
Keesokan harinya, Anabelle kerja berangkat jam delapan pagi karena tadi sehabis sholat shubuh, ia tidur lagi. Makhlum tadi malam ia tidur jam satu dini hari, jadinya pagi-pagi masih ngantuk banget. Tasya dan Bagas juga masih pulang dua minggu lagi jadi selama itu, Anabella akan tidur sendirian di rumah ini.
Sepanjang jalan, Anabelle menyetir sambil dengerin musik agar ia tak kesepian dan menghilangkan rasa ngantuk yang masih ada. Ia bahkan kadang ikut menyanyi dan mengetuk-ngetuk jarinya pada setir.
Sesampai di depan gedung kantor miliknya, ia melihat Gavin yang tengah duduk santai di kursi depan gedung, melihat hal itu, membuat Anabelle jengah. Untung dia gak turun dari mobil, jika turun dan Gavin melihat dirinya, tentu Gavin akan berbuat ulah yang memancing emosinya. Anabelle pun akhirnya memilih pergi dari sana dan pergi menuju Resto Western food.
Resto ini cukup mahal dan hanya dari kalangan atas aja yang memesan makanan di sini, bahkan paling murah aja untuk minuman itu tujuh puluh lima ribu sedangkan untuk makanan paling murah itu sembilan puluh sembilan ribu. Paling mahal ada yang sampai jutaan, jangan di tanya kenapa mahal, karena selain tepat berada di pinggir jalan, restorannya pun mewah dan pelayannya sangat ramah, makanann dan minumannya enak-enak benar-benar memanjakan lidah dan tentu chef nya pun bukan abal-abal.
Anabelle masuk ke resto itu dan betapa kagetnya dia, saat bertemu dengan Vero tengah makan berdua dengan seseorang, jika Anabelle gak salah tafsir, wanita itu pasti Verly, asisten Veronica.
Anabelle pun menghampiri mereka dengan sopan.
"Mbak Vero," sapa Anabelle ramah.
"Loh Anna, kamu ada di sini?" tanya Vero kaget.
"Iya, Mbak. Mbak sudah dari tadi?" tanya Anabelle.
"Iya, ini sudah selesai makan," jawabnya sambil melihat ke arah piringnya yang sudah bersih dan minuman yang masih sisa setengah.
"Wah, tau gitu saya seharusnya datang lebih pagi ini, biar makan bareng Mbak Vero," ucap Annabelle membuat Vero terkekeh.
"Kalau mau pesen makanan, pesen aja gak papa. Gabung sama kami, lagian aku gak buru-buru kok, masih ada waktu buat santai," tutur Vero lembut membuat Annabelle terkesima. Inilah kenapa ia gak bisa melabrak Vero, karena memang Vero itu orangnya sangat baik sekali, andai dia tau pacarnya suami orang, tentu Vero gak akan mau menjalani hubungan dengan Gavin.
"Emang gak papa, saya gabung?" tanya Annabelle.
"Gak papa, duduk aja," sahut Vero.
Dan akhirnya Anabelle pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Vero.
"Oh ya kenalin ini Verly, asisten aku," ucapnya memperkenalkan asistennya.
"Hallo Mbak Verly, perkenalkan saya Anabelle, fansya Mbak Vero," ucap Anna memperkenalkan dirinya.
"Hay Anna, senang bisa kenalan dengan kamu," balasnya sambil berjabat tangan dengan Anabelle.
"Senang juga bisa kenalan dengan Mbak Verly," sahut Anna.
"Kamu pesan makanan dan minuman dulu gih, takutnya malah kamu kelaparan," tutur Vero membuat Anabelle terkekeh. Ia pun mengangkat tangannya dan tak lama kemudian, pelayan datang membawakan menu makanan dan minuman.
"Mbak Vero sama Mbak Verly gak mesen, biar saya trakhir hari ini," ujar Vero.
"Enggak, aku masih kenyang. Lagian ini minuman aku juga masih ada," balasnya. Anabelle menganggukkan kepalanya.
"Mbak Verly?" tanya Anabelle sambil melihat ke arah Verly.
"Enggak juga, minuman aku juga masih ada," sahutnya.
"Baiklah, Mbak saya pesan Takumi Sushi dan Noodle Bar satu sama minumannya Kiwi Punch Soda."
"Baik, Mbak. Mohon di tunggu sepuluh menit lagi," ucapnya tersenyum ramah. Anabelle pun menganggukkan kepala, lalu pelayan itu pun pergi dari sana.
"Kamu dari mana?" tanya Vero berusaha untuk akrab.
"Dari rumah, Mbak. Tadi mau ke kantor, tapi yah karena ada yang ingin saya hindari jadi saya langsung belok ke sini aja, sekalian sarapan pagi."
