
Sejak hari di mana kasus dirinya mencuat di media sosial, Gavin gak berani keluar. Sudah tiga hari, Gavin memilih untuk diam di rumahnya. Ia bahkan gak berani membuka pintu dan jendelanya. Ia juga mematikan lampu seakan akan gak ada orang. Ia hanya menghidupkan lampu kamar, ruang keluarga dan dapur. Untuk sementara waktu, Gavin juga meliburkan Pak Arman dan Bibi Ani. Untungnya di kulkas ada banyak bahan makanan, sehingga Gavin memasak seadanya untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Untuk pertama kalinya, Gavin merasa hidupnya begitu merana.
Bahkan di saat kondisinya seperti ini pun, tak ada satu orang yang mendukungnya, apalagi menguatkannya. Mereka semua pergi, membiarkan Gavin harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Dulu jika ada masalah, ada Bagas yang akan selalu membantunya. Tapi sekarang, Bagas sendiri seakan enggan untuk ia hubungi lagi. Bahkan Bahkan juga selalu menghindar darinya. Bagas memilih bekerja kepada istrinya dari pada dirinya sendiri.
Orang tuanya pun juga sudah memblokir nomernya, keluarganya pun jangankan membantu, yang ada mereka hanya bisa menyalahkan dan mencaci maki dirinya. Teman-teman dan rekan kerjanya pun memilih untuk menjauh semua, mungkin mereka juga takut terkena dampak dari masalahnya.
Sekarang, ia hanya bisa menyendiri, memikirkan semua masalahnya sendiri. Namun Gavin juga tidak mungkin terus bersembunyi seperti ini, terlebih perusahaannya juga tidak dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan Sarah sekertarisnya pun menelfonnya berkali-kali, karena banyak dari pemegang saham memilih untuk menarik saham mereka dari perusahaan. Dan Gavin memperkirakan, perusahaannya mungkin akan jatuh bangkrut alias gulung tikar, jika mereka menarik saham mereka semua. Karena saham Gavin sendiri pun cuma 47. Dari mana Gavin harus mengganti uang mereka semua. Haruskan Gavin menjual semua properti yang ia punya. Mobil, rumah dan isinya. Jam tangan mahal dan semua koleksi brandet yang ia punya.
Mungkin jika ia punya teman, rekan kerja, keluarga atau orang tua yang masih mau mendukung. Gavin gak akan merasa pusing sendiri, tapi sayangnya mereka sudah menjauh dan tak mau tau lagi urusan Gavin. Dan kini, Gavin harus memikirkannya sendirian.
Di saat seperti ini, Gavin hanya bisa menangis. Ia bahkan gak peduli jika di anggap cengeng, ia hanya ingin menangis, untuk meredakan rasa sakitnya, meredakan rasa sesaknya. Andai ia dulu memilih untuk setia dan tidak jatuh cinta lagi, mungkin sampai detik ini hubungan dirinya dan Anabelle baik-baik saja. Hubungan dirinya dengan orang tua dan keluarga besarnya pun juga masih baik-baik saja.
Hubungan dirinya dengan Bagas pun juga masih baik-baik saja. Ia juga gak akan kehilangan teman dan rekan kerjanya. Dan nama baiknya pun akan tetap terjaga.
Sekarang, nama baiknya yang ia bangun bertahun-tahun sudah hancur sekejap mata. Semua orang yang dulu memujinya dan mengagung-agungkan dirinya pun beralih menjadi benci dan menjadi haters yang menyerang semua akunnya.
Gavin benar-benar sendirian! Dan kini ia hanya bisa hidup dalam sebuah penyesalan.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Gavin pada dirinya sendiri. Saat ini ia ada di kamarnya, dan tengah termenung menatap ke luar jendela yang langsung berhadapan dengan taman samping rumah.
"Bagas, andai kamu masih ada di sini, di samping aku. Aku yakin, kamu pasti akan bantu aku, mencarikan solusinya. Sayangnya, kamu sudah terlanjur kecewa dengan sikap aku. Kamu pasti merasa risih kan dengan sikap aku yang seperti ini, sampai kamu memilih berhenti kerja sama aku. Sekarang, kamu bahkan gak peduli sama aku. Kamu tidak menanyakan kabar aku dan memilih untuk menutup mata dan telinga. Bagas, aku butuh bantuan kamu. Tapi aku terlalu malu untuk memohon agar kamu kembali kerja sama aku," gumam Gavin.
Gavin menitikkan air mata, ia benar-benar merasa sendirian. Tiba-tiba adzan dhuhur terdengar. Gavin merasa hatinya begitu bergetar. Sudah lama ia gak sholat, karena terlalu sibuk dengan urusan dunia. Ia terlalu malas untuk melaksanakan sholat lima waktu. Bahkan saat Bagas mengajak sholat pun, Gavin memasang seribu alasan. Dan kini, entah kenapa ia merasa rindu, rindu untuk berbincang dengan Tuhan. Ia rindu, rindu untuk bersujud pada-Nya.
Ia mengambil sejadah yang terlipat rapi. Sejadah yang ia dapatkan dari seseorang dan belum pernah ia pakai sama sekali. Mengingat itu, hatinya bergetar. Dengan air mata yang terus mengalir, Gavin menghamparkan sejadahnya di samping tempat tidur.
Untuk pertama kalinya, Gavin melakukan sholat lagi setelah libur panjang.
Saat ia mengatakan Allahu akbar, hatinya lagi-lagi bergetar. Ia mengingat dosa yang sudah dilakukan selama ini.
Semua kesalahan yang ia lakukan seakan terekam jelas di otaknya. Semuanya berputar bak seperti film. Semakin mengingat dosa yang ia lakukan, air mata bercucuran semakin deras. Bahkan Gavin sampai sesegukan.
Di akhir sujudnya, Gavin memperlama bacannya.
Ia ingat, dulu saat masih remaja, seorang guru ngaji pernah mengatakan, "Momentum terdekat seorang hamba dan Tuhannya adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa saat itu,"
Untuk itulah, Gavin sengaja memperlama sujudnya.
Selesai sholat, Gavin berdzikir, ia memperbanyak membaca istigfar. Di dalam hati, ia memohon ampun sama Tuhan atas dosa yang sudah ia lakukan selama ini. Dosa yang sudah membuat dirinya kehilangan akal hingga menyakiti banyak orang.
Dosa yang pada akhirnya membuat dirinya hancur oleh keegoisannya.
Di saat seperti ini, di saat semua orang pergi, hanya Tuhan yang akan selalu berada di sisinya. Hanya Tuhan tempat ia mengeluh dan memohon pertolongan-Nya. Hanya Tuhan, yang tidak akan pernah pergi darinya. Hanya Tuhan, yang akan terus bersamanya. Gavin sadar, jika selama ini ia terlalu bergantung pada orang lain, bukan kepada Tuhan.
Mungkin Tuhan murka padanya, hingga akhirnya ia semakin salah dalam melangkah dan kini, ia kehilangan semuanya, harta dan orang-orang yang ia cintai.