
Saat Vero tengah memejamkan mata, menikmati rasa sakit yang menghamtam jiwanya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanyanya dengan mata yang masih terpejam.
"Ver, ada Gavin di luar," ucap Verly memberitahu.
"Usir aja, aku malas ketemu dengannya," sahut Vero yang tak ingin bertemu laki-laki yang sudah menyebabkan dirinya terluka seperti ini.
"Tapi Ver, dia gak mau pergi. Udah sepuluh menit, dia berdiri di depan pintu apartemen. Aku gak mau dia buat keributan yang membuat keberadaan kita di ketahui oleh orang banyak, apalagi jika sampai ketahuan oleh paparazi. Aku juga gak bisa ngusir dia, karena dia gak mau nurut sama ucapanku," ujarnya dari luar pintu.
Mendengar hal itu, Vero hanya bisa mendengus kesal. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu, ia membuka kunci, lalu membuka knop pintu. Ia melihat Verly yang masih berdiri di depan pintu sambil cengengesan membuat Vero hanya bisa menghela nafas. Mempunya asisten yang kurang tegas, membuat Vero kadang kewalahan sendiri mengatasi masalahnya.
Vero berjalan menuju pintu keluar masuk. Tanpa aba aba, Vero membuka pintu hingga membuat Gavin yang bersandar di pintu, akhirnya terjatuh. Karena pintunya di tarik ke dalam.
"Astaga, bo kongku. Oh Tuhan, apakah gak bisa pelan pelan Ver?" tanyanya sambil bangkit dari tempat duduknya, sungguh bo kongnya terasa sakit setelah terbentur lantai marmer.
"Salah sendiri, ngapain sender ke pintu," ucapnya sinis, tak ada rasa kasihan sedikitpun di wajahnya. Ia malah bersyukur melihat raut wajah Gavin yang kesakitan.
"Ck ... makin ke sini makin tega kamu sama aku. Boleh aku masuk?" tanyanya.
"ENGGAK. Lagian, ngapain lagi sih kamu ke sini. Kita itu sudah PUTUS ya, P U T U S, okay," ucapnya sambil mengeja kata putus biar makin jelas.
"Aku gak mau kita putus, Ver. Aku cinta kamu."
"CINTA, Heh. Kalau cinta, telfon Anabelle sekarang dan talak dia sekarang juga," tantangnya.
"Aku gak bisa," ucapnya sedih.
"KENAPA? KARENA KAMU MENCINTAI DIA, KAN? Kamu gak mau melepaskan Anabelle tapi juga gak mau pisah dari aku. Kamu fikir siapa, sampai harus memiliki dua duanya? Emang kamu punya apa, sampai aku dan Anabelle harus menuruti perintahmu? Laki-laki tampang biasa aja, sok keren," tutur Vero sinis.
"Aku punya cinta, aku punya cinta buat kalian berdua, aku punya hati yang tulus, untuk kamu Anabelle. Apa itu gak cukup?" tanyanya dengan wajah sedihnya.
"Hey, kamu yang otaknya kosong mlompong. Asa kamu tau ya, aku dan Anabelle bahkan bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih tampan dari kamu, lebih kaya, lebih perfect, lebih setia dan lebih segala-galanya. Kamu punya cinta yang tulus, gak ada ceritanya punya cinta yang tulus tapi cintanya di bagi sana sini. Kamu kalau bodoh, jangan kebangetan deh. Bikin aku geli aja dengernya," ujar Vero yang tak lagi bersikap manis.
"Hus hus, sana pulang," usirnya sekali lagi membuat Gavin melongo, tak percaya wanita yang lembut, dan ramah seperti Vero, bisa melakukan hal ini.
"Kenapa, bengong? Kesurupan, sana pulang." Vero mendorong Gavin dengan kasar hingga Gavin hampir saja jatuh kalau dia tidak bisa mengimbangi tubuhnya.
