Annanta

Annanta
Hutang?



Elvano mendongak menatap jam yang tertempel pada dinding. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23 : 00. Ia mengemas dokumen-dokumen nya lalu beranjak dari ruang kerjanya itu.


Sebenarnya, besok dan lusa, ia tidak memiliki jadwal di kantor. Dia memang sengaja meminta Risma mengosongkan jadwalnya dua hari itu, untuk menghabiskn waktu di vila sang Papa, bersama keluarga, sesuai permintaan Mamanya. Namun semua nya gagal karena Tommy.


Elvano berdecak saat membuka pintu kamar dan mendapati Anta tak ada di kamar tersebut. Ia Memundurkan langkahnya hingga berada tepat di depan kamar Evan, lalu mengetuk pintu kamar Evan.


Tak ada jawaban membuat Elvano memilih untuk membukanya. Bisa ia lihat, Anta yang berdiri sambil menatap Evan yang tertidur.


"Sudah dari tadi Evan tidurnya?" bisik Elvano tepat pada telinga Anta. Tangannya juga ia lingkarkan di pinggang Anta.


Tubuh Anta terpaku oleh perlakuan Elvano. Ia merasakan gelenyar aneh dalam dirinya. "Ma-Mas," ucapnya gugup.


"Hmm? Kenapa kamu masih disini? Evan sudah tidur, seharusnya kamu istirahat di kamar." Elvano meletakkan dagunya di pundak Anta. Sedikit memiringkan kepalanya ke arah leher Anta, menghirup wangi yang kini menjadi candu baginya.


"E-Evan baru saja tidur, Mas," jawab Anta. Gadis itu berusaha menetralkan degup jantungnya yang berdetak semakin cepat.


"Ayo, kembali ke kamar."


"Aku masih mau disini, Mas."


Elvano menarik nafasnya. Dan beberapa detik kemudian, ia langsung menggendong Anta ala bridal.


"Mas!" pekik Anta tertahan. Ia ingat, Evan sedang tertidur. Jika berteriak, sudah pasti putranya itu akan terbangun.


"Mas, turunin aku!"


"Nggak akan."


Elvano acuh dan dengan santainya membawa Anta ke arah pintu. "Bukain pintunya."


"Nggak mau." Anta melipat kedua tangannya. Tidak ada sedikitpun niat ia akan membantu Elvano membuka pintu. Elvano tersenyum tipis. Anta pikir, dia tidak bisa membuka pintu dalam keadaan menggendongnya seperti ini? Anta salah!


"Nggak apa-apa kalau nggak mau."


Elvano dengan santainya mendekatkan tangannya yang menyangga bagian paha Anta, dan dengan mudah memutar knop pintu.


"Kok bisa?" gumam Anta pelan.


Elvano hanya tersenyum. Ia mendorong pintu dengan kakinya hingga terbuka, lalu berjalan keluar.


"Bantuin tutup pintunya," ucap Elvano. Anta tak bergeming. Ia malah semakin menyembunyikan tangannya. "Ya udah, biarin aja. Palingan besok Evan bentol-bentol digigit nyamuk."


"Mas kok gitu?"


"Ya, kamu yang nggak mau. Kenapa salahin aku?"


"Ya udah, dekatan dikit ke pintu!" Elvano menurut sambil tersenyum dalam hati.


Anta menarik pelan pintu dan menutupnya kembali. Setelah itu, Elvano membawanya menuju kamar. Kebetulan, Elvano tak menutup kamar mereka tadi. Jadi, laki-laki itu dengan mudah memasuki kamar tersebut.


"Mas, udah ah, turunin aku. Udah sampai kamar kan."


"Masih sampai kamar, belum sampai ranjang."


Anta menghembus pelan nafasnya. Ia membiarkan saja Elvano dengan apa yang akan dia lakukan. Sementara Elvano, ia begitu senang saat Anta terdiam pasrah seperti ini.


Dengan hati-hati, ia membaringkan Anta ke ranjang. Lalu ia beranjak untuk mengunci pintu, kemudian ikut berbaring di samping Anta.


Anta hanya diam. Tak lama kemudian, ia merasakan tangan Elvano melingkar di pinggangnya dan tubuhnya ditarik lembut oleh Elvano.


"Nggak usah peluk-peluk, Mas. Panas," ucap Anta berbohong. Sebenarnya, malam ini tidak panas. Bahkan sedikit terasa dingin. Ini hanya cara Anta agar Elvano tidak memeluknya seperti ini. Jujur, jantungnya tidak aman saat ini.


"Panas?" Anta mengangguk. "Ya udah, buka bajunya biar nggak kepanasan."


Anta mendelik tajam pada suaminya. "Mas!"


"Hehehe... Bercanda, sayang."


