
Hari ini, Anabelle mengajak Alvaro bertemu dengan Farhan, selaku manager Veronica. Ia, Anabelle ingin mengikat Alvaro untuk menjadi model di perusahaannya dan jika bisa, Anabelle juga ingin mengikat Vero agar menjadi brand ambasador di perusahaan yang ia dirikan bersama ketiga sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Alvaro, Bagas dan juga Tasya.
Vero sendiri gak bisa datang karena ia ada syuting di luar kota, dan tentu ia pergi bersama dengan Verly selaku asisten pribadinya. Jadi pertemuan ini hanya di hadiri tiga orang, Anabelle, Alvaro dan Farhan.
Mereka mengobrol santai sambil menikmati makanan di resto, karena memang pertemuan itu di adakan di resto gak jauh dari perusahaan Anabelle. Dan pertemuan itu pun berlangsung selama satu jam lamanya, setelah selesai, barulah mereka makan makan dan mengobrol santai. Setelah selesai, Farhan pamit undur diri karena ia masih ada urusan lain setelah ini.
Dan kini hanya tinggal Anabelle dan juga Alvaro. Anabelle gak menyangka jika Alvaro akan mengontrak Veronika untuk menjadi brand ambasador dan model di perusahaannya. Yah, Vero sudah resmi menjadi brand ambasador Aplikasi Evta selama setahu ke depan dan tentu harganya pun sangat mahal karena saat ini Vero menjadi artis papan atas. Walaupun kini Anabelle dan Vero sudah jadi teman, tapi bisnis adalah bisnis, dan harga tetap berlaku sama seperti orang lain jika ingin mengontrak Vero untuk memakai jasanya.
"Makasih ya, Mas," ucap Anabelle. Entah sudah berapa uang yang di keluarkan oleh Alvaro dan semua itu menggunakan uang pribadinya.
"Sama-sama, setelah ini mau kemana?" tanya Alvaro.
"Ke kantor, emang kemana lagi, ini kan masih jam kerja," jawabnya sambil minum jus apel yang masih sisa setengah.
"Kamu gak bosen kerja terus?" tanyanya.
"Enggak, aku malah seneng tuh. Ya walaupun kadang capek juga sih kalau duduk berjam-jam, tapi puas rasanya kalau hasilnya bikin aku seneng. Oh ya nanti sore ada pertemuan dengan investor dari perusahaan Alexander. Kalau kamu gak sibuk ,nanti temenin aku ya."
"Jam berapa, kalau jam tiga aku gak bisa, aku ada rapat soalnya, dan gak bisa di gantikan sama siapapun."
"Jam setengah lima kok. Kamu rapat sampai jam berapa?"
"Jam empat, masih ada waktu buat nemenin kamu."
"Ya, aku sebenarnya kurang percaya diri kalau sendirian, makanya aku butuh bantuan Mas Al terus. Semoga Mas Al gak bosan ya, gara-gara aku minta tolong terus."
"Enggak papa, santai aja. Lagian kan aku juga punya saham di perusahaan kamu, dan sudah sewajarnya aku ikut terjun sendiri membantu kamu. Toh kalau perusahaan berjalan lancar dan untung banyak, aku juga yang seneng," jawabnya dan itu membuat hati Anabelle lega.
Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba seseorang datang dan menarik tangan Alvaro dengan kasar, lalu dia memukul pipi Alvaro dengan kencang hingga membuat Alvaro jatuh, bahkan di sudut bibirnya ada darah karena sangking kencangnya pukulan itu.
Anabelle menatap seseorang itu dengan tatapan tajam.
"Apa-apaan kamu, Mas!" bentak Anabelle, ya pria itu adalah Gavin. Dia datang ke resto ini buat makan, namun siapa sangka, ia malah bertemu Anabelle yang tengah duduk berdua dengan seorang laki-laki.
"Jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku, hah?!" teriak Gavin tak terima karena dirinya merasa dikhianati.
