Annanta

Annanta
Bab 59



Devita membuka pelan pintu kamar Anta. Ia masuk bersama Evan dalam gendongannya. Anta yang sejak tadi menunggu kedatangan Mama mertuanya itu tersenyum.


Evan yang diturunkan Devita ke atas kasur pun langsung merangkak memeluk Anta.


"Maa,"


"Iya, Nak." Anta memeluk putranya itu dan mengecup puncak kepalanya. Wanita itu kemudian menatap sang Mama mertua. "Aku pikir Mama marah gara-gara aku nggak mau minum teh nya," ucap Anta.


"Ya Allah, buat apa Mama marah? Mama lama juga karena tungguin Papa," ujar Devita.


"Papa kemana?"


"Papa ke apotek, beli ini." Devita memperlihatkan 3 tespack yang ia keluarkan dari kantong pada Anta.


Anta bukannya tidak tahu apa kegunaan benda itu. Tapi, untuk apa Mama mertuanya membeli benda itu? Itu yang ia pikirkan sekarang.


"Mama beli tespack buat apa?"


"Buat kamu pakai. Mau ya, coba tes dulu. Kita kan nggak tahu udah isi apa belum?"


"Aku hanya masuk angin, Ma."


"Coba dulu. Kalau belum juga nggak apa-apa."


Anta menarik nafasnya. Dia memang sudah telat dua bulan. Tapi, dia sering mengalami telat datang bulan satu atau dua bulan sejak dia masih di bangku SMA. Dan yang terjadi padanya saat ini adalah hal yang sama dengan sebelumnya. Jadi, dia tidak terlalu memikirkannya dan berharap lebih. Tapi, tidak salah juga jika dia coba menggunakan benda itu sesuai permintaan Mama mertuanya.


"Ya udah. Aku coba," ucap Anta yang langsung membuat Devita tersenyum lebar.


"Evan sayang, sama Nenek dulu, ya. Mama mau ke kamar mandi," ucap Anta pada Evan.


Evan yang tengah memeluk Anta langsung mendongakan wajahnya saat mendengar namanya disebut Anta.


"Maa..."


"Evan sama Nenek, ya. Mama mau ke kamar mandi."


"Sini sayang, sama Nenek." Devita langsung membawa Evan dalam pelukannya. Ia tahu, Evan pasti tidak mau lepas dari Anta. Dan benar saja, Evan langsung menangis saat ia pisahkan dari Anta.


"Maa... Oeeaakk... Oeeaakk...."


"Iya, sayang. Mama Anta nya bentar aja kok ke kamar mandi nya," ucap Devita mencoba menenangkan Evan.


"Ini, kamu bawa semuanya. Biar hasilnya lebih akurat, pakai aja tiga-tiganya," ucap Devita, menyodorkan kantong berisi tespack itu pada Anta.


"Iya, Ma."


Anta segera ke kamar mandi. Sementara Devita, ia mengikuti Anta ke kamar mandi sambil menggendong Evan. Sekaligus mencoba menenangkan Evan agar berhenti menangis. Wanita itu berdiri menunggu Anta di depan pintu kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Anta mencoba ketiga-tiga tespack tersebut. Setelah menunggu beberapa saat, ia melihat hasilnya. Tangannya gemetar ketika melihat ketiga benda itu semuanya bergaris dua.


"Ga-garis dua. Ak-aku hamil. Aku benar-benar hamil," gumamnya.


Air mata Anta menetes. Ia tersenyum dengan air mata yang terus membasahi pipi. Air mata penuh kebahagiaan.


"Anta? Udah, Nak?" tanya Devita dari luar.


Anta tersenyum. Ia mengusap air matanya dan segera menuju pintu.


Ceklek.


"Ba—" Ucapan Devita seketika terhenti saat Anta langsung memeluknya.


"Ma, hasilnya garis dua. Aku benaran hamil, Ma," ucap Anta.


"Kamu hamil? Kamu benaran hamil?" Anta mengangguk berkali-kali menanggapi pertanyaan Devita. "Ya Allah terima kasih, ya Allah," seru Devita sambil balas memeluk Anta. Evan yang digendong Devita juga ikut memeluk Mamanya di bagian leher.


Beberapa detik berpelukan, menantu dan mertua itu melepaskan pelukan mereka. Anta mengecup kening Evan sekilas. Tangannya masih memegang alat tes kehamilan itu.


"Ya udah. Sekarang, kamu istirahat lagi, ya? Jangan kecapean dulu. Kalau Elvano pulang nanti, jangan buru-buru kasih tahu. Cari waktu yang tepat, oke? Buat kejutan buat dia."


Anta mengangguk. "Iya, Ma."


"Sekarang, kamu istirahat."


"Iya, Ma. Tapi, Evan nya biar sama Anta. Bentar lagi pasti ketiduran dia kalau main disini," ucap Anta


"Tapi, kamu jangan sampai paksain buat gendong Evan."


"Iya, Mama. Aku cuman temani Evan tidur aja," ucap Anta.


