Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Berjuang Bersama



Tasya menatap ke arah Bagas yang juga sedari tadi menatapnya, setelah menghela nafas beberapa kali, barulah Tasya mulai buka suara.


"Mas Bagas?" panggilnya.


"Iya," jawabnya yang sudah penasaran sedari tadi, apa yang mau di bicarakan oleh Tasya.


"A ... aku, aku bingung."


"Bingung kenapa?" tanyanya.


"Apa karena aku yang melamar kamu? Kamu bingung mau jawab gimana? Aku gak papa kok, jika kamu nolak aku. Cinta emang gak bisa dipaksakan. Mungkin memang kamu bukan jodoh aku," imbuh Bagas membuat Tasya geleng-geleng kepala.


"Bukan, Mas. Aku gak nolak kamu."


"Itu artinya kamu nerima aku?" tanyanya dengan wajah yang mulai menampakkan wajah bahagia.


"Hmm ... tapi ada satu hal yang harus Mas Bagas tau?"


"Apa?"


"Aku sudah di jodohkan oleh Papaku," ucapnya menunduk sedih. Bagas yang mendengar hal itu pun, merasa tertegun, seperti tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Di jodohkan?" ulangnya.


Tasya menganggukkan kepalanya.


"Iya, aku di jodohkan dengan anak teman Papa aku. Makanya aku bingung. Aku gak tau harus gimana?"


"Iya," jawab Tasya jujur. Mendengar hal itu sudah cukup bagi Bagas.


"Kalau gitu, ayo kita berjuang mendapatkan restu dari Papa kamu," ujar Bagas sambil mendekati Tasya dan duduk di bawahnya. Ia memegang tangan Tasya dan mendongak, menatap wajah Tasya.


"Kamu mau berjuang?" tanya Tasya.


"Ya, demi cinta kita. Aku mau kita berjuang bersama-sama. Aku tau, mungkin tidak mudah mendapatkan restu dari Papa kamu. Tapi aku yakin, dengan kekuatan cinta kita, dengan keteguhan kita. Lambat laun, akan membuat Papamu merestui hubungan kita. Bagaimanapun seorang Ayah, pasti mengingkan kebahagiaan buat putrinya. Dan bukankah kebahgiaan kamu itu aku?" tanya Bagas dan TAsya menganggukkan kepala.


"Untuk itu, kita tidak boleh menyerah. Dalam menggapai apapun, pasti butuh perjuangan dan pengorbanan. Tapi apa, demi mendapatkan hasil yang baik, yang penting kita bisa bersatu, maka apapun rintangannya, kita harus lalui bersama." lanjut Bagas.


"Tapi Papaku itu sangat keras kepala. Egonya tinggi. Dan dia selalu merasa benar," ujar Tasya.


"Aku tau, mungkin gak mudah meluluhkan hati Papa kamu. Tapi kita gak boleh menyerah, kita harus terus berusaha dan berdoa. Semoga dengan doa yang terus kita panjatkan, bisa meluluhkan hati Papa kamu. Semoga dengan tekat kuat yang kita punya, Papamu bisa melihat jika aku sangat menyayangi kamu, dan Papamu bisa sadar, bahwa kita adalah pasangan yang saling mencintai satu sama lain."


"Baiklah, karena kamu mau berjuang, maka aku pun sama. Ayo kita ambil cuti bareng dan manfaatkan cuti itu untuk membuat Papaku merestui hubungan kita."


"Okay, siap bos. Nanti kita bicarakan masalah ini dengan Anabelle dan Alvaro."


"Iya."


Dan pada akhirnya, Tasya dan Bagas pun saling tersenyum. Karena kini cinta mereka sudah saling berbalas. Namun kebahagiaan mereka masih belum utuh, mereka masih harus berjuang sekali lagi untuk bisa mengantongi restu dari Papa Tasya. Sedangkan untuk orang tua Bagas sendiri, Bagas yakin mereka akan merestui siapapun wanita yang ia pilih. Orang tua Bagas bukan orang tua yang terlalu mengekang anaknya, mereka lebih fokus ke bahagiaan putranya, dan tidak mendengarkan apa kata orang. Selama anaknya bahagia, maka mereka pun juga ikut bahagia. Dan mereka akan terus mendukung apapun keputusan Bagas, karena mereka percaya, Bagas pasti sudah memikirkan semuanya, sebelum mengambil keputusan yang penting dalam hidupnya.


Bagi mereka-orang tua Bagas. Adalah mendoakan yang terbaik buat putranya. Dimanapun Bagas berada, semoga ada dalam lindungan Tuhan.


Kadang Bagas sangat bangga, lahir dari orang tua yang selalu memberikan kebebasan buat putranya.