"Kenapa? Kamu cemburu. Kamu lihat aku dan Mas Al aja, kamu sampai segitunya. Lalu bagaimana dengan hati aku. Saat tau kamu pacaran sama wanita lain. Kamu jalan dengannya, liburan berdua, bahkan kamu tidur bersamaya dengan satu ranjang. Kamu gak mikir gimana perasaan aku?" tanyanya dengan sinis.
"Enggak usah sok suci kamu. Jangan berlagak kamulah korban di sini. Karena kebenarannya kamu itu adalah pelaku utama yang membuat smemuanya jadi kacau. Kamu yang buat hati aku hancur-sehancur hancurnya. Kamu yang buat aku pergi dari rumah itu. Dan lagi, Mas Al itu bukan selingkuhan aku. Dia adalah rekan kerja aku. Kami ada meeting di sini, kamu lihat di sini ada tiga gelas. Yang artinya, aku tidak hanya berdua dengan Mas Al. Tapi gak papa, setidaknya dengan kelakuanmu yang seperti ini, membuat aku yakin untuk berpisah denganmu," ucap Anabelle lalu dia mengajak Alvaro pergi dari sana membuat Gavin meradang sekaligus merasa bersalah karena sudah menuduh istrinya sembarangan. Padahal ia gak tau apa-apa di sini, ia hanya salah faham.
Gavin melihat sekitarnya yang melihat ke arahnya, karena takut ada yang merekam, Gavin segera pergi dari sana. Di dalam mobil, ia mengamuk, ia merasa bersalah karena sudah menuduh istrinya, merasa bersalah karena memukul orang tanpa cari tau dulu kebenarannya.
Dan benar apa kata Anabelle, dialah pelaku utama di sini. Melihat Anabelle bersama wanita lain, ia sudah terbakar rasa cemburu, lalu bagaiman dengan perasaan Anabelle saat tau dirinay menjalin hubungan dengan wanita lain. Pantas jika Anabelle memilih meninggalkannya, mungkin karena hatinya pun sudah terlanjut sakit karena ulahnya.
Akan tetapi, Gavin gak mau jika Anabelle sampai menggugat cerai dirinya. Bagaimanapun ia masih ingin mempertahankan pernikahannya, ia masih mencintai Anabelle dari dulu samapi sekarang. Tapi ia juga tak bisa meninggalkan Vero, karena ia pun terlanjur mencintainya.
Pak Arman yang melihat Gavin menangis pun hanya bisa diam, ia hanya seorang sopir, jadi ia gak akan buka suara apalag ikut campur masalah majikannya itu.
"Hubungan aku dan Anabelle aja sampai detik ini masih gak baik, dan aku bikin masalah lagi. Pasti Anabelle semakin membenci aku," ucapnya sambil menangis. Hatinya begitiu sakit saat ia menyadari kesalahan yang ia lakukan.
Sedangkan di tempat lain, Anabelle merasa bersalah karena membuat Alvaro terluka karenanya. Di jalan, Anabelle meminta untuk berhenti di apotik, dia membeli obat untuk meredam rasa sakit yang Alvaro rasakan saat ini.
"Maafin aku ya, Mas. Aku gak tau kalau Mas Gavin akan datang tanpa aku sadari. Aku benar-benar menyesal, semua ini terjadi karena aku. Andai aku gak ngajak Mas Al ketemuan di sana, mungkin Mas Gavin gak akan sampai menyakiti Mas Al seperti ini." Anabelle menangis, ia mengusap pipi Al yang terlihat bengkak dan lagi ia juga membersihkan darah di sudut bibirnya itu. Mungkin besok pagi, sakitnya akan semakin terasa dan bengkat itu akan semakin terlihat.
"Jangan merasa bersalah, lagian yang mukul aku itu Gavin. Bukan kamu. Wajar juga jika dia marah lihat kamu yang masih status istrinya, duduk berdua dengan pria lain. Dan ini pertama kali aku lihat suami kamu itu. Dia pengusaha muda yang selama ini selalu di agung-agunkan kan? Dan beberapa bulan terakhir ini beritanya juga sering bermunculan karena pabriknya terbakar."