"Oh kamu kerja di mana?"
"Perusahaan Aplikasi Evta, Mbak. Oh ya, gimana kalau Mbak jadi model iklan untuk perusahaan saya?" tanya Annabelle.
"Itu perusahaan kamu?"
"Iya, tapi bukan pribadi sih, punya sahabat saya juga."
"Wah hebat, aplikasi itu sekarang lagi booming ya. Saya juga orang yang suka baca novel di sana," tutur Vero membuat Anabelle senang.
"Iya. Ada beberapa novel yang saya suka, dan jika ada waktu saya membacanya beberapa bab perhari."
"Wah gak nyangka ya, jadi gimana Mbak Vero mau jadi model iklan untuk perusahaan saya?"
"Mau sih tapi nanti Mbak Anna bilang sama Mas Farhan aja ya, dia menejer saya yang ngurus masalah jadwal saya."
"Oh baik-baik. Boleh minta nomernya Mas Farhan?" tanya Anna.
"Boleh. Aku kirim via Wa ya."
"Okay." Dan setelah itu, Vero pun mengirim nomer Farhan-manajernya ke Anna.
"Emm gimana kalau kita ngobrol santai aja, tanpa embel Mbak atau saya?" tanya Vero yang ingin berteman dengan Anna. Karena ia gak punya teman dekat, kecuali asisten dan manajernya itu. Verly dan Farhan.
"Boleh, boleh. Aku panggil Vero aja kalau gitu ya."
"Iya. Aku manggil kamu Anna," ucap Vero dan Anna pun menganggukkkan kepala.
"Mbak Verly, mau di panggil Mbak atau gimana?" tanya Anna mengajak Verly bicara, karena sedari tadi hanya diam mendengarkan.
"Verly aja biar akrab," jawab Verly tersenyum ramah.
"Baiklah, aku harap kita bisa semakin dekat nantinya," ujar Anna dan Vero pun mengangguk setuju.
Tak lama kemudian, makanan datang. Anabell pun makan sambil terus ngobrol sama mereka. Selesai makan dan menghabiskan minumannya, barulah Anna, Vero dan Verly, beranjak dari tempat duduknya. Anna yang membayar makanan semuanya termasuk punya Vero dan Verly. Awalnya Vero gak mau tapi karena Anna memaksa, akhirnya Vero pun mengangguk setuju tapi Vero janji akan mengajak Anabelle makan di lain hari dan Verolah yang akan membayarnya. Anabelle mengangguk setuju akan hal itu.
Setelah selesai, Vero dan Verly pergi ke arah barat sedangkan Anabelle kembali ke perusahaan dan ia bersyukur karena akhirnya Gavin pergi dari sana. Anabelle pun segera memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam ruangannya.
Di mobil Verly pun mengajak Vero ngobrol.
"Ver, kamu yakin mau berteman sama dia?" tanya Verly.
"Yakin, emang kenapa?" tanya Vero.
"Apa dia gak ada maksud lain kah?"
"Kayaknya sih enggak, lagian dia bukan orang miskin, dia kaya, pemilik perusaaan aplikasi yang kini tengah booming, dia juga terlihat ramah, cantik juga. Aku suka berteman dengannya."
"Tapi entah kenapa aku merasa dia ada maksud lain, deketin kamu."
"Itu hanya perasan kamu aja kali."
"Ya semoga aja itu hanya perasaan aku. Kamu kenal ma dia di mana?"
"Di pesta tadi malam."
"Oh, kamu yakin mau berteman dengannya."
"Iya aku yakin, sangat yakin sekali."
"Ya sudah jika memang kamu seyakin itu. Hubungan kamu sama Gavin gimana?"
"Baik, cuma akhri-akhir ini emang jarang komunikasi sih, soalnya dia sibuk banget. Tadi malam juga gak bisa hadir di pesta katanya sih pusing gara-gara banyak kerjaan."
"Jangan terlalu baik sama orang, Ver. Takutnya malah mereka punya maksud gak baik sama kamu," tutur Verly mengingatkan.
"Aku yakin mereka baik semua kok. Malah kita itu gak bisa berfikir negatif akan orang lain, gak baik loh," balas Vero yang memang selalu berfikir positif beda dengan Verly, yang bawaannya curiga terus sama orang.
"Sudahlah, jangan mikir yang aneh-aneh, aku yakin mereka semua baik. Dan nanti jika aku mau ketemu Anna, aku akan ajak kamu biar kamu gak khawatir lagi," ucapnya.
"Iya, deh." Verly pun hanya bisa pasrah, yang penting dia sudah mengingatkan Vero. Dan kedepannya bagaimana, ia hanya bisa melihat dan membantunya jika emang bisa.