Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Alvaro Marah Besar



Selesai mandi, Anabelle sudah bersiap-siap, ia juga sudah mempacking bajunya ke dalam koper, tak banyak yang di bawa. Karena ia hanya menginap satu Minggu aja, selain baju-baju dan perlengkapan lainnya, Anabelle juga membawa makeup, parfum, dan laptop.


Sedangkan tas kecil hanya berisi hp, dompet yang berisi uang cash, dan beberapa kartu ATM, KTP, SIM dan yang laiinnya.


"Aku pesan tiket pesawat, atau tiket kereta ya?" tanyanya pada diri sendiri.


"Atau aku naik bus aja?" tanyanya lagi, bingung.


"Apa aku naik mobil aja ke sana. Kan lumayan sekalian jalan-jalan, dan bisa mampir-mampir juga ke resto, kafe, mall, taman dan wisata lainnya." ujarnya lagi yang masih duduk santai, koper dan tas kecil sudah ada di hadapannya.


"Aku cek dulu deh, kalau naik mobil ke Jember, berapa jam."


Anabelle pun membuka Hpnya, dan melihat jarak Jakarta to Jember.


"Wow, 951,6 kilometer. Jauh banget, dan aku harus lewat Jalan Tol Salatiga-Kertosono."


"Tiga belas jam, dua belas menit nyampeknya. Kalau aku berangkat jam tujuh pgi, berarti nyampek rumah sekitar jam delapan malam, misal aku ngebut dan gak berhenti ke kafe, resto dan Mall apalagi wisata lainya, perkiraan, Maghrib sudah ada di Jember. Tapi kalau gak berhenti, bisa panas ini bokong, belum lagi aku harus ngisi bensin dan yang lainnya," gumam Anabelle yang masih mikir, enaknya naik apa.


"Baiklah, aku pakai mobil aja deh. Kalau capek aku bisa nginep di hotel, dan lanjut besok pagi lagi," tuturnya dan akhirnya keputusan terakhir, ia akan mengendarai mobil sendiri.


Anabelle memasukkan kopernya ke bagasi, sedangkan tas kecil ia taruh di dasbor depan. Tak lupa, Anabelle mengecek semuanya, seperti kompor, kran air, kulkas, AC dan yang lainnya. Jendela dan pintu juga harus di pastikan sudah tertutup rapat. Setelah mengecek sampai dua kali, barulah ia mulai masuk ke dalam mobil. Setelah tanpap gas, Anabelle pun segera berangkat dari rumah, tepat pukul tujuh pagi.


Sepanjang jalan, Anabelle mendengarkan musik kesukaannya. Namun baru satu jam perjalanan, ia baru sadar, jika dirinya belum sarapan. Akhirnya ia pun mencari resto terdekat untuk mengisi perutnya.


Di resto, Anabelle duduk santai sambil menikmati makanannya, sesekali, ia membalas chat yang masuk. Setelah lima belas menit berada di resto, dan dirinya sudah kenyang, barulah ia melanjutkan perjalanann. Namun baru empat puluh lima menit, ia berhenti ke pom untuk mengisi bahan bakar.


Tak perlu ngantri lama, karena di pom ini cukup sepi, jadi prosesnya pun cepat. Lalu ia melanjutkan perjalanannya lagi. Saat melewati jalan tol, ia menggunakan kecepatan 100km/jam.


Saat Hpnya berbunyi, Anabelle mengabaikannya, karena ia fokus mengemudi. Barulah jam dua, ia sudah sampai di Yogya. Akhirnya, ia memilih untuk cari kafe, untuk makan siang. Sekalian ngisi bensin lagi. Anabelle gak menyangka, padahal ia memperkirakan sampai Yogya, jam tiga sore, tapi ini satu jam lebih awal.


Di kafe, barulah, Anabelle melihat hpnya dan ternyata ada telfon dari Mama.


Sambil menunggu makanan tiba, barulah Anabelle menelfon Mamanya balek.


"Halo, Ma," sapa Anabelle lebih dulu sambil menaruh hpnya di telinga karena memang tidak pakai VC, cuma nelfon biasa.


"Kamu beneran pulang?" tanyanya.


"Iya, ini aku sudah di Yogya, istirahat bentar, beli makan. Mungkin aku sampai jam tujuh atau paling lambat jam delapan."


"Kamu naik apa?"


"Mobil, Ma."


