
Anta terus fokus membersihkan sayur. Tatapannya hanya tertuju pada sayur, mengabaikan Elvano yang sarapan sambil terus menatapnya. Sebenarnya ia takut dan canggung pada Elvano, mengingat perlakuan lelaki itu tadi.
Mas El hanya berpura-pura, Anta. Jangan dianggap serius.
"Kenapa kamu nggak lawan mereka? Katakan saja apa yang terjadi sebenarnya," ucap Elvano kesal.
"Dijelaskan bagaimana pun, kalau mereka udah anggap Anta buruk, tetap saja akan buruk di mata mereka," ujar Anta.
Elvano terdiam mendengarnya. Kunyahan di mulutnya juga terhenti. Ia menatap Anta dalam. Dia jadi penasaran dengan kehidupan Anta sebelum menikah dengannya.
"Saya hanya menyarankan," balas Elvano, kemudian lanjut memakan sarapan nya.
Setelah menghabiskan sarapannya, Elvano menuju ruang tamu. Lelaki itu duduk disana sembari memperhatikan handphonenya. Ia memeriksa email yang dikirim Risma.
"Kopi nya, Mas." Anta meletakkan kopi di meja kecil tersebut, lalu kembali ke dapur. Ketika hendak menyeruput kopinya, tangis Evan terdengar. Elvano melangkah cepat ke kamar. Melihat Elvano yang sudah di depan pintu kamar, Anta yang hendak menemui Evan menghentikan langkahnya.
"Biar saya saja. Kamu lanjut masak nya."
"Iya, Mas."
***
Setelah makan malam, Anta, Elvano, Ricky dan Evan duduk bersama di ruang tamu. Elvano dan Ricky duduk di kursi yang tersedia. Sementara Anta dan Evan duduk di lantai beralaskan karpet. Anta sengaja membentang karpet agar Evan bisa bermain. Elvano mengawasi Ricky yang sedang mengerjakan PR dan Anta mengawasi Evan. Sesekali gadis itu melihat PR yang Ricky kerjakan.
"Kakak sama Kak Anta kalau jam segini ngapain?" tanya Ricky. Anak itu memang mudah beradaptasi dengan orang baru.
"Kita nggak ngapa-ngapain. Kakak melanjutkan pekerjaan Kakak yang belum selesai di kantor."
"Malam-malam begini, masih kerja?" Elvano mengangguk.
"Kalau Kak Anta?" lanjut Ricky menatap Anta.
"Kakak temani Evan sampai Evan tidur."
"Kenapa beda?" gumam Ricky pelan.
"Apa yang kamu katakan?"
"Hah? Enggak. Ricky hanya heran. Kenapa Kak Elvano sama Kak Anta nggak ngobrol bareng saat malam hari? Dulu, Ricky suka lihat Ayah sama Ibu mengobrol setiap selesai makan malam. Ricky juga nggak tahu, mereka ngobrol apa?" ucap anak usia 11 tahun itu dengan polosnya.
"Ricky, itu urusan orang dewasa. Lagi pula kamu masih kecil waktu itu. Mana mungkin kamu ingat apa yang Ayah Ibu lakukan setelah makan?"
"Waktu itu aku sudah 7 tahun, Kak. Walau samar-samar, aku masih tetap ingat."
Anta terdiam. Ia memilih menatap Evan. Mata anak itu sayu. Ia juga sudah menguap beberapa kali.
"Maa... Maa...."
"Evan ngantuk, ya?"
"Maa...."
"Ayo, kita ke kamar! Mama tamani Evan tidur," ujar Anta lalu beranjak sambil menggendong Evan.
"Anta ke kamar dulu, Mas. Ricky, Kakak temani Evan dulu."
"Iya, Kak."
Anta segera berlalu ke kamarnya. Elvano terus memperhatikannya. Sedangkan Ricky, ia kembali mengerjakan PR nya. Beberapa detik kemudian, ia selesai mengerjakannya.
"Kakak lihat apa?" pertanyaan Ricky membuat Elvano memutuskan tatapannya. Yang semula menatap ke arah kamar Anta, kini beralih menatap Ricky.
"Nggak. Nggak lihat apa-apa," balasnya. Melihat Ricky, Elvano tiba-tiba ingin tahu kehidupan Anta sebelum bersamanya. Dan Ricky adalah orang yang tepat untuk ia mengorek informasi.
"Ricky, PR nya udah selesai?"
"Kakak boleh tanya sesuatu?"
"Boleh. Tanya apa?"
"Kakak mau tahu kehidupan kalian terutama kehidupan Anta sebelum menikah dengan Kakak."
"Itu, ya? eeemm... kita dulu sebelum Ayah sama Ibu meninggal, hidup kita baik-baik aja. Tapi, setelah Ayah sama Ibu meninggal, hidup kita mulai berubah, Kak. Kak Anta jadi tulang punggung buat aku sama Kak Tiara. Dia kerja apa aja yang dia bisa. Ricky sama Kak Tiara mau berhenti sekolah supaya bisa bantuin Kak Anta. Tapi Kak Anta nggak izinin. Ricky juga sering sakit-sakitan. Sampai Kak Anta punya uang, Ricky baru bisa berobat. Tapi, Ricky saat itu divonis kena penyakit ginjal. Sejak saat itu, Kak Anta bekerja sangat keras. Sampai akhirnya Ricky harus dioperasi. Biaya operasi yang banyak membuat Kak Anta setuju dengan tawaran Ibu."
