
Vero pulang ke apartemennya, sesampai di apartemen, ia langsung masuk ke kamar tanpa menghiraukan Velly yang tengah memanggil dirinya. Di kamar, Vero hanya bisa menangis, ia bahkan membanting vigora dirinya dan Gavin, ia menyobek foto dirinya dan Gavin. Semua yang berkaitan dengan Gavin, ia robek dan ia bakar di balkon. Yah, ia bakar di balkon, agar asapnya tidak memenuhi ruangan. Untungnya, tidak banyak barang yang ia miliki bersama dengan Gavin. Kebanyakan hanya berupa foto, boneka dan bunga. Selebihnya gak ada.
Karena memang selama pacaran, Gavin hampir gak pernah membelikan dirinya barang berharga, jika pun keluar, hanya sekedar traktir makan. Boneka dan bunga itu pun ia dapatkan saat ulang tahunnya beberapa bulan lalu. Tak ada lagi. Sedangkan Gavin, ia mendapatkan banyak hal dari Vero, jam tangan mewah seharga puluhan juta dan sepatu dari merk terkenal. Vero emang gak pelit, jika dia sudah mencintai seseorang, ia gak peduli lagi dengan uang. Selama barang itu menarik, maka ia akan membelikannya buat orang yang ia cintai.
Setelah membakar foto, boneka dan bunga. Vero beralih ke Hpnya, ia memblokir semua akun Gavin, ia juga memblokir semua nomernya, karena ia gak mau berhubungan dengan Gavin lagi, jadi apapun yang berkaitan dengan Gavin, akan ia blokir. Ia ingin hidup tanpa ada Gavin di dalamnya.
Setelah semua kenang kenangannya bersama Gavin ia hapus, Vero sedikit tenang. Dulu di galerinya penuh dengan foto Gavin, tapi sekarang, satu pun gak ada. Buat apa menyimpan foto laki laki breng sek seperti dia, gak guna. Vero bahkan bisa mendapatkan laki laki yang lebih dari dia.
Setelah puas dengan apa yang ia lakukan, Vero pergi ke kamar mandi, meremdam tubuhnya dengan air dingin agar emosi yang kini memenuhi jiwanya, hilang bersamaan dengan air yang mengalir dari tubuhnya.
Ia membiarkan air terus mengalir dari kran, padahal bathtub-nya pun sudah penuh, hingga air meluap-luap. Namun Vero tak memperdulikannya, toh dia yang akan bayar PDAM-nya, jadi terserah dirinya mau buang-buang air atau gak.
Hampir sejam Vero berendam, kulitnya pun sudah mulai keriput karena kedinginan, ia segera menyelesaikan mandinya dan memakai baju handuk yang ia lilitkan talinya di pinggang. Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi dan langsung memakai baju. Ia mengeringkan rambutnya, bagaimanapun ia gak bisa tidur dengan rambut yang masih basah karena itu bisa membuat dirinya pusing.
Setelah rambutnya kering, ia mengikatnya secara asal, lalu baju handuk yang ia pakai tadi di taruh gitu aja, di atas kursi. Ia berjalan ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di atasnya.
Ia merentangkan kedua tangannya, matanya menatap ke langit-langit rumah. Ia mulai mengingat kembali pertemuannya dengan Gavin pertama kali, ia yang emang suka ramah terhadap orang lain, membuat respon positif dari Gavin. Dan dari sanalah mereka mulai melakukan kerjasama di mana Vero menjadi BA di perusahaan Gavin. Mereka bertukar nomer pribadi, dengan alasan untuk pekerjaan. Padahal dari saling tukar nomer itulah, akhirnya mereka mulai akrab satu sama lain. Gavin bahkan sering mengirim pesan pada Vero sehari tiga kali, sudah seperti minum obat saja. Bahkan sebelum tidur pun, Gavin juga menyempatkan diri mengirim pesan padanya.
Vero awalnya hanya membalas singkat, namun lama kelamaan, pesan dari Gavin menggelitik sanubarinya, ia mulai membalas semua pesan Gavin, tanpa ada satupun yang terlewat. Dan dari saling balas pesan, akhirnya mereka pun mulai memberanikan diri telfonan, hingga akhirnya berakhir vidio call.
Setelah hampir sebulan chatan, nelfon, vidio call. Akhirnya Gavin mulai memberanikan diri buat mengajak Vero ketemuan, Vero pun awalnya menolak, hingga ketiga kalinya Gavin mengajak, Vero mengiyakan, apalaagi saat itu ia emang lagi free dan gak ada kegiatan. Jadi ia mengiyakan permintaan Gavin buat ketemuan di resto.
Dan dari sanalah, Vero dan Gavin semakin dekat satu sama lain, hingga setiap seminggu sekali dua kali, Vero mengusahakan untuk bisa bertemu dengan Gavin. Di sela sela kesibukannya, Vero selalu menyempatkan waktu buat bertemu Gavin, memenuhi permintaan laki laki itu untuk bisa jalan bersama.
