
Di saat Anabelle menikmati liburannya di kampung halaman orang tuanya, berbeda dengan Gavin. Sudah tiga hari ini ia termenung sendiri. Tiga hari lalu saat ia menonton tivi, ia melihat mantan istrinya yang tengah kencan dengan Alvaro, dia tau laki-laki itu. Karena ia pernah menonjoknya karena melihat waktu itu istrinya tengah makan berdua dengan pria itu.
Ia melihat vidio itu, dan entah kenapa, ia menitikkan air mata. Sudah lama ia tidak bertemu Anabelle, jangakan ketemu, bahkan komunikasih lagi sudah enggak.
Gavin benar-benar menghilang dari kehidupan mantan istrinya dan orang-orang terdekatnya atau orang orang yang pernah mengenalnya.
Ia melihat di vidio itu, Anabelle tanpak tersenyum bahagia. Ia bergandengan tangan dengan pria lain, dengan senyuman yang terus merekah. Siapapun yang melihatnya, pasti bisa menebak. Anabelle nyaman dan bahagia bersama dengan Alvaro. Alvaro pun terlihat seperti sangat mencintai Anabelle, bahkan terlihat dari sorot matanya, bagaimana Alvaro memandang Anabelle bahkan melindungi dia.
"Sekarang kamu sudah menemukan kebahagiaanmu, An. Maafkan aku, karena dulu aku sudah menyakiti kamu berkali-kali, bahkan mengabaikan kamu. Aku juga tidak bisa tega, saat kamu menyuruh aku memilih antara Vero dan kamu. Dan kini, aku hanya bisa menyesalinya. Namun aku gak akan mengganggu kebahagiaan kamu. Aku gak akan mengacaukan kehidupan kamu lagi. Melihat kamu bahagia, aku pun ikut bahagia, walaupun jujur dadaku terasa di tusuk ribuan jarumm. Seperti inikah yang kamu rasakan dulu saat aku dekat dengan wanita lain. Sesakit ini kah yang kamu rasakan saat tau, aku menjalin hubungan dengan Vero. Kenapa rasanya membuat dadaku begitu sakit dan sesak?" tanyanya dengan deraian air mata.
"Aku masih mencintai kamu dari dulu hingga detik ini. Maafin aku, maafin aku yang tidak tau diri, karena masih menyimpan rasa, setelah aku mencampakkan kamu dan menyakiti hatimu." Air mata turun semakin deras, semakin ia menyekanya, semakin deras air mata yang keluar.
Gavin, memukul dadanya yang begitu sesak. Apakah ini yang di namakan, sakit tapi tidak berdarah.
Selama tiga hari itu, Gavin gak bisa tidur, jangankan tidur, ia bahkan tidak mood untuk mengisi perutnya dengan makanan. Tiga hari, ia hanya tidur-tiduran dan hanya bangun saat tiba sholat.
Sebenarnya Gavin harus di rawat, namun Gavin tidak mau dan memutuskan untuk pulang.
Dan kini Gavin pun hanya sendirian di rumah, namun tetangganya sehari tiga kali, mengirim makanan untuknya.
Ya warga sekitar begitu baik bahkan sudah seperti sebuah keluarga, saling membantu satu sama lain. Itulah kenapa, Gavin juga betah tinggal di sini.
Dan kini, Gavin hanya terdiam di kamar. Ia masih mengingat kembali kenangan ia bersama Anabelle dulu, saat masih jadi suami istri. Saat dirinya belum ketemu Vero dan menganggumi sosok artis yang tengah naik daun itu.
Dulu kehidupannya cukup bahagia, Anabelle yang selalu support dirinya dan selalu melayaninya dengan baik. Dia juga tidak seperti istri kebanyakan, yang ngomel saat suami pulang malam, dia juga tidak seperti wanita kebanyakan yang, terlalu kepo dengan kehidupan suaminya di luar sana.
Anabelle memberikan kebebasan dan kepercayaan untuknya, sayangnya ia malah menyalahgunakan kebebasan dan kepercayaan Anabelle, hingga kehancuran menimpa dirinya. Dan kini ia hanya hidup dalam penyesalan dan entah sampai kapan, ia akan terus merasakan hal seperti ini.