
Gavin kembali ke mobilnya dan duduk di kursi belakang. Ia merasa frustasi karena susah banget buat bertemu dengan istrinya itu. "Apakah Vero tau dimana Anabel berada?" tanyanya pada diri sendiri. Sedangkan Pak Arman memilih diam, takut salah bicara dan memancing emosi majikannya. Jadi misal dia punya ide pun, ia memilih untuk memedamnya sendiri.
Mobil itu masih belum jalan dan masih setia di sana, di depan Perusahaan Evta. Gavin masih belum mau beranjak dari sana, ia masih memikirkan bagaimana caranya agar tau di mana rumah Anabelle.
Sepuluh menit berada di dalam mobil, Gavin melihat Bagas keluar dari perusahaan. Tanpa menunggu lagi, Gavin buru-buru keluar dari mobil dan menghampiri Bagas.
"Bagas," teriaknya. Mendengar seseorang memanggil namanya, Bagas pun menoleh ke asal suara dan ia melihat Gavin yang kini tengah berlari kecil menghampirinya.
"Ada apa?" tanyanya setelah Gavin ada di depannya. Ia bahkan tidak menanyakan kenapa Gavin bisa ada di perusahaan ini.
"Kamu tau gak rumah Anabelle dimana?" tanyanya langsung ke inti.
"Aku gak tau," dustanya.
"Jangan bohonglah. Aku yakin, kamu pasti tau kan rumahnya dimana. Please, tolong kasih tau aku," pintanya memohon
"Aku gak bisa."
"Kenapa?"
"Karena aku gak mau, mengecewakan Anabelle. Lebih baik kamu cari tau sendiri aja, karena sampai kapanpun, aku gak akan memberitahu kamu."
"Jahat banget sih kamu, Anabelle itu istriku loh. Kamu gak takut dosa gara-gara ikut berperan menyembunyikan istri dari suaminya?" tanya Gavin sok suci.
"Kamu ngomong gitu, seakan akan kamu itu cowok paling alim. Jika aku dosa karena ikut menyembunyikan keberadaan Anabelle dari suaminya, lalu gimana dengan kamu. Yang pacaran sama wanita lain, pergi bareng, makan bareng, liburan berdua, pegangan tangan, sentuh sana, sentuh sini, bahkan sampai tidur bareng. Padahal Vero bukan istrimu, apakah kamu gak takut dosa?" tanyanya membuat Gavin diam.
"Jangan bahas dosa, jika kamu sendiri, masih melakukan dosa besar," lanjutnya sambil pergi dari sana.
Gavin diam mendengarkan ucapan Bagas, namun setelah itu, ia jalan di belakang Bagas.
"Tolong akulah, selama ini, aku sudah gak ganggu kamu. Aku bahkan gak marah, kamu resign gitu aja dan ninggalin berkas begitu banyaknya, aku sampai kewalahan ngerjakan sendiri. Lagian kita itu sudah kenal akrab, masak kamu tega sih bikin aku frustasi kayak gini."
"Emang kamu frustasi kenapa?" tanyanya seolah-olah tak tau.
"Gimana mau pulang, jika kamu sendiri masih menjalani hubungan dengan wanita lain. Kamu aja saat di resto, sampai nonjok Alvaro kan gara-gara Anabelle makan bareng Alvaro padahal waktu itu, Anabelle lagi meeting loh sama Farhan-maanjernya Vero. Sayangnya Farhan pulang duluan karena ada urusan. Sehingga saat kamu datang dan lihat Vero makan berdua dengan laki-laki lain, hati kamu panas dan langsung mukul gitu aja tanpa memberitahu. Sekarang aku tanya? sakit gak lihat istri kamu sama cowok lain? Jika kamu aja merasa sakit, gimana dengan Anabelle? Hm? Gimana dengan perasaan dia, lihat kamu menjalani hubungan dengan Vero berbulan-bulan lamanya. Bahkan sampai tidur bareng. Anabelle bukan hanya sakit hati aja, tapi hatinya sudah hancur berkeping-keping. JIka misal kamu tau, Anabelle tidur bareng cowok lain, kira kira bagaimana perasaan kamu? Coba bayangin aja deh?" tanyanya.
GAvin pun membayangkan adegan yang sama, saat ia tidur bareng Vero. Hanya saja tokohnya di ganti Anabelle dengan pria lain. Dan entah kenapa hatinya terasa nyesek dan ia gak akan biarkan siapapun mendekati istrinya. Karena baginya, Anabelle adalah miliknya, selamanya.
