Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Vero Vs Anabelle Vs Gavin



Tiga bulan sudah, Vero tinggal di Villa. Namun tak ada keluarganya yang datang mengunjunginya, namun Vero setiap bulan masih rutin untuk mengirim uang kepada orang tua dan saudara-saudranya. Tak peduli, mereka masih menyayangi Vero apa enggak, setelah apa yang terjadi. Vero tetap akan menjadi anak yang patuh.


Ia akan terus membantu keuangan keluarganya dan memanjakan mereka dengan banyak uang. Walaupun ia bukan lagi artis yang terkenal, namun Vero masih punya pendapatan setiap bulannya. Dan dari sanalah, Vero bisa mengirim uang buat keluarganya dan untuk menghidupi dirinya sendiri serta membayar upah Bik Sumi dan Pak Darto.


Sedangkan Verly, ia akan datang sebulan sekali atau dua kali untuk mengunjungi Vero dan membawakan Vero banyak makanan. Sesekali Verly akan menceritakan kehidupannya. Banyak suka duka yang ia dapati selama menjalani pekerjaannya. Dan Vero hanya bisa memberikan dukungan kepada mantan asistennya itu yang kini sudah menjadi sahabat satu-satunya.


Vero pun juga menceritakan tentang kehidupaannya sejak tinggal di Villa ini. Verly yang mendengarnya pun ikut senang, karena Vero tak lagi depresi seperti dulu, saat dimana banyak berita yang menayangkan dirinya sebagai orang ketiga dalam hubungn Gavin dan Anabelle.


Kini Vero sudah tak lagi memperdulikan para warganet dan hanya sesekali aja megang HP, itu pun untuk nelfon seseorang. Selebihnya ia memilih untuk meninggalkan hpnya di kamar.


Dengan begini, Vero tak lagi merasa tertekan. Dan lebih menikmati hidup yang ia jalani.


Sedangkan Farhan, Ia datang setiap hari Minggu. Karena hari Senin sampai Sabtu, ia punya banyak pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Hubungan Vero dan Farhan juga semakin dekat. Farhan selalu memberikan bungka dan coklat berbentu love setiap kali datang ke Villa. Farhan seakan ingin menunjukkan perasaannya pada Vero, jika ia mencintai Vero. Sayangnya, Vero yang tau akan hal itu, memilih untuk pura-pura tidak tahu.


Bagaimanapun saat ini, ia masih belum siap menjalani hubungan lagi. Terlebih di sudut hatinya yang paling dalam, ia masih mencintai Gavin. Namun Farhan tak akan menyerah begitu saja, ia akan membuktikan jika dirinya layak mendapatkan cinta dari Vero. Farhan tidak akan mengeluarkan banyak kata, cukup dengan tindakan saja. Ia yakin, lambat laun, Vero akan membalas cintanya dan mereka akan hidup bahagia.


"Ver," panggil Farhan dari telepon.


"Iya, Mas," jawab Vero. Saat ini, Vero tengah duduk santai di sungai pinggir Villa. Kakinya ia ayun-ayunkan ke air jernih yang mengalir dengan tenang. Vero sengaja membawa Hp jadul, HP dengen merek nokia yang hanya bisa buat sms dan telfonan. Sedangkan Hp dengan Merek Apple, ia taruh di kamarnya.


"Besok aku akan datang ke Villa. Kamu mau aku bawakan apa?" tanyanya.


"Emmm ... aku gak pengen sesuatu, Mas. Cukup kamu aja yang datang."


"Kamu yakin, gak pengen sesuatu?" tanyanya sekali lagi, memastikan.


"Baiklah. Tunggu aku besok ya. Aku akan datang ke sana."


"Iya, Mas."


Dan mereka pun mengobrol santai, Vero sesekali tersenyum saat Farhan membicarakan hal-hal yang lucu.


Ada kalanya, Vero merasa nyaman, hanya saja ia belum mencintai Farhan untuk saat ini.


Di saat Vero mulai dekat dengan Farhan, dan Anabelle juga dekat dengan Alvaro. Berbeda dengan Gavin, ia masih sendiri dan masih menata kehidupannya.


Gavin tinggal di pinggiran kota. Ia membeli rumah dengan ukuran tujuh kali dua belas meter. Hanya satu lantai dengan dua kamar, ada dapur, ruang tamu, ruang keluarga dan taman kecil di belakang rumah dan di depan rumah.  Gavin juga punya sepeda motor sebagai kendaraannya. Tak ada mobil mewah, tak ada rumah mewah, tak ada fasilitas mewah, ataupun barang-barang brandet. Namun Gavin juga sangat menikmati hidupnya saat ini.


Rumah yang Gavin tempatin pun juga tak jauh dari masjid, Sehingga Gavin bisa sholat lima waktu di masjid. Ia gak pernah ketinggalan untuk sholat berjamaah bersama warga yang lain.


Gavin juga membuka usaha kecil-kecilan, karena rumahnya tak jauh dari Sekolah SD dan SMP. Jadi, Gavin menjual alat-alat tulis dan juga membuka foto kopi. Pendapatannya emang sedikit, namun cukup buat memenuhi kehidupannya.


Gavin juga dekat dengan tetangga kanan kiri, sesekali Gavin akan ikut mereka untuk mancing dihari libur. Tak ada lagi wajah somboh, ataupun angkuh. Kini Gavin terlihat lebih ceria dan lebih ramah pada semua orang.


Jika ada rezeki lebih, Gavin juga akan membeli sembako dan memberikannya kepada tetangga yang hidupnya serba kekuranngan. Yah, di daerah sana, masih ada beberapa yang hidupnya memprihatinkan. Untuk itu, Gavin sesekali datang ke tempat mereka untuk memberikan beras dan sembako lainnya, seperti minyak, telur, mie, bumbu dapur dan sayuran serta beberapa daging agar bisa mereka makan.


Uangnya memang tidak berlebih, namun Gavin masih bisa berbagi dengan mereka. Dan setiap kali berbagi, Gavin merasa tenang dan bahagia karena bisa membantu orang-orang di sekitar. JIka dulu Gavin tidak terlalu peduli dengan kehidupan orang lain, namun kini ia mulai memperdulikannya. Ia merasa menjadi manusia yang berguna karena bisa bermanfaat buat orang-orang di sekitar. Berbeda dengan dulu, punya banyak uang pun namun hidupnya tidak tenang, mungkin karena kurang rasa syukur.