
Hari Sabtu sore, Anabelle lagi kumpul-kumpul sama Mama, papa dan keluarga besarnya. Pasalnya, besok dia sudah balik ke Jakarta, dan entah kapan Anabelle bisa pulang lagi ke Jember.
"Kamu jadi balik besok, An?" tanya Paman Satya, adik kandung Papanya.
"Iya, Paman. Soalnya Senin sudah harus balik kerja," jawabnya.
"Emang wartawan sudah gak cari-cari kamu lagi?" tanya Tante Nella, kakak kandung Mamanya.
"Pastinya masih berusaha cari info, Bi. Tapi aku kan gak mungkin selamanya sembunyi dari mereka. Lagian ini juga bukan pertama kalinya, aku di cari-cari wartawan, jadi aku sudah gak kaget lagi," sahutnya.
"Kalau kamu kenapa-napa, langsung telfon Mama dan Papamu, atau orang terdekat kamu di sana, jangan di hadapi sendirian. Apalagi kamu itu wanita, An," ujar Bibi Selly, istri Paman Satya, atau adik ipar Papanya.
"Iya, Bi." jawab Anabelle.
"Itu sahabatmu belum pulang dari luar kota?" tanya Bella, Mamanya Anabelle.
"Belum, Ma. Taysa dan Mas Bagas belum dapat restu dari Orang tua Tasya, jadi mereka harus berjuang lebih lama lagi, gak tau kapan mereka balik. Tapi sih mereka cuma ambil cuti sebulan. Aku harap, dalam sebulan, mereka sudah mengantongi restu dari orang tua Tasya," ungkapnya.
"Duh kasihan ya sahabat kamu itu, lagian kok bisa jaman modern seperti ini masih ada perjodohan," keluh Anton, Papanya Anabelle.
"Entahlah, aku juga bingung, Pa. Padahal loh Mas Bagas itu orangnya baik banget, sholeh, tampan, kaya juga. Entah apa yang di cari oleh orang tua Tasya," sahut Anabelle.
"Terus itu calon Mantu Mama, gimana. Masih di Singapure?" tanya Bella, yang sudah resmi menganggap Alvaro, calon mantunya.
"Apaan sih, Ma. Aku aja ma dia cuma PDKT aja, masih lama mau ke jenjang yang lebih serius. Terlebih aku baru aja cerai."
"Duh kamu sih, nolak dia terus kalau di lamar. Tapi emang bener juga sih, kamu baru nikah, gak mungkin juga langsung nikah. Nanti apa kata orang-orang di luar sana," papar Bella.
"Nah itu Mama tau," balasnya.
"Wah kalau Kak Ana jadi nikah sama Kak Al, Kak Ana langsung mendadak jadi seorang milliader nih," goda Angga, anaknya Paman Satya dan Bibi Selly. Alias Angga ini sepupu Anabelle.
"Apaan, aku juga tanpa bantuan Mas Al, pasti kelak juga akan jadi milliader, mungkin dua atau tiga tahun lagi," sombongnya membuat mereka semua terkekeh. Karena mereka tahu, Anabelle gak bermaksud seperti itu.
"Oh ya, itu Alvaro masih di Singapure berart?" tanya Bella mengulangnya.
"Iya, Ma. Tapi katanya mau pulang hari Sabtu, mungkin sudah ada di Jakarta hari ini. Besok aku juga pulang pakai pesawat, aku sudha beli tiket secara online. Nanti Mas Al yang akan jemput aku di bandara," jawabnya.
Namun saat mereka berbincang hangat, ada mobil yang berhenti di depan rumah orang tua Anabelle.
"Kamu ada tamu, Bell?" tanya Tante Nella, kakak kandung Bella. Tantenya Anabelle.
"Enggak, siapa ya kira-kira?" tanyanya.
Mereka pun langsung menatap ke arah mobil dan betapa kagetnya Anabelle saat tau, jika yang turun dari mobil itu adalah Alvaro.
"Mas Al?" teriak Anabelle sangking kagetnya.
"Hai," sapa Alvaro tersenyum manis.
Setelah Alvaro turun, mobil itu pun segera pergi dari sana.
Alvaro menyeret kopernya dan menghampiri Anabelle.
"Assalamualaikum," sapa Alvaro ke mereka semua.
"Waalaikumsalam. Kok bisa ada di sini, Nak. Kami baru aja membicarakna kamu?" tanya Bella, yang masih sok melihat laki-laki tampan di hadapannya.
