
Elvano tiba di rumah sakit central seperti yang diberitahukan Bi Ijah. Laki-laki itu berjalan cepat menuju ruang IGD. Di kursi depan ruang IGD, ia menemukan Bi Ijah bersama Evan dan Pak Tarman duduk menunggu di kursi tunggu depan ruangan tersebut.
"Bi."
"Tuan." Bi Ijah berdiri sambil menggendong Evan.
"Paa..."
"Iya, Nak." Elvano mengusap lembut kepala Evan. "Bagaimana istri saya?"
"Nyonya masih di dalam Tuan."
"Bisa masuk kan?" Bi Ijah mengangguk. Tadi, suster membolehkan salah satu anggota keluarga untuk masuk. Bi Ijah sempat masuk, tapi keluar lagi karena merasa ngeri saat melihat lengan Anta dijahit.
Tanpa menunggu lama, Elvano langsung masuk. Ia melihat istrinya duduk dengan mata terpejam serta wajah memucat, dan seorang Dokter sedang membalut lukanya.
"Sayang," panggilnya lembut, membuat Anta membuka matanya.
"Mas," gumam Anta.
Elvano menedekat dan langsung mendekap lembut kepala sang istri. Ia mengecupnya berkali-kali. Terlihat sekali jika dia sangat khawatir.
Dokter yang sudah membantu Anta pun menegakkan tubuhnya, menatap Elvano. Ia terpana dengan ketampanan Elvano, hingga beberapa saat tidak berbicara apapun.
"Dok?" Panggilan Elvano membuyarkan keterpanaan Dokter tersebut.
"Ah, maaf." Dokter itu tersenyum canggung.
"Bagaimana istri saya? Apa lukanya dalam? Apa perlu dirawat?"
"Luka istri Bapak cukup dalam. Tapi, sudah saya jahit. Istri Bapak tidak perlu di rawat disini. Cukup rawat lukanya di rumah. Saya sudah menyuntikkan suntikan tetanus karena istri Bapak terluka oleh benda tajam. Ingat untuk mencuci tangan sebelum merawat luka. Ganti perban setelah 24 jam. Saya akan meresepkan obat pereda nyeri. Oleskan juga salep antibiotik. Pastikan agar luka tidak terendam air saat mandi. Hindari juga paparan sinar matahari langsung pada luka."
"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Elvano.
"Ya, sudah tugas kami untuk melakukan yang terbaik untuk pasien."
Setelah menerima resep dari Dokter dan menebus obat, Elvano membawa istri, anaknya dan Bi Ijah pulang. Sementara pak Tarman mengendarai mobil sendirian tanpa penumpang.
Tiba di rumah, Elvano dengan hati-hati menuntun Anta menuju kamar.
"Bibi jagain Evan dulu. Makanannya di pesan saja. Saya mau temani istri saya."
"Baik, Tuan." Bi Ijah menganggukkan kepala pada Elvano.
Laki-laki itu mengusap rambut Evan sebentar, lalu membawa sang istri menuju kamar mereka.
"Baringnya pelan-pelan, sayang," ucap Elvano saat membantu Anta berbaring di ranjang. Anta hanya mengangguk.
Setelah Anta berbaring dengan nyaman, Elvano mengambil tempat disisi Anta dan mengusap-usap lembut rambut sang istri.
"Kamu pusing?"
"Enggak, Mas."
"Kenapa bisa luka begini? Siapa yang lakuin ini ke kamu?"
"Ada orang yang tiba-tiba nyerang Anta dari belakang, Mas. Untung Bibi sama Pak Tarman lihat. Jadi, Anta mencoba ngehindar, dan langan Anta jadi sararannya," jawab Anta, tak menyebutkan siapa pelakunya. Dia tidak ingin urusannya panjang jika ia memberitahu Elvano kalau Vionna pelakunya.
"Mas akan cari tahu siapa pelakunya."
Anta menggeleng. Ia menatap suaminya itu dengan wajah memohon. "Nggak usah, Mas. Jangan di perpanjang masalahnya. Aku baik-baik aja sekarang."
"Sayang, kalau nggak dicari tahu, nanti pelakunya bisa menjadi-jadi. Dia bisa melukai kamu lagi."
Anta terdiam. Yang Elvano katakan ada benarnya. Bisa jadi Vionna masih mengincarnya. Tapi, dia tidak ingin masalah ini menjadi panjang.
"Tapi, aku nggak mau ditinggal Mas..." lirih Anta, tak menatap mata Elvano.
Elvano yang mendengarnya pun tersenyum. Senang sekali mengetahui Anta membutuhkannya.
"Aku nggak akan kemana-mana. Aku akan terus disini." Elvano menunduk dan mengecup kening Anta. Ia lalu kembali mengusap-usap kepala Anta.
Setelah istrinya itu tertidur, ia keluar dan menemui Bi Ijah. Ia ingin tahu, bagaiamana kejadian yang sebenarnya. Sepertinya istrinya menyembunyikan sesuatu dari nya.
"Bi," panggil Elvano, membuat Bi Ijah yang sedang mencuci sayur menoleh.
"Eh, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ya, ada. Tapi, dimana Evan?"
"Tuan muda udah tidur Tuan."
"Tumben dia tertidur di jam segini. Biasanya kalau udah siang baru bisa tidur."
"Mungkin karena Nyonya juga tertidur, jadi tuan muda ikut tidur."
Elvano mengangguk. "Saya mau minta maaf sama Bibi karena udah bentak Bibi saat ditelpon tadi."
"Nggak apa-apa, Tuan. Namanya juga orang panik sama khawatir."
"Makasih Bi."
"Sama-sama, Tuan."
"Oh itu, Tuan. Nyonya diserang sama nona Vionna," ucap Bi Ijah.
