Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Alvaro dan Anabelle



Sementara di tempat yang berbeda, saat ini Anabelle tengah makan malam di resto mewah dengan Alvaro. Anabelle menggunakan gaun tertutup berwarna hitam, awalnya pengen memakai warna yang  cerah tapi karena takut menjadi pusat perhatian, jadi ia memilih memakai warna hitam saja, lebih elegant dan juga bagus saat berada di tubuh Anabelle.


Alvaro sendiri, ia memakai celana berwarna navi, baju putih dan jaket warna maroon. Tidak matching sama sekali, namun ia tetap merasa percaya diri dengan tampilan seperti itu, tak lupa jam tangan mewah melingkar di lengan kirinya.


Alvaro sengaja membawa Anabelle ke resto mewah, karena menurutnya Anabelle sangatlah spesial, jadi ia juga ingin membawa Anabelle makan di tempat yang spesial, walaupun harganya sangat mahal sekali, tapi setara dengan tempat dan rasa makanannya yang cukup enak.


Anabelle memilih makanan yang tidak tinggi lemak, karena hari ini ia ingin menurunkan berat badannya, tadi sebelum berangkat, ia sempat menimbang berat badannya dan benar saja, naik dua kilo.


"Kok cuma pesan itu?" tanya Alvaro heran.


"Iya, lagi diet," jawabnya tersenyum malu.


"What?" Alvaro kaget, sejak ia kenak, baru kali ini, ia mendengar Anabelle diet.


"Kenapa?" tanya Alvaro.


"Apanya yang kenapa?" tanya balik Anabelle tak mengerti.


"Kamu kenapa harus diet segala, padahal kamu kurus gitu?" tanyanya.


"Ah itu, tadi aku nimbang, terus berat badan aku naik dua kilo, aku takutnya kalau di biarkan terus menerus, bisa-bisa badan aku bengkak dan malah susah nurunin berat badannya," jawab Anablle.


"Astaga, padahal menurut aku kamu gemuk dikin makin bagus lo." ujar Alvaro jujur.


"Tapi akunya gak PD."


"Kurus gak harus diet, cukup olah raga aja di pagi hari, selain bisa nurunin berat badan juga bisa bikin badan sehat. Kamu kapan terakhir olah raga?" tanyanya.


"Sudah lama," sahut Anabelle.


"Mulai besok kamu harus rutin olah raga lagi, bukan mau memerintah, tapi ini demi kebaikan kamu sendiri, kalau kamu  rutin olah raga, badan fit, dan gak mudah sakit," tutur Alvaro dan Anabelle pun menganggukkan kepala.


"Iya," balasnya.


"Iya sudah sekarang pesen apa aja yang kamu mau, gak boleh diet. Cukup rutin olah raga pagi aja," ujar Alvaro dan akhirnya Anabelle pun memesan beberapa yang emang dia mau.


Sambil nunggu makanan datang, mereka pun mengobrol santai.


"Besok aku harus pergi ke Singapure."


"Kenapa mendadak?"


"Iya, ada urusan di sana, sebenarnya mau bilang kemaren, cuma lupa terus."


"Berapa lama?"


"Satu Minggu."


"Baiklah."


"Enggak papa, santai aja. Lagian aku sudah dewasa, so, aku bisa jaga diri baik-baik."


"Syukurlah, tapi misal ada apa-apa, chat aku ya. Aku pasti akan langsung pulang."


"Iya."


"Atau kamu  mau ikut aku ke Singapure? Jadi sekalian nanti kita liburan di sana?"


"Enggak, kalau aku pergi, gimana dengan perusahaan?"


"Kan ada Pak Alan."


"Tetap aja aku merasa gak enak."


"Iya sudah gak papa. Yang penting, kalau ada apa-apa, langsung kabari aku."


"Iya."


Dan saat mereka mengobrol, makanan pun datang. Mereka segera menikmati makanan yang sudah tersaji di hadapan mereka. Selesai makan, tiba-tiba ia ingat ada pasar malam. Saat jalan-jalan sore tadi, ia melihat di lapangan ada banyak permainan di sana, bukan hanya untuk anak kecil saja, tapi juga untuk orang dewasa.


Bahkan tadi sore aja sudah ada beberapa yang standby disana.


"Mas, kita ke pameran malam yuk," ajak Anabelle.


"Pameran? dimana?"


"Gak jauh dari sini, sekitar tiga puluh menitan."


"Iya udah, ayo."


"Kamu gak keberatan?"


"Kenapa aku harus keberatan?"


"Nanti kan kita akan kumpul ma banyak orang di sana."


"Lalu kenapa?"


"Aku takut kamu risih," jawab Anabelle.


"Kenapa aku harus risih, apa karena aku dari kalangan atas?" tanyanya dan Anabelle pun menganggukkan kepalanya.


"Hmm ... dulu aku pernah pergi ke pameran bareng temen aku, dan rasanya sangat seru, walaupun cuma satu kali, tapi aku masih ingat dengan jelas keseruannya. Jadi ayo kita bikin banyak kenangan di sana, dan mencoba semua permainan yang ada di sana."


Melihat Alvaro tidak keberatan, akhirnya Anabelle pun menganggukkan kepala. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan segera menuju ke pameran.


Dulu Gavin sangat ogah saat di ajak ke pameran seperti ini, tapi Alvaro berbeda, ia bahkan terlihat sngt antusias sekali. Dan Anabelle pun merasa nyaman karena Alvaro sejauh ini, selalu memperlakukan dirinya dengan sangat baik.