Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Kebersamaan Gavin dan Vero Selama di Villa



Sesampai di Villa, mereka langsung beristirahat karena lelah setelah berjam jam berada di jalan. Villa ini milik Veronica, yang di beli dari hasil ia menjadi seorang model dulu. Vero membeli Villa ini agar ia bisa beristirahat dari hiruk piruk Jakarta. Di Villa ini Viro bisa beristirahat dengan tenang, jauh dari keramaian dan kebisingan. Benar-benar sangat tentram sekali dan udaranya juga sangat segar. Karena kanan kiri, depan belakang adalah pepohonan, dan jarak Villa miliknya ke Villa milik orang lain juga cukup jauh, sakitar lima ratus meter.


Di Villa itu ada dua pekerja paruh baya dua orang suami istri, namanya Pak Darto dan Bi Sumi. Pak Darto bekerja bagian keamanan Villa ini sedangkan Bi Sumi bagian beres-beres rumah dan masak bila Vero datang ke sana.


Setelah istirahat selama satu jam, Vero bangun lebih dulu, lalu ia segera mandi dan ganti baju. Di Villa ini, Vero juga punya banyak baju, itulah kenapa ia gak perlu repot-repot bawa baju dari apartemennya karena di sini persediaannya sudah lengkap.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia pergi ke dapur untuk menemui Bi Sumi.


"Lagi apa, Bi?" tanya Vero sambil menghampiri Bibi Sumi di dapur.


"Lagi masak, Non," jawab Bibi Sumi ramah sambil melihat ke arah Vero.


"Oh, gimana kabar Bibi Sumi dan Pak Darto?" tanyanya sambil duduk di kursi makan.


"Alhamdulillah baik, Non," sahutnya ramah. Vero mengangguk-anggukkan kepalanya. Bi Sumi walaupun paruh baya, tapi dia cukup pendiam dan pemalu, jadi jika gak di ajak ngomong duluan maka Bi Sumi akan diam seharian, ia hanya bicara sama orang yang sangat ia kenal seperti suami dan anaknya serta keluarganya. Sedangkan dengan Vero dan orang lain, dia akan memilih untuk diam. Walaupun Vero adalah majikannya tapi mungkin karena jarang bertemu, jadi ada rasa sungkan dan malu. Apalagi ketemunya juga setahun dua atau tiga kali. Itupun sebentar, paling lama seminggu. Tidak lebih dari itu.


"Syukurlah. Betah di sini Bi?"


"Alhamdullillah betah, Non."


"Aman?"


"Aman, Non," balasnya.


"Jika Bibi kangen sama anak-anak Bibi, Bibi bisa meminta mereka datang, gak papa kok."


"Iya, Non. Minggu lalu mereka sudah datang ke sini buat nemuin Bibi, cuma gak sampai nginep, sore mereka sudah pulang," ujarnya.


"Oh gitu. Bibi mau masak apa?" tanya Vero sambil melihat Bibi Sumi yang tengah memotong sayur.


"Masak jangan bening, sambal, dadar jagung, telut mata sapi, sama goreng kerupuk Non. Non Vero mau request apa, biar nanti Bibi masakkan," ucapnya mulai ada sedikit kemajuan.'


"Enggak usah, Bi. Itu aja enak kayaknya," balas Vero ramah.


Saat mereka tengah mengobrol, Gavin datang dan dia juga sudah terlihat segar dan rapi.


"Sayang," panggil Gavin.


"Iya, Mas," jawab Vero sambil menoleh ke arah Gavin.


"Ngapain?" tanya Gavin sambil berdiri di dekat Vero.


"Enggak ada, cuma lagi ngobrol santai aja sama Bibi. Kamu sudah bangun dari tadi?" tanyanya.


"Iya, aku kaget, kamu gak ada di samping aku, jadi aku langsung mandi dan cari kamu."


"Oh, mau jalan-jalan, toh makanannya juga belum matang?"


"Boleh. Kita ke sungai itu lagi kah?" tanyanya.


"Iya."


"Iya sudah, ayo."


"Iya, bentar. Bi, aku pergi ke sungai dulu ya," pamit Vero.


