Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Keputusan Sepihak



Sesampai di Jakarta, Alvaro mengantarkan Anabelle ke rumahnya, baru setelah itu, Alvaro pulang ke rumahnya sendiri. Sesampai di rumah, Alvaro langsung di kejutkan dengan keluarganya yang sudah berkumpul. Memang sebelumnya, Alvaro sudah memberitahu akan pulang hari ini, namun ia tidak menyangka jika mereka akan kumpul semua di ruang tamu.


Alvaro pun menyapa mereka satu persatu, setelah itu duduk di kursi kosong.


Dan yah, baru aja Alvaro mendaratkan pan-tatnya di kursi, beberapa pertanyaan langsung di ajukan oleh keluarganya.


Dan Alvaro pun dengan tenang menjawab pertanyaan mereka.


Dan setelah itu, Kakek dan orang tuanya meminta Alvaro untuk membawa Anabelle secepatnya ke hadapan mereka dan Alvaro pun menyetujuinya. Besok sepulang kerja, Alvaro akan menjemput Anabelle ke kantornya dan setelah itu membawa ANabelle menemui keluarga besarnya.


Alvaro juga memberitahu mereka tentang acara melamar Anabelle dalam satu bulan ke depan, atau bisa jadi kurang dari satu bulan. Mendengar perkataan Alvaro mereka kaget, namun pada akhirnya mereka menganggu setuju. Lebih cepat lebih baik dari pada di tunda tunda terus, nanti malah ada kejadian yang tak mengenakkan, seperti hamil di luar nikah mungkin.


Setelah Alvaro di sidang hampir dua jam, barulah Alvaro di perbolehkan masuk kamar untuk istirahat.


Di kamar, ia segera menghubungi Anabelle.


"Hallo, Sayang."


"Hallo, Mas."


"Lagi apa sekarang?"


"Bersih bersih rumah nih."


"Loh emang gak capek habis perjalanan, langsung bersih-bersih."


"Capek sih, tapi lebih capek lagi lihat semua barang berdebu. Jadi sekalian aja capeknya biar nanti setelah semuanya bersih, aku bisa langsung mandi dan istirahat dengan tenang tanpa kepikiran rumah yang kotor."


"Besok kamu kerja?"


"Iya, kenapa. Mas mau ke Perusahaan Evta?"


"Iya, tapi mungkin habis makan siang, baru bisa ke sana."


"OH."


"Besok habis pulang kerja ada acara?"


"Enggak, kenapa?"


"Aku mau ngajak kamu ketemu keluarga besar aku."


"What? Kok dadakan gini?"


"Ya, tadi tuh saat aku baru sampai rumah, aku langsung di sidang oleh mereka, terus di tanya tanya gitu tentang kita. Lalu mereka bilang, pengen ketemu kamu dan aku sudah janji ke mereka, kalau aku akan mempertemukan kamu ma mereka, besok sehabis pulang kerja. Maaf seharusnya aku nanya dulu sama kamu, bisa apa gaknya?"


"Ya seharusnya nanya dulu, jangan ambil keputusan sendiri. Tapi semua sudah terjadi, kamu juga gak bisa kan menarik kembali kata-kata kamu itu. Jadi, ya sudah, mau gimana lagi, mau gak mau, suka gak suka, besok aku akan mengunjungi mereka."


"Makasih ya, Sayang. Sekali lagi aku minta maaf."


"Enggak papa, tapi lain kali jangan di ulangi lagi. Usahakan nanya dulu, jangan ambil keputusan sendiri, bisa jadi aku ada urusan yang lain atau lagi gak mood."


"Iya, aku janji. Ini pertama dan terakhir deh."


"Iya."


Dan mereka pun mengobrol hingga setengah jam lamanya, setelah itu, barulah Alvaro mematikan telponnya karena ia ingin segera mandi dan istirahat. Anabelle pun juga masih harus bersih bersih lagi dan baru setelah itu, ia akan mandi dan istirahat juga.


Baru aja Anabelle ingin melanjutkan bersih-bersihnya, ada lagi yang nelfon, tapi kali ini bukan Alvaro melainkan Tasya.


"Hallo, An."


"Iya, aku seneng banget soalnya."


"Seneng kenapa."


"Alhamdulillah Papaku akhirnya luluh, An. Dia mau menerima Mas Bagas buat jadi calon mantunya tapi dengan satu syarat."


"Syarat apa?"


"Dia harus segera menikahi aku Minggu ini."


"Astaga."


"Iya, tapi Mas Bagas sih gak keberatakan. Kemaren dia sudah pulang ke kampungnya untuk menjemput orang tua dan saudara terdekatnya serta mengambil berkas penting untuk acara nikah di tempat aku."


"Jadi kamu akan menikah dalam waktu beberapa hari?"'


"Iya, jadi saat aku balik ke Jakarta, aku dan Mas Bagas sudah jadi suami istri. Dan aku gak bisa menginap di rumah itu lagi, menemani kamu. Aku akan tinggal di apartemen bersama Mas Bagas, gak papa kan?"


"Gak papa, yang penting kamu seneng. Aku gak menyangka, akhirnya Papamu memberikan restu juga."


"Iya itu karena Mas Bagas selalu mendekatinya dan tidak menyerah, ia bahkan rela melakukan apa aja yang di suruh oleh Papaku tanpa mengeluh. Makanya Papa akhirnya luluh juga, karena dia percaya kalau Mas Bagas adalah laki-laki baik dan pantas bersanding dengan aku."


"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya."


"Hubungan kamu sama Mas Al gimana?"


"Besok sepulang kerja, Mas Al meminta aku menemui keluarga besarnya."


"Wow, terus?"


"Jujur aku gugup."


"Jangan gugup kamu harus hadapi bersama-sama."


"Sebenarnya kemaren Mas Al datang ke Jember, menemui orang tua dan keluaga aku serta menginap di rumah aku."


"'What, kok bisa?"


Dan akhirnya Anabelle pun menceritakan semuanya.


"Haha, dia emang gentleman banget dah."


"Hmm dan katanya dia akan melamar aku dalam waktu dekat ini. Mungkin kurang dari sebulan, dia akan datang lagi ke kampung orang tua aku, untuk melamar aku secara resmi."


"Astaga, aku ikut senang mendengarnya. Semoga Mas Al jadi pria terakhir kamu ya."


"Aaamiiin. Sejujurnya aku belum siap tapi jika emang ini sudah jalannya, aku juga gak bisa menolak," tuturnya.


"Hmm .... jalani aja seperti air yang mengalir. Lagian aku percaya, Mas Al berbeda dengan Mas Gavin, dia laki laki baik dan aku yakin, dia pasti bisa lebih menghargai kamu dan menghargai pernikahan kalian nanti."


"Aamiiin."


Dan mereka pun mengobrol panjang lebar, bahkan sangking lamanya, mereka telfonan, tak terasa dua jam berlalu. Hp Anabelle bahkaan sampai panas dan baterai hampir drop. Ya begitulah wanita, jika sudah di suruh cerita, seakan lupa waktu.


Setelah telfonan dengan Tasya, Anabelle segera menon aktivkan hpnya danĀ  langsung di cas. Baru setelah itu, ia segera bersih-bersih lagi, dari tadi, ada aja gangguannya.


Setelah selesai bersih, bersih, ia segera mandi dan istirahat sambil memesan makanan secara online, karena perutnya yang sudah keroncongan dari tadi dan minta segera di isi.