Annanta

Annanta
Bab 60



Malam hari setelah menemani Evan tidur, Anta dan Elvano kembali ke kamar mereka. Elvano langsung menuju kamar mandi sementara Anta, ia memilih duduk di tepi ranjang menunggu Elvano.


Sudah terlintas di pikirannya untuk memberi kejutan pada Elvano. Ia membuka laci dan mengeluarkan sebuah kotak yang diberi pita olehnya. Biarlah Elvano bingung kenapa ia memberi kado.


Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Anta segera mengembalikan kotak itu ke laci dan menutupnya rapat.


"Kenapa masih duduk?"


"Aku tungguin Mas," ucap Anta.


Elvano tersenyum kemudian duduk bersebelahan dengan Anta. Tangannya terulur menyelipkan anak rambut Anta. "Cantik," ucapnya.


Anta mengulas senyum tipis. Siapa yang tidak senang dipuji suami sendiri? Apalagi suami tampan seperti Elvano.


"Makin cantik kalau senyum begini," ucap Elvano.


"Jangan ngomong lagi, Mas. Aku rasa pipiku udah merah," ucap Anta, tak bisa berhenti tersenyum.


"Aku suka lihat pipi kamu merah kayak gini," ucap Elvano. Ia semakin mengikis jarak antara ia dan Anta. Saat bibirnya hampir bersentuhan dengan bibir Anta, tiba-tiba Anta menjauhkan wajahnya.


"Ada apa?" tanya Elvano. Ia sedikit kesal tidak berhasil mencium bibir Anta.


"Aku nggak mau dicium," jawab Anta.


"Kenapa?"


"Takut Mas minta lebih," balas Anta dengan tampang polosnya yang terlihat lucu di mata Elvano. Laki-laki itu tersenyum lalu mengusap lembut kepala Anta.


"Emang niatnya mau lebih," ucapnya santai.


Anta menggeleng. "Aku nggak enak badan, Mas."


Elvano menarik nafasnya. "Kalau cuman cium, gimana?"


"Eemm... Boleh. Tapi janji, nggak boleh lebih."


"Janji."


"Mas tutup mata dulu. Aku yang mulai."


"Yakin?" Anta mengangguk. "Nggak malu mulai duluan?" Anta menggeleng, membuat Elvano tersenyum. Dengan senyum mengembang, Elvano menutup matanya. Ia jadi tidak sabar menunggu Anta menciumnya.


Laki-laki itu mulai menghitung dalam hati. Dan dalam hitungan ketiga Anta mengecup bibirnya sekilas.


Cup.


"Kok cuman kec—ini apa?" Ucapan protes yang hendak Elvano layangkan seketika berganti pertanyaan saat membuka mata, dan melihat sebuah kotak yang Anta arahkan padanya.


"Ini hadiah buat Mas."


"Dalam rangka apa?" Elvano meraih kotak tersebut dan mengamatinya.


"Dalam rangka sudah menjadi suami yang baik," jawab Anta.


"Aku buka ya?" Anta mengangguk. Elvano mulai membuka kotak tersebut. Jantungnya berdetak cepat saat melihat tespack yag dijadikan hadiah oleh Anta. Dengan cepat ia meraih ketiga benda itu dan melihatnya.


"Sa-sayang, i-ini benaran?" tanyanya. Tatapannya tak lepas dari garis dua yang terlihat jelas di benda tersebut.


"Benaran, Mas."


Elvano langsung menarik Anta dalam pelukannya saat mendengar jawaban tersebut. Ia memeluk erat Anta dan mengecup kening istrinya itu berkali-kali.


"Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih, sayang. Aku sangat senang."


"Aku juga sangat senang, Mas."


Elvano mengangguk. Ia melepaskan pelukannya, beralih mencium seluruh wajah Anta dan berakhir dengan kecupan di bibir wanita itu.


Ia lalu membungkukan tubuhnya hingga sejajar dengan perut Anta. Tangannya terulur mengusap perut rata istrinya itu.


"Hallo, anak Papa. Baik-baik ya, di perut Mama. Terima kasih udah mau tumbuh di sini," ucap Elvano, lalu mengecup perut Anta. Dia kemudian menegakan kembali tubuhnya.


"Besok Mas ada kerjaan di kantor nggak?"


"Tumben nanya? Biasanya kan udah tahu dari Risma?" balas Elvano. Ia menarik lembut istrinya itu dalam dekapannya. Dekapan hangat, namun tidak erat seperti tadi. Jujur, ia merasa bersalah sudah begitu erat memeluk Anta seperti tadi. Istrinya itu pasti merasa sesak. Kasian juga calon anaknya. Sebelah tangannya terulur mengusap-usap perut Anta.


