
Setelah Anabelle selesai ngomong berdua dengan Alvaro dan Tasya juga sudah selesai ngomong sama Bagas. Kini mereka berada dalam satu ruangan.
"Anabelle, Mas Al. Ada yang mau aku omongin ke kalian," ucap Tasya membuka suara.
"Ada apa? Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Anabelle khawatir.
"Ya, kami baik-baik aja. Aku sudah mengatakan semuanya ke Mas Bagas. Dan Mas Bagas mau berjuang sama aku untuk mendapatkan restu dari Papaku. Jadi, aku dan Mas Bagas mau ambil cuti paling lama sebulan. Aku harap dalam waktu sebulan ini, aku dan Mas Bagas berhasil meluluhkan hati Papa aku, buat memberikan restu. Soalnya aku gak mau menikah dengan anak teman Papa aku, aku memilih Mas Bagas buat jadi suami aku," jawab Tasya. Bagas yang mendengarnya pun tersenyum.
Anabelle yang mendengar perkataan Tasya tadi, menganguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti, bahwa saat ini, Tasya dan BAgas akan berjuang untuk hubungan mereka.
"Iya sudah gak papa, biar masalah kantor aku yang urus, lagian masih ada Mas Al yang bantu aku. Kalian fokus aja sama hubungan kalian. Aku cuma bisa mendoakan, semoga kalian segera mendapatkan restu sehingga bisa menikah dalam waktu dekat."
"Aamiin. Terima kasih ya," ucap TAsya tersenyum.
"Hubungan kalian gimana?" tanya Bagas buka suara.
"Aku dan Mas Al sudah sepakat, memulai semuanya dari awal. Kami akan menjalani PDKT dulu, baru pacaran, lamaran lalu nikah. Aku dan Mas Al gak buru-buru untuk memutuskan membawa hubungan ini dalam sebuah pernikauan. Aku ingin menikmati prosesnya lebih dulu, biar kayak anak remaja. Lagian aku juga baru cerai, masih dalam masa iddah. Jadi, aku rasa melakukan PDKT dulu adalah jalan terbaik. Paling gak sampai satu tahun lah, baru kami akan memutuskan untuk menikah," sahut Anabelle.
"Tapi aku harap, tidak sampai setahun sih," ujar Alvaro yang memang gak sabar untuk bisa bersatu dengan wanita yang ia cintai. Mendengar hal itu, Bagas pun terkekeh.
"Bagaimana kalau kita menikah dalam waktu yang bersamaan, biar ngerayain pestanya bareng-bareng?" usul Bagas.
"Hey kalian sudah bahas nikah, Mas Bagas aja belum tentu dapat restu dari Papanya Tasya," ucap Anabelle mengingatkan.
"Makanya bantu doakan dong. Semoga hati calon Papa mertua aku itu luluh sama aku, jadi aku gak perlu berjuang lebih keras buat dapat restu darinya."
"Bukannya kalau perjuangannya lebih keras itu lebih kerasa ya. Jadi kalau sudah dapat restu terus kalian menikah.Kalian gak akan neka-nako. Karena kalian ingat, perjuangan kalian sebelum menikah. Bagaimana perjuangan kalian dalam mendapatkan sebuah restu. Kalau terlalu mudah, pasti kalian akan menyepelekannya. Aku yakin, semakin berat untuk perjuangan kalian untuk bisa bersatu dalam ikatan yang halal, maka kebahagiaan yang kalian dapatkan nantinya juga pasti akan berkali-kali lipat. Jadi Mas Bagas dan Tasya, nikmati aja proses perjuangannya, jangan sampai nanti malah berhenti di tengah jalan." ujar Anabelle mengingatkan.
Mereka pun terus mengobrol hingga tak terasa jam makan siang tiba. Mereka memilih untuk makan di luar. Dan setelah selesai makan siang, barulah merek sholat, istirahat bentar lalu kerja. Karena dari pagi mereka bahkan tidak kerja karena keasyikan mengobroll.
Sore hari, Alvaro pulang lebih dulu karena harus pergi ke hotel. Lalu Tasya pulang bersama Bagas. Anabelle menyetir sendiri di belakang mereka.
Sesampai di rumah, Tasya langsung beres-beres, ia akan pulang ke rumah orang tuanya dan perjuangan mereka untuk mendapatkan restu akan di mulai hari ini. Anabelle pun membantu Tasya untuk beres-beres, lalu setelah itu, Anabelle memeluk Tasya sebelum akhirnya Tasya pergi lagi bersama Bagas. Bagas juga pergi ke apartemennya untuk mengambil keperluannya lalu setelah itu mereka pergi ke luar kota, menuju rumah orang tua Tasya.
Bagas sengaja membawa baju agar bisa menginap di hotel yang tak jauh dari rumah Tasya.
Misal Bagas langsung mendapatkan sebuah restu, Bagas akan langsung mengabari keluarganya di kampung agar bisa melamar Tasya secara resmi ke keluargnya.
Akan tetapi jika belum dapat restu, maka Bagas akan berjuang setiap hari, melakukan apa saja, agar Papanya Tasya mau melihat kesungguhan darinya, lalu mengizinkan dirinya buat menikahi putrinya.