Annanta

Annanta
Tommy Kurang Ajar



Malam menjelang. Setelah berkumpul bersama, semua kembali ke kamar masing-masing. Elvano sudah berada di kamarnya sejak sepuluh menit yang lalu. Sementara Anta, gadis itu masih di kamar Devita dan Haris. Kedua mertuanya itu sedang membicarakan sesuatu dengan Anta. Mereka tidak mengizinkan Elvano untuk mendengarnya.


"Sebenarnya apa yang Mama sama Papa bicarakan pada Anta? Kenapa lama sekali?" gumam Elvano. Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Semoga saja Evan tidur sama Mama Papa. Aku ingin tidur memeluk Anta sampai pagi," lanjutnya sambil tersenyum dan memejamkan mata, membayangkan tidur sambil memeluk istrinya itu.


Tak berselang lama, terdengar suara pintu kamar dibuka. Elvano dengan cepat membuka matanya dan duduk tegap sambil tersenyum. Namun, senyumnya langsung memudar melihat Evan yang tertidur dalam gendongan Anta.


"Makasih Bi, udah bantuin Anta." Gadis itu tersenyum pada Bi Ijah yang membantunya membuka pintu.


"Sama-sama, nyonya. Saya permisi dulu." Bi Ijah menarik pintu, kembali menutupnya. Elvano segera beranjak menuju pintu dan menguncinya. Ia lalu menatap Anta yang berjalan ke ranjang dan membaringkan Evan.


"Evan tidur disini?" Tanyanya, yang hanya mendapat anggukkan dari Anta.


"Kenapa nggak tidur sama Mama Papa aja?"


Anta terdiam sejenak. Ia menarik selimut menutupi tubuh Evan, lalu manatap sang suami.


"Mama sama Papa takut Evan nggak nyenyak tidur. Semalam dia sering bangun dan panggil-panggil aku. Walaupun dia nggak nangis, tetap aja nggak tenang tidur. Mama sama Papa juga nggak enak bangunin kita," ucap Anta panjang lebar. Elvano tersenyum dalam hati. Ia senang Anta berbicara panjang lebar seperti ini padanya.


"Ya sudah. Ayo, tidur."


"Mas tidurlah dulu. Aku mau ke dapur."


Tanpa menunggu jawaban suaminya, Anta menuju pintu dan keluar dari kamar itu. Elvano menarik nafasnya lalu merebahkan tubuhnya di samping Evan. Laki-laki itu memiringkan tubuhnya menatap Evan. Tangannya bergerak mengelus pipi Evan.


"Bantuin Papa ya buat dapatin Mama kamu," ujarnya.


"Kalau Mama lagi sama Papa, Evan jangan rewel. Evan kan tahu, Mama suka pilih kasih kalau soal Evan. Mama cintanya ke Papa tapi sayang nya ke Evan. Jadi, sekali-kali ngalah ya sama Papa. Selama ini kan Evan yang paling banyak waktunya sama Mama. Sekarang, giliran Papa yang sama Mama nya." Elvano terkekeh kecil, merasa lucu dengan tingkahnya ini.


Sementara di dapur, Anta meneguk beberapa teguk air yang diambilnya di kulkas. Gadis itu duduk di salah satu kursi yang tersedia. Ia memikirkan ucapan Papa dan Mama mertuanya.


"Papa tahu, pernikahan kamu dan Vano karena keterpaksaan, baik dari pihak kamu maupun Vano. Tapi, Papa berharap kalian bisa mempertahankan pernikahan kalian," ucap Haris.


"Mama juga berharap begitu, Nak. Mama sudah sayang banget sama kamu. Mama ingin kamu jadi menantu Mama selamanya. Elvano bukan laki-laki dingin seperti sekarang ini. Dia laki-laki baik. Mama yakin, kamu bisa membuat Elvano seperti dulu lagi."


"Papa lihat, sejak kemarin Elvano terus berada di dekatmu. Nak, jika Vano mengatakan sesuatu mengenai perasaannya, percayalah padanya. Dia nggak berbohong."


"Aku ingin percaya pada apa yang Mas El katakan. Tapi, aku masih takut. Dan mengenai Mas El yang dulu, apa alasan yang membuat Mas seperti sekarang ini?" gumam Anta. Gadis itu kembali menarik nafasnya, lalu meneguk air yang ada pada gelas yang ia genggam.


"Boleh gabung?" suara seseorang membuat Anta mendongak menatapnya. Tommy berdiri cukup dekat dengan Anta, sambil tersenyum pada gadis itu. Senyum yang membuat Anta bergidik melihatnya.


Anta tahu, sejak mereka tiba di vila, laki-laki itu terus memperhatikannya. Tatapan kurang ajarnya selalu tertangkap basah oleh Anta.


"Kalau Kakak mau duduk, duduklah. Aku sudah mau kembali ke kamar." Anta hendak berdiri namun Tommy dengan cepat menekan bahunya hingga gadis itu kembali terduduk.


"Kenapa buru-buru? Duduk saja dulu. Kita mengobrol sebentar."


