gitu? Santai aja," ucap Devita. Ia tersenyum dan mendekati Anta. Tangannya terulur mengusap lembut rambut Anta. Ia tahu, menantunya itu merasa sangat malu sekarang.
"An-Anta mau ke kamar dulu, Ma. Mau lihat Evan."
"Iya, Nak."
Segera Anta menjauh dari tempat itu. Dia benar-benar sangat malu dan belum berani menatap kedua mertuanya.
Setelah perginya Anta, Devita dan Haris terkekeh melihat wajah frustasi Elvano.
"Ayo Ma, kembali ke kamar!" ajak Haris.
"Seharusnya Mama sama Papa tetap di kamar dari tadi," celetuk Elvano. Masih kesal karena kegiatannya diganggu.
"Suka-suka kita, dong. Iyakan, Pa?"
"Iya," jawab Haris sambil menganggukkan kepalanya. "Ayo, Ma!" Haris meraih tangan Devita. Tapi, sebelum berlalu dari hadapan Elvano, ia menatap putranya itu.
"Papa tunggu cucu Papa dari kamu sama Anta," ucap Haris, lalu benar-benar pergi dari hadapan Elvano.
Elvano yang sejak tadi berwajah muram perlahan tersenyum. Cucu? Papanya menginginkan cucu darinya dan Anta. Memikirkan Anta hamil, membuat senyumnya semakin lebar. Pasti sangat menyenangkan menambah anggota keluarga lagi.
***
Elvano dan Dika saling melempar tatapan permusuhan. Dua orang itu seolah mengabaikan orang-orang yang ada di meja makan tersebut. Bahkan makanan di piring mereka, hanya diaduk-aduk tanpa berniat memasukkannya ke mulut.
"Mas, kenapa nggak dimakan?"
Elvano menoleh pada istrinya. "Mau kamu suapin," jawabnya tanpa merasa malu sedikit pun.
"Mas."
"Bercanda, sayang." Laki-laki itu terkekeh saat mendapati pelototan sang istri. Interaksi suami istri itu membuat semua yang ikut sarapan tersenyum terkecuali Dika. Dia hanya diam dan mulai memakan makanannya.
"Kak Elvano sampai sini jam berapa?" tanya Ricky. Anak itu cukup terkejut melihat Elvano sudah berada di rumahnya pagi-pagi.
"Sekitar jam 12," jawab Elvano yang diangguki Ricky. "Hari ini, kamu sama Tiara, Kakak yang anterin ke sekolah," lanjutnya.
"Lho? Kata Anta, kamu ada meeting sama klien hari ini," sahut Devita.
"Nggak ada, Ma. Kliennya batalin."
"Klien yang batalin atau Abang yang batalin?" Dika tiba-tiba bersuara. Ia rasa, sudah cukup ia dan Elvano diam-diaman seperti saling bermusuhan. Memang ada perasaan suka dalam hatinya untuk Anta. Tapi, setelah melihat kedektan Anta dan Elvano, dia tidak ada sedikit pun niat lagi untuk merebut Anta dari Elvano.
"Nggak usah sok tahu!"
Dika hanya mengedikkan bahunya, lalu melanjutkan makannya. Haris dan Devita hanya bisa geleng-geleng melihat Elvano dan Dika yang sepertinya tidak akur itu.
Setelah selesai sarapan, Elvano mengantar Ricky dan Tiara dengan mobilnya. Ia juga membawa serta Anta dan Evan. Dia ingin berkeliling melihat kampung halaman tempat tinggal istrinya.