Annanta

Annanta
Makan Siang



Di Perusahaan, Elvano baru saja selesai rapat. Lelaki itu kembali ke ruangannya diikuti Risma di belakangnya. Wanita itu meletakkan beberapa dokumen di meja Elvano.


"Ada yang harus saya kerjakan lagi, tuan?" Tanya Risma.


"Nggak ada. Kamu bisa keluar."


Risma mengangguk lalu menundukkan sedikit kepalanya. "Saya permisi, tuan."


"Hmmm."


Setelah Risma keluar, Elvano menyandarkan tubuhnya di sofa, lalu meraih handphonenya. Dia sudah memikirkan apa yang harus Anta lakukan untuk menebus kesalahannya.


"Ck. Sial! Aku kan belum punya nomor handphone Anta." Decak nya. Ia lalu beralih menghubungi Bi Ijah. Aneh memang. Dia memiliki nomor handphone sang ART, tapi tidak memiliki nomor handphone istrinya.


Telpon nya tersambung, dan Bi Ijah segera menjawab nya. "Hallo, tuan?"


"Hallo."


"Ada apa, tuan? Apa ada berkas yang tertinggal?"


"Nggak ada. Dimana Anta?"


"Nyonya lagi jagain tuan muda Evan."


"Antarkan handphone nya ke Anta."


"Baik, tuan."


Bi Ijah segera ke ruang bermain. Disana Anta sedang menemani Evan bermain.


"Nak Anta." Panggil Bi Ijah setengah berbisik. Wanita paruh baya itu sedikit menjauhkan handphone dari bibirnya.


"Ada apa, Bi?"


"Tuan Elvano mau ngomong."


Anta meneguk ludahnya. Apa yang ingin Elvano bicarakan? Anta meraih handphone dari Bi Ijah.


"Ha-Hallo, Mas."


"Hmm..." Jawab Elvano. "Anta,"


"Iya, Mas?"


"Masak makan siang untuk saya dan antar ke kantor. Itu sebagai penebusan kesalahanmu."


"Aku yang antar, Mas?"


"Iya. Harus kamu sendiri juga yang masak. Bukan Bi Ijah."


"Iya Mas."


Evan yang tadinya sibuk bermain menatap Anta. Dia seperti tidak rela jika Anta mengabaikannya dan sibuk pada urusan lain. Anak itu berdiri dan berusaha meraih handphone dari genggaman Anta.


"Maa... Maa..."


"Iya, sayang. Mama ngomong dulu ya, nak."


"Maa..."


"Kenapa Evan?" Tanya Elvano.


"Enggak, Mas. Dia nya nggak izinin aku ngomong."


"Ya sudah. Saya tutup telponnya. Kamu jangan lupa, antarkan saya makan siang."


"Iya, Mas."


Setelah panggilan terputus, Anta menghela nafas. Ia pikir, Elvano akan memeberikannya hukuman atau sesuatu yang memberatkannya. Ternyata hanya memasak makan siang dan mengantarkannya ke kantor.


"Ini Bi, handpohone-nya."


Bi Ijah tersenyum sambil menerima handphonenya. Wanita paruh baya itu menatap Anta. "Nggak biasanya tuan minta diantar makanan ke kantor. Nak Anta sama tuan ada apa?"


"Nggak ada apa-apa, Bi. Semalam Anta nggak sengaja bentak Mas El, terus Anta minta maaf tadi pagi. Tapi Mas El nya nggak mau maafin. Sekarang, Mas El minta Anta masakin sebagai tanda permintaan maaf Anta."


"Oohh..." Bi Ijah mengangguk dengan senyum di bibir yang tak luntur.


Aku rasa, tuan mulai menyimpan perasaan pada nak Anta. Mudah-mudahan tuan benar-benar jatuh cinta pada nak Anta.


"Ayo Bi, kita ke dapur!"


"Ayo, nak."


Anta bangun dan langsung menggendong Evan. Gadis itu mengecup pipinya sekilas. "Kita ke dapur dulu, ya. Mama mau masakin makan siang buat Papa."


"Paa... Paa... Paa..."


"Iya, nak. Papa, Papanya Evan." Evan tersenyum dan memeluk erat leher Anta.


"Oh ya, Nak Anta. Kalau masak nanti, jangan lupa sama udang goreng nya. Tuan suka sama udang goreng buatan nak Anta."


"Beneran, nak. Waktu nak Anta nginap di rumah tuan besar, Bibi masakin udang goreng nih, tapi kata tuan rasanya beda dari biasanya. Dia lebih suka yang biasanya."


Anta tersenyum. Hatinya sangat bahagia mendengar ucapan Bi Ijah. Dia sangat senang makanan yang ia masak disukai Elvano.


Sementara di kantor, Elvano mulai melakukan pekerjaannya dengan bibir yang tersenyum. Ia tidak sabar mencicipi makanan yang Anta masak. Dan lagi, dia sudah punya rencana untuk menahan Anta menemaninya makan.


