Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Anabelle Vs Gavin dan Vero



Hari Minggu, yah adalah hari dimana seseorang bisa bangun siang, karena tak perlu bekerja, jadi bisa bermalas-malasan di atas kasur seharian. Namun karena Gavin ada janji, maka mau gak mau, suka gak suka, ia terpaksa bangun dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Gavin menguap, rasanya matanya begitu berat, bahkan seperti di kasih lem. Mungkin karena ia masih sangat mengantuk sekali. Maklum, tadi ia tidur jam setengah empat pagi karena harus mengerjakan pekerjaannya dengan segera, agar tidak menumpuk dan malah menghambat semuanya.


Ia duduk sekitar lima menit, baru setelah itu, ia segera pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Ia tak perlu mandi, karena tadi sebelum tidur sudah mandi, jadi tubuhnya masih bersih.


Setelah cuci muka dan sikat gigi, Gavin segera mengganti baju dan celananya, tak lupa ia memakai jam tangannya biar tampak keren. Parfum harga jutaan pun tak luput ia semprotkand i bajunya, lalu terakhir ia memakai jaketnya agar penampilannya semakin memukau.


Setelah selesai, ia bekaca di cermin yang panjang dengan ukuran satu setengah metere dengan lebar setengah meter. Melihat dirinay di cermin, Gavin merasa bangga karena ia masih terlihat umur dua puluhan, awet muda dan masih segar bugar. Ia sangat bangga pada dirinya sendiri yang mempunyai wajah seperti ini sehingga tak tampak tua.


Setelah memastikan dirinya sempurna dari atas sampai bawah, ia lalu mengambil dompet dan hpnya, tak lupa ia mengambil kunci mobilnya di laci. Ia akan menggunakan mobil sportnya dan akan menyetir sendiri karena Pak Arman hari ini juga libur dan tengah menikmati waktunya bersama sang keluarga. Mobil sport ini baru ia beli dua bulan lalu dari keuntungan perusahaan yang ia dapat. Harganya pun cukup mahal yaitu 1,5 Miliar. Tentu, uang segitu bukan hasil dari keuntungannya saja, tapi juga dari tabunganya yang masih ada saat ia jual beberapa asetnya dulu saat ingin membangun kembali pabrik yang runtuh karena kebakaran beberapa bulan lalu.


Gavin mulai keluar dari rumahnya dan menutup pintu itu tanpa di kunci karena di rumah itu ada Bibi Ani yang tengah bersih-bersih. Lagian rumah ini penuh dengan CCTV jadi gak mungkin orang sembarangan bisa masuk ke rumah ini, atau Gavin akan membawanya ke jalur hukum. Baginya yang penting, ruang kerja aja yang di kunci dengan kunci double, dengan kunci biasa dan sidik jari, sehingga tak ada yang bisa masuk kecuali dirinya.


Gavin masuk dalam mobilnya dan mulai memanaskan mobilnya lebih dulu sebelum akhirnya ia mulai melajukan mobilnya secara perlahan menuju apartemen Vero. Sepanjang jalan, Gavin juga memutar musik DJ, sehingga dirinya sangat menikmati perjalanan ini.


Tak terasa ia sudah sampai di depan apartemen Vero, Gavin mengirim pesan pada Vero bahwa ia menunggu di bawah karena ia malas keluar. Untungnya Vero mengerti, ia segera keluar dari apartemen setelah beberapa menit, Gavin mengirim pesan.


Vero memakai celana panjang, baju dan jaket sama seperti yang Gavin lakukan, padahal mereka gak janjian, namun mereka sama-sama memakai style yang sama, cuma beda warna baju dan jaketnya aja, kalau Gavin memakai kaos warna putih dengan jaket warna hitam, sedangakn Vero memakai kaos warna hitam dengan jaket warna maroon. Tak lupa Vero juga memakai masker dan kaca mata hitam serta tak yang mungkin berisi keperluannya.


"Mobilmu yang mana?" tanya Vero sambil menelfon Gavin.


"Warna hitam, mobil sport," jawabnya.


"Oh, okay." Vero segera mematikan panggilanya. Dan saat ia sudah hampir sampai di mobil Gavin, pintu samping langsung terbuka. Vero pun langsung masuk dan pintu secara otomati tertutup sendiri.


Vero menatap ke arah Gavin.


"Kenapa pakai mobil ini?" tanya Vero. Dia emang tau kalau Gavin membeli mobil, karena dulu Gavin sudah bilang ke Vero kalau ia akan beli mobil sport. Dan Vero pun mendukungnya bahkan Gavin juga memperlihatkan mobil sport kesayangannya itu.


Hanya saja ini pertama kalinya mereka keluar menggunakan  mobil itu. Vero sendiri, kalau dia mau, dia juga bisa membeli mobil sport yang bahkan harganya bisa tujuh milliar, karena tabungannya sendiri sudah menyentuh belasan milliar namun Vero gak mau melakukan itu dan memilih untuk menabungnya dan membeli aset tanah, membeli saham dan yang lainnya. Karena ia gak tau, mau sampai kapan dirinya berada di puncak atas seperti ini. Bagimanapun sebagai seorang yang bekerja di entertaint, ada pasang surutnya. Enggak selamanya berada di puncak terus, bumi berputar dan bisa jadi kelak dia mendapatkan job sepi dan di saat itu, ia pasti akan kelimpungan jika dirinya tidak mempersiapkan semuanya dari sekarang.


