
Vero bangun jam sebelas siang, itupun dia bangun karena merasa lapar. Setelah lihat jam, menunjukkan pukul sebelas, Vero langsung beranjak dari tempat tidurnya, mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Ia merendamkan tubuhnya di sana, dengan busa yang menutupi seluruh tubuhnya, tak lupa ia memakai aroma yang membuat dirinya rileks. Setelah dua puluh menit berendam, ia pun segera menyudahi mandinya dan segera mengeringkan tubuhnya sebelum ia kemigil kedinginan.
Vero memakai baju santai, baju kaos panjang yang ada topinya di belakang, hanya saja topinya gak di pakai, dan di biarkan begitu saja menggantung di belakang. Ia juga memakai celana panjang. Rambutnya di ikat satu, jika di lihat dia bahkan seperti anak SMA. Mungkin karena tubuhnya yang kurus dan tingginya yang semampai membuat dia terlihat cantik, imut dan menggemaskan.
Bahkan ketika Vero keluar dari kamar, Farhan sampai tercengang melihat kecantikan Vero yang alami, padahal dia gak pakai make up tebal, hanya pakai pelembab saja sama lipstik. Ia emang malas pakai bedak, kecuali saat lagi syuting saja. Ah ya, Vero tak lupa memakai parfum manis yang membuat siapa saja betah berlama lama berada di dekatnya karena aroma manis yang bisa di cium oleh orang-orang terdekatnya.
"Loh Mas Farhan, sudah dari tadi?" tanyanya
"Iya, ada yang mau aku omongin sama kamu," ucap Farhan memberitahu.
"Nanti aja ya, aku lapar," ujarnya.
"Oh, okay." Farhan akan membiarkan Vero makan lebih dulu, bagaimanapun setelah ini, Vero butuh banyak tenaga untuk menerima kenyataan yang menyakitkan. Kenyataan yang harus ia terima sepahit apapun itu.
Vero pergi ke ruang makan dan melihat di sana ada nasi, ayam kentucky, sambal, oseng-oseng kacang panjang dan kerupuk. Vero mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Setelah membaca basmallah barulah ia makan.
Vero sangat menikmati makanannya, entah karena efek lapar, atau karena makanannya enak, sehingga Vero sampai harus nambah dua kali. Selesai makan, Vero mencuci piring dan gelas yang ia pakai. Baru setelah itu, ia menghampiri Farhan dan Verly.
"Sudah kenyang?" tanya Verly.
"Sudah," jawab Vero tersenyum.
"Mau ngomong apa?" tanya Vero sambil menatap Farhan.
Farhan memberikan Hpnya.
"Kamu dengarkan saja rekaman ini, dia suara Bibi Ani, ART di rumah Gavin, dan yang suara laki-laki itu suaranya Pak Arman, sopir pribadi Gavin." Gavin menyerahkan hpnya.
"Buat apa aku dengerin omongan mereka?" tanyanya heran.
"Kamu dengerin aja dulu." perintah Farhan.
Vero pun menerimanya dan menklik remanannya.
Rekaman pertama.
X, "Bi, apa benar Bibi kerja di kediaman Tuan Gavin?" tanyanya.
Bibi Ani, "Maaf, Tuan siapa ya?"
X, "Bibi gak perlu tau, saya siapa. Bibi hanya perlu menjawab pertanyaan saya dengan jujur."
Bibi Ani, "Pertanyaan apa?"
X, "Apa benar Tuan Gavin sudah menikah?"
Bibi Ani, "Maaf saya gak bisa jawab."
X, "Jika Bibi gak jawab, pertanyaan saya. Saya gak akan segan-segan akan melukai suami dan keluarga Bibi. Jadi mohon kerja samanya, atau Bibi mau, saya bunuh suami Bibi saat ini?" ancamnya.
Bibi Ani mungkin karena ketakutan, akhirnya ia pun menjawab, "Iya, Tuan Gavin sudah menikah."
X, "Siapa nama istrinya?"
Bibi Ani, "Nona Anabelle,"
X, "Sudah berapa lama mereka menikah?"
Bibi Ani, "Cukup lama."
X, "Lalu kemana sekarang Nona Anabelle?"
Bibi Ani, "Pergi."
X, "Kenapa?"
Bibi Ani, "Karena Non Ana tau, jika Tuan Gavin itu sudah berkhianat dengan artis yang lagi naik daun itu."
X, "Artis siapa?"
Bibi Ani, "Itu yang suka berseliweran di tivi, kalau gak salah namanya Veronica."
X, "Bibi yakin, dia selingkuhannya?"
