Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Minta Bukti



Di tempat lain, Farhan merasa sangat marah saat Vero tak mau mempercayai kata-katanya dan memilih untuk percaya dengan pacarnya yang banyak bohongnya itu. Dari awal, Farhan emang gak suka lihat Gavin, bukan karena Gavin pacaran sama VEro, wanita yang ia suka. Melainkan ada sesuatu yang membuat dirinya gak suka aja, ia merasa Gavin penuh rahasia dan bermuka dua. Plin plan dan tak terlihat pintar seperti yang di bicarakan oleh banyak orang.


Selama ini, Farhan membiarkan saja Vero dan Farhan pacaran, selagi hubungan mereka tidak sampai ketahuan oleh publik. Dan yang lebih penting, ia percaya Vero gak akan membiarkan kehormatannya di berikan begitu saja kepada laki-laki yang belum sah jadi suaminya. Jadi ia santai-santai aja, sambil terus memantau mereka berdua. Agar tidak gegabah dalam melakukakn sesuatu. Hingga akhirnya kemaren, Farhan bertemu temannya dan membahas masalah Gavin, dari situlah Farhan mulai meragukan Gavin, kecurigaannya dari awal mulai terkuat sedikit demi sedikit. Ia yakin cepat atau lambat, ia pasti tau rahasia yang di simpan oleh Gavin selama ini dan ia akan membawa bukti itu kepada Vero, agar ia percaya dan gak mudah menerima orang baru begitu saja dalam kehidupannya. Karena gak semua orang itu baik.


Farhan menelfon seseorang untuk mencari tau tentang Gavin, ya di butuh bantuan seseorang, karena jika ia kerjakan sendiri, tentu butuh waktu lama, terlebih ia gak punya banyak waktu luang hanya untuk memata-matai kehidupan seseorang.


Farhan melihat layar hpnya yang menampilkan wajah Vero yang cantik, imut dan menggemaskan. Dia sangat mandiri, dan pintar menjaga diri. Walaupun hidup dalam dunia entertaint, tapi dia berbeda dari wanita kebanyakan. Jika wanita lain, mungkin ada yang rela merangkak ke tempat tidur seseorang agar bisa mendapatkan job yang besar, tapi Vero, berbeda. Dia berjuang sendiri, dari nol, tanpa menghalalkan segala cara seperti yang lainnya. Itulah kenapa, Vero sedikit lama, merangkaknya ketimbang yang lain. Namun sekarang, usaha Vero benar-benar membuahkan hasil, ia bisa berada di puncak seperti ini setelah ia bertahun tahun berjuang, siang malam memberikan yang terbaik agar apa yang ia tampakkan bisa menjadi hiburan buat orang lain.


Vero bahkan seringkali berlatih sendiri di dalam kamar, kadang ia juga melihat artis seniornya bagaimana cara berjalan dan bagaimana cara berakting. Tak lupa juga Vero seringkali membei buku untuk menambah wawasannya agar semakin membuat dirinya memukau. Bagaimanapun ia harus mengasah semua yang ia miliki, mmodel, akting, menari, bela diri, karena kadang Vero membawakan akting dalam hal action, jadi ia harus bisa, walaupun gak mengusai, setidaknya dasar-dasarnya sudah ia fahami.


Vero bukan type orang yang puas, ia selalu merasa kurang hingga ia terus belajar, memanfaatkan waktu yang ada, untuk terus memperdalam ilmu dalam dunia acting dan model. Dan akhir akhir ini, juga Vero mulai melatih vokal, karena Vero juga ingin menjadi penyanyi dan juga belajar jadi presenter. Ia ingi menguasai apa saja yang bisa ia kuasai, agar bakatnya bisa bertambah dan bukan stok di situ saja.


Melihat kegigihan VEro dalam hal belajar, membuat Farhan jatuh hati. Ia juga pandai mengatur uang dan tidak suka berfoya, foya, bahkan dalam sebulan, bisa di hitung, berapa baju yang ia beli. Vero juga menjadi tulang punggung untuk keluarga dan dia sangat pandai dalam mengatur keuangan. Banyak kelebihan yang Vero miliki selain kecantikan wajahnya itu. Lalu bagaimana mungkin, Farhan tak tertarik saat ia melihat begitu banyak kelebihan yang Vero punya, bahkan untuk bisa menemukan perempuan seperti Vero, sangatlah susah.


