
Beberapa hari Anabelle di Jember, namun ia masih belum bisa menghubungi Alvaro. Karena nomernya tidak aktiv, begitupun dengan semua sosila medianya. Anabelle sudah mengirim pesan, namun juga belum kunjung di balas. Dan itu membuat Anabelle khawatir.
Anabelle bahkan tidak bisa menikmati liburannya dan fokus memegang Hp, berharap jika Alvaro mau menghubunginya lagi dan membalas pesan-pesannya.
"Kamu kenapa sih, main hp terus sehari-hari? Enggak mau keluar. Percuma pulang ke Jember, kalau cuma diam di kamar," omel Bella.
"Itu loh di luar ada saudara, dan tetangga kamu. Temuin dulu, jangan cuma diam di kamar, dari kecil, sukanya di kamar terus. Apa gak bosen?" tanyanya.
Mendengar hal itu, Anabelle pun hanya diam. Ia membawa Hpnya, dan pergi keluar untuk menemui saudara dan para tetangganya yang sengaja datang untuk menemui Anabelle.
Anabelle pun berbasa basi sama mereka, Anabelle emang bukan type orang yang mudah bersosialisasi. Jadi, Anabelle hanya menjawab sekedarnya aja saat mereka bertanya.
Namun tak ada di antara mereka, yang merasa tersinggung. Mungkin karena mereka sudah tau, sifat asli Anabelle sebelumnya. Jadi, mereka pun tidak mempermasalahkannya. Bahkan Anabelle mau menemui mereka dan mengobrol dengan mereka pun, itu sudah syukur Alhamdulillah. Mengingat dulu, Anabella bahkan tidak mau keluar rumah dan hanya diam di kamar, setelah pulang sekolah.
Saat Anabelle mendapatkan telfon dari Alvaro, Anabelle pun cukup kaget. Ia segera pamit ke mereka, untuk pergi ke kamarnya dan mengangkat telfon dari Alvaro.
"Kamu kemana aja sih Mas tiga hari ini, kok gak ada kabar?" tanya Anabelle kesal.
"Gak kemana-mana, santai aja," jawabnya cuek.
"Kamu marah sama aku?"
"Hm."
"Maaf."
"Buat apa minta maaf, jika pada akhirnya akan di ulangi lagi"
"Aku janji, aku gak akan mengulanginya lagi. Tapi jangan ngilang kayak gini, aku merasa khawatir."
"Kamu khawatir sama aku, bagaimana dengan perasaan aku saat tau kamu menyetir berjam jam dari Jakarta ke Jember, sendirian. Kamu mikir gak perasaan aku, ketakutan aku." tanyanya dengan intonasi tinggi.
"Maaf." Anabelle mulai terisak, untungnya pintu sudah ia kunci dari dalam sehingga tak mungkin ada yang mendengar tangisannya.
Mendengar Anabelle terisak, intonasi Alvaro pun langsung merendah.
"Kamu tau, jantungku berdetak kencang, saat tau kamu nyetir sendiri. Aku bahkan sampai tidak bisa mengendalikan emosi aku dan akhirnya membanting hpku. Aku marah, aku emosi, aku kesal, aku kecewa. Kenapa hanya demi ego kamu, kamu tidak memikirkan keselamatan kamu. Kamu gak mikir, gimana perasaaan aku jika kamu kenapa-napa, gak mikir gimana perasaan orang tua kamu dan orang-orang yang menyayangi kamu?" tanyanya.
Mendengar hal itu, Anabelle diam.
"Aku gak mau marah, tapi apa yang kamu lakukan, jujur membuat aku kesal dan kecewa," imbuh Alvaro.
"Maaf."
"Iya sudah, tapi jangan di ulangi lagi ya. Nanti pulangnya, naik pesawat aja, biar cepet nyampek, dan aku tenang."
"Tapi aku pulang ke Jember, bawa mobil kamu."
"Iya sudah kasihkan aja ke Mama Papa kamu. Surat-suratnya ada, kan?"
"Ada."
"Ya sudah mobil tinggal aja di sana, biar di pakai Papa kamu."
"Tapi kan itu mobil mahal."
"Terus maumu, apa? Mau nekat lagi ke Jakarta, nyetir sendiri?" tanyanya mulai kesal lagi.
"Bukan gitu, aku bisa pakai jasa angkut barang."
"Tapi ... "
"Mau alasan apa lagi sekarang?"
"Iya sudah, aku titipkan mobilmu di rumah orang tuaku."
"Bukan titip, kasih aja ke mereka. Lagian itu sudah model tiga tahun lalu," ujarnya.
"Baiklah, nanti aku akan kasih mobil itu ke Papa aku."
"Hmm."
"Tapi jangan marah lagi," pintanya memohon.
"Iya, tapi kamu janji jangan nakal lagi."
"Iya, aku janji. Kamu lagi apa?"
"Baru selesai meeting."
"Oh, kapan pulang?"
"Mungkin hari Sabtu sore. Minggu nyantai, dan Senin baru balik kerja lagi. Kamu kapan balik Jakarta?" tanyanya.
"Hari Minggu."
"Mau aku jemput?"
"Enggak usah, aku pulang sendiri aja naik pesawat."
"Iya sudah, kalau gitu, aku jemput kamu di bandara aja, gimana?"
"Okay."
Dan setelah itu, mereka pun mengobrol santai. Tak ada lagi rasa marah dan kesal di antara keduanya.
"Kamu itu nelfon aku, pakai Hp siapa?" tanya Anabelle.
"Hp aku, ya kali aku pinjem. Ini kan nomerku." sahut Alvaro.
"Iya, tapi kan hp kamu sudah kamu banting."
"Aku kan bisa beli lagi."
"Iya juga sih. Lain kali, jangan gitu lagi lah. Masak kalau marah, main banting barang aja."
"Aku mana pernah gitu, cuma sekali itu aja, itu pun karena aku sudah kelewat kesel banget."
"Huefft, tapi apapun alasannya, itu gak boleh. Aku kan jadi takut, gimana kalau kita nikah nanti, misal aku ada salah, kamu dikit-dikit main banting atau lempar barang. Aku kan takut." papar Anabelle..
"InsysaAllah, enggak. Itu pertama dan terakhir buat aku. Tapi kamu pun juga janji, jangan uji kesabaran aku."
"Iya."
Mereka terus mengobrol, hingga tak terasa sejam lebih. Dan setelah itu, Alvaro pun menyudahinya karena masih ada urusan yang lain. Anabelle pun mengiyakan dan telfon pun terputus. Anabelle kini sudah bisa merasa lega karena Alvaro sudah ngasih kabar setelah tiga hari, dia menghilang.