Annanta

Annanta
Tawaran Devita



Dua hari setelah kejadian tersebut, Anta memilih untuk menghindar dari Elvano. Dia tidur di kamar Evan dengan beralaskan karpet bulu karena tidak ada ranjang untuk orang dewasa di kamar itu.


Anta akan bangun sangat pagi untuk menyiapkan sarapan. Lalu menyiapkan baju untuk Elvano ketika Elvano sudah berada di kamar mandi. Dia tidak ikut sarapan bersama Elvano dan membawa makanan Evan ke kamar. Ketika Elvano berpamitan pada Evan, dia hanya diam, tertunduk. Bahkan dia tidak menyalimi Elvano seperti biasanya. Dia hanya ingin membiasakan dirinya untuk tidak terlalu mengurusi urusan Elvano.


Namun Anta tidak tahu saja, semua yang ia lakukan membuat Elvano setengah gila. Laki-laki itu berangkat ke kantor dengan mata panda. Dia sepertinya terus begadang.


"Nggak bisa! Anta nggak boleh gini sama aku!" gumamnya, sambil mondar-mandir di kamarnya. Tubuhnya masih terbalut handuk yang melilit di pinggangnya. Dia sedang memikirkan caranya agar Anta kembali tidur di kamarnya.


Pagi ini, ia sengaja bangun dan mandi sangat pagi agar bisa melihat Anta menyiapkan baju untuknya. Ketika mendengar pintu yang akan dibuka, Elvano melesat cepat ke kamar mandi sambil memegang erat handuknya. Ia berdiri dengan pintu yang sedikit terbuka. Melihat Anta masuk, ia menghidupkan shower agar Anta menyangka jika dia sedang mandi. Padahal, dia sedang memperhatikan wajah istrinya itu.


"Hari ini Mas El pakai yang ini saja." Anta mengeluarkan stelan kemeja dan jas. Ia meletakkan stelan jas dan kemeja tersebut di atas ranjang, lalu kembali mengambil celana bahan yang akan Elvano kenakan.


"Celananya yang ini aja. Terus dasinya... biar Mas El sendiri yang pilih."


"Saya mau kamu yang pilih."


Deg...


Tubuh Anta menegang. Ia meneguk kasar ludahnya. Bisikan Elvano membuatnya merinding. Tapi yang ia pikirkan sekarang, bagaimana Elvano mandi secepat itu? Biasanya di jam segini, Elvano masih dalam kamar mandi dan kemungkinan keluar sekitar 15 menit lagi. Tapi kini, Elvano sedang berdiri di belakangnya.


"Saya sedang menunggu celana dan dasi saya. Kenapa kamu hanya diam?"


Anta menarik nafasnya dan berusaha menetralkan degup jantungnya. Ia meraih dasi dan berbalik.


Deg...


Lagi-lagi Anta dibuat terkejut. Elvano berdiri dibelakannya dengan jarak yang sangat dekat. Terlebih lagi, hanya handuk yang melilit sebagian tubuhnya.


Anta menarik nafasnya, lalu bergerak ke samping kanan, mencari jalan lain. Namun, Elvano mengikutinya. Saat ia ke samping kiri, Elvano juga ke kiri. Saat ia hendak ke kanan lagi, Elvano maju dan membuantya spontan mundur, hingga punggungnya menempel pada lemari.


Elvano sedikit menunduk dan memiringkan kepalanya menatap Anta. Anta yang di tatap intens merasakan tenggorokannya kering.


"M-Mas, ka—"


Cup...


Satu kecupan mendarat di bibir Anta. Gadis itu melotot pada Elvano. Saat ia hendak membuka mulut kembali, Elvano bergerak cepat, kembali mencium bibir Anta. Ia bahkan menahan tengkuk gadis itu agar tidak menjauhkan wajahnya. Elvano merasa senang. Ia sangat menikmatinya. Menikmati ciuman yang ia yakini pertama kali bagi Anta.


Anta ngos-ngosan ketika Elvano melepaskan ciuman itu. Saat Elvano hendak menyentuh bibirnya yang terlihat sedikit bengkak, Anta menepisnya. Ia mendorong Elvano dan keluar dari kamar tersebut. Ia bahkan menjatuhkan celana dan dasi yang diambilnya ke lantai.


"Anta—"


Brak...


