
Saat hampir sampai di depan rungannya, Tasya langsung menoleh ke Anabelle. "Ada apa?" tanya Anabelle.
"Aku ke ruangan Mas Bagas dulu ya," ujarnya membuat Anabelle geleng-geleng kepala, baru juga tadi malam ketemuan, sudah kangen aja. Beginilah kalau lagi kasmaran, selalu pengen berdekatan terus.
"Iya, jangan lama-lama," ucap Anabelle mengingat pekerjaan Tasya juga tak kalah banyaknya dari pada dirinya.
"Siap, Bos." Dan setelah itu, tanpa nunggu respon dari Anabelle, Tasya langsung meluncur pergi ke ruangan Bagas, laki-laki yang sudah menarik perhatiannya itu.
Anabelle masuk ke ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya, lalu ia menaruh tasnya dan menghidupkan komputernya.
Namun baru saja, komputernya nyala, hpnya berbunyi. Ada vidio call dari Alvaro. Anabelle dengan senang hati, menerima panggilan itu.
"Selamat pagi Anabelle yang cantik tiada tanding," goda Alvaro membuat Anabelle mencebikkan bibirnya.
"Selamat pagi juga, ada apa pagi-pagi sudah ngegombal?" tanya Anabelle.
"Kangen."
"Kalau kangen, ya ke sini. Ngapain vidio call," ujarnya.
"Masih banyak kerjaan, baru nanti siang bisa ke sana."
"Iya sudah sabar aja, nunggu nanti siang. Lagian kan sudah vidio call, sudah lihat tampang wajah cantik aku ini, masak gak bisa mengobati rasa kangen kamu?" tanyanya. Walaupun mereka gak ada hubungan apa-apa, namun mungkin karena sangat akrab, hingga sesekali saling menggoda satu sama lain, layaknya sepasang kekasih.
"Enggak bisalah, kan ngelihatnya terhalang jarak jauh."
"Yang penting kan jelas, gak burek," ucapnya membuat Alvaro tertawa.
"Kamu makin hari makin cantik," puji Alvaro lagi.
"Padahal aku dari lahir juga sudah cantik, maklum lah, aku emang di takdirkan jadi wanita cantik, jadi di buat kayak apapun, pasti hasil akhirnya akan selalu cantik," jawabnya muter-muter gak jelas membuat Alvaro terkekeh.
"Kamu sama siapa di sana?" tanyanya.
"Sendiran."
"Tasya mana?"
"Biasalah lagi di ruang sebelah."
"Nemuin Bagas?"
"Ya siapa lagi, kalau bukan dia."
"Wah enak ya mereka, pagi pagi sudah ketemuan gitu, lah kita cuma bisa vidio call an."
"Hidup itu harus di syukuri, masih untung vidio call, dari pada gak sama sekali, kan?"
"Iya juga sih. Gavin sudah gak ganggu kamu lagi?"
"Masih."
"Hemm ... emang dya ngapain kamu lagi?"
"Dya buntutin aku kemaren saat pulang kerja."
"Tapi dia gak tau kan tempat tinggal kamu di mana?"
"Enggak, aku kan pinter jadi aku bisa lari darinya, jadi sampai sekarang masih aman."
"Syukurlah, apa perlu aku cari rumah lain aja, biar kamu makin aman."
"Oh gitu, iya sudah. Tapi misal ada apa apa hubungi aku ya."
"Siap."
"Ya sudah aku tutup dulu, selamat bekerja Sayang."
"Apaan sih manggil Sayang segala," ucap Anabelle yang merasa malu.
"Ya gak papa, latihan dong. Siapa tau kelak kita ada jodoh, jadi kita sudah terbiasa manggil Sayang, jadi gak kaku lagi," ujarnya.
"Tapi kalau ada yang denger, aku gak enak. Dikiranya kita ada apa apa, apalagi status aku saat ini kan masih istri orang. Aku gak mau di tuduh selingkuh, padahal yang selingkuh bukan aku, tapi Mas Gavin."
"Ya ya, aku faham. Iya sudah aku tutup dulu ya. Kamu semangat kerjanya, tapi jangan terlalu capek juga, aku gak mau kamu sakit."
"Iya, kamu juga."
"Okay."
Setelah itu, Anabelle menutup panggilannya dan menaruh hpnya gitu aja di atas meja, ia mulai fokus bekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini, ia ingin cepat-cepat selesai, agar nanti siang bisa makan bareng Alvaro, walaupun makan berempat bareng Tasya dan Bagas, namun entah kenapa ada kesenangan tersendiri buat Anabelle.
