Annanta

Annanta
Bab 66 (END)



Setelah semua acara usai, Elvano dan Anta kembali ke kamar. Elvano menuntun Anta dan dengan penuh hati-hati mendudukan Anta di pinggir ranjang.


"Istirahatlah. Kamu pasti sangat lelah," ucap Elvano.


Anta menatap sang suami, lalu tersenyum. "Makasih Mas," ucapnya.


Elvano menatap Anta lembut. Tangannya menggenggam tangan Anta dan membawanya mendekati bibir.


Cup


Satu kecupan Elvano berikan di punggung tangan Anta. "Seharusnya aku yang berterima kasih. Ini nggak seberapa dibandingkan dengan semua ketulusanmu."


Anta menggeleng. "Enggak Mas. Ini semua lebih dari cukup bagiku. Kamu menerimaku sebagai istrimu saja, aku sudah sangat bersyukur. Kamu melamarku, kamu mengingat ulang tahun pernikahan kita, aku sudah sangat bahagia. Dan hari ini, aku tidak pernah berpikir akan ada hari seperti ini dalam hidupku. Aku sangat-sangat bahagia, Mas. Kamu memberikan kebahagiaan melebihi harapanku sebelumnya."


"Aku juga bahagia." Elvano mengecup keningnya, kemudian memeluk tubuh Anta. "Terima kasih sudah mau bertahan di sisiku," bisiknya tepat di telinga Anta. Wanita itu mengangguk dan membalas pelukan Elvano.


"Sekarang, istirahat ya. Kamu pasti capek berdiri sejak tadi."


Anta mengangguk. "Kamu juga harus istirahat, Mas."


"Iya. Ayo, aku bantu kamu mengganti bajumu."


"H-hah? Ng-gak usah. Aku bisa menggantinya sendiri. Mas lebih baik mengganti baju Mas. Atau Mas mau mandi? Aku bisa siapkan a—"


"Kamu malu?" potong Elvano yang seketika membuat Anta terdiam. "Untuk apa malu? Aku sudah melihat semuanya. Bahkan aku sudah—"


"Mas."


"Hehehe... Aku hanya bercanda."


Anta merengut dan memanyunkan bibirnya. Hal itu membuat Elvano semakin terkekeh. Merasa gemas, ia menangkup wajah Anta lalu mengecup bibir sang istri.


"Jangan mancing-mancing. Aku suka lepas kontrol kalau kamunya kayak gitu," seru Elvano sambil menatap lembut sang istri.


"Siapa yang mancing sih?" kesal Anta. Dia tidak pernah berniat mancing-mancing seperti yang Elvano katakan. Otak Elvano saja yang suka berpikiran mesum.


"Kamu lah sayang. Kan cuman kamu sama aku disini," ucap Elvano, membuat Anta kembali mengerucutkan bibirnya. Elvano yang melihatnya kembali tersenyum.


"Mas." Anta mendongakkan wajahnya dan balas menatap mata sang suami.


"Hmm?"


"Aku tanya sesuatu, boleh?"


"Boleh. Mau tanya apa?"


"Mas, benaran cinta sama aku?" tanyanya. Meskipun ia bahagia dengan semua perlakuan Elvano padanya, dengan semua kejutan yang Elvano berikan, masih ada setitik perasaan tak nyaman mengenai Elvano yang melarangnya melihat handphonenya beberapa waktu lalu.


Jujur saja, pikiran-pikiran negatif mengenai suaminya terus saja berkeliaran meski ia berusaha menepisnya.


"Kenapa tanya begitu? Hmm?"


"Nggak kenapa-kenapa, cuman mau tau aja," balasnya.


Elvano tersenyum dan mengusap lembut pipi Anta. "Kamu udah tau jawabannya sayang. Mas kan udah bilang sama kamu wak—"


"Aku mau dengar sekali lagi Mas."


"Ya, Mas benaran cinta sama kamu. Sampai Mas berhenti bernafas pun cinta Mas akan tetap milik kamu."


"Aku mau bukti Mas."


Kening Elvano mengerut. Ada apa dengan istrinya ini? Anta tidak biasanya bersikap seperti itu.


"Istri Mas ini kenapa sih?" Elvano merangkul Anta dan membawa wanita itu dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala sang istri berkali-kali.


Anta hanya diam. Tapi, beberapa detik kemudian, terdengar isakan kecil yang seketika membuat Elvano panik. Laki-laki itu meregangkan pelukannya, lalu sedikit merunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Anta yang sedang menunduk.


"Sayang, kenapa menangis? Apa ada yang menyakitimu? Apa Mas menyakitimu?" Anta menggeleng pelan.


"Lalu? Kenapa kamu menangis?"


"Hiks... M-Mas."


"Iya, sayang. Ada apa? Ayo, ngomong sama Mas." Elvano kembali membawa Anta dalam pelukannya.


"Anta hiks... takut Mas. Anta takut Mas bakal tinggalin Anta, hiks."


