
Keesokan harinya, Vero sudah mulai baikan. Walaupun hatinya masih sakit, namun tak sesakit kemaren. Lagian ia gak bisa mengurung diri terlalu lama, karena ia punya banyak pekerjaan yang gak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Farhan datang pagi-pagi sekali, ia harus mengecek keadaan Vero, wanita yang diam-diam ia cintai itu. Melihat Vero dengan mata bengkaknya, rasanya gak tega. Ingin rasanya ia memeluk Vero dan memberikan Vero ketenangan. Namun ia bisa apa, sedangkan posisinya hanyalah manajer biasa yang mengatur jadwal Vero saja, tidak lebih. Lagian Vero juga tak mencintainya, jangakan cinta, bahkan rasa sayang pun tak ada. Jadi, Farhan tak bisa berharap lebih padanya. Tapi bagi Farhan, melihat Vero baik-baik aja, pun sudah lebih baik baginya. Setidaknya walaupun ia gak bisa dekat sebagai sepasang kekasih, ia bisa dekat dengan Vero karena Vero berada di bawah naungannya.
Verly pun juga sebenarnya gak tega melihat Vero yang masih patah hati itu harus dipaksa untuk bekerja. Tapi ia sebagai asisten Vero, hanya bisa diam dan mendoakan yang terbaik buat Vero. Ia cuma berharap agar Vero bisa segera sembuh dari rasa sakit hati dan menemukan laki-laki yang bisa menyayanginya dengan tulus. Laki-laki yang bisa membahagiakan Vero dan bisa menerima Vero apa adanya, tanpa melihat Vero itu siapa. Karena bisa jadi, mereka mencintai Vero karena saat ini Vero adalah artis yang tengah naik daun, bukan karena tulus. Melainkan karena ingin panjat sosial aja, dan Verly gak mau jika itu terjdi. Karena itu bisa membuat Vero merasakan sakit hati untuk kedua kalinya.
Vero menyapa Verly dan Farhan lalu duduk di dekat mereka.
"Ver, matamu bengkak, apa gak sebaiknya di kompres dulu pakai air hangat?" tanya Verly.
"Emang bengkaknya kelihatan banget ya?" tanyanya dan Very pun menganggukkan kepala.
"Iya sudah, aku minta tolong ya, ambilkan air buat ngompres mataku," ucap Vero dan Verly pun langsung beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke dapur. Mengambil air buat mengompres mata Vero.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Farhan setelah Verly pergi.
"Emang kenapa aku?" tanya balik Vero.
"Hati kamu, apakah sudah baik baik aja?" tanyanya.
"Sudah," jawab Vero singkat.
"Aku tau, gak mudah buat kamu melalui semua itu. Tapi aku harap, kamu bisa melaluinya dengan baik," tutur Farhan.
"Ya," sahut Vero, yang malas ngomong panjang lebar.
"Kamu yakin akan kerja hari ini?" tanyanya memastikan.
"Hm," balas Vero dengan deheman membuat Farhan hanya bisa menghela nafas, pasalnya Vero seperti badmood untuk ngomong dengan dirinya.
Tak lama kemudian, Verly datang membawa mangkok yang berisi air dingin dan kain bersih buat mengompres mata Vero. Air dingin bertujuan untuk mengurangi bengkak di area mata.
Vero berbaring di sofa panjang, kepalanya di kasih bantal dua agar kepalanya lebih tinggi dari badannya.
Lalu setelah itu, Verlypun mulai mengompres kedua mata Vero, berharap jika bengkaknya akan segera hilang atau paling tidak berkurang, agar tidak terlalu kelihatan saat di lokasi syuting nanti. Bagaimanapun Vero bukan type orang yang mau berbagi cerita dengan orang lain. Jadi misal ada yang tau jika Vero habisĀ nangis, pasti mereka kepo sama kehidupan Vero. Namun Vero gak akan menjelaskan apapun, ia lebih memilih bungkam saja, dari pada nanti cerita hidupnya jadi ajang gosip di lokasi syuting.
Sedangkan di tempat yang beda, Anabelle di temani oleh pengacaranya pergi ke pengadilan agama untuk menggugat cerai Gavin. Yah, dia memutuskan untuk segera pisah agar ia bisa menjalani hubungan dengan orang lain.