"Ya udah. Mama keluar dulu."


Devita segera keluar dari kamar Anta. Ia menutup pelan pintu kamar Anta, lalu melompat-lompat riang bersama sang suami, Haris, yang sejak tadi terus berdiri di depan pintu kamar Anta.


"Gimana, Ma?" tanya Haris. Ia tidak tahu, apa hasil tes nya. Dia lompat-lompat riang itu karena ketularan istrinya, Devita.


"Anta benaran hamil, Pa."


"Iya, Pa."


"Terima kasih, ya Allah. Papa senang banget, Ma." Suami Istri itu saling berpelukan.


"Mama juga senang," balas Devita.


Sementara di anak tangga, Bi Ijah yang hendak ke kamar Anta untuk membawa bubur pun berdiri diam di anak tangga. Ia tersenyum sambil berucap syukur dalam hati. Dia senang nyonya mudanya hamil.


***


Elvano dengan cepat turun dari mobilnya dan masuk rumah. Saat di kantor, pikirannya terus tertuju pada sang istri. Ia juga tidak fokus saat rapat berlangsung. Beruntung ada sekretaris nya, Risma, yang selalu siap membantu.


"Ma, Pa, dimana Anta?" tanya Elvano saat melihat Mama dan Papa nya duduk di ruang tamu. Laki-laki menunduk mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Istri kamu lagi di kamar, sama Evan juga," jawab Devita.


"Oh ya, Vano. Papa sama Mama hari ini balik ke rumah," ucap Haris.


"Iya Pa," jawab Elvano. "Vano ke atas dulu," lanjutnya, kemudian pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


Elvano membuka pelan pintu kamarnya, takut jika Anta dan putranya terganggu jika ia terlalu keras melakukannya. Begitu juga saat ia menutupnya. Ia melakukannya dengan sangat pelan.


Elvano meletakan kunci mobil dan tas kerjanya di sofa, kemudian mendekat ke arah ranjang. Ia menatap wajah Anta yang sedang tertidur pulas, lalu menatap wajah putranya. Mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, Elvano lalu menunduk dan mengecup kening Anta.


"Emmm." Anta bergumam pelan saat merasakan kecupan di keningnya. Dan beberapa detik kemudian, matanya mulai terbuka.


"M-Mas," gumamnya.


"Iya, sayang. Maaf Mas buat kamu bangun," ucap Elvano.


Anta tersenyum tipis. "Nggak apa-apa," ucapnya pelan.


"Gimana? Udah nggak mual lagi?"


Anta mengangguk. "Udah enggak."


"Udah makan?"


"Udah. Tadi dibawain bubur sama bibi."


"Ya udah. Sekarang istirahat lagi."


Anta menggeleng. Ia bangun dan memposisikan tubuhnya duduk. "Mas kenapa pulangnya cepat? Belum juga jam 12, belum waktunya makan siang," ucap Anta.


"Aku nggak bisa kerja kalau kamu sakit gini sayang, aku nggak fokus. Otak aku hanya ada kamu, kamu, kamuuu terus. Aku khawatir," ucap Elvano.


"Hehe... Aku nggak apa-apa, Mas. Cuman masuk angin," ucap Anta, dan Elvano hanya diam.


"Mas."


"Hmm?"


"Dekatan sini," ucap Anta. Elvano menurut. Ia bergeser hingga ia dan Anta sangat dekat. Wajah mereka saling menatap.


"Aku mau peluk," ucap Anta.


Elvano tersenyum. "Aku pikir apa," ucapnya, lalu membawa Anta dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya itu dengan penuh kehangatan.


"Tiara sama Ricky udah pulang?" tanya Anta, tanpa melepas pelukannya.


"Nggak tahu. Tapi, kayaknya belum."


"Oohh," balas Anta.


"Mau peluk terus kayak gini?"


Anta mengangguk. "Aku mau peluk terus kayak gini. Tapi, aku ngantuk."


"Kalau ngantuk tidur aja, ya. Bangun nanti baru lanjut peluknya."


"Mas nggak apa-apa dipeluk terus kayak gini?"


"Nggak apa-apa. Mas malah senang dipeluk kamu terus. Jarang-jarang kan kamu kayak gini."


Anta terkekeh. Ternyata suaminya mengambil kesempatan dari sikapnya yang tiba-tiba manja ini.


"Emang Mas nggak pegel kalau seandainya Anta tidurnya kayak gini terus?"


"Pegel. Tapi, buat kamu Mas nggak apa-apa tubuh Mas pegel. Yang penting kamu nyaman."


Anta kembali terkekeh mendengarnya. "Hehehe... Mas ada-ada aja. Ya udah, Anta mau baring lagi. Tapi, Mas usap-usap kepala aku, ya?"


"Iya. Ayo, baring lagi."


Anta melepaskan pelukannya, lalu kembali berbaring. Ia menatap wajah tampan Elvano yang kini tangannya bergerak-gerak mengusap kepalanya. Benar-benar nyaman.