"Sakit, kan? Pasti kamu gak akan bisa maafin Anabelle gitu aja, syukur-syukur kamu gak talak dia. Jadi, kamu fikir baik-baik deh. Sebelum kamu menyalahkan aku, Anabelle atau siapapun. Coba kamu koreksi diri kamu dulu, sudah bener gak? Jangan nyuruh Anabelle pulang, jika kamu aja masih bersama Vero. Rasa sakitnya sampai sekarang bahkan masih menganga, jadi jangan kamu sakiti lagi dengan sikap kamu yang menyebalkan itu. Karena jika itu terjadi, aku gak akan diam saja. Aku akan membela Anabelle apapun yang terjadi. Kamu emang temenku dan mantan atasanku, tapi maaf, aku gak akan membela orang yang salah. Aku mau pergi, dan tolong jangan ikuti aku," lanjut Bagas.
Saat baru beberapa langkah ia pergi, ia menoleh ke arah Gavin lagi dan bekata, "Dan satu lagi, kamu patut bersyukur karena sampai detik ini Anabelle gak ngomong sama Vero, tentang status kamu itu. So, berterima kasihlah padanya, karena dia masih menyimpman rahasia busuk kamu itu."
Setelah ngomong panjang lebar, Bagas langsung pergi dari sana dan membiarkan Gavin hanya berdiri dengan tatapan kosong.
Namun beberapa detik kemudian, Gavin sadar akan sesuatu dan mulai berlari lagi untuk mendekati Bagas yang tengah bersiap-siap membuka pintu mobilnya.
"Bagas, tunggu bentar," ucapnya.
"Ada apa lagi?" tanyanya emosi, karena sekarang ia tengah buru buru dan Gavin terus saja mengangggunya.
"Kenapa Anabelle harus menggunakan Vero sebagai brand ambasadornya, kenapa bukan artis lain?" tanya Gavin.
"Iya karena saat ini artis yang tengah naik daun itu Vero. Kamu pasti tau sendirilah sebagai seorang bisnis, jika ada artis tengah naik daun, orang-orang pasti akan berlomba-lomba untuk memakai jasanya," jawabnya santai. Padahal kenyataannya, ia sudah tau jika Anabelle sengaja memakai jasa Vero agar bisa dekat dengannya. Anabelle emang suka cerita saat jam makan siang, tentu bukan hanya mereka berdua, tapi juga ada Tasya dan kadang bersama Alvaro, jika ia datang ke Perusahaan Evta.
"Tapi kalian tau kan, Vero itu pacar aku?"
"Terus kenapa, kalau dia pacar kamu? Tenang aja kok, aku yakin Anabelle itu sangat profesional. Dia gak akan mencampur adukkan masalah pribadi dan masalah bisnis. Nyatanya sampai sekarang, hubungan kamu dan Vero baik baik aja, kan? Padahal jika Anabelle mau, ia sangat mudah memberitahu Vero, tanpa harus meminta Vero jadi brand ambasador di perusahaannya. Jika dia emang mau, sudah dari dulu dia memberitahu Vero, sebelum akhirnya ia memilih pergi dari rumah itu. Andai dia mau, dia pasti akan memberikan bukti itu kepada karyawan mengingat saat ini popularitas Vero tengah naik daun, pasti akan menjadi berita gempar, jika berita itu sampai di ketahui oleh netizen. Bahwa seorang pengusaha muda yang selama ini sering muncul di majalah, pacaran dengan artis bernama Veronica, padahal status pengusaha muda itu ternyata sudah punya istri. Kamu tau apa yang terjadi, kalian akan mendapatkan hujatan, terutama Vero, dia akan di kecam dari berbagai pihak dan bisa jadi dia akan kehilangan semua pekerjaannya dan apa yang dia perjuangkan dari dulu, akan lenyap seketika. Belum lagi orang-orang akan menyebut Vero seorang pelakor. Kamu tau siapa yang paling rugi di sini, Vero. Dia yang tak tau apa-apa, akan mendapatkan banyak hujatan dari semua orang," ungkap Bagas, ia menghela nafas sebelum akhirnya ia melanjutkan kata-katanya.
"Jangan hanya memikirkan diri sendiri, jangan hanya karena naf su, kamu mengorbankan Vero dan Anabelle. Mereka adalah wanita yang sangat baik, jangan sampai kamu menjadi pelaku utama atas kehancuran mereka berdua. Jika memang kamu cinta, kamu pasti akan memilih untuk menjauh demi kebahagiaan mereka, bukan malah sebaliknya."
Dan setelah itu, Bagas langsung masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana. Ia lelah ngomong panjang lebar sedari tadi. Ia bahkan sudah seperti orang ceramah saja, karena terlalu banyak mengeluarkan kata-kata.
Sedangkan Gavin yang di tinggal begitu saja, hanya bisa meresapi ucapan Bagas. Benar, jika sampai netizen tau, maka dirinya danĀ Vero akan mendapatkan kehancuran, terutama Vero, karena mereka akan menganggap VErolah yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka, padahal Vero gak tau apa apa di sini.