
Saat mereka sudah dekat, Anabelle menyapa Vero tanpa melirik ke arah Gavin. Sedangkan Tasya, diam-diam menatap Gavin dengan sinis, Tasya bahkan bisa melihat Gavin terlihat sangat gugup sekali. Andai ia tak menghormati keingingan Anabelle, sudah dari tadi ia memukul Gavin habis-habisan, tanganya pun sudah sangat gatal ingin menonjok wajah tampannya itu.
"Hello Vero, aku gak menyangka kita akan bertemu lagi di resto, walaupun di resto yang berbeda," ucap Anabelle sambil berjabat tangan dengan Vero. Tasya pun melakukan hal yang sama.
"Aku gak menyangka, dunia ini terasa begitu sempit ya, sampai kita seringkali bertemu di beberapa tempat," balas Vero terkekeh.
"Ya begitulah cara takdir bekerja Vero, ada kalanya pertemuan-pertemuan kita yang tak sengaja ini, Tuhan punya maksud tertentu, hanya saja kita belum tau apa," sindir Anabelle sambil sedikit menatap ke arah Gavin yang semakin gugup.
"Haha, ya. Aku juga yakin, tak mungkin Tuhan mempertemukan kita begitu saja, tanpa ada maksud apa-apa. Tapi biarlah semuanya berjalan seperti air, mungkin nanti kita akan mengetahui apa maksud Tuhan mempertemukan kita terus menerus, padahal kita gak janjian. Atau mungkin hati kita yang terikat?" godanya membuat Anabelle tersenyum.
"Ya kita hati terikat sehingga tanpa sadar membuat langkah ini terus saling mendekat," jawab Anabelle terkekeh.
"Kamu gak ada syuting, Ver?" tanya Tanya Tasya yang sedari tadi diam.
"Aku hari ini free, jadi aku ingin menghabiskan waktuku bersama pacarku. Rencananya kami akan pergi ke Villa yang ada di Bandung," balasnya membuat Gavin semakin pucat karena Vero mengatakan rencana mereka.
"Wah kalian sudah pacaran cukup lama?" tanya Tasya antusias, padahal ia hanya berpura pura saja.
"Iya sudah satu tahun lebih. Oh ya, jika kalian mau, kita bisa sarapan pagi bersama. Aku juga kebetulan baru datang dan belum pesan apa-apa," tutur Viro sopan.
"Tapi apa pacarmu itu tidak keberatan?" tanya Anabelle sambil menatap ke arah Vero dan Gavin bergantian.
"Sayang gak papa kan? Ini Anabelle, yang punya Aplikasi Evta. Aku menjadi brand ambasador di perusahaannya. Bukannya kamu kemaren memaksa meminta nomernya Ana, untuk kerjasama. Bisa jadi pertemuan kita ini, memudahkan kamu dan Ana untuk bisa menjalin kerja sama," ucap Vero hati-hati.
"Lagian masih ada dua kursi yang kosong, aku fikir makan bersama-sama pasti akan semakin seru dan menyenangkan," lanjut Vero tanpa tau apa yang di rasakan oleh Gavin saat ini.
Dengan berat hati, Gavin mengangukkan kepala, karena ia gak mungkin menolak dan membuat Vero curiga.
"Tuh kan, pacarku setuju. Ayo sini dudu Ana, Tasya," ujar Vero membuat Anabelle dan Tasya pun duduk di samping mereka. Anabelle duduk samping Gavin dan Tasya duduk di samping Vero. Jadi posisinya Vero dan Gavin duduk berhadap-hadapan, Tasya dan Vero duduk berhadap-hadapan tapi mereka satu meja.
"Makasih ya, Ver," tutur Ana tersenyum ramah.
"Sama-sama. Aku senang bisa makan rame gini, jadi gak sepi. Oh ya, kalian pesen apa?" tanya Vero.
Anabelle, Tasya mengambil buku menu yang ada di meja dan membukanya, mencari menu yang tepat buat sarapan pagi mereka. Vero pun melakukan hal yang sama, begitupun Gavin.