"Vionna?"
"Iya, Tuan. Nyonya tadi lupa membeli udang buat dimasak untuk Tuan. Jadi, nyonya kembali masuk pasar dan membeli udang. Saat nyonya kembali, nona Vionna mengikuti nyonya dan menyerang nyonya. Karena saya dan pak Tarman berteriak, nyonya bisa menghindar dari nona Vionna yang berusaha menusuk nyonya. Tapi, nona Vionna berhasil melukai lengan nyonya. Maaf saya dan pak Tarman yang nggak bisa membantu nyonya," ucap Bi Ijah.
"Sudahlah. Seharusnya saya berterima kasih. Dengan adanya kalian disana, istri saya bisa cepat dibawa ke rumah sakit."
Setelah berbicara dengan Bi Ijah, Elvano bergegas ke kamar Evan. Setelah beberapa menit berdiam diri di samping ranjang Evan, Elvano mengeluarkan handphonenya.
"Hallo tuan," sapa seorang setelah telpon tersambung.
"Hallo. Temukan Vionna, dia sudah melukai istriku."
"Baik, Tuan." Tanpa Elvano memberitahu siapa Vionna atau menunjukkan fotonya, orang yang ditelponnya sudah sangat hafal seperti apa Vionna.
Setelah panggilan terputus, Elvano kembali menatap Evan. Sebelah tangannya terulur mengusap kepala Evan.
"Jangan warisi sifat Ibumu, karena Papa nggak mau anak Papa dibeci orang-orang," ucap Elvano lalu mengecup kening Evan. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya.
***
Mobil yang dikendarai Dika tiba di halaman rumah Elvano. Tiara dan Ricky turun dari mobil dengan pandangan takjub melihat rumah Elvano.
"Kak Anta tinggal disini, Bu?" tanya Ricky masih dengan tatapan takjubnya.
"Iya. Ayo!"
Di depan pintu, Bi Ijah sudah menunggu menyambut mereka dengan Evan yang berada dalam gendongannya.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya, Tuan Dika," sapa Bi Ijah. "Kalian pasti adiknya nyonya Anta kan? Selamat datang di rumah ini. Semoga kalian betah."
"Terima kasih, Bi," ucap Haris dan Devita bersamaan. Sementara Dika, laki-laki itu meraih Evan dalam gendongannya.
"Kamu kalau nggak ada Mama kamu, mau-mau aja digendong Om. Kalau udah ada Mama kamu, mana mau sama Om. Lirik aja enggak," gerutu Dika sambil mencium gemas pipi Evan.
"Oh ya, Bi. Anta sama Elvano dimana?" tanya Devita sambil berjalan masuk dengan menggandeng Tiara. Sementara Ricky digandeng Haris.
"Tuan lagi jemput nyonya di kamar."
"Cih! Bucin! Pake jemput segala," ucap Dika sambil mendudukan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Suka-suka aku. Bucin juga sama istri sendiri." Tiba-tiba Elvano menjawab. Laki-laki itu berjalan sambil menggandeng Anta.
"Anta kenapa?" Reaksi Devita dan Haris membuat semua yang ada di ruang tamu menatap ke arah Anta.
Elvano belum menjawab. Ia menuntun istrinya duduk, dan ikut duduk di sebelahnya.
"Lengan Anta terluka. Anta diserang pake benda tajam di pasar. Pelakunya Vionna."
"Vionna?" Devita, Haris dan Dika berkata bersamaan.
"Maksud bang Vano, Vionna mantan istrinya almarhum bang Raka?"
"Hmm."
"Benar-benar tu perempuan. Nggak dulu, nggak sekarang, kerjaannya ngerusakin hidup orang mulu," ucap Dika.
"Terus, dimana Vionna?" tanya Haris.
"Vano belum dapat informasi keberadaan Vionna."
"Kalau udah ketemu perempuan itu, seret dulu ke hadapan Mama. Biar Mama cincang-cincang terus dijadiin perkedel," ucap Devita sambil menggerakkan tangannya, seperti orang yang sedang mencincang sesuatu.
Haris yang mendengar dan melihat istrinya, meneguk ludah. Begitu juga dengan Dika. Laki-laki itu sampai tidak sadar jika Evan sudah merangkak turun dari pangkuannya dan menuju Elvano dan Anta.
Elvano meraih Evan sebelum anak itu meminta Anta menggendongnya.
"Nggak apa-apa Ma, ini hanya luka kecil."
"Mau luka sekecil apapun, Mama tetap nggak terima menantu Mama digituin!" tegas Devita.
"Kak Anta benaran nggak apa-apa?" tanya Tiara dengan wajah khawatir.
Anta tersenyum menanggapinya. "Nggak apa-apa. Kakak baik-baik aja."
"Permisi Tuan, Nyonya. Makanannya sudah siap," ucap Bi Ijah yang baru datang dari dapur.
"Iya, Bi." Anta tersenyum pada wanita paruh baya itu.
"Ayo. Bi, tolong minta pak Tarman masukin barang-barang Tiara sama Ricky, ya? Taruh saja di ruang keluarga. Nanti baru kita yang bawa ke kamar mereka," ucap Devita.
"Iya, Nyonya."
Setelah itu, mereka sama-sama menuju ruang makan. Berbagai makanan sudah terhidang di meja.
"Maaf ya, Anta nggak sempat masak. Ini Mas El yang pesen."
"Nggak apa-apa, Nak. Lengan kamu juga kan terluka," ucap Haris.
"Ayo Tiara, Ricky, makan yang banyak." Devita meraih piring Tiara dan Ricky, lalu mengisinya dengan makanan. Mereka lalu sama-sama menghabiskan makanan mereka.