"Iya, Tante. Saya dari Singapure langsung ke Jember, buat jemput Anabelle. Biar dia besok gak pulang sendirian. Saya masih khawatir karena beberapa hari lalu, ANabelle menyetir sendiri dari Jakarta ke sini. Jadi saya putuskann buat langsung terbang ke Jember. Maaf jika kedatangan saya, mengagetkan kalian semua," ujarnya setelah berjabat tangan dengan mereka semua.
"Gak papa, Tante malah seneng bisa ketemu dengan calon mantu Tante, ayo-ayo masuk," ajak Bella yang membuat Anabelle melongo karena Mamanya bilang calon mantu. Alvaro pun tak kalah kagetnya, namun beberapa detik kemudian, ia senang karena keberadaaannya sudah di terima oleh keluarga Anabelle.
Alvaro mau buka sepatunya tapi Anton mencegahnya.
"Bawa masuk aja sepatunya, nanti hilang," ujar Anton membuat Alvaro terbelalak kaget.
"Loh tapi ... enggak papa, biar saya buka aja sepatunya di sini," balas Alvaro, ia tetap membuka sepatu fantovelnya dan langsung masuk ke dalam.
Keluarga ANabelle yang lain gak ikut-ikut masuk dan memilih duduk di luar, mereka memberikan kesempatan buat Anabelle dan kedua orang tuanya untuk ngobrol lebih leluasa dengan Alvaro.
"Ganteng banget ya, calon suami Anabelle," bisik Bibik Selly, dan Tante Nella pun mengangguk setuju.
"Iya, kayak orang korea. Putih bersih, tinggi, apalagi tampilannya, sudah seperti bos," bisik Tante Nella.
"Dia kan emang Bos. Pemilik HOtel Danendra," ucap Paman Satya yang mendengar ucapan mereka semua.
Sedangkan Angga sibuk mengetik sesuatu di hpnya dan melihat sepatu pantofel yang ada di hadapannya, milik Alvaro tentunya.
"Astaga, ini sepatu panofelnya aja harganya dua puluh tiga juta." ujar Angga yang sedari tadi tertarik dengan sepatu pantofel milik Alvaro.
"APA?" Bibik Selly dan Tante Nella sangat kaget sekali.
"Kamu yakin?" tanya Bibik Selly.
"Iya, ini aku lihat di Hp," Angga menunjukkan harga di Hpnya.
"Iya, Bu. Tapi lihatlah ini bukan rupiah tapi USD. Dan jika di rupiahkan sekitar dua puluh tiga juta. Dan ini dibeli di luar negeri, bukan di Indonesia," sahut Angga.
"Wah sepatu aja semahal itu ya, seharga sepeda motor yang masih baru," ucapnya.
Ya, begitulah kalau orang kampung, suka kepo dengan kehidupan orang lain, hal sepele pun akan menjadi perbicangan hangat mereka dan di jadikan bahan gosip.
Sedangkan di dalam rumah, Bella langsung membuatkan teh hangat untuk calon mantunya itu.
"Kok gak bilang Mas, kalau mau ke rumah?" tanya Anabelle.
"Iya pengen buat kejutan aja," jawabnya.
"Oh, kok tau rumah ini?" tanyanya lagi.
"Mudah buat tau semua tentang kamu yank," sahutnya membuat pipi Anabelle memerah karena Alvaro mengucap kata yank di depan orang tuanya.
Anton dan Bella pun juga jadi canggung sendiri dengernya.
"Gimana kerjaanya di Singapure?" tanya Anton.
"Alhamdulillah, Om. Hmm, aku panggil Papa, apa boleh?" tanya Alvaro sopan.
"Boleh-boleh," sahut Anton tersenyum ramah.
"Alhamdulillah kerjaaan aku di sana sudah selesai dan semuanya berjalan dengan lancar," sahutnya. Alvaro berusaha untuk semakin dekat dengan keluarga Anabelle. Dan berusaha untuk tak lagi bersikap formal.
"Syukurlah, Papa ikut seneng dengernya," ujar Anton yang berusaha untuk akrab juga dengan calon mantunya.
Sedangkan Anabelle, entah gimana perasaannya sekarang, karena ia berada di posisi yang gak serba salah.
"Tadi berangkat jam berapa dari Singapure?" tanya Belle.
"Jam setengah satu, Ma," jawabnya.
"Oh termasuk cepat ya Singapure Jember?" tanyanya.