Setelah mereka tau apa yang ingin mereka pesan, barulah Vero memanggil pelayan buat mencatat semua pesanan mereka, tak lupa masing masing dari mereka memesan menu terbaru sebagai menu tertutupnya.
"Kalian emang sering sarapan pagi di resto?" tanya Vero.
"Enggak, biasanya kami makan di rumah tapi emang sesekali makan di luar kalau kepengen," jawab Tasya.
"Kami, emang kalian tinggal bareng?" tanya Vero penasaran.
"Ya," jawab Tasya.
"Wah sama seperti aku dan Verly ya?" tanya Vero lagi.
"Ya begitulah."
"Kalian sudah lama sahabatan?" tanya Vero lagi, ia merasa penasaran dengan kisah persahabatan mereka berdua.
"Cukup lama, tapi mulai tinggal bareng saat Anabelle kabur di Paris beberapa bulan yang lalu," ujar Tasya.
"Kabur kenapa?" tanya Vero. Sebenarnya ia gak boleh penasaran dengan kehidupan orang lain dan ia juga bukan type orang yang kepo. Tapi entah kenapa, ia merasa ingin tau kehidupan Anabelle dan Tasya.
"Suami Ana selingkuh," jawab Tasya membuat Vero terbelalak kaget.
"Anabelle sudah menikah? Aku fikir Anabelle tengah PDKT dengan Alvaro," ucap Vero, sungguh ia benar-benar gak menyangka jika Anabelle sudah menikah, karena ia beberapa kali ketemu Anabelle, Anabelle selalu bersama dengan Alvaro, dan itupun mereka terlihat sangat dekat dan seperti saling menyukai.
"Iya Anabelle sudah cukup lama menikah, tapi memang pernikahannya tertutup karena Anabelle bukan type orang yang suka berada dalam keramaian, ia juga gak mau misal orang-orang mengetahui status dia sebagai istri dari pengusaha kaya raya. Ia lebih nyaman dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga tanpa ada embel-embel lain. Tapi sayangnya, suaminya selingkuh."
"Astaga," Vero terkejut sambil melihat Anabelle yang santai aja saat Tasya tengah membicarakan dirinya, berbeda dengan Gavin yang sudah panas dingin, ia takut jika Tasya akan memberitahu jika Gavinlah suami Anabelle.
"Kok bisa, padahal Anabelle cantik gini, kenapa masih di selingkuhin?" tanya Vero tak mengerti.
"Entahlah, aku juga gak tau."
"Terus selingkuhannya gimana?" tanya Vero.
"Selingkuhannya sangat cantik dan juga terkenal, dia baik dan juga sangat ramah," jawab Anabelle yang sedari tadi diam, di jadikan bahan gosip.
"Awalnya enggak, tapi sekarang sudah kenal akrab," sahut Anabelle.
"Terus kamu gimana, kamu melabrak selingkuhannya itu, gak?" tanya Vero lagi. Ia sampai lupa pada Gavin karena terlalu serius mendengarkan cerita Tasya dan Anabelle.
"Aku gak bisa, Ver."
"Kenapa?"
"Karena kekasih suamiku tidak tau, jika dia pacaran sama pria beristri. Suamiku mungkin mengatakan dia single hingga wanita itu mempercayainya begitu saja tanpa mencari lebih jauh lagi. Namanya cinta, pasti wanita itu akan dengan sangat mudah mempercayainya. Jika pun aku ingin marah, maka orang yang akan mendapatkan amarahku cukup suamiku saja, bukan kekasihnya. Karena jika wanita itu tau, siapa pacarnya dan apa statusnya, aku yakin, dia pasti akan memilih pergi dari pada mempertahankan hubungannya dan membuat wanita lainnya menderita."
"Kamu sangat baik, An. Aku bahkan tak pernah menemukan wanita sebaik kamu. Andai aku jadi posisimu, mungkin aku akan meradang dan akan memukul mereka berdua karena sudah menyakitiku. Tapi kamu memilih untuk diam."
"Ya, aku memilih untuk diam dan pergi dari rumah itu untuk menenangkan hatiku."
"Terus kamu gak berniat untuk menceraikannya?" tanya Vero.
