
Setelah selesai telfonan dengan Alvaro, ia segera mencuci wajahnnya dan segera keluar dari kamar. Ia menemui Mama dan Papanya yang ada di ruang keluarga. Ternyata saudara dan tetangganya sudah pulang dari tadi.
"Ma, Pa. TAdi aku telfonan sama Mas Al," ucapnya memberitahu.
"Terus?" tanya Bella.
"Dia marah sama aku, karena aku bawa mobil sendiri, bahkan sebenarnya tiga hari dia gak ada kabar, karena hpnya dia banting. Dia marah, karena aku nekat bawa mobil sendiri, katanya dia khawatir dan takut aku kenapa-napa." sahut Anabelle.
"Kamu sih, jangankan dia. Mama sama Papa aja sampai gak tenang nunggu kamu pulang." tutur Bella membela sang calon mantu.
"Hmm ... dia melarang aku bawa mobil lagi kalau udah mau balik ke Jakarta," ungkapnya.
"Terus mobilnya gimana?" tanya Anton.
"Buat Papa aja, ini kunci, dan surat-suratnya, kebetulan surat suratnya aku bawa," ujarnya sambil menyerahkan kunci dan surat-surat mobil.
"Loh kok di kasihkan ke Papa, itu mobil mahal loh," ucap Anton kaget.
"Hm, dari pada dia marah lagi sama aku. Lagian katanya itu mobil sudah model tiga tahun lalu." ucapnya.
"Terus kamu di sana pakai apa?" tanya Bella.
"Nanti di kirimiin lagi mobil yang ada di garasinya, malah aku di suruh ke sana dan tinggal milih mana yang aku mau. Kalau gak ada yang cocok, aku di suruh pergi showroom atau beli secara online, nanti dia yang tansfer." jawabnya.
"Astaga, di kira beli mobil kayak beli gorengan kali ya, semudah itu dia bicara." tutur Bella kaget.
"Mobil dia aja ada yang seharga tujuh milliar lebih, Ma. Itupun gak cuma satu, ada belasan. Tapi ya harganya beda-beda sih, kalau di hitung, buat mobilnya aja, mungkin dua puluh milliar lebih. Hanya mobil, sedangkan rumah dan fasilitas lainnya. Belum lagi jam tangan yang di pakai, harganya ratusan juta sampai ada yang dua milliar lebih hanya satu jam tangan, bahkan outfitnya pun juga harganya, bukan kaleng-kaleng, makanya kadang aku merasa minder kalau dekat dengan Mas Al," paparnya memberitahu perasaaan yang ia rasakan.
"Ngapain minder, kamu cantik. Dan lagi, kamu juga seorang pengusaha sekarang. Walaupun gak sekaya dia, tapi kamu juga bukan orang miskin lagi," ucap Bella, berusaha untuk menaikkan kepercayaan diri putrinya.
"Iya sih, tapi tetap aja aku minder, kadang," ujarnya.
"Hmm, ini serius kamu kasih mobil kamu buat Papa, sebenarnya Papa gk butuh sih, kan papa sudah ada satu," tuturnya.
"Iya sudah, Papa terima ya. Nanti misal dia nelfon, bilang ada salam dari Papa, makasih gitu," ucapnya.
"Iya, nanti aku sampein. Oh ya, nanti misal Mama mau masak, panggil aku ya."
"'Emang kamu mau ngapain?" tanya Bella.
"Mau bantu Mama masak."
"Tumben?"
"Kok gitu sih nanyanya."
"Ya habis, kamu kayak orang lagi kesambet aja, bilang mau bantu Mama masak. Dari kecil aja, kamu paling males bantu Mama masak."
"Tapi aku sudah bisa loh masak sendiri."
"Iya kah?"
"Iyalah, sejak aku nikah sama Mas Gavin dulu, dikit-dikit aku belajar dari Bibi Ani. Dan sekarang, gak bisa di bilang menguasai juga sih, tapi ya aku bisalah kalau masak beberapa makanan yang tidak terlalu rumit," ungkapnya.
"Syukurlah, Mama fikir kamu masih belum bisa masak."
"Yee Mama, suka ngerendahin aku terus," gerutunya cemberut.
"Iya sudah, makan malam nanti, kamu aja yang masak. Mama dan papa pengen tau, rasa masakan kamu itu," tutur Anton.
"Hmm, gimana ya? Oke deh." Anabelle pun setuju, lagian ia belum pernah masakin buat orang tuanya sendiri.
Setelah mengobrol panjang lebar, Anabelle kembali ke kamar dan memainkan hpnya, kali ini ia fokus membaca email dari Pak Alan, hatinya sudah tak lagi amburadul dan ia sudah bisa kembali bekerja dengan tenang tanpa merasa khawatir lagi pada Alvaro. Karena Alvaro sudah mengirim kabar padanya.