Jika emang memungkinkan, Farhan berharap, Verolah jodohnya.


Farhan melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah satu, ia segera mandi untuk pergi ke lokasi syuting dan melihat sendiri aktivitas yang di kerjakan oleh Vero, baru setelah itu ia pergi ke tempat lain. Lagian ia ingin bertemu Vero walaupun bentar, untuk melepas rasa rindu.


Sedangkan di tempat yang beda, Vero sudah mulai bersiap-siap. Tadi sehabis makan, ia sempat tidur sebentar, gara-gara ngantuk berat. Mungkin efek kekenyangen jadi bawaannya ngantuk, dan pengen tidur. Tapi gak lama tidurnya, namun cukup buat tubuh Vero kembali segar, apalagi setelah berendam di air dingin membuat ia merasa sangat fress.


Vero memakai baju yang sudah di siapkan oleh Verly, Vero juga memakai make up tipis dan parfum dengan bau yang tidak terlalu mencolok. Lalu setelah itu, ia pun segera pergi dari sana dengan kaca mata hitam yang bertengger di atas kepalanya. Verlu berjalan di belakangnya dengan membawa beberapa tas yang berisi keperluan Vero.


Sepanjang jalan, Vero hanya diam sambil memperhatikan Hpnya. Sedangkan Verly fokus menyetir. Mereka tidak memakai sopir, jadi kemana-mana selalu verly yang menyetir, kalau lelah bisa gantian dengan Vero.


"Kamu kenapa?" tanya Verly.


"Aku chat, Mas Gavin kok gak di balas ya? Apa dia masih tidur? Nomernya gak aktiv dari tadi."


"Mungkin masih tidur kali, dia pasti capek banget habis nyetir berjam jam."


"Okay."


Dan setelah itu, Vero menaruh hpnya di dalam tas dan ia melihat ke luar jendela.


"Itu bukannya Annabelle ya?" tanyanya.


"Mana?" tanya balik Verly yang menghadap ke arah yang di tunjuk Vero.


"Itu."


"Oh ya, dia tumben makan makanan di pinggir jalan gitu,"


"Emang kenapa kalau makan di pinggir jalan, kan enak. Dulu sebelum aku jadi artis, aku suka makan makanan di pinggir jalan gitu, harganya murah banget, rasanya enak, dapatnya banyak, higenis juga tempatnya. Karena gak semua tempat jorok, yang jual juga bersih, ramah. Ya walaupun ada juga kadang yang judes, tapi kan gak semua. Intinya makan di warung kaki lima itu, enak banget deh, sayangnya aku gak bisa makan di sana lagi takut ketahuan paparazi, males juga jika harus beberurusan sama mereka." ujarnya menjelaskan. Verly pun juga suka, hanay saja gak terlalu. Ia lebih suka makan di resto atau kafe, lebih nyaman aja menurutnya. Tapi bukan berarti dia tidak pernah makan sama sekali di warugn, pernah, cuma beberapa kali aja kalau lagi terdesak keadaan atau terdesak karena kuangan.


Sesampai di tempat lokasi syuting, Vero dan Verly segera turun. Namun baru aja beberapa langkah, Farhan sudah mendekatinya.


"Vero," panggil Farhan.


"Ada apa?" tanya Vero ketus, ia masih sakit hati dengan ucapan Farhan yang mengatakan dirinya pelakor.


"Vero, aku mau minta maaf atas kejadian tadi, tak seharusnya aku ngomong gitu sama kamu. Aku janji, aku akan bawa bukti itu kehadapan kamu agar kamu percaya sama aku," ucap Farhan.


"Hm ... aku udah maafin kamu, dan aku akan nunggu bukti yang kamu ucapkan itu. Tapi jika kamu sampai berbohong, aku gak akan segan-segan menghentikan kamu sebagai manajer aku, aku akan cari manajer lain yang tidak suka fitnah orang lain," balasnya.


"Ya, kamu boleh ganti manager, jika sampai aku terbukti bersalah dan hanya mengada-ngada," sahut Farhan. Dan Vero pun menganggukkan kepalanya. Verly memilih diam karena ia takut jika bersuara, akan menambah suasana menjadi panas.


"Aku masuk dulu," tutur Vero yang di ikuti oleh Verly, mereka masuk ke ruangna yang emng di persiapkan buat Vero.