
Keesokan harinya, Tasya dan Anabelle memasak bareng untuk sarapan pagi. Setelah selesai makan, mereka segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan.
Hari ini bagian Anabelle yang menyetir, sedangkan Tasya duduk di sampingnya.
"Kamu tau kabar Vero gak?" tanya Anabelle.
"Vero? Enggak tuh. Sudah lama dia gak ada kabar, kek menghilang gitu. Bahkan dia juga sudah lama gak main sosial media. Semua sosmednya of."
"Hmm ..kok seperti Mas Gavin ya. Mas Gavin juga kan, dia kayak menghilang gitu. Semua sosial medianya juga ikut menghilang. Bahkan nomernya juga sudah gak aktiv. Waktu aku nelfon Mama Vina, katanya sudah lama mereka gak saling komunikasi. Terakhir, Mas Gavin mengirim sejumlah uang ke rekening Mama Vina dan Papa Galang, lalu setelah itu, menghilang."
"Apa jangan-jangan mereka menjalani hubungan lagi dan menikah?" tebak Tasya.
"Tapi kalau menikah, kok kita gak tau?" tanya Anabelle.'
"Mungkin mereka menikah diam-diam sama seperti kamu dan mantan suami kamu itu. Jadinya gak ada yang tau. Kecuali orang terdekat."
"Hmmm ..."
"Lagian kamu kenapa tiba-tiba kefikiran sama Vero?"
"Ya gak ada sih, cuma kefikiran aja. Soalnya aku lihat dia sudah lama gak upload foto di ignya. Terus dia kan masih terikat kontrak sama kita,"
"Bener juga. Tapi jika waktunya upload foto dan vidio, aku yakin. Vero pasti menepati janjinya. Kita liat aja nanti jika waktunya sudah tiba."
"Hmm ... kamu masih punya nomer Verly, asisten Vero?" tanya Anabelle lagi.
"Enggak, malah dari awal aku gak nyimpen nomernya. Lagian aku denger-denger, Verly sudah gak kerja lagi sama Vero. Dia sekarang buka warung di pinggir jalan."
"What! Kamu serius?" tanya Anabelle.
"Yakali aku boong."
"Emang dia buka di daerah mana?"
"Di jalan semboyan, tapi tepatnya di mana aku gak tau."
"Apa nanti sore kita kesana sepulang kerja?"
"Buat apa?"
"Ya gak ada, pengen bersilatur rahmi aja, sekalian nyobaik makanannya."
"Sama nanya-nanya tentang Vero, kan? Kamu kepo kan sama kehidupan Vero. Kamu takut kan kalau mereka menikah?" tebak Tasya dan Anabelle pun diam. Karena memang kenyataannya ia juga sedikit kepo sama kehidupan mereka berdua.
"Anabelle, please. Tolong lupain mereka. Dan jika pun benar, Vero dan Mas Gavin itu menikah. Itu bukan lagi urusan kamu. Karena kamu dan Mas Gavin itu sudah bercerai. Dan kamu sudah gak punya hak buat melarang mereka untuk menjalani hubungan lagi. Lebih baik kamu fokus sama masa depan kamu, kamu fokus sama Mas Al. Aku rasa Mas Al itu orang yang sangat baik, tulus, setia dan juga sabar. Aku yakin, kamu akan bahagia bersamanya," ucap Tasya yang merasa gregetan sendiri dengan sahabatnya itu. Kenapa setelah bercerai, Anabelle sangat kepo sama kehidupan Vero dan mantan suaminya.
"Huefft jujur aku bingung sama perasaan aku sendiri, Sya. Aku bahkan tidak mengerti apa yang aku mau," balas Anabelle menghela nafas.
"Sekarang gini aja deh, setiap kali kamu ingat mereka, coba kamu alihkan fikiran kamu. Dan usahakan jika kamu dan Mas Al ada waktu, sering-seringlah jalan bareng, aku yakin cepat atau lambat rasa suka kamu ke Mas Al akan semakin bertambah."
"Hmm ... akan aku coba. Oh ya mengenai hubungan kamu sama Bagas gimana?"
"Aku gak tau, tapi aku akan jujur sama Mas Bagas, jika aku sudah di jodohkan. Jika dia menyerah, aku akan menerima perjodohan itu. Tapi jika Mas Bagas mau berjuang, maka akan aku dukung. Aku akan berjuang bersamanya agar bisa mendapatkan restu dari orang tua aku terutama Papaku."
"Sip aku setuju denganmu."
Mereka terus mengobrol sepanjang jalan hingga tak terasa, mereka sudah sampai di depan kantor. Anabelle dan Tasya segera turun dari mobil setelah memarkirkan mobil mereka ke parkir VVIP. Dimana di parkiran itu hanya khusus mobil miliknya, mobil Alvaro dan mobil Bagas. Sedangkan untuk karyawan ada tempatnya tersendiri. Sehingga tidak campur jadi satu.
Saat Tasya dan Anabelle memasuki kantor, mereka melihat Bagas yang tengah berbincang dengan Alvaro. Anabelle dan Tasya saling pandang, lalu mereka menghampirinya.
"Mas Al, tumben jam segini sudah ada di sini?" tanya Anabelle.
"Hemm aku kangen sama kamu."
"Baru juga kemaren ketemu," balas Anabelle.
"Ya, namanya orang kangen. Bahkan jika terakhir ketemu sepuluh menit yang lalu pun, kalau sudah kangen ya pengen ketemu lagi. Kalian kok siang berangkatnya?" tanya Alvaro.
"Iya, tadi pagi masih ke pasar, jalan kaki. Terus masak bareng. Lalu sarapan bareng, lalu mandi, siap-siap. Baru deh berangkat, terus tadi di jalan juga sedikit macek di lampu merah, jadinya datangnya telat." sahut Anabelle.
"Enak ya kalau tinggal bersama, bisa bareng terus," ujar Bagas.
"Makanya kamu cepat nikahin Tasya, biar kalian juga bisa tinggal satu atap, dan bisa melakukan sesuatu barengan," sindir Anabelle.
"Aku sih pengennya cepet-cepet nikah, tapi sahabat kamu ini, masih gantungin aku, belum ngasih jawaban pasti," tutur Bagas sambil melihat ke arah Tasya yang sedari tadi diam.
"Kamu jangan mengurus hubungan mereka, aku sendiri juga sampai detik ini masih kamu gantung loh yank," papar Alvaro sambil menatap ke arah Anabelle. Ia sengaja manggil yank, biar terlihat semakin akrab. Anabelle yang di tatap seperti itu pun merasa gugup. Apalagi ia seperti di skakmat oleh Alvaro.
"Mending kita ngomong di ruangan kamu yuk," ajak Anabelle sambil memegang tangan Alvaro dan pergi dari sana. Alvaro yang di tarik tanganya pun hanya bisa mengalah. Ia mengikuti langkah Anabelle yang berjalan memasuki ruangannya sendiri.
Kini hanya tinggal Bagas dan Tasya.
"Ada yang ingin aku omongin, Mas," ucap Tasya.
"Mau ngomong apa?" tanya balik Bagas.
"Kita ngomong di ruangan kamu aja yuk. Aku takut ada yang denger kalau ngomong di sini, gak enak sama yang lain. Bahas pribadi di kantor," ajak Tasya dan Bagas pun mengangguk setuju. Lalu mereka berjalan menuju ruangan Bagas.