***


Mobil yang dibawa Pak Tarman, supir yang bekerja di rumah Elvano berhenti di depan perusahaan Elvano. Elvano berdiri di dekat jendela besar yang ada di ruangannya. Seulas senyum muncul di bibirnya saat matanya menangkap sosok Anta berjalan masuk dari gerbang ke halaman depan perusahaan.


"Dia datang," Gumam lelaki itu. Saat tubuh Anta menghilang memasuki perusahaan, Elvano kembali ke kursinya. Lelaki itu duduk sambil terus memperhatikan pintu di depannya. Dia sudah meminta Risma untuk meminta resepsionis mengantar Anta ke lantai tempat ruangannya berada.


Tok... Tok... Tok...


Pintu yang di ketuk membuat Elvano memperbaiki duduknya dan merapihkan jas nya. Dia juga pura-pura memfokuskan pandangannya pada berkas-berkas di meja.


"Masuk!" Perintahnya, yang membuat pintu di dorong dari luar.


Risma masuk bersama Anta yang membuntutinya. "Maaf tuan, nona Anta sudah datang." Ucap Risma.


"Ya. Kamu boleh kembali bekerja. Biarkan dia disini."


Risma mengangguk. "Baik, tuan. Kalau begitu, saya permisi."


"Ya."


Risma undur diri dan keluar dari ruangan tersebut, menyisakan Anta dan Elvano. Anta menoleh ke arah pintu yang tertutup. Rasanya canggung berada di ruangan yang sama dengan Elvano, mengingat kejadian mereka semalam.


"Kenapa masih disitu?"


"Hah?"


"Saya suruh kamu kesini bawa makanan. Bukan suruh kamu bengong disitu."


Anta meneguk ludahnya lalu melangkah menuju meja depan sofa. Ia meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja.


"Mas El..."


"Jam makan siang masih 1 jam lagi." Katanya, memotong ucapan Anta. Sontak gerakan tangan Anta yang hendak membuka rantang makanan terhenti.


"Kalau begitu, Anta taroh disini makanannya. Anta pulang dulu. Evan..."


"Saya nggak mau repot bawa pulang benda itu. Saya juga masih sibuk sama pekerjaan saya." Ujar Elvano. "Seharusnya kamu tanggung jawab sama pekerjaan kamu. Begini cara kamu minta maaf? Nggak sampai selesai."


Anta terdiam. Gadis itu menarik nafasnya. Apa dia harus menunggu Elvano sampai selesai makan siang?


"Kalau kamu mau pulang, pulang saja! Tapi, bawa kembali makanan mu itu. Nggak ada maaf sama permintaan maaf."


Anta menggeleng. "Enggak, Mas. Anta nggak akan pulang sebelum Mas selesai makan." Ujar Anta. Tanpa Anta sadari, ucapannya membuat sudut bibir Elvano tertarik membentuk senyum tipis.


Setelah itu, ia kembali berpura-pura mengerjakan pekerjaannya. Namun, matanya terus melirik Anta yang terduduk di sofa. Gadis itu mencoba mengusir bosannya dengan membaca buku milik Elvano yang tergeletak di meja. Hingga jam makan siang, Elvano menghentikan pekerjaannya.


"Bawakan makanannya kesini."


Anta menoleh pada Elvano. Lelaki itu berbicara padanya namun tetap fokus pada berkas-berkas di tangannya.


Mas El pasti sangat sibuk. Pekerjaannya juga pasti sangat banyak. Pikir Anta.


"Anta,"


"Eh, iya Mas." Anta segera mendekat sambil membawa makanan tersebut. Gadis itu meletakan rantang makanan di atas meja kerja Elvano.


"Kenapa kamu berdiri? Tarik kursi itu kesini dan duduk!"


"Duduk disini, Mas?" Anta menatap tempat ia berdiri sekarang. Cukup dekat dengan Elvano. Jika dia duduk begitu dekat begini, jantungnya tidak akan aman.


"Ya. Kenapa? Kamu nggak mau?"


"Bukan begitu, Mas."


"Ya sudah, duduk saja. Apa susahnya?" Suara Elvano cukup ketus. Anta hanya mengangguk, berusaha menghindar membuat kesalahan.


Anta menarik kursi di depan meja Elvano, lalu duduk di samping lelaki itu. Ia membuka rantang yang di atas meja dan mempersilahkan Elvano makan.


"Ayo Mas, makan dulu."


"Suapi saya!"


Deg...


Anta melototkan matanya. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"M-Mas..."


"Tangan saya sedang memegang berkas-berkas ini. Ini cukup merepotkan, jadi saya harus fokus."


"Iya, Mas."


Perlahan, Anta mulai menyendokkan makanan tersebut lalu mengarahkannya pada Elvano. Ia menyuapi lelaki itu dengan lembut dan telaten. Dan lagi-lagi, perlakuan Anta membuat jantung Elvano berdetak cepat. Bahkan senyum tipis terus tersungging di bibir Elvano.