Namun walaupun ia rajin nabung, tak lupa ia juga memberikan banyak uang buat orang tua dan keluarga besarnya serta memberikan bonus yang besar untuk Verly dan Farhan. Bahkan ia juga sering beramal diam-diam di masjid, di panti asuhan, di panti jompo serta untuk fakir miskin yang hidupnya kurang beruntung. Karena seseorang pernah berkata jika tidak akan berkah harta sebanyak apapun yang kamu miliki, jika kamu tidak rajin bersedekah.


Karena setiap gaji yang kamu dapatkan, ada hak mereka di sana.


Untuk itulah, Vero selalu menyumbangkan lima belas persen gaji setiap bulannya untuk masjid, panti jompo, panti asuhan dan fakir miskin. Sepuluh persen buat orang tua dan keluarganya. Sepuluh persen buat kebutuhan dirinya dan untuk memberikan bonus buat Verly dan Farhan serta untuk perawatan dirinya agar selalu tampil memukau. Lima belas persen buat beli aset dan lima puluh persen buat beli saham di beberapa perusahaan. Dan keuntungan perusahaan yang ia dapat setiap bulannya di putar lagi buat beli saham. Sehingga ia punya banyak saham di mana-mana. Jadi misal tiba-tiba karirnya meredup dan tidak ada yang memakai jasanya lagi buat syuting, model, dan lain sebagainya, ia masih punya pendapatan setiap bulannya dari saham yang ia miliki. Belum lagi asetnya yang semakin tahun semakin naik dan jika di jual pun, untungnya pasti berkali-kali lipat.


"Ya gak papa, aku pengen aja, lagian kita mau kencan, aku fikir dengan mobil ini akan semakin romantis aja. Terlebih ini kan kacanya gelap kalau dari luar, jadi aman. Gak perlu takut ketahuan, mobilnya juga sudah di modif jadi aman buat perjalanan jauh. Aku ingin memperlakukank kamu dengan sebaik mungkin, jadi aku ingin tampil sempurna di mata kamu dari segi apapun," gombalnya membuat Vero tersenyum, ia tak mau munafik, kata kata sederhana itu, walaupun terdengar gombal namun mampu membuat hati Vero cenat cenut.


"Benarkah?" tanya Gavin senang.


"Ya," jawab Vero malu-malu.


"Syukurlah, itu artinya kamu tidak akan melihat laki-laki lain selain aku."


"Tentu, bagi aku kamu segalanya, Sayang. Lalu bagaimana mungin aku berpaling darimu, sedangkan kamu adalah laki-laki yang aku cintai. Aku berharap kita selalu bersama sampai akhir, hidup bersama dengan anak-anak kita kelak tanpa ada orang ketiga dalam hidup kita. Karena bagaimanapun, aku bukan wanita yang suka berbagi pada siapapun," ucap Vero membuat Gavin bungkam.


Yah, Vero gak akan mau berbagi suami, karena ia adlah type yang cemburuan, mungkin kalau sekarang, Vero bisa menahannya tapi tidak dengan menikah. Baginya, suaminya adalah miliknya dan ia gak akan membiarkan wanita di luar sana mengambil suaminya dari dirinya.


Sedangkan Gavin, ia hanya diam. "Kenapa Vero gak mau berbagi, sama seperti Anabelle. Apakah memang semua wanita itu sama?" tanyanya dalam hati.


"Kenapa diam, Sayang? Kamu gak ada rencana buat duain aku, kan?" tanya Vero penuh selidik.


"Enggaklah, sayang. Mana mungkin, bagi aku, kamu adalah wanita yang aku cintai," sahut Gavin, "sama seperti aku mencintai Anabelle," lanjutnya dalam hati.


"Syukurlah," balas Vero tenang. Sepanjang jalan mereka mengobrol hingga tanpa sadar sudah sampai di depan Resto ML.


Vero dan Gavin turun dari mobil, dan mereka masuk ke dalam resto sambil pegangan tangan. Mereka duduk di kursi dekat jendela agar bisa memandangi pemandangan yang ada di luar jendela.


Saat mereka baru saja duduk dan mau mesen makanan, tiba-tiba mata Vero tertuju sama Anabelle dan Tasya. Tanpa sadar, Vero memanggil mereka berdua.


"Ana, Tasya," panggilnya dengan nada sedikit tinggi, hingga beberapa orang ikut menoleh padanya, untungnya Vero memakai masker dan kaca matanya belum di buka, sehingga ia tak terlalu malu.


Mendengar Vero memanggil seseorang, ia reflek langsung ikut menoleh dan betapa terkejutnya dirinya saat ia melihat Anabelle dan seorang perempuan yang di panggil Tasya oleh Vero.


Anabelle dan Tasya melihat ke arah Vero dan tentu mereka juga melihat Gavin yang ada di samping Vero. Melihat hal itu, Anabelle tersenyum.


"Ke sana yuk," ajak Anabelle kepada Tasya.


"Kamu yakin?" tanya Tasya ragu.


"Sure."


Anabelle dan Tasya berjalan ke arah Vero, dan seperti tak pernah mengenal Gavin sebelumnya, Anabelle bersikap biasa aja. Sehingga Vero gak akan tau jika Anabelle dan Gavin adalah suami istri.