"Kamu tega banget sih sama aku, Ver. Aku pacar kamu loh."
"Pacar apaan? kita itu sudah putus. Kamu gak punya urat malu ya, masih ngaku ngaku pacar. Noh sono, urusin istri kamu dulu. Bukannya malu, rahasianya ke bongkar, malah ngemis ngemis kek gini. Dasar pria gak punya urat malu," ucap Vero sambil menutup pintunya dengan kasar, gak peduli jika harus menganggu tetangga sebelahnya.
"Ver, buka pintunya. Aku belum selesai ngomong," ucapnya.
Vero yang mendengar hal itu pun merasa kesal, ia mengambil air yang ada di wastafel, air kotor, lalu ia membawanya ke depan, ia buka pintu dan ia siramkan air kotor itu ke wajah Gavin.
"Astaga," ucapnya karena matanya perih karena siraman air dari Vero.
"Perih, Ver," ujarnya kebingungan.
"Bodo'. Kalau kamu masih belum pulang, aku siram pakai air cabe," ancamnya sambil menutup pintu lagi. Sedangkan Gavin, akhirnya segera memilih pergi dari sana, ia mencari air bersih untuk mencuci wajahnya yang terasa panas dan perih. Entah air kotor apa sampai membuat mata Gavin perih banget.
"Ya ampun Ver, bar bar banget kelakuan kamu," sindir Verly yang gak nyangka akan menyiram Gavin pakai air kotor di wastafel.
"Bodo', salah sendiri gak mau pergi," ujarnya kesal.
Lalu Vero menelfon bagian keamanan apartemen, dan memberitahu mereka jika ada Gavin datang, untuk di usir aja. Karena menganggu. Tentu satpam yang berjaga di depan langsung mengerti jika itu perintah dari Vero. Karena itu telfon dari apartemen VVIP khusus kalangan selebritis terkenal atau milliader.
Mereka juga kenal sama Gavin, karena Gavin beberapa kali datang ke apartemen bersama Vero. Bahkan mereka juga kenal Gavin karena wajah Gavin yang seringkali muncul di majalah dan sesekali juga muncul di stasiun tivi. Jadi, mana mungkin mereka gak kenal. Tapi jika kedatangan Gavin, sudah membuat penghuni apartemen gak nyaman, maka beberapa satpam yang berjaga di depan, tentu tak akan tinggal diam, mereka gak akan membiarkan Gavin masuk leluasa seperti dulu. Toh mereka tau jika GAvin gak punya apartemen di sini dan hanya datang karena untuk bertemu Vero saja.
Keamanan apartemen di sini emang super ketat, dan sangat menjaga privasi semua orang yang mempunyai apartemen di kawasan elit ini.
Setelah menelfon bagian keamanan, Vero kembali ke kamar dan meminta Verly untuk tidak menganggunya dulu. Verly yang mengertipun hanya bisa menganggukkan kepala, bagaimanapun Verly tau betul, jika kini suasana hati Vero gak lagi baik baik saja, dan pasti Vero butuh waktu sendiri buat menenangkan hatinya.
Sedangkan Gavin, ia sudah selesai cuci wajah dan setelah itu, ia di datangi oleh beberapa satpam dan di minta untuk segera meninggalkan kawasan apartemen. Awalnya Gavin berontak karena ia masih ingin kembali ke apartemen Vero, namun karena satpam itu menyeret Gavin gitu aja, akhirnya GAvin pun hanya bisa pasrah. Ia tau, tidak mudah baginya buat menemui Vero jika Vero sudah menghubungi pihak keamanan. Dan mau gak mau, dari pada mempermalukan diri sendiri. Gavin pun pulang ke rumah. Untuk saat ini, ia mungkin gagal membuat Vero memaafkannya tapi ia yakin, cepat atau lambat, ia pasti bisa meluluhkan hati Vero lagi dan kembali bersamanya.