Pintu tertutup keras. Anta sepertinya benar-benar marah. Elvano mengacak kesal rambutnya. Dia memang bodoh. Kenapa ia terburu-buru seperti ini?


"Aaarrrgghhh!!" teriaknya frustasi.


"Bodoh kamu Elvano! Bodoh!"


"Bagaimana kalau Anta membencimu dan menjauhimu? apa yang akan kamu lakukan? Hah?" Elvano kembali mengacak rambutnya. Ia kemudian meraih celana dan dasi yang tergeletak di lantai. Ia memungutnya dan mulai mengenakannya satu per satu.


Setelah selesai, ia keluar kamar. Ia berhenti di depan kamar Evan dan mengetuk pintu kamar tersebut, hal yang jarang sekali ia lakukan. Ia biasanya selalu menerobos masuk tanpa peduli sedang apa orang yang ada di dalam kamar.


"Evan," panggil Elvano, namun tak ada yang menjawab. Karena memang dia tidak sabar, ia membuka pintu tanpa mengetuknya. Tapi, tak ada Anta maupun Evan yang ia temukan.


"Apa Anta sudah di ruang makan?" gumamnya. Ia kemudian segera ke ruang makan. Tapi, lagi-lagi dia tidak menemukan mereka disana.


"Dimana Anta sama Evan, Bi?" tanya Elvano pada Bi Ijah.


"Nyonya ke taman belakang sama tuan muda."


Elvano langsung bergegas menuju taman belakang. Langkahnya terhenti di jarak yang sedikit jauh dari Anta dan Evan. Ia menatap Anta yang sedang berjongkok mengikuti Evan yang berjongkok untuk mengambil mainannya yang terjatuh.


"Evan boleh pegang, tapi nggak boleh dimasukin ke mulut. Mainannya udah kotor."


"Tol," beo anak itu, sambil menatap wajah Anta.


"Iya, sayang. Kotor."


"Maa...."


"Iya, Nak."


"Mam?"


Anta terkekeh melihat ekpresi lucu Evan. Spontan ia mencium pipi Evan. "Lucu banget anak Mama."


"Mam?"


"Evan kan udah mam tadi, masa mam lagi? Kita main aja ya?" ucap Anta. "Ini, Mama mau tanya. Mata Evan mana?" Anak itu menunjuk matanya.


"Kalau kepala Evan?" anak itu juga menunjuk kepalanya. Anta kembali bertanya anggota-anggota tubuh lainnya dan Evan menunjuk sesuai apa yang Anta tanyakan.


"Kalau ini siapa nya Evan?" tanya Anta menunjuk dirinya sendiri.


"Ma," jawabnya dan langsung memeluk Anta. Anak itu terkekeh dalam pelukan Anta yang diikuti kekehan Anta.


"Pintar anak Mama." Anta mengecup pipi Evan beberapa kali, membuat anak itu terus terkekeh.


Sepertinya aku sudah paham dengan perasaanku.


***


Seminggu berlalu. Situasi dingin antara Elvano dan Anta masih berlanjut. Dan setiap malam Elvano harus memaksa memejamkan mata dengan memeluk baju Anta. Tidur sambil memeluk Anta adalah kebiasaannya sejak dia berani malam itu. Jika tidak memeluk Anta, rasanya sulit untuk memejamkan mata. Ingin sekali ia menerobos kamar Evan dan tidur disana sambil memeluk Anta. Tapi, kamar itu selalu di kunci Anta. Kunci utama maupun cadangan semua dibawa Anta.


Elvano bangun dari tidurya jam 8 pagi. Ia menatap ranjangnya yang kini kosong. Menarik nafasnya, ia lalu bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai, ia mengenakan stelan kantor yang dipilihnya sendiri. Sejak peristiwa ia mencium bibir Anta, gadis itu tidak mengurusnya lagi, kecuali memasakan makanan.


Elvano keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju dapur. Namun, keningnya mengerut saat mendengar suara Mamanya di ruang keluarga. Laki-laki itu berbelok ke arah ruang keluarga.


"Mama?"


Bu Devita yang sedang mengobrol bersama Anta menoleh. Ia menatap putranya dari atas kepala hingga kaki.


"Kamu kenapa? Nggak biasanya bangun jam segini?"


"Vano nggak apa-apa, Ma." Laki-laki itu berbicara pada Mamanya. Namun, matanya tertuju pada Anta yang malah berbicara dengan Evan, seolah mengabaikannya.