Alvaro sangat berbeda dengan Gavin, Alvaro sangat perhatian padanya, sangat pengertian dan terlihat tulus. Berbeda dengan Gavin yang bermuka dua, suka akan kemewahan, ingin terlihat tampan di depan kaum hawa, untuk menarik perhatian mereka dan sok keren. Padahal biasa aja, bahkan di bandingkan Alvaro pun, dia pasti kalah jauh.
Sedangkan di tempat yang beda, Farhan sudah mendapatkan hasil yang jelas jika Anabelle dan Gavin adalah sepasang suami istri. yah, Farhan tau dari anak buahnya. Anak buahnya lah yang memaksa Bibi Ani yang berada di sana untuk mengakui tentang siapa Gavin.
Tentu Bibi Ani awalnya gak mau membongkar urusan rumah majikannya, namun karena mendapatkan ancaman, suaminya akan di bunuh, Bibi Ani pun gak mau ambil resiko hingga memilih untuk jujur pada laki-laki itu yang tak lain ank buah Farhan.
Farhan pun yang mendapatkan bukti itu langsung membawanya ke depan apartemen Vero, karena saat ini Vero tengah ada di apartemennya dan masih tidur. Sedangkan Verly, ia sudah bangun dari tadi dan duduk santai nonton tivi. Melihat kedatangan Farhan, Verly pun langung menyapanya.
"Ada apa?" tanya Verly yang melihat wajah cerah Farhan.
"Aku sudah punya bukti kuat."
"Bukti apa?"
"Kalau Gavin emang sudah menikah."
"Sama siapa?"
"Anabelle."
"APA!" Verly berteriak kaget gak menyangka jika selama ini Anabelle adalah istri sah Gavin.
"Pantas saja Anabelle terliht ingin lebih dekat dengan Vero, apakah dia punya niat tertentu?" tanya Verly cemas.
"Aku gak tau akan hal itu, tapi Anabelle gak akan melakukan hal buruk, aku sudah mencari tau tentang Anabelle, dia wanita baik, sangat baik, hatinya bak malaikat, dia gak akan menjahati seseorang. Aku sudah mencari tau semuanya," ujar Farhan memastikan. Yah, dia sudah membayar mahal beberapa anak buahnya untuk mencari tau tentang mereka, tak peduli seberapa banyak uang yang harus dia keluarkan.
"Berapa lama mereka menikah?" tanyanya.
"Cukup lama, tapi mereka juga sudah pisah rumah hampir satu tahun. Anabelle langsung pergi keluar negeri setelah tau jika Gavin selingkuh sama Vero. Anabelle memilih pergi dari pada membeberkan kejahatan mereka ke sosial media. Padahal jika Anabelle mau, dia sangat mudah memberikan bukti itu ke wartawan untuk membuat nama baik Gavin dan Vero hancur. Tapi dia memilih pergi untuk menenangkan diri selama berbulan bulan. Itulah kenapa saat pabrik Gavin terbakar, Anabelle gak datang karena ia ada di Paris. Sama seperti Bagas, dia juga keluar dari perusahaan karena dia muak sama Gavin. Dia sibuk mencari keberadaan Anabelle yang menghilang tapi Gavin malah sibuk bermesraan dengan Vero, siapa coba yang gak muak. Makanya Bagas memilih berhenti hingga akhirnya dia di pertemukan lagi sama ANabelle dan memilih kerja sama Anabelle yang merupakan istri dari Gavin," ucap Farhan menjelaksan. Farhan juga mendapatkan beberapa bukti kuat selain dari Bibi Ani, tapi juga dari Pak Arman. Sopir pribadi Gavin serta beberapa orang perusahaan yang tau permasalahan mereka, hanya saja sedikit aja yang tau, karena Gavin bukan type orng yang suka membawa masalah pribadi ke perusahaan.
"Astaga." Verly benar-benar gak menyangka jika penyebab rumah tangga Gavin dan Anabelle hancur karena Vero, Vero menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Sayangnya Vero gak sadar, bahwa selama ini dia sudah membuat hati Anabelle sakit karenannya
Verly masih tercengang dengan fakta yang ia dengar, sedangkan Vero yang gak tau apa apa masih tidur nyenyak setelah kemaren ia kerja keras sampai tadi pagi. Tenaganya terkuras habis, makanya sekarang ia terlelap banget hingga gak mendengar obrolan asisten dan managernya itu.
"Terus kita harus gimana?" tanya Verly yang gak tega sama Vero, bagaimanapun Vero sangat mencintai Gavin, tapi mereka juga tak akan membiarkan Vero terus menjalani hubungan dengan Gavin, karena Gavin suami orang, suami Anabelle. Dan jika ini sampai terendus kelur, maka semuanya akan hancur. Karir Vero bisa aja tamat.
"Tunggu Vero bangun, baru kita ceritakan semuanya," jawab Farhan dan Verly pun mengangguk setuju.