"Terus siapa yang nyetir?"


"Ya aku."


"ASTAGFIRULLAH ANABELLE," teriak sang mama membuat Anabelle kaget sampai harus menjauhkan hpnya dari telingannya.


"Ada apa sih, Ma? Sakit telinga aku?" tanyanya kesal.


"Kamu itu loh. Kenapa nyetir sendiri. Jakarta-Jember itu jauh, Nak. Ya Allah ... Kenapa gak naik pesawat, kereta atau bus?" tanyanya.


"Ya gak papa, aku pengen nyetir sendiri aja," ucapnya santai.


"Ya Allah Ya Rabbi. Punya anak satu, kok sering bikin aku jantungan," keluh sang Mama.


"Apaan sih, Ma. Aku kan cuma nyetir, bukan loncat dari atas jurang. Santai ajalah, nanti juga aku pasti sampai."


"Terserah kamulah, jika sampaiĀ  kamu kenapa-napa, tak bejek-bejek kamu sama Mama kalau sampai rumah."


"Iya, hati-haati nyetirnya. Banyak-banyak baca doa. Kalau capek, atau ngantuk, berhenti. Jangan di lanjutin."


"Iya, Ma. Aku matikan ya."


"Iya."


Dan setelah itu, Anabelle pun menaruh Hpnya di meja dan Anabelle pun mulai menyantap hidangannya yang ada di hadapannya.


Anabelle sangat menikmati makanan yang ia pesan, rasanya sangat enak dan pas di lidah.


Selesai makan, Anabelle tidak langsung pergi. Ia masih duduk santai sambil main Hp. Toh minumannya juga masih sisa setengah.


Saat Anabelle memainkan Hpnya, ia ingat dengan Alvaro, ia pun mengirim pesan.


"Lagi apa?" tanyanya.


Dan tak lama kemudian, pesan pun di balas.


"Ini lagi ada di kamar, lagi santai. Sambil menyiapkan berkas buat meeting nanti. Kamu sudah sampai?" tanyanya balik.


"Belum."


"Kok lama?"


"Iya aku bawa mobil sendiri soalnya."


Dan tak lama kemudian ada vidio call masuk. Anabelle pun langsung mengangkatnya.


"Apa maksud kamu bawa mobil sendiri?" tanyanya dengan raut yang sulit di tebak.


"Ya aku nyetir sendiri dari Jakarta ke Jember."


"Astaga. Kenapa nyetir sendiri ANABELLE?" Alvaro menekan kata Anabelle, dan itu artinya saat ini ia tengah kesal dan emosi.


"Ya gak papa, pengen nyetir sendiri aja. Lagian aku gak kenapa-napa kan?"


"O my god! Kenapa kamu nakal sekali, apa susahnya kamu pesan tiket, naik kereta atau pesawat. Kenapa harus nyetir sendiri. Ya Tuhan, jarak Jakarta ke Jember itu gak deket, An. Belasan jam. Kenapa kamu nekat?" tanyanya memarahi Anabelle.


"Ya, aku pengen aja, nyetir sendiri sambil menikmati perjalanan. lagian kalau aku capek, aku berhenti kok."


"Sekarang kamu ada di mana?"


"Yoyga."


"Hhhh ... " Alvaro seperti menghela nafas kasar. Ia kecewa dengan keputusan yang Anabelle pilih untuk menyetir sendiri. Bagaimanapun Alvaro gak mau Anabelle kenapa-napa.


"Mas Al tenang aja. Aku jamin, aku akan selamat sampai rumah Mama. Kalau aku capek, aku pasti istirahat kok dan gak akan lanjutin perjalanannya. Jadi jangan khawatir."


"Aku gak tau harus ngomong apalagi!"


Dan setelah itu, Alvaro pun mematikan hpnya secara sepihak dan membiarkan Anabelle mengerutkan dahinya.


"Kok malah di matiin?" tanyanya.


Setelah Anabelle nelfon lagi, nomernya sudah tak lagi bisa di hubungi.


"Astaga, dia pasti marah besar nih. Jangan-jangan Hpnya di banting. Huh, aku yang nyetir santai-santai aja, kenapa malah Mama dan Mas Al yang ribet." gerutunya kesal.


Akhirnya ia menaruh hpnya di dalam tas dan langsung bayar pesanannya barusan. Baru melanjutkan perjalannya menuju Jember.