"Anta, saya belum sarapan," ujar Elvano, membuat Devita menggigit bibir dalamnya menahan senyum.


"Sarapan udah disiapin di meja," balas Anta tanpa menoleh. Kali ini Devita terkejut. Dia belum pernah melihat Anta bersikap tak peduli seperti ini.


Apa yang terjadi? Kenapa Anta bersikap acuh seperti ini? Tapi, nggak apa-apa. Sesekali begini juga bagus. Biar Elvano cepat sadar dan menerima Anta sebagai istrinya.


Elvano menarik nafasnya. Sepertinya kemarahan Anta belum reda juga. Dengan tak semangat Elvano berbalik hendak ke ruang makan. Namun, suara Devita menghentikannya.


"Elvano, tunggu!"


Elvano berhenti dan berbalik. "Ada apa, Ma?"


"Mama kesini mau bilang, Mama sama Papa sama yang lain juga mau ke vila baru Papa."


"Vila yang baru dibangun itu? Udah jadi?"


"Ya udah lah, sayang. Kalau belum jadi ngapain kita ke sana?" balas Devita. "Jadi, Mama sama Papa mau ajak kalian ke sana. Besok sama lusa kan libur. Tambah dua atau tiga hari nggak masuk kerja juga nggak masalah."


Elvano terdiam memikirkan tawaran Mamanya. Ia hendak menolak, tapi tiba-tiba handphonenya bergetar, sebuah notifikasi pesan masuk.


Mama


Mama nggak tahu, ada masalah apa antara kamu sama Anta. Nggak biasanya Anta acuh begitu. Terima saja tawaran Mama Papa. Mungkin saja hubungan kamu sama Anta bisa membaik.


Elvano menatap Mamanya yang kini menatap balik dirinya sambil menaikkan sebelah alisnya. Ia lalu mengetikkan sesuatu di handphonenya.


^^^Elvano^^^


^^^Mama sok tahu. ^^^


Mama


Bukan sok tahu. Mama memang tahu, termasuk soal kamu yang mulai menyukai Anta. Iya, kan?


Devita menatap putranya sambil menaik turunkan alisnya, tengil. Membuat Elvano menghembuskan nafasnya sembari melirik Anta yang masih fokus pada Evan.


^^^Elvano ^^^


^^^Tahu dari mana Mama kalau Vano suka Anta? ^^^


Mama


Tatapan kamu sama sikap kamu itu udah jelas banget, Vano. Apalagi kalau lagi cemburu. Udah lah, jangan bohongi Mama. Mama tahu gimana putra Mama.


Mama


Sudahlah, Vano. Terima saja tawaran Mama. Anta udah setuju. Kamu mau Anta berduaan sama Dika di vila? Kata Dika, dia suka lihat Anta senyum. Mama rasa, sepupu kamu itu ada rasa sama Anta.


Elvano mengeraskan rahangnya. Ia lalu menarik nafasnya. "Ya udah. Vano setuju!" ucapnya.


"Yes." Devita tersenyum senang. "Karena kalian berdua sudah setuju, jam 2 siang, kita berangkat."


"Jam 2 siang?" Elvano dan Anta bertanya bersamaan. Dan Devita dengan santainya mengangguk.


"Kamu hari ini nggak ada jadwal apa-apa selain tandatangan kontrak jam sepuluh nanti. Dan 3 hari kerja setelah hari libur, Mama minta kamu cancel semua jadwal kamu."


"Terserah Mama saja!" jawab Elvano kemudian berlalu menuju ruang makan. Mamanya suka sekali mengambil keputusan sendiri.


Devita memutar bola matanya, kemudian berbalik menatap Anta. "Anta,"


"Iya, Ma?"


"Elvano udah setuju. Kamu siapin barang-barang kalian yang mau dibawa, ya? Jangan lupa ajak bi Ijah sama pak Tarman."


"Iya, Ma. Mama hati-hati pulang nya."


"Iya, sayang." Devita menepuk pelan puncak kepala Anta. Wanita itu lalu mengusap dan mencium pipi Evan. "Nenek pulang dulu, ya? Sampai ketemu nanti, cucu Nenek."


Setelah berpamitan pada Anta dan Evan, Devita berpamitan pada putranya, Elvano.