Annanta

Annanta
Bab 63



Sesuai ucapannya, tepat jam 5 Elvano meninggalkan perusahaan dan menuju rumah. Ia benar-benar tidak sabar ingin melihat sang istri mengenakan dress yang dibelinya.


"Anta pasti sangat cantik mengenakan dress itu," gumam Elvano.


Setelah beberapa saat berkendara, mobil yang dikendarai Elvano tiba di rumah. Ia dengan cepat turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.


Di depan pintu, Anta sudah berdiri sambil tersenyum manis menyambutnya.


"Mas." Wanita itu meraih sebelah tangan Elvano dan menciumnya. Lalu Elvano balas mengecup keningnya.


"Kenapa berdiri disini? Hmm?"


"Aku mau menyambut Mas pulang."


"Kamu nggak perlu melakukan itu. Seherusnya kamu diam dan beristirahat di kamar," ucap Elvano. Satu tangannya meraih pinggang Anta dan merangkulnya saat mereka menaiki tangga menuju kamar.


"Anta capek Mas istirahat terus. Anta maunya gerak kesana kesini. Tapi, Anta nggak dibolehin kerja sama Bi Ijah. Katanya kamu bakal marah kalau aku kerja," ucap Anta dengan bibir mengerucut lucu. Membuat Elvano yang melihatnya terkekeh.


"Lucu banget istri Elvano," ucapnya sambil mengecup bibir Anta yang mengerucut.


"Nggak usah cium-cium!" ketus Anta.


"Hehehe... Oh ya, dress nya udah dicobain?" Anta mengangguk. "Gimana? Suka nggak?"


"Suka benget. Kan udah dibilang tadi."


"Iya. Mas cuman mau tanya lagi," balasnya sambil mengusap rambut sang istri. "Kalau suka, sekarang kamu ganti baju sambil tunggu aku selesai mandi. Setelah itu, aku mau ajak kamu ke suatu tempat."


"Eemm... Evan, Ricky sama Tiara nya gimana? Gimana kalau kita pergi, mereka sampai rumah?"


"Emang mama belum kabarin kamu kalau malam ini, Evan, Ricky sama Tiara nginap di rumah mama?"


Anta menggeleng. "Mungkin mama lupa," ucapnya pelan.


"Udah, nggak apa-apa. Kalau kamu mau ke rumah mama, pulang nanti kita langsung ke rumah mama."


"Nggak. Nggak usah. Biarin aja mama sama mereka. Aku nggak mau ganggu waktu mama sama mereka. Aku kan setiap hari bareng mereka. Sementara mama kan enggak."


Kini giliran Elvano yang tersenyum. Ia mengusap lembut pipi istrinya dan kembali mengecupnya. "Ya udah. Sekarang, ganti baju kamu. Mas mau mandi dulu." Elvano kembali mengecup pipi Anta, kemudian berlalu ke kamar mandi.


Setelah membersihkan dirinya, Elvano segera keluar dari kamar mandi. Namun, matanya terpaku pada sang istri yang sedang berdiri menghadap ke arahnya. Dan tanpa sadar, ia meneguk salivanya, membuat jakunnya ikut bergerak.


"Cantik," gumamya pelan.


Perlahan, Elvano bergerak dari pintu kamar mandi mendekati Anta. Matanya tak berhenti menatap sang istri yang terlihat semakin menawan dengan mengenakan dress yang ia belikan.


"Kamu sangat cantik, sayang," ucapnya.


"Makasih, Mas."


Elvano mengangguk pelan. Tangannya terulur menyentuh pipi Anta. Mengusap-usapnya dengan begitu lembut. Dan tanpa sadar, wajahnya sudah begitu dekat dengan wajah Anta.


"M-Mas."


"Aku ingin menciummu," ucapnya. Dan tanpa persetujuan sang istri, Elvano langsung mencium bibir Anta. Anta hanya bisa diam dan menerima. Hingga beberapa saat, Elvano melepaskan ciumannya. Dengan lembut ia mengusap bibir sang istri.


"Makasih," ucapnya yang diangguki Anta dengan wajah tertunduk. Elvano yang melihatnya merasa gemas. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Anta dan membisikkan sesuatu pada istrinya itu.


"Nggak perlu malu. Kita sering melakukannya, bahkan lebih dari ini."


"Mas." Anta mendongak dan melotot garang pada Elvano. Sementara Elvano, laki-laki itu malah terkekeh melihat sang istri.


"Bercanda sayang. Aku mau ganti baju dulu, " ucapnya, kemudian berlalu menuju ruang ganti.


***


Setelah hampir 30 menit, mobil yang membawa Elvano dan Anta tiba di tempat tujuan. Elvano turun dengan cepat, kemudian membukakan pintu mobil untuk sang istri.


"Kita, makan malam disini Mas?" tanya Anta.