"Maaf, Kak. Mas El sama Evan sudah menungguku." Anta berhasil berdiri dan hendak pergi. Namun, Tommy kembali mencekal tangannya. Membuat Anta memberontak, menarik-narik tangannya minta di lepaskan. Namun, tenaga Tommy lebih besar darinya. Dia tidak bisa melepaskan tangannya dari genggaman Tommy.


"Mau kemana? Hmm? Diam saja disini dan temani aku. Percuma saja kamu ke kamar. Hubungan kamu dan Vano buruk kan? Vano itu, laki-laki payah. Dia nggak pan—"


"Apa urusan mu! Mas El mau seperti apa, dia tetap suamiku. Kamu nggak berhak mengaturku. Lepas!"


"Hehehe... gadis cantik, berhak atau tidak, aku ingin kamu bersamaku malam ini." Anta melotot tajam pada Tommy. "Kamu jangan khawatir soal Selly. Dia sudah tidur dan akan bangun pagi hari. Obat yang ku kasi, bertahan 8 jam. Lumayan 8 jam buat kita senang-senang."


"Nggak! Ma—"


"Hmm... hmmmm..." Anta terus berusaha melepaskan diri. Namun, dia tidak bisa. Air matanya jatuh. Semua orang pasti sudah tertidur. Pasti tidak akan ada yang menolongnya. Tapi, ia tetap berharap ada yang menolongnya.


Mas El, tolong Anta. Batinnya.


Tommy terkekeh melihat air mata Anta. "Tenanglah, gadis manis. Kita akan ber—"


"Tommy!!"


"Abang!!"


Teriakan penuh emosi Elvano dan Dika memenuhi ruang dapur tersebut. Elvano melangkah cepat dan menarik Anta dari Tommy. Ia menempatkan Anta di belakangnya, lalu maju dan menghajar Tommy.


"Brengsek!"


Bugh... Satu bogeman mendarat di pipi Tommy hingga laki-laki itu tersungkur. Elvano kembali melayangkan satu bogeman ke wajah Tommy.


"M-Mas..." lirih Anta yang sontak membuat Elvano menghentikan pukulannya. Laki-laki itu berbalik dan langsung memeluk Anta.


Dika yang juga sudah geram dengan perbuatan sepupunya itu maju menggantikan Elvano menghajar Tommy.


"Dika!!" Suara Haris dan Papa Dika, Rusdi, menggema di ruangan itu. Sontak Dika menghentikan pukulannya, lalu menoleh ke sumber suara. Begitu juga Elvano. Laki-laki itu ikut menoleh. Sementara Anta, gadis itu saat ini gemetaran sambil balas memeluk Elvano dengan erat.


"Apa yang kamu lakukan?" Rusdi terlihat marah pada putranya. Namun, ia mencoba menahannya karena sang istri, Tika, menggenggam erat tangannya.


"Pa, Bang Tommy udah kurang ajar sama Anta. Dia maksa Anta buat temani dia malam ini." Dika menatap Papanya dengan tatapan penuh amarah.


Rusdi matap Haris, dan kemudian mereka sama-sama menatap Elvano. "Benar, Vano?" tanya keduanya bersamaan, dengan mata yang mulai beralih menatap Anta.


"Benar Pa, Om."


Kedua laki-laki yang tak lagi muda itu menoleh menatap marah pada Tommy. Melihat kedua suami mereka yang mulai tersulut emosi, Devita dan Tika segera menenangkan mereka. Dinda dan Fahri juga terus menatap Tommy dengan tatapan marah dan kecewa.


"Pa, sudah Pa!" ucap Tika.


"Vano, bawa Anta ke kamar dulu. Biar ini, kami yang urus," ucap Devita.


"Iya, Ma."


Elvano segera membawa Anta menjauh. Laki-laki itu menuntun Anta ke kamar mereka. Setelah sampai disana, dia dengan perlahan menduduk kan gadis itu ke sofa.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kamu aman sekarang," ucap Elvano lembut. Ia masih memeluk Anta dan mengelus lebut rambut gadis itu. Ia mengecup puncak kepala Anta beberapa kali.


Anta mengangguk, namun isaknya masih terdengar. Ia masih sangat takut dengan kejadian yang menimpanya barusan. Membayangkannya, membuatnya bertambah takut dan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Elvano.


Brengsek si Tommy! Batin Elvano.


Ia menunduk dan mengecup puncak kepala Anta sekali lagi. "Tidur, ya? Ini sudah larut," kata Elvano lembut.


Anta lagi-lagi mengangguk pelan. Elvano kembali menuntun Anta menuju ranjang. Membantu Anta berbaring, lalu menyelimuti gadis itu. Elvano menunduk dan mengecup kening Anta sejenak. Membuat Anta terpaku oleh perlakuan Elvano yang benar-benar berbeda.


"Tidur lah."


Setelah mengatakan itu Elvano ikut berbaring. Laki-laki itu memiringkan tubuhnya memeluk Anta, sekalian dengan Evan yang berada di tengah-tengah mereka.