Tasya, Bagas dan Alvaro pun mendukung keputusan Anabelle, lagian dari pada cuma digantung, mending langsung digugat aja, agar semua beres dan cepet terselesaikan. Dan status Anabelle pun jelas, seoerang janda. Bukan lagi seorang istri tapi gak di nafkahi baik secara lahir maupun batin. Sebenarnya bukan gak mau dinafkahi ya, tapi Anabelle yang sudah gak mau menerima apapaun dari Gavin, baik itu nafkah lahirian ataupun batiniah. Karena Anabelle terlanjur kecewa dan gak mau ada status apapun lagi di antara dirinya dan Gavin.
Anabelle pergi bersama pengacaranya membawa berkas penting, seperti surat nikah asli, fotokopi surat nikah, fotokopi KTP, surat keterangan dari kelurahan, fotokopi KK dan materai. Tak lupa Anabelle juga membawa bukti pengkhianatan Gavin, dimana semua bukti itu di kumpulkan jadi satu, agar majelis hakim nantinya mau mengabulkan permintaannya untuk bercrai.
Anabelle juga gak meminta harta Gavin, karena memang tak ada harta yang ingin ia rebutkan. Ia memilih untuk membangun usaha sendiri dari pada merebutkan harta yang memang bukan miliknya. Untungnya juga tak ada anak, sehingga mungkin proses perceraian akan lebih mudah.
Anabelle hanya akan pergi sekali aja ke pengadilan karena setelahnya ia gak akan mengurus apa apa lagi dan semuanya akan ia pasrahkan kepada pengacaranya. Ya, apa gunanya punya pengacara jiak masih Anabelle yang harus hadir dan mengurus sendiri surat cerainya.
Setelah dari pengadilan agama, pengacaranya langsung pamit untuk pergi ke tempat lain karena masih harus mengurus sidang yang lain. Sedangkan Anabelle langsung pergi ke kantor. Dan di sana ia di sambut hangat oleh Tasya. Pasalnya, Tasya lah yang paling senang karena bentar lagi, Anabelle akan lepas dari Gavin dan Tasya berharap, setelah ini, Anabelle menikah dengan orang yang tepat, seperti Alvaro misalnya yang jelas jelas mencintai Anabelel dan Anabelle pun juga punya perasaan yang sama pada Alvaro.
Di saat Anabelle merasakan kebahagiaan karena bentar lagi akan lepas dari pernikahan yang tak lagi bisa di selamatkan itu, berbeda dengan Gavin. Ia kini masuk kantor karena ada banyak pekerjaan yang tak bisa ia abaikan begitu saja. Tapi masalahnya, ia gak bisa konsen bekerja karena fikirannya saat ini tengah sibuk memikirkan Anabelle dan Varo. Dua wanita yang ia cintai, yang memilih untuk lepas darinya.
Bukannya mendapatkan dua duanya, Gavin malah akan kehilangan dua duanya. Bagaimana bisa Gavin kerja dengan benar, jika fikirannya lagi kacau seperti ini.
Gavin hanya menatap tumpukan kertas di atas mejanya dengan tatapan kosong. Ia gak ada semangat untuk bekerja, ia ingin bertemu dengan Anabelle atau pun Vero, memohon pada mereka agar tak meninggalkannya. Namun sialnya, ia gak bisa pergi kemana mana sebelum pekerjaannya selesai. Atau ia akan rugi besar jika terus mengabaikan pekerjaannya.
Dan lagian, Anabelle juga tak mau bertemu dengannya dan terkesan menghindar terus, sedangkan Vero juga tak mau bertemu dengannya lagi, bahkan ia gak bisa pergi ke apartemen Vero secara leluasa seperti dulu karena ada satpam yang mengusirnya atas perintah Vero. Sehingga membuat Gavin kesulitan bertemu dengan Vero. Apalagi jadwal Vero akan semakin padat ke depannya, pasti akan semakin sulit buat bertemu pujaan hatinya itu. Sedangkan nomer Gavin pun sudah di blok oleh Anabelle atau pun Vero. Sehingga Gavin tak bisa menghubungi mereka lagi.
Gavin benar-benar merasa frustasi, tak menyangka jika kisah percintaannya akan berakhir sad ending seperti ini. Namun ia gak mau menyerah gitu aja, ia akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan dua duanya, atau paling tidak mendapatkan salah satunya. Gavin gak mau merasa sendirian karena putus cinta sedangkan Anabelle dan Vero akan mendapatkan cinta sejati dari pria lain selain dirinya.