
Tiga minggu berlalu. Luka di lengan Anta sudah sepenuhnya sembuh. Benang jahitnya juga sudah diangkat. Anta juga sudah bisa menggendong Evan sesekali.
Hari ini adalah hari ulang tahun Evan. Akan ada acara perayaan kecil-kecilan. Tapi sebelum itu, pagi ini mereka akan ke makam orang tua Evan.
"Udah ganteng anak Mama. Wangi lagi," ucap Anta sambil menciumi pipi Evan.
"Anak siapa dulu, dong?" sahut Elvano. "Evan ganteng ya turunan dari Papanya," lanjutnya.
Anta terkekeh mendengar ucapan Elvano. Narsis sekali suaminya ini.
"Oh ya, Mas. Semuanya udah diatur?"
"Udah. Ada Dika yang bantu awasi," jawab Elvano. Tangannya terulur mengusap-usap puncak kepala Evan.
"Cieee... Yang udah baikan sama kak Dika."
"Baikan? Emang aku sama Dika berantem?" tanya Elvano, pura-pura tidak ingat soal perang dinginnya dengan Dika karena cemburu.
"Pake pura-pura lupa segala. Entar benaran jadi pelupa gimana? Lupa anak, lupa is—"
"Nggak akan! Aku nggak akan lupa sama kalian semua," potong Elvano. "Soal Dika... Oke, aku akui hubungan kami sedikit nggak baik. Itu karena aku cemburu karena Dika suka deketin kamu. Tapi sekarang nggak lagi. Kita udah baikan," ucap Elvano.
Anta yang mendengarnya tersenyum. Dia tahu, seminggu lalu, Dika menemui Elvano di kantor. Mereka berbicara banyak, hingga akhirnya mereka baikan. Walaupun Anta tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetap saja Anta bersyukur karena dua saudara itu kembali berbaikan.
"Iya iya. Aku senang kalian dekat lagi. Keluarga itu yang terpenting, Mas."
Elvano tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Anta. "Aku harap, kita akan selalu bersama seperti ini sampai akhir hidup kita."
"Aku juga berharap begitu, Mas."
Elvano mengangguk. "Ya udah. Sekarang, ayo berangkat. Biar nggak terlalu kepanasan di TPU nya."
Anta mengangguk. Elvano segera menggendong Evan, kemudian meraih sebelah tangan Anta dengan sebelah tangannya yang bebas.
"Bi, kita berangkat dulu ya? Kalau Ricky sama Tiara balik, bilang aja kita lagi ke makam Mami sama Papi Evan."
"Siap Nyonya." jawab Bi Ijah. "Tuan sama Nyonya hati-hati. Tuan muda juga."
Anta tersenyum. "Iya, Bi. Kita pergi dulu."
"Iya, Nyonya."
"Kalau capek, istirahat Bi," ucap Elvano.
"Iya, Tuan."
Evan yang ada dalam gendongan Elvano melambaikan tangannya pada Bi Ijah. Ia tersenyum, menampilkan beberapa giginya yang tumbuh dengan rapih dan kokoh. Bi Ijah yang melihatnya balas melambaikan tangan. Membuat Evan kegirangan dan terkekeh.
Setelah hampir 30 menit perjalanan, mereka tiba di pemakaman. Elvano turun dan membukakan pintu untuk Anta. Laki-laki itu juga mengambil alih Evan dari pangkuan Anta.
"Ma... Ma...."
"Papa aja yang gendong Evan," ucap Elvano.
Sebelum menuju pemakaman, Elvano dan Anta terlebih dulu membeli bunga untuk ditaburi di makam nanti, yang di jual tak jauh dari tempat parkir. Kemudian, mereka sama-sama menuju makam.
Anta dan Elvano duduk berjongkok dengan Evan yang dibiarkan berdiri di tengah-tengah mereka. Tapi lama-lama, anak itu ikut berjongkok.
"Bang, gue bawa anak lo kesini. Hari ini, genap ulang tahun dia yang ke 2. Maaf, gue suka lupa ajakin Evan kesini. Tapi gue janji, mulai sekarang bakalan sering bawa Evan kesini," ucap Elvano.
Setelah Elvano selesai bicara, giliran Anta yang ikut bicara. Wanita itu tidak begitu banyak berbicara. Hanya memperkenalkan dirinya dan mendoakan Raka. Setelah selesai berziarah ke makam Raka, Anta menuju makam Vionna. Meski Elvano sudah melarangnya, Anta tetap keras kepala untuk tetap berziarah ke makam Vionna yang tak jauh dari makam Raka. Membuat Elvano terpaksa mengikutinya.
"Mbak Vionna, semoga mbak diampuni segala kesalahan mbak. Semoga mbak mendapatkan tepat terbaik di sisi Allah," doa Anta. Setelah itu, ia bersama Elvano dan Evan bergegas pulang.