Anabelle menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin menggantungkan statusnya aja, sampai aku bosan maka aku akan memilih untuk menceraikannya."
"Bukankah dengan kamu menceraikannya dengan segera, kamu bisa lepas darinya dan mencari cinta yang lain?"
"Ya, seharusnya begitu. Tapi aku masih ingin mempertahankannya."
"Apakah kamu masih mencintainya?"
"No. Sedikitpun rasa cinta itu sudah tidak ada di dalam hati aku. Buat apa mencintai laki-laki tukang selingkuh, itu hanya akan buang-buang waktu saja. Aku bahkan bisa mendapatkan lebih dari laki-laki itu. Hanya saja, aku kasihan sama kekasihnya yang sampai detik ini masih terus di bohongi. Entah bagaimana hancurnya nanti saat tau jika laki-laki yang ia cintai sudah membohonginya begitu lama. Aku juga takut masa depan wanita itu hancur karena orang-orang menganggapnya sebaga pelakor atau perusak rumah tangga orang tanpa tau apa yang terjadi."
Saat mereka tengah mengobrol, pesanan mereka pun datang. Dua pelayan menaruh makanan dan minuman itu di atas meja.
"Ayo, Mas. Kita makan, setelah itu kita harus segera berangkat agar sampai sana tidak terlalu siang," ucap Vero antusias. Ia melihat wajah Gavin yang ternyata tengah pucat.
"Mas Gavin sakit?" tanya Vero, mendengar kata sakit. Tanpa sadar Anabelle dan Tasya menoleh ke arah Gavin.
"Enggak kok, mungkin cuma kurang tidur aja, karena tadi pagi aku tidur jam setengah empat pagi terus bangun jam setengah tujuh. Jadi aku cuma tidur bentar."
"Astaga, Mas Gavin kenapa sih suka banget begadang. Seharusnya Mas Gavin itu juga memikirkan kesehatannya, bukan cuma pekerjaan terus menerus. Kalau sakit gimana, aku gak bisa mengurusnya loh karena jadwal aku padat banget. Aku mungkin hanya bisa sesekali aja datang menjenguk, tapi bisa ada di samping Mas Gavin dua puluh emapt jam."
"Iya, aku gak akan begadang lagi ke depannya. Ayo kita makan, lalu berangkat," tangkas Gavin yang tak ingin lama-lama berada di sini. Ia gak sanggup, menjadi objek pembicaraan mereka.
"Okay."
Vero pun segera menghabiskan makanannya tanpa bersuara, begitupun dengan Anabelle dan Tasya. Gavin sendiri, sebenarnya ia sudah tak berselera untuk makan, namun ia tetap memaksanya agar makanan itu masuk dalam perutnya.
Selesai makan, Vero mengatakan jika makanan kali ini akan di bayar olehnya, bukankah sebelumnya Vero juga sudah berjanji akan mentraktir Anabelle. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat jika Vero menepati janjinya.
Setelah membayar makanan dan minumannya, Vero pun pamitan untuk pergi lebih dulu. Anabelle dan Tasya pun mengiyakan saja, toh mereka gak buru-buru seperti Vero dan Gavin.
Sedangkan Gaavin hanya diam sedari tadi, sambil sesekali matanya melirik ke arah Anabelle yang bersikap biasa aja.
Setelah kepergian Vero dan Gavin, Tasya menatap Anabelle.
"Kamu gak papa?" tanya Tasya.
"Emang aku kenapa?" tanya Anabelle.
"Kamu gak sakit hati melihat suamimu dengan Vero?"
"Enggak tuh, biasa aja. Yuk pulang, sudah kenyang, kan?" tanya Anabelle sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, aku puas dengan makanannya tadi, sangat enak. Lain kali kita harus makan di sini lagi bareng Mas Bagas dan Mas Al."
"Aku setuju, sepertinya makan berempat jauh lebih enak dan lebih seru dari pada berdua."
Lalu Anabelle dan Tasya pun segera pergi dari resto itu untuk segera pulang ke rumah dan bersih-bersih, mumpung hari MInggu, jadi waktunya mereka membersihkan rumah dan setelah itu mereka bisa rebahan seharian, menikmati hidup.