"Iya, Non," jawab Bibi Sumi.


Dan setelah itu, Vero dan Gavin pun segera pergi dari sana dengan jalan kaki. Ini bukan pertama kalinya, Gavin datang ke sini, tapi sudah ketiga kalinya. Untuk itu, Gavin lumayan tau tempat-tempat ini.


"Mau kemana, Non?" tanya Pak Darto yang lagi memangkas tumbuh-tumbuhan yang ada di depan rumah hingga tampak rapi dan bagus.


"Mau ke sungai, Pak Darto."


"Hati-hati, Non."


"Iya, Pak."


Vero dan Gavin bergandengan tangan menuju sungai, rasanya sangat romantis sekali. Apalagi tempatnya sepi, udara segar, gak panas. Yah, walaupun ini siang hari, tapi karena banyak pepohonan, jadinya rindang dan gak panas.


"Kita pulang dari sini jam berapa, sayang?" tanya Gavin.


"Nanti malam aja, Mas. Jam delapan malam," jawabnya.


"Emang Mas Gavin mau nginep, kah?" tanya Vero.


"Kalau kamu mau sih, aku oke oke aja," jawabnya.


"Emang gak papa, besok gak kerja?" tanya Vero lagi.


"Enggak papa, aku kan pemilik perusahaan, jadi sesekali gak masuk, aku rasa gak ada masalah. Toh ada wakil CEO kan yang bantuin aku. Ada sekertaris aku juga, jadi santai ajalah."


"Kamu gimana, besok ada syuting gak?"


"Ada tapi jam satu siang."


"Iya sudah pulang besok pagi aja gimana, kalau berangkat jam enam dari sini kan sampai sana jam sembilan, masih ada waktu buat istirahat."


"Iya sudah deh, pulang besok aja," ucap Vero pasrah. Lagian ia masih kangen sama Gavin dan masih ingin berlama-lama dengannya.


"Okay," jawab Gavin senang.  Ia seakan sudah lupa dengan Anabelle jika sudah bersama dengan Vero. Perasaan Gavin emang sedikit plin plan, sehingga peraasannya mudah sekali berubah.


Setelah hampir sepuluh menit jalan kaki, mereka pun sudah sampai di sungai, airnya sangat dingin sekali, dan sangat jernih. Udaranya pun cukup dingin, namun tak sedingin saat malam hari, jadi tak perlu pakai jaket tebal, yang penting jangan pakai baju tipis aja, karena bisa-bisa kemigil kedinginan.


"Enak ya yank di sini, seger banget rasanya, beda jauh sama Jakarta," ucap Gavin yang juga betah banget berada di Villa milik Vero. Dulu Gavin juga punya Villa, tak jauh dari sini namun Villa miliknya sudah di jual buat menutupi kerugian perusahaan waktu kebakaran dulu. Namun nanti dia pasti akan beli lagi saat keuangannya sudah membaik. Untuk saat ini, ia akan tahan dulu, karena ia gak mau gegabah yang bisa mengakibatkan kehancuran. Karena apapun yang di lakukan dengan gegabah atau tergesa-gesa, hasilnya pasti gak akan memuaskan.


"Iya, makanya aku suka di sini. Kalau lagi free, aku milih tinggal di sini dari pada harus pergi ke luar negeri buat liburan."


"Ya kamu benar, aku juga lebih suka tempat-tempat seperti ini dari pada ke luar negeri, selain capek di jalan, juga lama di perjalanannnya."


"Iya. Oh ya, Mas, boleh gak sesekali aku di ajak pergi ke rumah kamu? Aku penasaran rumah kamu."


"Boleh, kapan-kapan ya. Di rumah aku cuma ada Bibi Ani, itupun Bibi Ani kerja dari jam setengah enam pagi sampai jam delapan malam, gak nginep. Sama ada Pak Arman sopir pribadi aku."


"Okay, kalau aku free nanti aku chat Mas Gavin ya."


"Siap, Bos," ucapnya sambil menaruh tangannya di pelipisnya sudah seperti orang yang menaruh hormat ke bendera merah putih.


