
Di jalan, Vero menatap Gavin sedari tadi. Gavin yang di tatap sampai segitunya pun merasa risih.
"Ada apa, Sayang?" tanya Gavin lembut.
"Mas, Mas belum punya istri, kan?" tanyanya.
"Kok nanyanya gitu?" tanya Gavin berusaha untuk tak memperlihatkan rasa gugupnya.
"Aku hanya takut aja, Mas. Aku takut Mas sudah menikah dan aku ini hanya selingkuhan kamu saja. Mendengar cerita Anabelle tadi, membuat aku menjadi takut dan was-was."
"Jangan terlalu di fikirkan, setiap orang pasti punya cerita beda-beda, dan mana mungkin aku menjadikan kamu selingkuhan."
"Beneran?"
"Iya, Sayang. Emang kamu pernah lihat aku mengangkat telfon sembunyi-sembunyi atau kamu pernah lihat sikap aku yang mencurigakan, enggak kan?" tanyanya.
"Enggak sih. Tapi ... coba aku lihat KTP mu."
Gavin pun memberikan dompetnya ke Vero, Gavin beryukur ia belum sempat mengubah status di KTPnya, dan sampai sekarang masih status single atau belum menikah. Jadi ia santai-santai aja saat Vero meminta KTPnya. Dulu pernah Anabelle beberapa kali meminta dirinya untuk mengubah status KTP nya, tapi ia gak sempat karena terlalu sibuk. Jadinya sampai sekarang, masih status single.
Vero menerima dompet itu dan melihat isinya, di sana hanya ada uang cas lima ratus ribu, sama beberapa kartu ATM, SIM dan KTP serta beberapa kartu lainnya.
Vero juga melihat kartu KTP itu, dan tak ada yang mencurigakan. Ia pun menaruh kembali KTP itu ke dalam dompet dan memberikannya ke Gavin.
"Sudah percaya?" tanya Gavin sambil menerima dompetnya kembali.
"Iya. Maaf ya, aku hanya takut Mas itu jadiin aku selingkuhan. Aku gak ingin reputasi aku jelek karena aku di anggap pelakor."
"Iya, Sayang. Aku ngerti. Kamu itu wanita satu-satunya di hati aku."
"Beneran?"
"Iya, dong."
"Oh ya, Mas. Ana itu menurut kamu orangnya gimana?" tanya Vero.
"Cantik, baik," jawabnya.
"Jadi cuma Ana nih yang cantik?" tanya Vero cemberut.
"Kamu jauh lebih cantik dong. Emang kenapa kamu bahas dia?"
"Ya gak papa sih. Aku cuma heran aja, kenapa wanita secantik Ana masih saja di selingkuhin. Emang dia kurangnya apa coba, dia cantik, mandiri, baik, ramah, bahkan aku rasa dia sangat perfect sebagai seorang wanita. Aku jadi penasaran, seperti apa suaminya sampai dia tega menyelingkuhi Ana. Apa dia setampan Mas Gavin?" tanyanya membuat Gavin menoleh ke arah Vero.
"Kok aku di bawa-bawa?" tanyanya.
"Hehe, aku cuma heran dan penasaran suami Ana itu seperti apa. Anehnya, Ana juga masih membela dan memuji selingkuhan suaminya. Kalau aku jadi Ana, pasti aku akan melabrak selingkuhannya itu. Walaupun dia emang gak salah seratus persen sih, kan dia gak tau pacarnya itu ternyata suami orang. Tapi tetap aja salah karena gak mencari tau tentang pacarnya , iya kan?" tanya vero lagi.
"Iya sih, tapi entahlah kenapa aku kepo begini, biasanya loh aku gak kayak gini. Tapi entah kenapa aku selalu tertarik sama kehidupan Ana. Kayak ada sesuatu yang menarik perhatian aku. Tapi aku gak tau apa. Oh ya, Mas. Kok tadi Mas diem aja sih, bukannya Mas mau mengajak Ana kerjasama ya? Kok malah bungkam gitu?"
"Aku emang pengen ngajak dia kerjasama, tapi kurang etis aja rasanya kalau kita bahas di tempat seperti itu, terlebih kan niat kita ke sana buat sarapan pagi, bukan buat bahas bisnis."
"Iya juga sih, lagian kita juga buru-buru kan. Nanti kalau bahas bisnis, malah bisa berjam-jam, kita bisa bisa gak jadi ke Villa."
"Nah itu kamu tau."
Setelah itu, mereka pun saling diam, Vero menatap ke luar jendela sambil mendengarkan musik yang di putar. Sedangkan Gavin memikirkan masalah Anabelle, rasanya dia merasa gak enak karena harus pacaran di depan istrinya itu. Entah apa yang di rasakan Anabelle melihat dirinya bersama Vero.
Gavin jadi ingat, saat ia menonjok Alvaro hanya karena melihat mereka makan bersama. Lalu bagaimana dengannya, yang bukan hanya makan bersama tapi juga mengajak Vero ke Villa. Bukankah rasa sakit yang di rasakan oleh Anabelle berkali-kali lipat. Tapi kenapa Anabelle terlihat biasa aja dan acuh tak acuh. Benarkah jika Anabelle tak lagi mencintainya, hingga dia pun tak masalah jika suaminya jalan sama wanita lain.
Entah kenapa hati Gavin sakit sekali, ia masih berharap Anabelle masih mencintainya dan menjadikan dirinya laki-laki nomer satu di hatinya.
"Mas Gavin kenapa?" tanya Vero tiba-tiba.
"Emang aku kenapa?" tanya balik Gavin.
"Kok wajahnya sendu gitu. Mas Gavin ada masalah?"
"Enggak kok, enggak ada."
"Tapi Mas Gavin kayak punya beban berat banget."
"Mungkin hanya perasaan kamu aja"
"Masak sih, tapi Mas Gavin itu gak kayak tadi pas jemput aku, kalau tadi kan wajahnya ceria banget walaupun masih terlihat mengantuk. Tapi sejak di resto tadi, wajah Mas Gavin kayak sendu, dan seperti punya beban. Ada apa? Cerita sama aku. Siapa tau aku bisa bantu."
"Enggak ada apa-apa, Sayang. Kalau aku emang punya masalah, aku pasti cerita sama kamu."
"Beneran?"
"Iya. Kan selama ini selalu gitu, kalau aku ada masalah, aku pasti cerita."
"Iya juga sih. Tapi masih lama."
"Iya, dua jam lagi sampai."
"Huefft ... Mas capek gak nyetirnya, kalau capek biar gantian sama aku."
"Enggak kok, aku gak capek. Kan cuma nyetir aja, gak ngapa-ngapain. Nanti misal aku capek, aku akan berhenti di kafe, atau resto buat istirahat bentar."
"Okay."
Setelah itu mereka lagi-lagi diam dan sibuk dengan fikirannya masing-masing.