"Ya. Pabriknya terbakar saat aku masih ada di Paris. Namun aku gak peduli akan hal itu. Bahkan Mas Bagas yang dulu menjadi asisten dan tangan kanannya pun juga ikut gak peduli dan malah memilih aku dari pada Mas Gavin. Mungkin Mas Bagas juga muak berkerja ke orang yang hanya memikirkan hawa nafsu. Mas Bagas cerita, dulu ia yang sering menghandle perusahaan karena Mas Gavin suka keluar, ya apalagi kalau bukan menemui pacarnya itu."
"Ya, kamu pasti sakit hati banget kan dengan perselingkuhan suamimu itu. Tapi kamu tau dari mana suamimu selingkuh?"
"Aku membayar orang untuk mengikuti kemanapun Mas Gavin pergi, dan setelah bukti terasa cukup, barulah aku membawa bukti itu ke depan Mas Gavin, sayangnya Mas Gavin mengelak walaupun pada akhirnya ia jujur, namun tetap saja dia gak bisa memilih antara aku dan wanita selingkuhannya itu. Dan yang bikin aku kesal, saat aku pergi, dia malah pergi ke apartemen wanita itu dan tidur bersamanya."
"Astaga, lalu kenapa kamu masih belum menggugat cerai suamimu?" tanya Alvaro penarasan, sesekali ia meringis saat Anabelle mengobatinya agak kasar, mungkin wanita itu merasa kesal, hingga gak sadar menekan lukanya.
"Karena aku punya rencana, itulah kenapa aku mempertahankan dia sampai detik ini. Tapi cepat atau lambat, aku pasti akan menggugat cerai Mas Gavin, karena aku pun gak tahan untuk terus menyandang istrinya. Untungnya juga pas nikah gak pakai pesta mewah, jadi hanya orang orang tertentu sajaa yang tau jika aku ini istrinya Mas Gavin. Mungkin kalau tau akan heboh sejagat raya mengingat Mas Gavin juga sama populernya seperti seorang artis." ucapnya menjelaskan.
"Kamu tau berarti selingkuhannya itu siapa?" tanya Alvaro penasara.
"Tau."
"Siapa?" tanyanya.
"Rahasia,"jawabnya terkekeh.
"Tapi yang jelas Mas Al kenal dengan orangnya," lanjutnya membuat Alvaro mengernyitkan dahi, mencoba untuk menebak siapa kira kira wanita selingkuhan Gavin itu.
"Sudahlah, jangan di fikirkan, ayo kita kembali ke perusahaan. Lagian Mas Al juga harus kembali ke kantor, kan?" ujarnya.
Dan Alvaro pun menganggukkan kepala. Setelah selesai di obati, Alvaro menjalankan mobilnya, ia pergi ke Perusahaan Evta untuk mengantarkan Anabelle dan setelah itu, tanpa turun lebih dulu, ia langsung pamitan untuk pergi kekantornya sendiri.
"Hati-hati ya, Mas."
"Iya, kamu juga kalau ada apa-apa, hubungi aku."
"siap."
Dan setelah itu, Alvaro pun pergi dari sana. Anabelle berjalan memasuki gedung yang menjadi tempat dia mendirikan perusahaan itu, gedung milik Alvaro tentunya yang ia sewa untuk beberapa tahun ke depan. Saat ia memasuki pintu utama, dua satpam yang berjaga menundukkan kepalanya sambil memukakan pintu. Yah, dua satpam itu adalah kiriman Alvaro, biar gak sembarangan orang bisa masuk dan bikin masalah.
Hemm ... jika di fikir fikir kembali, Alvaro itu sudah seperti malaikat buatnya, apapun yang dia inginkan, tanpa mengucap dua kali. Alvaro pasti akan mengabulkannya.