"Iya, Ma. Kalau naik pesawat, itu cuma dua jam setengah ke jember." sahutnya.
"Kalau ke Jakarta juga sama?" tanya Anton.
"Beda, Pa. Kalau ke Jakarta, lebih cepat. Satu Jam lima puluh menit," balasnya.
"Oh, makhlum, Nak. Belum ke luar negeri, jadi gak tau," ucap Anton terkekeh.
"Kalau Papa sama Mama mau ke luar negeri bilang aja, nanti biar aku bantu. Atau saat aku dan Anabelle nikah nanti, kita bisa keliling dunia, buat liburan, sekalian aku dan Anabelle bulan madu," ujarnya membuat ANabelle malu.
"Apaan sih, Mas," tutur Anabelle cemberut.
"Kenapa sih yank, kamu gak mau nikah sama aku?" tanya Alvaro sambil melihat ke arah Anabelle.
"Bukan gak mau, aku kan baru cerai," ujarnya.
"Aku tau, Sayang. Tapi kan masa iddah kamu sudah hampir selesai, aku bisa langsung bawa orang tua aku ke sini buat melamar kamu secara resmi dan langsung nikah aja, gimana? Lagian kan kan kalau nyiapkan pestanya, paling gak butuh waktu dua bulan atau tiga bulan, biar semuanya perfect. Jadi dari kamu selesai masa iddah, masih nunggu tiga bulan lagi buat nikah. Tapi setidaknya, aku sudah mengikat kamu, biar gak ada orang lain yang melamar kamu lebih dulu dari aku. Bukan begitu, Ma, Pa?" tanya Alvaro sambil menghadap ke arah orang tua Anabelle.
"Bener kata Alvaro, Nak. Mama dan Papa juga dukung kok," sahut Bella.
"Tapi aku gak enak sama yang lain, Ma. Masak baru cerai dah nikah?" ujar Anabelle.
"Kan gak langsung nikah. Masa Iddah kamu aja, tiga bulan sepuluh hari. Lalu nunggu lagi, sekitar tiga bulanan. Itu artinya kamu nikah setelah enam bulan cerai. Enam bulan itu, cukup lama kok. Mama dan Papa juga lebih tenang misal kamu di Jakarta ada yang jaga. Sejak kamu bilang, hubungan kamu dan Gavin memburuk sejak tahun lalu itu, Mama dan Papa gak tenang, apalagi kamu ke Paris sampai berbulan-bulan lamanya. Belum lagi setelah resmi cerai, Mama dan Papa makin khawatir, karena kamu gak ada yang jaga," tutur Bella.
"Terserah kalian aja deh, aku pasrah." sahut Anabelle.
"Nah gitu,, dong. Berarti sebulan lagi, aku akan bawa Mama dan Papa aku ke sini ya buat melamar kamu. Mama dan Papa gimana, gak keberatan?" tnyanya.
"Enggak keberatan. Mama akan dengan senang hati, membuka pintu lebar lebar buat menyambut kedatangan kamu dan orang tua kamu," ujar Bella dengan senang.
"Alhamdulillah. Aku jadi gak sabar, bisa menjadi bagian dari keluarga Mama dan Papa," sahutnya
"Tapi apa orang tua kamu gak ada masalah, nikah sama Janda?" tanya Anton khawatir.
"Orang tua aku, gak ada masalah, Pa. Selama itu bisa bikin aku bahagia, lagian kan yang mau nikah aku, yang akan menjalani hubungan rumah tangga itu aku, dan mereka gak akan memilih calon istri yang tidak aku senangi. Jadi, mereka memberikan keputusan kepadaku sepenuhnya untuk memilih, siapa yang kelak jadi calon istri aku."
"Alhamdulillah jika emang seperti itu."
Dan mereka pun mengobrol santai sampai adzan Magrib terdengar.
"Nanti kamu menginap aja di sini, gak papa. Kan cuma semalam,, gak perlu cari penginapan di luar sana," tutur BElla.
"Apa gak papa, Ma?" tanyanya.
"Enggak papa, lagian ada dua kamar kosong, nanti tinggal pilih, mau tidur di kamar mana. Cuma ya itu, kamarnya mungkin gak seluas kamar di rumah kamu Nak Al," ucapnya.
"Aku gak masalah, Ma. Mau tidur di mana aja. Aku mah gak milah milih," tuturnya membuat Bella dan Anton bernafas lega.