"Aku nggak telponan atau tukar pesan sama mbak Risma hari ini Mas."


"Bosok aku nggak masuk kerja,"


"Besok kita ke rumah sakit. Kita periksa kandungan kamu. Aku mau tahu gimana anak aku di dalam sini. Sudah berapa lama dia tumbuh," ucap Elvano, membuat Anta tersenyum. Baru saja dia berniat meminta waktu Elvano untuk menemaninya ke rumah sakit sebentar kemudian masuk kerja lagi. Tapi, suaminya itu sudah mendahuluinya.


Anta balas memeluk Elvano. "Makasih Mas..." ucapnya lirih.


"Sudah kewajiban aku sebagai suami," jawabnya. "Oh ya, Mama sama Papa udah tahu?"


Anta mengangguk. "Mama sama Papa udah tahu. Yang nyuruh Anta tespack itu Mama. Terus yang beli tespack nya Papa."


"Ck!" Elvano berdecak, membuat Anta mendongak menatapnya.


"Kenapa?"


"Seharusnya aku yang ngelakuin itu semua. Dan seharusnya aku yang jadi orang pertama tahu kalau kamu hamil."


"Udahlah, Mas. Kita berdua kan sama-sama nggak ngerti. Aku juga nggak kepikiran kalau aku hamil. Biasanya juga aku sering telat datang bulan. Jadi, aku pikirnya karena masalah itu, bukan karena aku hamil."


Elvano menarik nafasnya. Benar juga kata Anta. Pikiran mereka tidak sampai pada kata hamil.


"Oh ya, Mas. Tiara sama Ricky kok masih belum pulang ya?"


"Mereka di rumah Dinda. Si Dika tadi minta izin bawa mereka ke rumah Dinda."


"Ohh... Syukurlah. Aku takut terjadi apa-apa sama mereka."


"Dika pasti jagain mereka. Kalau ada apa-apa Dika juga pasti langsung kabarin," ucap Elvano. Tangannya yang berada di perut Anta naik mengusap rambut Anta. "Kamu mulai sekarang nggak boleh banyak pikiran. Jaga kesehatan. Kamu dan calon anak kita harus selalu sehat."


Anta tersenyum mendengarnya. "Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik, Mas. Untuk anak kita, juga untuk Evan."


Elvano balas tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Anta cukup lama.


"Ayo, sekarang tidur," ucap Elvano setelah mengecupan kening Anta. Anta mengangguk kemudian melepas pelukannya pada Elvano. Laki-laki itu juga melepas pelukannya lalu membantu Anta berbaring.


***


Tiara dan Ricky yang sedang bermain dengan Evan di ruang bermain pun menatap Anta dan Elvano yang sudah rapih. Evan yang melihatnya langsung bangun dan melangkah menuju Anta. Tangan mungilnya memeluk kaki Anta.


"Anak Mama," ucap Anta hendak menunduk untuk menggendong Evan. Namun, Elvano segera menahannya dan langsung menggendong Evan.


"Mas—"


"Mulai sekarang, kamu nggak boleh gendong Evan. Peluk, cium boleh. Tapi, untuk gendong jangan dulu. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama calon bayi kita."


"Calon bayi?" tanya Tiara dan Ricky bersamaan.


Anta dan Elvano menoleh ke arah mereka, kemudian mengangguk.


"Maksud Kakak...."


"Kakak hamil," ucap Anta.


"Serius Kak?" tanya Tiara, dan Anta mengangguk.


"Kakak benaran hamil?" Ricky ikut bertanya, dan Anta lagi-lagi mengangguk.


"Kakak benaran hamil. Ini Kakak sama Mas El mau ke rumah sakit."


"Waaah... Aku senang banget, Kak." Tiara bangun diikuti Ricky. Kedua adik Anta itu langsung memeluk sang Kakak.


"Aku senang banget, Kak," ulang Tiara.


"Aku juga senang banget," ucap Ricky.


"Selamat ya, Kak," ungkap Tiara dan Ricky bersamaan.


"Iya. Makasih ya," balas Anta.


Kedua anak itu kemudian melwpas pelukan mereka. Keduanya lalu menoleh pada Elvano yang sedang menggendong Evan.


"Selamat ya, Kak Elvano," ucap Tiara.


"Iya, selamat ya Kak Elvano. Evan juga," ucap Ricky.


"Iya. Terima kasih. Kalian juga selamat bakal dapat ponakan," ucap Elvano membuat Tiara dan Ricky terkekeh.


"Cieee... Evan bakal punya adik nih," seru Tiara sambil menoel-noel pipi Evan. Membuat anak itu terkekeh. Kekehan Evan menular ke yang lain. Membuat mereka semua ikut terkekeh.