Annanta

Annanta
Bab 65



Setelah mengenakan baju yang Elvano siapkan, Anta kembali duduk di ranjang. Niatnya ingin menelpon sang mama mertua, menanyakan tentang Evan yang ia tinggal begitu saja. Tapi, ia harus mengurungkan niatnya karena tidak tahu, dimana handphonenya.


"Pasti Mas El lupa bawa handphoneku," gumam Anta.


"Ck. Aku ngapain ya? Nggak ada buku yang bisa dibaca."


Anta menarik nafasnya, kemudian turun dari ranjang. Ia berjalan menuju jendela dan menatap keluar, mengamati aktivitas orang-orang.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Anta. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa dua orang perempuan pada Anta.


"Selamat pagi," balas Anta.


"Maaf Nyonya, mengganggu waktu anda. Kami ditugaskan oleh tuan untuk mendandani Nyonya."


"Tuan? Maksud kalian Mas Elvano?"


"Iya, Nyonya."


"Ta-tapi—"


"Mohon kerja samanya, Nyonya. Kami hanya menjalankan tugas. Kami tidak ingin tuan kecewa atas kinerja kami."


Anta meringis pelan. Apalagi yang Elvano rencanakan? Kenapa suaminya itu banyak sekali kejutannya?


Anta mengangguk pelan. Percuma dia menolak, pasti ia akan tetap dipaksa.


"Ayo Nyonya, kami bantu mandikan."


"Hah? Ng-nggak usah. Sa-saya udah mandi. Baru saja selesai mandi."


"Ya udah. Nyonya duduk saja. Biarkan kami menyelesaikan pekerjaan kami." Lagi-lagi Anta mengangguk. Dua wanita itu mengeluarkan semua barang yang mereka bawa. Suara pintu yang kembali diketuk membuat salah satu dari kedua wanita itu bergegas membukanya.


"Ini, gaun yang tuan pesan," bisik seorang laki-laki pada wanita itu, yang dibalas anggukkan si wanita. Setelah laki-laki itu pergi, wanita tersebut kembali mendekati Anta dan temannya.


"Ayo Nyonya, saya bantu nyonya kenakan."


Anta menatap wanita itu dan juga sebuah kotak yang dipegangnya. "Apa itu baju? Biar ku kenakan sendiri."


"Baiklah." Wanita itu menyerahkan kotak tersebut pada Anta.


Anta segera membukanya. Ia cukup terkejut melihat isi dari kotak tersebut. Sebuah gaun pernikahan berwarna putih.


Apa yang Mas El rencanakan? Gaun pernikahan? Untuk apa aku mengenakan gaun ini? Batin Anta.


"Nyonya?"


"Ah, maaf. Aku akan mengenakannya. Kalian boleh keluar sebentar?"


Dua wanita itu saling menatap kemudian mengangguk bersamaan. Keduanya bergegas keluar dari kamar, membiarkan Anta mengenakan gaun tersebut.


"Indah sekali," gumam Anta, setelah berhasil mengenakannya. Gaunnya begitu pas dan cocok dengan Anta. Elvano benar-benar pandai memilih gaun ini utuk Anta.


Tok... Tok... Tok....


"Nyonya? Apakah Nyonya sudah selesai?"


Astaga. Anta baru ingat sekarang. Dua wanita itu ia suruh untuk menunggu di luar.


"Ya, saya sudah selesai. Kalian masuk saja," balas Anta.


Kudua wanita itu segera masuk. Keduanya terpana melihat Anta dengan gaun putih yang membalut tubuhnya.


"Nyonya sangat cantik. Gaun itu begitu cocok dengan Nyonya," ucap wanita tersebut.


"Iya. Belum di make up saja, Nyonya sudah terlihat begitu cantik. Apalagi kalau sudah di make up nanti? Pasti semakin cantik," timpal wanita satunya.


"Terima kasih."


"Iya, Nyonya. Sekarang, Nyonya duduklah. Biarkan kami menyelesaikan pekerjaan kami."


