Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Melupakan Masalah Sejenak



Vero menangis, saat ia menangis, tiba tiba ada bell berbunyi. Vero bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu apartemennya, ternyata Verly, asistennya.


"Masuk, Ver," ucap Vero dengan mata sembabnya.


"Kamu kenapa?" tanya Verly sambil masuk ke dalam dan duduk duduk di sofa ruang tamu. Ia menaruh makanan buatan Ibunya untuk Vero.


Vero duduk di sebelah Verly setelah ia selesai mengunci pintu agar tak ada sembarangan orang masuk.


"Gara-gara Mas Farhan," jawabnya yang masih kesal.


"Kenapa? Kalian bertengkar?" tanya Verly sambil mengenyitkan dahi, karena gak biasanya mereka debat sampai bikin Vero nangis seperti itu.


"Dia nuduh aku pelakor."


"APA! Kok bisa?" tanya Verly kaget. Namun ia percaya jika Farhan tak mungkin bicara seperti itu kecuali dia sudah yakin dengan berita yang ia bawa.


"Dia bilang Mas Gavin sudah menikah, terus Mas Farhan juga bilang kalau sekarang Mas Gavin ma istrinya pisah rumah gara-gara Mas Gavin ketahuan selingkuh dan parahnya selingkuhannya itu aku. Siapa coba yang gak marah? Padahal kemaren aku sendiri yang ngecek KTP nya dan di KTP itu statusnay masih single, atau belum menikah. Aku juga gak pernah lihat Mas Gavin pakai cincin pernikahan atau cincin pertunangan. Tadi juga jam dua dini hari aku bangun buat ngecek HPnya diam-diam tapi gak ada yang mencurigakan, gak ada nomer kontak yang aneh-aneh, atau pesan yang mencurigakan, bahkan saat aku lihat di galery nya pun, kebanyakan foto aku yang dia ambil dari IG, atau foto liburan berdua aku ma dya, yang dulu dulu itu. Bahkan saat aku minta Mas Gavin buat ajak aku ke rumahnya, Mas Gavin fine fine aja, gak keberataan. Jika dia emang sudah nikah, seharusnya dia nolak kan, dengan alasan ini dan itu, tapi Mas Gavin langsung mengiyakan saja. Tak ada tanda-tanda jika Mas Gavin menikah. Tapi Mas Farhan kekeh bilang kalau Mas Gavin sudah menikah, aku bingung hiks hiks." Vero menangis di depan Verly membuat verly jadi tak tega di buatnya.


"Tapi Mas Farhan gak akan bilang seperti itu, jika dia gak punya bukti."


"Tadi aku sudah nantang minta buktinya, tapi dia bilang gak ada, dia hanya kata temennya aja, padahal kan temennya itu belum tentu benar infonya." Vero masih saja menangis.


"Tapi aku rasa mending kamu cari tau aja, lewat orang lain. Jangan sampai fakta itu benar adanya, jika Mas Gavin sudah menikah dan kamu adalah selingkuhannya. Kamu gak mau kan selamanya di anggap sebagai perusak rumah tangga orang? Apalagi jika sampai netizen tau, bagaimanapun pelakor itu adalah hal yang sangat sensitif bagi kaum hawa. Mereka tak akan segan untuk menghina dan mencaci maki kamu, tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya. Dan sebelum semuanya terjadi, kamu harus mencari tau dulu dan mencegah agar berita seperti itu tak sampai keluar. Kamu harus pandai pandai menjaga diri, terlebih saat ini kamu lagi ada di puncak karir, ada banyak saingan kamu yang mencoba menjatuhkan kamu. Kamu harus hati-hati, Ver," ucap Verly mengingtkan.


Vero menganggukkan kepalanya.


"Aku akan menyuruh orang buat mencari tau, dan lagi Mas Farhan juga sekarang lagi mengumpulkan bukti jika Mas Gavin itu benar-benar sudah menikah."


"Mas Farhan itu sangat peduli sama kamu, Ver. Dia gak mau kamu kenapa-napa. Makanya dia itu ngingetin kamu agar kamu nyudahin hubungan ini sebelum semuanya terlambat."


"Tapi aku gak mungkin mutusin Mas Gavin gitu aja, jika gak ada bukti yang cukup. Aku juga gak mau gegabah, terlbih aku sangat mencintai Mas Gavin,"


"Aku akan mutusin dia, walaupun berat tentunya. Tapi aku gak akan mau menjadi selingkuhannya dan menyakiti wanita lain. Bagaimanapun aku percaya akan karma, dan aku gak mau kelak pernikahanku juga hancur karena orang ketiga. Untuk itu, aku akan mengalah dan menjauhi Mas Gavin," ujarnya sambil mengusap air matanya.


Mendengar hal itu, Verly tersenyum lega. Setidaknya Vero gak bersikap egois untuk mempertahankan hubungannya dengan Gavin. Bagaimanapun bahagia di atas derita wanita lain, sangatlah tidak di etis sama sekali. Dan rasanya sangatlah tidak pantas.


Lagian hubungan yang di awali dengan sebuah kebohongan tentu tidak akan mendapatkan hasil akhir yang baik.


"Kamu tiba jam berapa?" tanya Verly mengalihkan pembicaraan.


"Tadi sekitar setengah jam yang lalu, aku juga baru tidur sepuluh menit dan mendapatkan telfon dari Mas Farhan dan akhirnya malah berakhir debat," ucap Vero tak suka.


"Iya sudah kamu tidur aja lagi, masih ada waktu kan, nanti aku bangunin kamu. Sambil kamu tidur, aku akan menyiapkan semuanya, biar nanti gak buru-buru," ujar Verly yang kasihan sama Vero, ia takut nanti Vero akan ngantuk di lokasi syuting.


"Aku sudah gak ngantuk, jadi gak mungkin bisa tidur lagi, jika di paksakan malah pusing. Jadi mending gak usah tidur sekalian. Kamu bawa apa itu?" tanya Vero sambil mengambil membuka makanan yang ada di atas meja.


"Kue, buat kamu. Ibu yang buat sendiri. Ada nasi juga sama ayam di masak merah, sambal, tempet penyet pakai kemangi, lalapan terong, sama kerupuk."


"Wah, kebetulan aku lapar, aku makan dulu ya. Kamu sudah makan?" tanyanya sambil pergi ke wastafel untuk cuci tangan.


"Sudah, tadi sebelum berangkat ke sini, aku makan duluan."


"Iya sudah, kalau gitu aku habisin ya."


"Iya, jangan kenyang-kenyang, nanti malah sakit perut saat syuting."


"Okay."


Seakan melupakan masalahnya, dengan mengucap basmallah, Vero mulai menyantap makanannya. Sedangkan Verly yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala, padahal barusan aja dia sedih tapi sekarang, ia bahkan seakan sudah lupa dengan masalahnya, ia makan dengan lahap dan seperti sangat menikmatinya.


Verly pun segera beranjak dari tempat duduknya dan mulai menyiapkan apa saja yang akan di bawa nanti ke lokasi syuting dan baju apa yang akan di pakai.