Tiga bulan setelah perkenalan mereka, Gavin mulai mengungkapkan perasaannya, namun Vero gak langsung menerimanya. Karena bagamaimanapun ia belum tau Gavin sepenuhnya, yang ia tau, Gavin adalah pemilik perusahaan tempat ia menjadi BA-nya. Gavin adalah pengusaha muda yang foto dan namanya selalu masuk dalam majalah bisnis. Hanya sekedar itu yang Vero tau.
HIngga akhirnya Vero juga kenal dengan Bagas, asisten pribadi dan tangan kanan Gavin. Namun saat Vero menanyakan beberapa hal kepada Bagas, Bagas hanya menjawab yang berkaitan dengan pekerjaan, tapi untuk masalah pribadi. Bagas memilih untuk bungkam.
Namun sejak Vero dekat dengan Gavin, Vero mulai mengakrabkan diri dengan Bagas juga, hanya saja Bagas sullit di mengerti, padahal Vero ingin mengetahui tentang GAvin pada Bagas. Sayangnya, Bagas seperti jaga jarak padanya dan selalu menghindar membuat Vero akhirnya lelah dan memilih untuk tak lagi mendekati Bagas untuk mencari informasi Gavin.
Vero mulai membaca identitas Gavin yang ada di medsos atau majalah, namun di semua akunnya ataupun di majalah yang beredar, tak ada yang membahas masalah kehidupan pribadi Gavin seperti membahas pacar atau istri. Itulah kenapa Vero merasa jika Gavin emang belum punya kekasih dan masih single.
Dan ketika Vero menanyakan langsung status Gavin pun, Gavin mengatakan ia masih sendiri dan belum menikah. Beberapa kali Vero menanyakan status Gavin, dan jawaban Gavin tetap sama, dia masih single dan belum menikah. Bahkan saat Vero datang ke perusahan GAvin buat kerja, ia gak mendengar gosip tentang Gavin yang memiliki kekasih, jadi Vero memutuskan jika Gavin emang masih sendiri. Dan Vero pun akhirnya mau menerima GAvin jadi kekasihnya.
Lagian Gavin juga selalu mengupload fotonya seorang diri, gak pernah mengupload foto wanita. Jadi, siapa yang akan mengira jika ternyata Gavin begitu pandai menutup pernikahannya dengan Anabelle. Bahkan di akun Anabelle pun juga gak ada foto Gavin atau foto laki laki lain. Fotonya hanya foto Anabelle itupun cuma berapa biji karena kebanyakan fotonya tentang pemandangan. Entah itu foto bunga atau foto hewan seperti kucing, kupu kupu dan yang lainnya.
Jadi gak akan yang menyangka jika Gavin, pengusaha muda ternama sudah menikah dengan Anabelle, pemilik Aplikasi Evta.
Selama Vero jadian sama Gavin, hidup Vero jadi lebih berwarna karena GAvin selalu mengirim perhatian padanya. Selalu menemani dirinya chatan di saat Vero merasa lelah dengan padatnya jadwal yang harus ia jalani.
Bahkan di sela-sela Vero istirahat di lokasi syuting, Gavin akan mengajaknya untuk vidio call, hingga Vero tak lagi kesepian bahkan rasa lelahnya pun seakan terobati karena gombalan receh yang di lakukan oleh Gavin.
Dan di saat Vero punya waktu senggang, Gavin akan mengajaknya untuk kencan, entah itu jalan jalan ke taman, pergi ke resto atau kafe, yang tempatnya sepi agar tidak ketahuan oleh publik karena bahaya jika ketahuan, apalagi jika ketahuan paparazi bisa bisa hubungan mereka akan menjadi konsumsi publik dan mereka gak mau itu terjadi.
Jadi setiap kali keluar, mereka pasti akan memakai kaca mata hitam, masker dan topi. Walaupun ribet, tapi setidaknya aman buat mereka berdua.
Saat jalan berdua pun, Gavin gak sibuk main hp, ia malah menaruh hpnya di saku. Bahkan saat mereka jalan jalan sampai malam pun tak ada yang menelfon Gavin, jika memang Gavin punya kekasih atau istri, bukannya hpnya pasti akan berbunyi berkali kali, tapi itu hp malah biasa aja, gak berbunyi sama sekali, jadi mana mungkin Vero merasa curiga. Jika tak ada satupun sikap GAvin yang membuat dirinya menaruh rasa curiga.
Gavin begitu tenang, tapi sayangnya ketenangan Gavin ternyata menghanyutkan. Diamnya Gavin, ternyata dia sudah berstatus suami orang. Bucinnya Gavin terhadapnya ternyata sudah punya wanita yang halal.
Rasanya Vero begitu bodoh karena mudah tertipu, andai Vero lebih keras lagi untuk mencari tau tentang Gavin, mungkin dirinya gak akan mengalami hal patah hati seperti ini. Ia gak akan menghancurkanp pernikahan Anabelle, wanita baik yang tak pantas untuk disakiti.