Anta lagi-lagi mengangguk. Biarlah mereka melakukan pekerjaan mereka. Entah apa yang direncanakan Elvano, ia sudah tidak ingin memikirkannya lagi.


Dua wanita itu dengan profesional mengerjakan pekerjaan mereka. Setelah cukup lama bergulat dengan alat-alat kecantikan itu, akhirnya mereka selesai.


Keduanya menatap wajah Anta dengan senyuman puas. Anta benar-benar sangat cantik.


Sementara Anta, ia semakin bingung melihat dirinya yang didandani layaknya seorang pengantin. Apa suminya itu terlalu banyak pikiran hingga salah meminta dua wanita itu untuk mendandaninya seperti seorang pengantin?


"Anda sangat cantik, Nyonya." Kedua wanita itu kembali memuji Anta.


"Terima kasih," balas Anta.


"Kalau begitu, kami—"


Tok... Tok... Tok...


Lagi-lagi suara ketukan pintu, membuat ucapan si wanita terpotong. Segera ia menuju pintu dan membukanya.


"Nyonya," sapanya sambil menundukkan kepala.


"Apa sudah selesai?"


"Sudah Nyonya."


Setelah mendapat jawaban, orang tersebut langsung masuk. Anta cukup terkejut melihatnya.


"Mama?"


Anta semakin bingung melihat sang Mama mertua, Devita. Bukankah hanya dia dan Elvano yang menginap disini?


"Mama ini—"


"Kamu sangat cantik, sayang."


"Makasih, Ma. Tapi, aku nggak ngerti sama semua ini. Gaun pengantin? Aku didandan seperti pengantin. Sebenarnya ada apa?"


"Kamu akan menikah," ucap Devita santai.


"Me-menikah? Bu-bukannya aku sudah menikah? Aku sekarang menantu Mama. Aku istri Mas El, Ma."


"Sayang, dengerin Mama. Kamu ikuti saja Mama. Kamu akan tahu nanti."


"Tapi, Ma. Anta—"


"Vano ingin mengulangi pernikahan kalian," bisik Devita, membuat ucapan Anta terhenti seketika.


"Ayo, yang lain udah pada nungguin," lanjutnya dan langsung menggandeng Anta, membawa wanita itu menuju tempat berlangsungnya pernikahan.


Anta dengan perasaan yang tidak menentu antara tidak percaya dan senang, terus mengikuti sang Mama mertua. Keduanya menuju ballrom hotel.


Anta menatap takjub ballrom hotel yang dipenuhi banyak tamu. Semuanya didesain dengan begitu mewah dan membuat Anta berkaca-kaca.


"M-Ma. I-ini..."


"Semua ini Elvano siapkan untuk kamu sayang," ucapnya.


Tiara dan Dinda yang melihat kedatangan Anta dan Devita langsung menghamipiri keduanya.


"Kak Anta cantik bangeet." Tiara berseru ceria.


"Iya. Kamu cantik banget Anta. Mbak yang sama-sama perempuan aja pangling, apalagi Vano."


"Makasih Mbak, Tiara."


"Ayo!" Ajakan Devita membuat ketiga wanita itu mengangguk. Mereka berjalan bersama mendekati Elvano, yang sudah menunggu sang istri.


Elvano bahkan tak mengedipkan matanya. Ia terpaku pada sang istri yang kini berjalan ke arahnya. Perasaan bahagia tidak bisa ia jelaskan lagi.


Devita, Dinda dan Tiara membantu Anta duduk di sebelah Elvano. Meskipun ini pernikahan kedua mereka, perasaan gugup itu tetap ada. Bahkan Elvano merasa lebih gugup saat ini daripada pernikahan pertamanya.


Elvano menarik nafasnya berusaha menghilangkan gugupnya. Ia lalu melirik sang istri yang terus menunduk.


"Kenapa?" bisik Elvano.


"M-Mas..."


"Kamu cantik," puji Elvano, membuat senyum tipis Anta terlihat.


