Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Undangan Dari Alvaro



Sore harinya, sekitar jam setengah empat, Alvaro datang. Seperti biasa, ia tak perlu izin atau apapun, ia bisa langsung ke ruangan Anabelle. Dan saat ia membuka pintu, ia melihat Anabelle yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Hai, An. Sibuk?" tanya Alvaro sambil duduk di kursi di depan meja Anabelle.


"Lumayan, ada apa, Mas?" tanya Anabelle ramah.


"Nanti malam aku ada acara, kamu ikut gak? Siapa tau nanti di sana kamu bisa menggaet beberapa investor lagi sehingga kamu bisa mengembangkan perusahaan ini lebih besar lagi. Bagaimanapun semakin banyak investor, tentu akan semakin lebih baik, aplikasi yang kita dirikan tentu akan semakin melesat perkembangannya dan jadi nomer satu."


"Emang acara apa?"


"Pesta Peluncuran Pertunganan Putri sulung Tuan Jeff King. Di sana nanti akan banyak wartawan yang hadir, para pengusaha, model ternama dan juga para artis yang sudah punya jam terbang tinggi. Jadi para tamu yang datang, tentu banyak yang punya niat untuk mencari investor buat perusahaan mereka. Para petinggi pemerintahan pun juga banyak yang di undang," ucapnya menjelaskan.


"Tapi aku gak dapat undangannya," tutur Anabelle.


"Tenang aja, kamu bisa datang bareng aku. Karena satu undangan untuk dua orang. Dan kebetulan aku belu ada pasangan, jadi mau ya nanti bareng aku, please."


"Tapi apa kamu gak risih pergi bareng aku, sedangkan aku masih istri orang."


"Tapi kan gak tau, kalau kamu itu sudah menikah."


"Iya juga sih, tapi gimana kalau nanti Gavin juga datang ke sana."


"Itu jadi kesempatan kamu dong, buat manasin dia. Emang cuma dia aja yang bisa nyakitin kamu, kamu pun sama. Kamu bisa menyakiti dia dan membalas perlakuan dia ke kamu berkali-kali lipat."


"Tapi .... "


"Sudahlah, nanti kamu harus tampil secantik mungkin. Buat dia menyesal karena dia sudah mengkhianati kamu, An. Tapi tanpa kamu pakai makeup pun, kamu juga sudah cantik sih. Tapi kalau di poles dikit, pasti kamu makin cantik deh," puji Alvaro membuat Anabelle tersipu.


"Mas Al ada-ada aja, aku ini jelek. Makanya suami aku selingkuh. Kalau aku cantik, mana mungkin dia masih cari wanita lain di luar sana," bantah Anabelle mencebikkan bibirnya.


"Itu karena suami kamu aja yang bodoh, sudah di kasih berlian, masih aja gak bersyukur. Entah apa yang dia cari di luar sana, nanti jika dia kehilangan semuanya, baru tau rasa. Ujung-ujungnya nyesel, minta maaf dan berjanji gak akan melakukannya lagi," ucap Alvaro yang merasa kesal saat tau, Anabelle di campakkan suaminya demi wanita lain. Alvaro emang sudah tau Anabelle sudah menikah, hanya saja ia belum tau suaminya Anabelle seperti apa.


"Kok kamu yang marah?" tanya Anabelle bingung.


"Entahlah, aku tuh kalau bau-bau pengkhianatan gitu, pengen misuh-misuh rasanya," sahut Alvaro. Mungkin ia teringat dengan kisah orang tuanya dulu, di mana Alvin-papanya Alvaro berkhianat hingga akhirnya membuat Valerie-Mamanya Alvaro stres. Dan setelah itu, Alvin kembali dan meminta maaf. Sayangnya, tak lama kemudian, Alvin selingkuh lagi hingga akhirnya VAlerie memilih untuk bunuh diri. Untungnya Valentio-kakeknya Alvaro datang di saat yang tepat dan membawa Valerie ke rumah sakit, hingga nyawanya tertolong walaupun sebelumnya sempat kritis dan koma.


Dan saat tak sadar diri pun, Valerie selalu menyebut nama Alvin. Valentino yang tak tega melihat putrinya seperti itu, akhirnya dia pergi untuk memohon sama Alvin, untuk kembali karena Valentino gak mau jika kondisi Valerie drop dan meninggal dunia. Alvin pun akhirnya luluh dan ia memutuskan untuk kembali, terlebih saat Alvaro turun tangan dan ikut memohon hingga bersujud di kaki Alvin.