X, "Bibi yakin mereka sudah menikah?"
Bibi Ani, "Yakinlah, mereka hidup satu atap, dan rumah ini kan milik mereka berdua. Bibi emang gak ada saat mereka menikah, tapi Bibi tau, jika Non Anabelle istrinya. Malah saat Tuan Galang dan Nyonya Vina tau Anabelle pergi dari rumah ini, mereka ssempat bertengkar dengan Tuan Gavin."
X, "Bertengkar kenapa?"
Bibi Ani, "Bertengkar karena Tuan Gavin selingkuh. Non Anabelle kan menantu kesayangan mereka."
X, "Jadi mereka tau jika Tuan Gavin selingkuh dengan Non Vero?
Bibi Ani, "Iya, makanya mereka marah besar dan langsung balik. Bahkan mereka gak mau tau lagi tentang urusan Tuan Gavin, mereka terlanjut kecewa karena Tuan Gavin tega berkhianat."
X, "Bibi kerja lama di sini?"
Bibi Ani, "Lumayanlah. Tapi Bibi cuma kerja dari jam setengah enam sampai jam delapan malam."
X, "Tuan Gavin sama Non Anabelle apakah mereka baik sama Bibi?"
Bibi Ani, "Baik, semuanya baik. Tapi Non Anabelle jauh lebih baik. Dia seperti wanita berhati malaikat. Kadang dia sering bantu Bibi masak, dia juga bantu Bibi beres-beres rumah, dia juga yang menyiapkan kebutuhan Mas Gavin dengan tangannya sendiri, menemani Mas Gavin makan, walaupun kadang dia gak selera. Kadang menyiapkan Mas Gavin bekal. Setiap Mas Gavin mau pulang, Non Anabelle pasti akan segera bersiap siap dan menunggu kedatangan Mas Gavin, dia istri dan wanita yang sempurna. Bahkan Bibi gak menemukan apapapun yang salah dari Non Anabelle. Bibi juga cukup kaget saat tau, Tuan Gavin selingkuh."
X, "Kenapa pernikahan mereka itu gak di umumkan?"
Bibi Ani, "Non Anabelle itu orangnya introvert, gak suka keluyuran, gak suka jadi pusat perhatian orang, gak suka terlalu akrab dengan orang asing. Bahkan sehari-harinya cuma diam di rumah, baca novel, nonton tivi, atau ngajak Bibi rujak an. Kadang merawat tanamannya, dia bahkan gak akan keluar jika Tuan Gavin gak memaksanya. Itulah kenapa, mereka cuma nikah di KUA saja. Gak ada selametan apapun, cuma denger-denger Non Anabelle menyumbang makanan, uang, buku dan baju anak-anak di beberapa panti asuhan untuk merayakan pernikahannya. Hanya sebatas itu yang Bibi tau."
X, "Baik, Bi. Makasih. Sekarang Tuan Gavin apakah sering uring-uringan di rumah?"
Bibi Ani, "Ya. Bahkan Bibi kadang beberapa kali lihat Tuan Gavin menatap foto Non Anabelle sampai menangis, pernah juga beberapa kali Bibi dengar Tuan sampai banting-bantin barang di kamarnya sambil teriak nama Non Ana. Mungkin Tuan Gavin sangat mencintai Non ANa, hanya saja saat ini Tuan lagi salah jalan, hatinya lagi bercabang, jadi dia bingung mau milih yang mana, karena kedua duanya sama berarti."
X, "Baik, Bi. Terima kasih informasinya. Maaf tadi saya sempat mengancam Bibi, karena saya terpaksa melakukannya. Dan ini ada uang buat Bibi."
Dan setelah itu rekaman berakhir.
Vero, dia sudah berwajah merah, entah karena rasa kecewa yang terlalu dalam atau karena amarahnya yang lagi memuncak. Ia bahkan menggenggam erat hpnya, Farhan berharap hp itu gak pecah karena itu hp kesayangannya yang ia beli dengan di cicil karena harganya yang cukup mahal.
Vero menklik lagi rekaman Pak Arman, walaupun hatinya sakit, ia masih ingin mendengarnya sekali lagi.
X, "Bapak, sopir pribadi Tuan Gavin?" tanyanya.
Pak Arman, "Ya. Maaf Anda siapa?"
X, "Saya seseorang yang sekarang lagi butuh bantuan Pak Arman. Mohon kerjasamanya."
Pak Arman, "Kerjasama apa dulu nih?"
X, "Saya cuma ingin tau perihal status Tuan Gavin, apakah benar dia sudah menikah?"