Vero ingin sekali ke rumah Gavin, untuk mengetahui kehidupan Gavin lebih dalam lagi. Karena ucapan Vero saat di resto tadi, seakan menganggu fikirannya.


Bukannya Vero gak percaya dengan ucapan Gavin, namun ia hanya ingin meyakinkan dirinya bahwa Gavin memang benar-benar single dan belum punya istri atau pacar di luar sana selain dirinya.


"Sayang, kamu kenapa? Kok bengong?" tanya Gavin sambil menatap Vero yang sedari tadi diam.


"Enggak papa, Ma. Oh ya, kita turun yuk, kita main air, tapi gak usah ke tengah, cukup di pinggiran aja," ajak Vero.


"Boleh."


Dan mereka pun turun bersama, sambil duduk di bantuan sedangkan kaki mereka di ayun ayunkan ke air. Sebenarnya misal ke tengah pun tak masalah, mereka gak akan tenggelap karena airnya cukup dangkal, bahkan mungkin jika mereka berdiri di tengah, arinya hanya sampai di paha aja, bahkan batu-batuan di bawah air pun terlihat cukup jelas karena sangking jernihnya air sungai itu.


"Aku ingin saat kita menikah nanti, tinggal di Villa ini, Mas," ucap Vero.


"Kenapa?"


"Ya karena suasananya tenang dan damai. Bisa pergi ke sungai tiap hari, duduk di pinggir sungai gini, rasanya tentram banget, gak ada suara mobil, sepeda motor, atau yang lainnya. Yang terdengar cuma suara air dan burung yang berkicau. Rasanya sungguh menyenangkan."


"Emang kamu kalau dah nikah mau berhenti dari dunia entertaint?" tanyanya.


"Iya, karena bagaimanapun, karirku itu gak akan selalu berada di puncak atas. Jadi, misal nanti karirku mulai meredup, aku akan memilih keluar dari dunia entertaint. Dan saat ini, aku akan menikmatinya dulu, mengumpulkan banyak uang untuk membeli banyak aset dan saham. Aku akan memanfaatkan ketenaranku untuk meraup uang sebanyak-banyaknya. Dan ketika nanti karir meredup, lalu aku keluar dari dunia entertain, aku akan memilih untuk menikah dan hidup bahagia bersama suami dan anak, tanpa takut kekurangan atau apapun. Karena semuanya sudah aku siapkan dari jauh-jauh hari," ujar Vero yang sudah berfikir jauh ke masa depan.


"Emang perkiraan kamu, kamu berada di puncak atas sampai berapa lama?" tanya Gavin.


"Ya gak tau sih, aku gak bisa memperkirakan, karena ada yang cuma bentar, ada yang tahan lama sampai tahunan. Tapi target aku lima tahunan. Misal nanti karir aku masih melejit, aku tetap akan berhenti, bagaimanapun aku ingin menikmati hidup aku, tidak melulu kerja dan kerja. Aku ingin duduk santai menikmati hidup bersama keluarga kecil aku," ujarnya.


Gavin pun mengangguk anggukkan kepala, ia cukup terkesima dengan apa yang di fikirkan oleh Vero, dia gak gila harta seperti yang lainnya, ia tau kapan harus berhenti jika sudah mencapai apa yang dia mau.


"Ya sudah ayo balik, yo. Kayaknya Bibi sudah selesi masak deh, aku juga sudah lapar," ajak Vero sambil berdiri.


"Iya, aku juga sudah sedari tadi lapar."


Akhirnya, Vero dan Gavin pun pulang menuju Villa untuk makan siang dan setelah itu, mereka akan duduk santai sambil nonton film di ruang keluarga.


Mereka berdua akan menikmati waktu mereka yang berharga, karena untuk bisa liburan dan berduaan seperti ini, sangaltah susah, mengingat kesibukan mereka di bidang masing-masing. Vero yang sibuk di dunia entertaint, dan Gavin yang sibuk dengan perusahannya. Jika pun bisa seperti ini, mereka harus curi curi waktu, karena biasanya untuk Vero sendiri, tidak ada hari liburnya walaupun itu hari Minggu sekalipun.