Acara pernikahan pun dimulai. Dengan satu tarikan nafas, Elvano mengucapkan kalimat ijab kabul. Semua tamu yang ikut menyaksikan pun turut bahagia dan mendoakan yang terbaik untuk mereka.


Elvano menoleh pada Anta. Ia mengulurkan tangannya dan segera disambut Anta. Wanita itu mencium punggung tangan Elvano, yang kemudian dibalas dengan kecupan dikeningnya oleh Elvano.


Setelah proses ijab kabul selesai, Elvano dengan penuh kelembutan menuntun sang istri menuju pelaminan. Banyak yang terkejut dengan perlakuan lembut Elvano itu. Terutama karyawan-karyawan perusahaannya yang mengenal sosok Elvano sebagai pemimpin yang dingin dan tegas.


Elvano dan Anta berdiri menghadap para tamu. Laki-laki itu merangkul pinggang sang istri dengan lembut, kemudian meraih mic yang diberikan oleh salah satu WO.


"Selamat pagi semuanya," sapa Elvano.


"Selamat pagi," jawab semua yang hadir.


"Terima kasih kalian sudah menyempatkan waktu untuk hadir di acara pernikahan kedua saya dan istri saya," ucap Elvano, lalu menoleh pada Anta. Laki-laki itu tersenyum, dan dibalas senyum oleh Anta.


Elvano kemudian menatap kembali para tamu yang hadir. Bisa ia lihat raut bingung di wajah sebagian besar tamu-tamu itu. Elvano menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.


"Saya tahu, sebagian kalian bingung dengan ucapan saya. Tapi itulah kenyataannya. Saya dan istri saya sudah menikah tanggal 7 bulan ini pada tahun lalu."


Deg!


Anta sontak menoleh pada Elvano. Matanya berkaca-kaca, tak menyangka jika sang suami ingat akan tanggal pernikahan mereka.


"M-Mas..." lirih Anta yang langsung mendapat senyuman hangat dari sang suami.


"Jadi, hari ini hari ulang tahun pernikahan Tuan!!" teriak seorang tamu yang merupakan salah satu karyawan perusahaan yang Elvano pimpin. Mumpung Elvano dalam suasana hati yang baik, harus bisa memanfaatakan keadaan untuk dapat berbincang dengan sang Tuan.


"Ya. Ini hari ulang tahun pernikahan kami. Sekalian memberitahu kalian mengenai pernikahan saya."


"Mama." Entah bagaimana caranya, Evan tiba-tiba sudah berada di dekat Anta dan Elvano. Melihat sang putra yang sedikit kesulitan menaiki panggung tempatnya dan Elvano berdiri, Anta dengan sigap mendekati sang putra.


"Biar saya saja," ucap Anta pada salah satu pekerja yang bertanggung jawab mengurus acara ini. Perempuan itu hanya mengangguk membalas Anta.


"Mama."


"Iya, sayang. Anak Mama," balas Anta, membawa Evan mendekati Elvano.


"Papa."


Elvano tersenyum dan mengecup kepala putranya. Membuat anak itu tersenyum senang ke arahnya.


"Ini Evan, putra pertama saya dan istri."


Terdengar bisik-bisik dari para tamu setelah Elvano memperkenalkan Evan. Elvano yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Ia sudah menduga, jika orang-orang akan berpikir pendek mengenai pengakuannya.


"Kalian yang pernah bekerja dengan Papa saya pasti tahu mengenai abang saya yang sudah meninggal dua tahun lalu. Evan adalah putranya. Karena sejak kecil Evan bersama saya, saya menganggapnya sebagai putra saya, bukan keponakan. Istri saya juga tidak keberatan menganggap Evan sebagai putra pertama kami."


Sontak, segala pikiran-pikiran buruk mereka lenyap setelah mendengar penjelasan Elvano.


Sementara di kursi bagian khusus untuk keluarga, Devita dan Haris tersenyum haru. Keduanya bersyukur, akhirnya sang putra menetapkan pilihan hidupnya dengan yakin. Keduanya barharap, rumah tangga sang putra akan terus bahagia.