
Hari ini Anabelle ada di kantor, sedangakn Alvaro, ia harus kembali ke perusahaan karena memang perusahaan gak bisa ditinggal terlalu lama untuk mengurus yang lain. Tanggung jawab Alvaro sangatlah besar, dan untuk itu Anabelle mencoba untuk mengerti dan tak memaksa Alvaro untuk melanjutkannya jika memang waktu Alvaro sangatlah terbatas. Dan akhirnya Anabelle pun memilih untuk pulang lebih dulu bersama dengan Alvaro. Sedangkan Bagas dan Tasya, masih harus pergi keluar kota untuk terus mengadakan seminar di beberaapa kota besar yang menjadi target pasar mereka.
Jam delapan, Anabelle berangkat dari rumah yang di tempati oleh Anabelle dan Tasya. Rumah milik Alvaro yang sengaja di sewakan kepada Anabelle dari pada gak di pakai. Entahlah seberapa kayanya Alvaro sampai-sampai ia punya rumah besar namun malah gak di tempati. Untungnya ada Anabelle dan Tasya yang akan menempatinya dan berjanji akan merawat rumah itu agar tetap bagus dan tak akan bikin kekacauan. Dan Alvaro pun percaya sama mereka berdua.
Sesampai di kantornya, Anabelle menyapa anak bagian IT, baru setelah itu, ia masuk ke ruangannya. Di sana, Anabelle membuka laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang mulai menumpuk itu. Tapi baru kerja setengah jam, seseorang sudah mengetuk pintunya.
"Masuk" ucap Anabelle dari dalam.
"Maaf, Bu. Ada tamu di luar," ucapnya sopan.
"Siapa?"
"Pak Gavin," jawabnya membuat Anabelle hanya bisa menghela nafas.
"Suruh masuk aja," ujar Anabelle, karena jika di suruh pergi pun, pasti gak akan mempan. Ia tau betul watak Gavin yang sangat keras kepala itu.
"Baik, Bu."
Dan setelah itu, Isa pun pergi. Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka dan menampakkan Gavin yang kini berjalan ke arahnya. Ia ingin memeluk Anabelle, tapi sayangnya Anabelle menepis tangan itu kasar membuat Gavin mendengus karena Anabelle masih marah padanya.
"Ada apa?" tanya Anabelle dingin.
"Kamu kemana aja, kok menghilang gitu? Aku nyari-nyari kamu loh yank." ucap Gavin sambil duduk di kursi yang ada di depan meja.
"Oh ya, nyari aku? Sambil menginap di apartemen Vero dan tidur di ranjang yang sama?" sindir Anabelle. Untungnya dia sudah mencari tau semuanya, sehingga ia gak bodoh-bodoh banget.
"Kamu kok tau?"
"'Apa sih yang gak aku tau, Gav. Aku tau semuanya, tentang kamu yang suka peluk-peluk Vero, memegang perutnya yang **** itu?" tanyanya lagi sinis.
"Aku melakukan itu karena kesepian yank."
"Oh ya, bahkan ketika aku ada di dekat kamu pun, apakah kamu kesepian sehingga mencari pelampiasan dari wanita lain? Sudah cukup kamu bodohin aku, Gav. Aku bukan wanita lemah yang seenaknya kamu injak-injak harga diri aku."
"Kamu selalu nyalahin aku, tapi kamu sendiri. Kamu bahkan tinggal di Paris bersama Bagas. Kamu juga memperkerjakan Bagas sebagai tangan kanan kamu, padahal dia itu milik aku," ucap Gavin tak terima karena dirinya di salahkan terus.
Mendengar hal itu membuat Anabelle tertawa keras.
"Ck ... kamu bahkan sudah memanggil Bagas dengan sebutan Mas."
"Kenapa, emangnya? Dia pantas mendapatkan panggilan itu, selain umurnya lebih tua dari aku. Dan dia juga sangat menghargai perempuan. Bukan seperti kamu, yang suka mempermainkan hati wanita."
"Kamu benci banget sama aku?"
"Bukan lagi benci, tapi suangat benci. Bahkan jika boleh milih, aku gak ingin lihat wajah kamu lagi. Karena itu bikin aku muak," ucap Anabelle membuat hati Gavin berdenyut. Tatapan yang dulu penuh cinta itu, kini sudah berubah menjadi penuh kebencian.
"Segitunya kamu gak suka sama aku,"
"Dan aku rasa semua wanita pun juga sama seperti ku. Akan benci dan muak sama laki-laki yang tukang selingkuh, pengkhianat seperti kamu, Gav," ujar Anabelle, tak ada rasa kasihan sedikitpun di hatinya bahkan ketika ia melihat wajah Gavin yang seperti orang bodoh.
"Apa salahnya jika kamu menerima Vero jadi adik kamu, An."
"Aku menerima dia? Dan membuat hidupku bak neraka. Begitu maksudmu? Sorry, aku bukan orang bodoh yang ingin menghabiskan sisa umurku dengan laki-laki tak setia. Aku gak mau jadi orang bodoh yang harus sakit hati karena berbagi cinta dan berbagi suami. Aku cerai dari mu pun, aku tak rugi. Karena aku bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dan jauh lebih sempurna dari kamu," sarkas Anabelle.
"Kamu makin pandai bicara ya sekarang," sindir Gavin.
"Iyalah, buat ngadepin kamu mah. Aku harus pandai bicara. Biar gak di bodoh-bodohin."
"Terserah deh maumu apa. Tapi akku ingin kamu pulang ke rumah kita sekarang."
"Oh ya, kamu berani menyuruh aku, hem? Emang kamu siapanya aku?"
"Aku masih suami kamu, Annabel!" teriak Gavin yang kehilangan kesabarannya.
"Suami di atas kertas maksud kamu?"
"Apa maksud kamu, Annabel?" tanyanya tak mengerti.
"Aku sudah berbulan-bulan pergi, kamu pun juga tak memberikan aku nafkah lahir batin. Kita juga sudah hidup sendiri-sendiri. Jadi aku fikir, kamu itu hanya suami di atas kertas. Mungkin di buku nikah, kamu itu masih sah suami aku. Tapi bagi aku, kamu itu hanya mantan. Dan jika aku mau pun, aku bisa menggugat cerai kamu saat ini juga," ucap Anabelle membuat Gavin mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Lebih baik kamu pulang sekarang, atau aku akan menelfon Vero dan memberitahu dia, jika kamu itu suami orang," ancam Anabelle sinis yang membuat Gavin takut, bagaimanapun ia gak mau kehilangan Vero. Tapi ia juga tak mau kehilangan Anabel begitu saja, apalagi Anabelle sekarang makin cantik, dan terlihat tegas. Membuat aura kecantikan Anabelle seakan bertambah berkali-kali lipat.
"Aku akan pergi tapi aku akan kembali lagi nanti. Karena kamu istri aku, so, aku gak akan ngelepasin kamu gitu aja, camkan itu." Dan setelah itu, Gavin pun pergi begitu saja, membuat Anabelle hanya bisa menghela nafas kasar. Rasanya lelah menghadapi sifat Gavin yang sangat keras kepala itu.