
Anabelle bekerja dengan serius, sampai akhirnya Alvaro datang membawakan camilan buat Anabelle.
"Jangan terlalu serius kerjanya, nanti cepat tua loh," goda Alvaro, Anabelle mendongak dan melihat Alvaro yang sudah ada di hadapannya dan menaruh camilan itu di meja.
"Kamu gak ada kerjaan, Mas. Kok ke sini terus?" tanya Anabelle heran.
"Ada, banyak malah. Tapi aku pusing lihat tumpukan berkas, jadi aku ke sini buat refreshing otakku. Oh ya, ini aku bawa camilan buat kamu, semoga suka ya," ucapnya sambil duduk di kursi tanpa menunggu Anabelle untuk mempersilahkan.
"Terima kasih ya, Mas. Oh ya Mas tadi Mas Gavin ke sini, aku males buat ketemu dengannya. Aku butuh dua satpa buat jaga di depan sana biar mencegah Mas Gavin masuk ke perusahaan ini, bagaimanapun aku gak mau jika membawa masalah pribadi ke tempat kerja," ujarnya memberitahu.
"Okay, nanti aku carikan, aku pastikan besok sudah jaga di depan. Ada lagi?" tanya Alvaro santai.
"Tadi aku ketemu Vero sama Verly, asistennya. Aku ingin Vero jadi model di perusahaan ini, menurut kamu gimana?" tanya Anabelle.
"Boleh, kamu sudah punya nomer managernya?"
"Sudah, kok."
"Ya sudah kamu hubungi aja dia, misal ada ketemuan dan kamu butuh seseorang buat nemenin, aku siap."
"Makasih ya, Mas. Selalu ada buat aku dan selalu mendukung semua keputusan aku. Bahkan tanpa Mas Al, mungkin perusahaan ini gak akan berdiri seperti sekarang, dan masih jadi angan anganku belaka," ujar Anabelle yang sangat berteriima kasih atas semua yang Alvaro berikan padanya.
"Santai aja. Lagian aku bantu kamu, karena emang aku bisa. Jika pun aku gak bisa, aku usahain untuk bisa. Nanti siang, kita keluar yuk," ajak Alvaro.
"Kemana?"
"Ada resto baru, aku pengen ngajak kamu makan di sana."
"Ya sudah nanti aku ikut."
Mereka pun mengobrol santai, Alvaro juga membantu Anabelle menyelesaikan pekerjaannya agar cepat selesai.
"Bagas dan Tasya kapan pulang? Kayaknya mereka betah banget ya berdua. Sampai jarang ngasih kabar ke kita."
"Ya gak papa dong, malah aku berharap dengan mereka terus berduaan gitu, mereka bisa saling suka dan jadian. Lagian Mas Bagas itu cocok sama Tasya, mereka sama-sama orang baik dan jika pun mereka berkeluarga, pasti hidupnya akan bahagia," ucap Anabelle yakin, karena ia sudah tau karakter keduanya, jadinya ia bisa ngomong seperti itu.
"Dan aku harap dengan kedekatan kita yang seperti ini, kamu juga bisa menyukai aku, Anabelle. Aku ingin kamu menyukaiku, lalu menyayangiku dan akhirnya jatuh cinta sama aku, seperti aku yang selama ini diam-diam mencintai kamu," batin Alvaro.
Tak terasa, sudah memasuki jam makan siang. Anabelle segera menutup laptopnya, menaruh berkas penting itu di laci dan menguncinya dengan rapat. Lalu ia juga menaruh camilan di rak, dan akan ia makan nanti misal lagi gangguk.
Alvaro menggandeng tangan Anabelle, awalnya Anabelle risih, apalagi ada beberapa karyawannya yang melihat ke arahnya, namun buat menarik tangan yang di pegang oleh Alvaro pun Anabelel juga tak enak hati, takut bikin Alvaro tersinggung. Akhirnya Anabelle pun memilih diam dan membiarkan Alvaro menggenggam tangannya.