Pak Arman, "Maaf saya gak bisa memberitahu, karena itu privasi majikan saya. Dan saya gak bisa sembarangan memberitahu orang lain."
X, "Baik, jika Pak Arman tak memberitahu, tapi jangan salahkan saya, jika istri dan anak Bapak, akan terluka jika Bapak tak mau diajak kerjasama."
Pak Arman, "Kok bawa istri dan anak saya? Mereka kan gak tau apa apa."
X, "Makanya mohon jawab dengan jujur. Apa benar Tuan Gavin sudah menikah?"
Pak Arman, "Iya, sudah. Istrinya namanya Anabelle. Sekarang dia pemilik Perusahaan Evta, sudah kan?"
X, "Apakah mereka sudah bercerai?
Pak Arman, "Bercerai gimana? Belumlah. Mana mau Tuan Gavin cerai, dia kan cinta mati sama istrinya. Sayangnya dia lagi salah jalan aja, makanya berkhianat ma artis itu."
X, "Cinta mati?"
Pak Arman, "Iya, dulu Tuan Gavin sangat mencintai Non Anabelle bahkan sampai detik ini. Tuan Gavin bahkan sampai rela membayar banyak orang buat cari keberadaan NOn Anabelle waktu Non Anabelle pergi dari rumah. Tapi sejak kehadian artis itu, Tuan Gavin berubah. Suka pulang malam, suka meninggalkan pekerjaannya begitu saja, sampai Mas Bagas di buat kelimpungan sendiri. Di saat Tuan Bagas kerja siang malam mengerjakan pekerjaannya, di saat Non Anabelle menunggu kedatangan suaminya di depan rumah. Eh Tuan Gavin malah asyik pacaran sama artis itu. Huh rasanya Bapak ikut geram. Apa mereka gak takut dosa, pacaran tanpa memikirkan perasaan Non Ana. Tuan Gavin itu sedikit plin plan, saat bersama selingkuhannya, Tuan Gavin seakan lupa sama istrinya. Kalau sama istrinya, Tuan seakan lupa sama selingkuhannya. Entah mana yang paling di cintainya. Tapi Bapak berharap Tuan seperti dulu lagi, yang setia sama istrinya. Bukan malah seperti ini, pisah rumah. Apalagi sebenarnya mereka pasangan yang sangat cocok, romantis, bahkan Bapak ikut baper jika lihat keromantisan mereka, tapi itu dulu sebelum Tuan kena sama Non Vero. Setelah Tuan kenal sama Non Vero, semuanya berubah, Tuan sering pulang malam, sering pergi dari kantor, hanya buat menemui Non Vero. Entahlah Bapak bingung, apa kurangnya Non Ana, padahal jika di banding bandingkan Non Ana itu tak kalah cantik sama artis itu."
X, "Terus katanya Tuan Gavin pernah bunuh diri? Apa benar?"
Pak Arman, "Benar kejadiannya lama, sebelum pabrik terbakar. Waktu itu, ternyata diam diam Non Ana menyuruh seseorang buat menyelidiki Tuan Gavin, mungkin Non Ana merasa jika Tuan berubah dan benar saja, Non Ana mendapatkan bukti kuat kalau Tuan berselingkuh sama artis. Bahkan Non Ana juga punya beberapa foto saat Tuan Gavin kencan dengan Non Vero bahkan saat Tuan masuk ke apartemen Non Vero pun ada fotonya. Kebetulan Bapak lihat foto itu di ruang tamu. Dan gara-gara foto itulah mereka bertengkar hebat, hingga akhirnya Non Anabelle memilih pergi dari sana dan gak pernah kembali sampai sekarang. Dan waktu itu, saat Non Anabelle pergi, Tuan Gavin murka hingga dia menyakitinya dengan menggoreskan beling yang pecah ke pergelangan tangannya, untung aja ada Mas Bagas. JIka enggak, mungkin nyawanya akan tak tertolong jika telat sedikit saja, karena lukanya cukup dalam."
Vero gak kuat lagi mendengarkannya, hingga ia memiih menghentikan rekamannya. Vero memberikan hp itu ke Farhan, lalu ia segera masuk kamar dan mengambil hp dan kunci mobilnya. Tanpa memberitahu Farhan dan Verly, Vero langsung pergi dari sana. Yah, dia akan pergi untuk ke kantor Gavin, dia emang gak tau rumahnya, tapi dia tau kantor Gavin. Jadi dia akan pergi ke sana untuk menemui Gavin secara langsung dan menanyakan kebenarannya.