Deg...


Anta terdiam kaku mendengar kata sayang yang keluar dari mulut laki-laki itu. Mudah sekali ia mengatakannya tanpa memikirkan bagaimana efeknya pada jantung Anta. Wajah gadis itu sontak memerah.


Elvano menunduk dan mendapati wajah Anta yang memerah. Mungkin saja efek panas yang gadis itu rasakan. Segera ia melonggarkan pelukannya, sedikit merasa bersalah.


Anta hanya diam tak menjawab. Jujur saja, dia masih begitu terkejut dengan ucapan Elvano tadi.


"Mas,"


"Hmm?"


"Berhenti seperti ini."


Elvano mengerutkan keningnya. "Maksud kamu?"


"Berhenti bertingkah aneh seperti ini. Berhenti berpura-pura. Aku nggak masalah Mas kembali seperti sebelumnya. Biarkan semuanya berjalan tanpa harus ada kepura-puraan."


Elvano terdiam. Dia tidak membenarkan ataupun membantah ucapan Anta. Dia hanya ingin mendengarkan apa yang ingin Anta katakan.


"Aku nggak mau jatuh lebih dalam ke kehidupan Mas El."


"Kenapa?" Elvano membuka suara.


"Aku nggak pantas Mas."


"Anta—"


"Aku nggak mau terluka saat kamu benar-benar menemukan wanita pilihanmu, Mas."


"Nggak akan ada wanita lain."


"Nggak ada yang nggak mungkin, Mas. Saat itu tiba nanti, aku nggak mau pergi dengan hati terluka. Aku ingin meninggalakan keluarga ini dalam keadaan baik-baik saja. Setelah itu, aku akan berusaha untuk melunasi hutangku pada Mama. Aku hanya ingin semuanya berjalan tanpa ada yang saling menyakiti."


"Semua yang kamu katakan itu menyakitkan, Anta!" suara Elvano terdengar rendah namun penuh penekanan.


"Nggak akan ada yang tersakiti kalau nggak ada hubungan apa-apa antara kita."


"Oke. Aku paham apa yang kamu katakan. Tapi, kamu harus sadar, hutang kamu bukan hanya ke Mama, ke aku juga." Elvano tersulut. Ia bergeser, sedikit menjauh hingga pelukannya pada Anta terlepas.


"Bukan hanya Mama yang memberimu hutang, aku juga."


"Hutang?"


"Ya. Kamu numpang makan, minun, tidur, mandi dan lainnya. Kamu juga dapat uang bulanan dariku. Bukan kah itu juga termasuk hutang?"


Terdengar sangat jahat ucapan Elvano itu. Tapi, dia harus mengatakannya. Selain karena dia kesal, dia ingin mempertahankan Anta di sisinya.


"Aku akan mengembalikan semuanya pada kamu dan Mama setelah aku memiliki pekerjaan nanti."


"Aku ingin kamu membayarnya sekarang."


"Hah? Aku nggak punya uang sebanyak itu."


Bagaimana ia bisa membayarnya sekarang? Seperser pun, ia tak memilikinya. Uang bulanannya sebulan adalah sepuluh juta. Dia sudah tinggal bersama Elvano selama 7 bulan, dan setiap bulannya uang tersebut selalu masuk ke sakunya, tidak pernah absen. Dia hanya memakai uang itu sedikit, dan sisanya masih ada. Ia rasa, uang itu bukan miliknya.


Sekarang Anta berada dalam pikiran yang rumit. Dia tidak mungkina membayar hutangnya pada Elvano, sedangkan uang yang ia gunakan adalah uang Elvano.


"Kenapa bengong?"


"Mas, apa nggak kecepatan?"


"Nggak. Aku maunya sekarang," ucap Elvano. "Kalau kamu terus bernegosiasi, aku jamin, kamu pasti sangat menyesal...."


"Aku nggak akan menyesal."


"Ya udah. Kamu hanya ada dua pilihan, beritahu Mama soal keinginan kamu, atau jadi istriku yang sebenarnya. Semua hutang kamu jadi lunas."


Anta terdiam. Dua-dua pilihan yang Elvano katakan semuanya lebih mengutungkan dirinya. Jika Anta berbicara dengan Mama, sudah pasti wanita itu menolak keingjnanya. Tapi, soal Elvano, jelas-jelas laki-laki itu mendapat banyak keuntungan dari kesepakatan ini.


"Kita bahas lain kali saia. Aku ngantuk."


Setelah mengatakan itu, Anta berbalik memunggungi Elvano. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali merasakan lingkaran tangan di pinggangnya.


"Mas,"


"Aku nggak mau kamu pergi. Tetap disini bersamaku dan Evan," bisik Elvano, pelan.