"Tapi, Anta nggak percaya, hiks. Anta tau Mas bohong. Mas nggak jujur sama Anta. Mas nggak terbuka, nggak percaya sama Anta."


"Siapa bilang? Mas nggak bohong, sayang. Mas ngomong yang sebenarnya. Mas jujur soal perasaan Mas. Mas percaya sama kamu, Mas sayang juga."


"Anta nggak percaya hiks. Kalau Mas percaya sama Anta hiks, Mas nggak akan sembunyiin apapun dari Anta."


"Sayang, Mas nggak sembunyiin apa-apa dari kamu. Oke, Mas akui Mas sembunyiin soal lamaran dan pernikahan ini. Tapi, itu semua sebagai kejutan buat kamu."


"Bukan yang itu."


Kening Elvano mengerut. Ia tidak merasa berbuat sesuatu dan menyembunyikannya dari Anta. "Lalu yang mana?"


"Hiks... Yang itu. Soal Mas yang nggak bolehin Anta lihat handphone Mas. Anta sampai sekarang masih kepikiran."


"Masalah itu?" Anta mengangguk pelan. "Astaga sayaaang. Di handphone itu nggak ada apa-apa. Waktu itu aku lagi kirim pesan sama pihak WO yang bertanggung jawab di acara pernikahan kita hari ini. Terus Mas juga lagi chattingan sama Dinda mengenai gaun pernikahan. Aku sengaja nggak lihatin ke kamu supaya kamu nggak tahu rencananya. Kalau kamu tahu kan, nggak surprise lagi."


Anta mendongak mendengar ucapan sang suami. Ia menatap lekat wajah tampan yang kini juga balas menatapnya.


"Ja-jadi, selama ini aku udah salah sangka sama Mas? Udah nuduh Mas tanpa ada bukti yang kuat." Air mata Anta kembali luruh. Membuat Elvano segera mengusapnya.


"Udah, jangan nagis lagi. Nanti adek bayi nya juga sedih." Tangan Elvano turun mengusap lembut perut Anta.


"Hiks... Maafin aku ya, Mas."


"Iya, Mas maafin. Udah, jangan nangis lagi."


Anta menghentikan tangisnya, mengusap pelan sisa air matanya lalu mendongak menatap Elvano.


"Mas."


"Hmm?"


"Aku mau..." suara Anta lirih, ragu untuk mengatakan hal yang ia inginkan pada Elvano.


"Mau apa? Hmm?"


"Aku... Mau cium Mas," ucapnya dengan kembali menundukkan kepala. Pipinya memerah menahan malu. Entah dorongan dari mana, ia tiba-tiba sangat ingin mencium suaminya itu.


Elvano yang mendengarnya tersenyum. Hal langka yang terjadi dalam pernikahannya, tidak akan ia lewatkan. Perlahan dan dengan lembut, Elvano mendongakan wajah Anta hingga kembali menatapnya.


"Ayo, cium."


"Di bibir?" Elvano mengangguk. Dalam hatinya menahan tawa melihat tingkah Anta. Istrinya sangat imut. Jika tidak mengingat pesan dokter waktu itu, bisa dipastikan malam ini akan menjadi malam pertama yang penuh kehangatan di pernikahan kedua mereka.


Anta yang mendapat persetujuan Elvano tersenyum tipis. Ia mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya dengan bibir Elvano. Hanya beberapa detik, kemudian ia segera menjauhkan wajahnya.


Elvano yang sudah menanti dengan perasaan bahagia menatap cengo sang istri yang sedang tertunduk tersenyum malu. Dalam pikirannya, Anta akan memberikan ciuman panjang yang menyenangkan. Namun, semua seketika sirna saat Anta hanya menempelkan bibirnya, dan itu pun hanya sekejap.


"Hanya itu?" tanya Elvano masih dengan tatapan tak percayanya.


Anta mengangkat wajahnya, menatap Elvano lalu mengangguk pelan, mengiyakan ucapan sang suami.


"Anta."


"Ya?"


"Bukan begitu cara ciuman yang aku ajarkan."


"Hah? Aku—hmmpp."


Ucapan Anta langsung bungkam oleh ciuman Elvano. Hingga beberapa detik kemudian, senyum dibibir Elvano terukir saat merasakan Anta membalas ciumannya. Suatu kemajuan dari si ibu hamil.


Entah ini karena kamu atau bukan, aku tetap berterima kasih padamu, calon anakku. Batin Elvano.


.......


.......


.......


...END...


Yuhuuu... akhirnya Annanta END. Makasih buat teman-teman yang udah meluangkan waktu membaca kisah Anta dan Elvano. Dan Makasih banyak buat teman-teman yang mau bertahan nungguin update nya yang suuuper lama. Semoga kalian sehat selalu dan selalu lancar rezekinya. Salam dari Aquilaliza 💗💗.


Maaf ya, endingnya nggak sesuai harapan kalian.