Sejak Alvin kembali, keadan Valerie pun semakin membaik hingga kesehatannya cepat pulih. Dan dari sanalah, Alvaro terus memohon agar jangan ninggalin mamanya lagi. Alvin mengangguk setuju, entah dia menyadari kesalahannya atau karena alasan lain. Tapi sejak saat itu, Alvin gak bikin ulah lagi dan menjadi suami dan ayah yang baik untuknya. Namun tetap saja kalau ingat itu, sampai detik ini, Alvaro masih sangat ingat sekali, bagaimana sakitnya saat dulu Alvin memilih wanita lain dari pada dirinya dan sang Mama.


"Sabar, orang sabar itu di sayang Tuhan loh," goda Anabelle membuat Alvaro tersenyum.


"Siap, Bos."


"Iya sudah kalau gitu aku mau balik lagi, kamu jangan capek-capek kerjanya, nanti sakit."


"Aku gak capek kok, lagian aku cuma kerja sambil duduk gini. Mana ada capek," balas Anabelle.


"Iya sudah aku pulang dulu ya."


"Iya, hati-hati di jalan."


"He'em."


Dan setelah itu, Alvaro pun pergi dari sana dan meninggalkan Anabelle yang kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sejujurnya Anabelle males pergi ke pesta, ia malas bertemu banyak orang, terlebih ia malas untuk bertemu suaminya. Tapi jika emang ini kesempatan yang baik buat menarik beberapa investor, maka ia akan datang. Terlebih mereka juga mengundang para artis dan model. Ia yakin Veronica juga pasti hadir, dan ia gak sabar untuk mendekatinya dan mengajak dia berteman.


Anabelle yakin dengan kedekatannya bersama Veronica, tentu akan membuat Gavin cemas. Dan ia ingin menikmati bagaimana detik-detik kehancuran Gavin, misal Vero tau, jika dirinya adalah istri Gavin. Tentu Vero gak akan tinggal diam dan akan membenci Gavin, seperti ia membenci Gavin saat ini.


Anabelle gak sabar nunggu hari itu tiba, hari di mana hidup Gavin hancur dan saat itu, ia akan tertawa, tertawa di atas derita suaminya itu.


Jam empat, Anabelle memilih untuk pulang lebih awal. Ia akan pergi ke salon untuk melakukan perawatan dan ia akan membeli gaun mewah, ia ingin tampilannya nanti menghipnotis banyak orang. Walaupun dirinya bukanlah artis atau model, tapi kecantikan Anabelle tak bisa dikalahkan karena Anabelle emang di takdirkan cantik dari lahir.


Di salon, Anabelle benar-benar menikmati perawatan yang ia pilih. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, sungguh membuat dirinya nyaman dan rileks. Dia sudah lama gak perawatan karena memang gak ada waktu dan gak mood. Jika bukan karena Alvaro yang mengajak dirinya ke pesta, mungkin ia memilih untuk rebahan aja di rumah, nulis novel atau melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat tentunya.


Jam setengah enam, Anabelle selesai perawatan. Setelah membayar semuanya, ia pergi ke salon dan mencari gaun warna maroon. Ia memilih warna marron karena warna itu sangat mewah dan akan mengundang banyak mata melihat ke arahnya. Sebenarnya untuk warna ia lebih suka navy atau maroon. Tapi demi tampil sempurna, ia memilih warna yang sedikit mencolok untuk menunjang penampilannya agar semakin sempurna.


Jam enam lewat lima belas menit. Ia segera pulang, karena ia harus segera mandi dan bersiap-siap Kulitnya juga sudah terasa lengket karena seharian gak mandi.


Kalau orang lain, mungkin mandi dulu baru perawatan, tapi dirinya berbeda, perawatan dulu baru mandi. Agar semakin terlihat segar.


Jam tujuh lewat dua puluh menit, Alvaro ternyata sudah sampai di rumahnya, untungnya Anabelle sudah selesai jadi ia tak akan membiarkan Alvaro menunggu terlalu lama.


"Kamu sangat cantik, An," puji Alvaro tak menyangka jika Anabelle akan berubah secantik ini.


"Kamau selalu memuji aku, Mas."


"Karena kenyataannya emang seperti itu, kamu cantik luar biasa."


"Sudahlah, jangan memuji aku terus. Nanti kita bisa telat," tutur Anabelle. Alvaro pun mengangguk setuju. Lalu mereka berdua pun berangkat ke pesta. Dan perjalanan ke sana, di tempuh dalam waktu tiga puluh menit jika menggunakan kecepatan delapan puluh. Untungnya Alvaro juga memakai mobil paling bagus dengan kecepatan tinggi sehingga bisa menyalip sana sini.


Walaupun Alvaro menggunakan kecepatan tinggi, Anabelle tidak merasa takut, karena ia percaya sepenuhnya kepada Alvaro. Ia tau, Alvaro gak akan membiarkan dirinya mati konyol, lagian kemampuan Alvaro dalam hal menyetir pun tak perlu diragukan lagi. Ia sangai pandai untuk itu.