***
Malam menjelang. Di rumah Elvano, semua persiapan perayaan ulang tahun Evan sudah selesai sejak sore tadi. Sekarang, semua orang sudah berkumpul di ruang tamu rumah Elvano. Ada hampir tiga puluh anak panti yang Elvano dan Anta undang.
"Terima kasih buat kalian semua yang sudah menyempatkan waktu menghadiri acara ini. Semoga kalian menikmatinya," ucap Elvano.
Setiap orang yang hadir mengangguk. Devita dan Haris mendekat ke arah Evan yang digendong Elvano. Begitu juga dengan Dika dan kedua orang tuanya, juga Dinda, Fahri dan putri mereka, Ara.
"Selamat ulang tahun, Evan. Semoga Evan cepat tumbuh besar dan sehat. Biar bisa main sama Ara dan teman-teman Ara."
"Makasih ya, Ara, doa nya. Semoga Ara juga selalu sehat," ucap Anta.
"Makasih, tante cantik."
"Iya, sayang."
Setelah selesai mengucapkan selamat pada Evan, Ara mendekati Tiara dan Ricky. Ia meraih tangan kedua kakak beradik itu lalu mengajak mereka pergi.
"Ayo, Kak Tiara, Kak Ricky, temani Ara, ya? Ara mau ke teman-teman panti," ucap Ara sambil menunjuk ke arah anak-anak panti. Tiara dan Ricky tersenyum kemudian mengangguk. Mereka sama-sama menuju anak-anak panti.
"Selamat ulang tahun ya, ponakan Tante. Sini-sini, biar Tante gendong." Dinda mengulurkan tangannya hendak menggendong Evan, namun anak itu berbalik memeluk erat leher Elvano. Ia tidak ingin digendong Dinda.
"Trauma Evan kalau digendong Mbak. Entar dia dicium, diunyel-unyel sampe nangis," celetuk Dika, membuat Dinda menatap sinis padanya, lalu membuang muka ke arah Fahri.
"Maaass, Dika tuh, nyebelin!" rengek manja Dinda, membuat yang lain terkekeh. Fahri juga ikut terkekeh. Suka sekali istrinya berlaku seperti ini.
Sambil menahan senyumnya, Fahri mengusap lembut puncak kepala Dinda. "Entar Mas marahin," ucapnya yang diangguki Dinda dengan ekspresi lucunya. Dan tak lama kemudian, gelak tawa lepas dari bibir wanita itu, yang mengundang orang-orang yang melihatnya ikut tertawa.
"Anak kalian ada-ada aja, hehehe..." Devita melirik orang tua Dinda dan Dika. Kedua adik iparnya itu pun sama terkekehnya dengannya.
Terlepas dari candaan yang mereka lontarkan, satu per satu anggota keluarga yang diundang menyerahkan kado pada Evan. Anak kecil yang ada dalam gendongan Elvano itu bergerak turun saat melihat tumpukan kado. Ia meraihnya dan dijadikan mainan.
"Anak Mama udah nggak sabar buka kadonya, ya Nak? Bentar ya, kita sapa teman-teman panti dulu."
Anta meraih Evan dan menggendongnya ke arah teman-taman panti. Namun, Elvano yang melihatnya dengan cekatan meraih Evan ke gendongannya.
"Udah aku bilang, jangan gendong Evan dulu sayang," ucap Elvano.
"Mas, aku nggak apa-apa kok gendong Evan."
"Nggak. Lengan kamu harus benar-benar sembuh dulu, baru aku bolehin gendong Evan!" tegas Elvano. Anta terdiam dan menarik nafasnya panjang.
Ya Allah, mau benar-benar sembuh gimana lagi? Bukannya ini udah sembuh? Batin Anta.
Wanita itu menarik nafasnya sekali lagi. Ia kemudian menatap anak-anak yang menikmati acara tersebut.
"Ayo, anak-anak. Sini-sini," panggil Elvano menyuruh anak-anak itu mendekat padanya, Evan dan Anta. "Sebelum kalian pulang, Om mau bagiin sesuatu sama kalian."
Anak-anak panti semuanya berkumpul. Anta pun ikut menyapa, kemudian ia dan Elvano membagikan suvenir dan amplop untuk anak-anak itu. Senyum merekah dari bibir anak-anak itu membuat Elvano dan Anta ikut tersenyum.
"Terima kasih, Om, Tante, semoga Om sama Tante punya banyak anak dan kita diundang terus kesini setiap kali ulang tahun mereka," ucap polos salah satu anak itu membuat semua terkekeh. Elvano dan Anta pun ikut terkekeh. Namun, dalam hati, keduanya mengaamiin kan ucapan anak itu.