"Iya. Kenapa? Kamu nggak suka? Atau, adek bayinya yang nggak suka?"


"Coba ulangi?"


"Hah?"


"Coba ulangi lagi. Aku senang kamu panggil aku kayak tadi."


"Enggak. Aku lebih suka panggil kamu Mas El," jawab Anta. "Ini, kenapa restorannya sepi ya?"


"Nggak tahu," balas Elvano sambil mengedikan bahunya.


"Mas yakin mau makan disini?"


"Iya. Ayo!" Elvano menggandeng tangan Anta dan membawa istrinya itu memasuki restoran. Suasananya benar-benar sangat sepi. Tidak ada orang selain pelayan restoran yang sedang bekerja.


Elvano mendudukan Anta dengan penuh kelembutan. Setelah itu, ia memesan makanan untuknya dan sang istri. Beberapa saat menunggu, makanan yang dipesan pun diantar ke meja mereka.


"Aku masih ngerasa aneh lho Mas. Kenapa ya restoran sebagus ini sepi kayak gini?"


"Udah. Nggak usah kamu pikirin. Ayo makan."


Anta mengangguk. Namun, belum sempat ia menyentuh makanan tersebut, lampu restoran tiba-tiba padam dan semuanya menjadi gelap.


"Mas."


"Iya. Nggak apa-apa. Kamu tenang aja."


Anta mengangguk dalam gelap. Dan beberapa menit kemudian, sorot lampu mengarah pada tempatnya dan Elvano. Anta menatap sang suami dengan pandangan bingung. Namun Elvano, ia hanya tersenyum pada sang istri.


"M-Mas...."


Elvano bergerak bangun dari duduknya, kemudian berlutut di hadapan Anta. Satu tangannya merogoh sesuatu dari saku jas, kemudian mengeluarkannya. Sebuah kotak cincin berwarna merah, dengan sebuah cincin yang begitu indah didalamnya.


"M-Mas..." Anta berucap lirih dengan air mata yang mulai menggenang.


"Anta, aku tahu, aku bukan suami yang baik. Aku sering menyakitimu dan membuatmu terluka. Tapi, kamu harus tahu. Aku sangat mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Aku ingin memperbaiki segala kesalahanku. Membangun rumah tangga yang bahagia bersamamu dan anak-anak kita. Walaupun sekarang kamu adalah istriku, aku ingin melamarmu kembali menjadi istriku. Menjadi kekasihku, belahan jiwaku, teman hidupku hingga maut yang memisahkan kita."


Anta tersenyum dengan air mata yang mulai menetes. Ia bahagia. Ia tidak pernah berpikir akan mendapatkan lamaran dari laki-laki yang dicintanya seperti yang terjadi pada orang-orang.


Elvano yang melihat sang istri mulai meneteskan air mata pun mengulurkan tangannya dan mengusap lembut air mata tersebut.


"Kenapa menangis?" tanya Elvano lembut.


Anta menggeleng. "Aku bahagia Mas. Terima kasih."


Elvano tersenyum. "Jadi?"


"Aku mau jadi istri Mas El. Aku mencintai Mas Elvano. Sangat sangat mencintai Mas Elvano."


Senyum Elvano semakin mengembang. Ia meraih tangan sang istri, lalu menyematkan cincin ke jari manis sang istri, dimana sudah ada cincin pernikahan mereka disana.


"Terima kasih, sayang," ucap Elvano, lalu mengecup punggung tangan sang istri.


Dan beberapa detik kemudian, terdengar suara tepuk tangan yang meriah. Keadaan restoran yang semula sepi, mendadak ramai. Lampu-lampu kembali dinyalakan, memperlihatkan wajah-wajah yang menyaksikan lamaran Elvano pada Anta.


Ada Devita, Haris, Evan, Tiara, Ricky, Dika, Dinda, Fahri, Ara, Tirta, Risma dan anggota keluarga Elvano lainnya yang ikut hadir. Ada juga rekan-rekan kerja Elvano dan beberapa karyawan yang turut di undang Elvano.


"M-Mas, i-ini—"


"Kejutan untuk kamu. Aku ingin semua tahu kalau Elvano sudah punya Anta dihidupnya. Dan Anta sudah punya Elvano dihidupnya."


Anta langsung memeluk sang suami setelah mendengar ucapan Elvano. Dia benar-benar bahagia.


"Makasih Mas. Makasih untuk semuanya."


"Seharusnya aku yang berterima kasih. Makasih karena udah sabar menghadapi aku. Sudah bertahan di sisiku sampai hari ini. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik buat kamu dan Papa yang baik buat anak-anak."


"Kita sama-sama memperbaiki diri Mas. Aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu dan Mama yang baik buat anak-anak."


Elvano mengangguk mendengar ucapan sang istri. Keduanya saling melepas pelukan. Kemudian mulai menikmati acara lamaran tersebut, yang semula sudah di rencanakan Elvano.