Alvaro membukakan pintu mobil, Anabelle pun segera masuk dan duduk dengan tenang. Setelah itu, Alvaro menutup pintunya dan berlari kecil memutari mobilnya dan membuka pintu mobil sebelah kanan. Ia duduk di belakang kemudi, dan tak lupa memasang sabuk pengaman agar terhindar dari bahaya. Alvaro juga menutup pintunya dengan rapat. Setelah itu, ia menoleh ke Anabelle yang ternyata belum memasang sabuk pengamannya, tanpa banyak kata, Alvaro mendekati Anabelle.
"Mau apa?" tanya Anabelle kaget dengan kedekatan mereka yang sangat intim.
"Memasangkan sabuk pengamanmu," jawabnya santai, seakan akan tak ada apa-apa, padahal jantungnya berdegup kencang. Apalagi saat kulit mereka tanpa sengaja saling bersentuhan. Tak mau berlama-lama, Alvaro langsung dudukd dengan tegak dan berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Anabelle pun juga merasa panas dingin, sungguh hati dan jantungnya seakan tak baik baik saja setiap kali ia berdekatan dengan Alvaro. Namun Anabelle berusaha menutupi perasaannya karena tak mau jika hubungan pertemanannya dengan Alvaro jadi berantakan karena perasaaan yang ia rasakan. Lagian, Anabelle sadar diri, jika dirinya masih berstatus istri orang, jadi Anabelle gak mungkin berbuat yang aneh-aneh yang membuat masalah semakin runyam dan membuat dirinya terjebak dengan permainannya sendiri.
"Mau muter lagu?" tanya Alvaro karena sedari tadi mereka hanya diam tanpa ada yang mau buka suara.
"Boleh," jawab Anabelle.
Alvaro pun memutar lagu, lagu romantis yang lagi di mabuk cinta. Anabelle pun menikmaati lagu itu sambil melihat pemandangan di luar jendela. Sedangkan Alvaro fokus mengemudi, namun sesekali ia melihat ke arah Anabelle.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di resto. Namun Anabelle mengernyitkan dahi, pasalnya saat ia akan turun dari mobil, ia melihat mobil Gavin yang terparkir di resto itu. Haruskah ia turun atau memilih menghindar?
"Kenapa?" tanya Alvaro.
"Ada mobilnya Mas Gavin. Kita makan di tempat yang lain aja ya, kapan-kapan kita makan di sini, aku males debat soalnya," jawab Anabelle jujur.
"Hemm, baiklah. Kita makan di tempat yang lain aja," balas Alvaro sambil memutar arah dan pergi ke resto yang tak kalah bagusnya ketimbang resto ini.
"Makasih ya, Mas. Dan maa merepotkan," ujar Anabelle gak enak hati.
"Santai aja, jangan di bawa hati. Ini cuma masalah sepele, jadi gak perlu di buat beban," sahut Alvaro tersenyum manis ke arah Anabelle. Lagi-lagi jantung Anabelle berdetak kencang, "Astaga, apakah aku sakit jantung?" tanyanya dalam hati sambil memegang dadanya.
"Kamu kenapa?" tanya Alvaro melihat Anabelle memegang dadanya sedari tadi.
"Enggak papa, Mas," jawabnya sambil mengambil Hpnya dari dalam tas dan memainkannya untuk mengurangi rasa gugup.
"Kalau sakit, bilang aja sama aku. Kita bisa langsung ke rumah sakit untuk periksa," tuturnya.
"Aku gak papa kok, santai aja. Ini masih lama?" tanyanya mengalihkan perhatian.
"Enggak kok, sepuluh menit lagi sampai," jawabnya dan Anabelle pun menganggukkan kepala.
Dan benar saja, sepuluh menit kemudian, mereka sampai di resto yang tak kalah mewahnya. Anabelle segera turun lebih dulu sebelum Alfaro membukakan pintu untuknya. Melihat Anabelle turun lebih dulu, Alfaro hanya mendesah kecewa, namun ia tak menampakkan rasa kekecewaanya karena gak mau membuat suasana jadi gak nyaman.
Mereka jalan beriringan masuk ke dalam resto, mereka memilih untuk makan di lantai dua, di pinggir jendela agar bisa melihat pemandangan di luar sana.