Elvano terdiam mendengar cerita Ricky. Anta memang gadis kuat. Dia di usia muda seperti Anta masih menikmati kehidupan mudanya. Tapi, Anta malah menghabiskan hidupnya untuk kedua adiknya. Dan sekarang mengorbankan masa depannya dan menjadi Ibu sambung untuk Evan.
"Kak Elvano."
"Hmm...?"
"Ricky tahu, Kakak orang baik. Jagain Kak Anta, ya? kak Anta orang baik dan tulus. Ricky dan kak Tiara bukan siapa-siapa nya kak Anta. Tapi, kak Anta tulus menyayangi kami. Bahkan setelah Ayah sama Ibu meninggal pun, kasih sayang kak Anta nggak pernah berubah."
Kening Elvano mengerut mendengar ucapan Ricky. Hal apa lagi yang tidak ia ketahui tentang hidup Anta?
"Maksud kamu?"
"Ricky sama kak Tiara hanya anak angkat. Orang tua kita titipin kita ke orang tua kak Anta. Dan sampai sekarang, mereka nggak jemput kita lagi." Wajah Ricky berubah sendu menceritakan hal tersebut. Masih dia ingat saat orang tuanya meninggalkan dia dan kakaknya, Tiara. Saat itu usianya masih 5 tahun, dan Tiara berusia 9 tahun.
Elvano lagi-lagi menatap Ricky. Nasib anak itu tidak seberuntung Anta. Dan nasib Anta dan kedua adiknya tidak seberuntung dirinya.
Ricky menarik nafasnya lalu tersenyum pada Elvano. "Ricky udah selesai. Ricky ke kamar dulu, ya?"
"Ya. Istirahatlah."
Ricky segera ke kamarnya. Ia masuk dan menutup pintu. Sementara di ruang tamu, Elvano duduk sendiri sambil merenung, memikirkan cerita Ricky.
Tak...
Tiba-tiba lampu di rumah itu mati. Bukan hanya di rumah itu, melainkan seluruh rumah warga.
"Kak, malam ini jadwal pemadaman listrik bergilir! Ada perbaikan listrik. Ricky lupa kasi tahu!!" teriak Ricky dari kamarnya.
Elvano berdiri dan mendekati kamar Ricky. "Kamu diam di kamar. Kakak ambil handphone dulu," ucap Elvano
Laki-laki itu bergegas ke kamar Anta. Namun, sebelum ia mencapai kamar, dia berpapasan dengan Anta yang membawa lilin.
Elvano terdiam. Ia tertegun melihat wajah Anta dalam cahaya remang-remang lilin yang dibawanya. Gadis itu terlihat sangat cantik.
"Ricky pasti sudah menunggu lilinnya. Biarkan Anta lewat, Mas." Suara lembut Anta mengalun ke indra pendengaran Elvano. Bagai di hipnotis, Elvano memberikan jalan untuk Anta, membiarkan istrinya itu lewat.
"Anta benar-benar cantik," gumamnya seraya menyentuh dada kirinya, merasakan jantungnya yang berdetak cepat. Setelah itu dia masuk ke kamar, membaringkan tubuhnya di sebelah Evan.
Hampir 10 menit, Anta belum juga kembali. Elvano merasa sulit memejamkan matanya. Ia bangun dan mendudukkan tubuhnya. "Kenapa Anta lama sekali? aku harus melihatnya," ujar Elvano dan beranjak turun. Belum sempat kakinya menyentuh lantai, terdengar suara pintu dibuka. Secepat kilat Elvano membaringkan kembali tubuhnya dan pura-pura memejamkan mata.
Anta masuk dan mendudukan tubuhnya di sebelah kiri Evan. Dalam keremangan cahaya lilin, Anta menatap Evan dan Elvano. Anta mengusap lembut kepala Evan.
"Mama sangat sayang Evan. Dan selamanya akan selalu sayang Evan." Anta menunduk dan mengecup kening Evan.
Tatapannya lalu beralih pada Elvano. Tangannya terulur mengusap lembut rambut Elvano. Anta cukup lama melakukannya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya fokus mengusap rambut lelaki itu.
Terdengar tarikan nafas panjang yang dilakukan Anta. Tangannya sejenak berhenti, lalu kembali mengusap rambut Elvano.
"Kita disatukan karena kesepakatan, dan akhirnya sudah bisa dipastikan, yaitu perceraian. Seharusnya perasaan ini nggak ada, Mas. Seharusnya aku menjaga hatiku untuk nggak mencintaimu. Tapi, aku nggak bisa mengendalikan perasaanku. Aku mengakuinya, kalau aku mencintaimu," ungkap Anta.
"Aku mencintaimu Mas El..." lanjutnya lirih.
Elvano yang memang sejak tadi hanya berpura-pura tidur pun terjekut. Dia sedang nyaman dengan elusan lembut Anta di kepalanya, dan Anta membuatnya terkejut dengan ungkapan cintanya itu. Tapi tak Elvano pungkiri, dia bahagia mendengarnya.