
Vero tengah melakukan adegan dengan lawan mainnya, sedangkan Verly, ia menatapnya dari jauh, ia merasa sangat bangga dengan Vero, karena actingnya terlihat sangat natural sekali, tidak di lebih-lebihkan. Bahkan seperti adegan nyata. Farhan pun juga ikut melihatnya sebentar, karena ia masih ada waktu untuk melihat Vero syuting. Namun tiba-tiba saja, Hpnya berbunyi. Verly melihat ke arah Farhan yang tengah mengambil Hpnya dan menggeser warna hijau ke atas, gak lama kemudian, Farhan menaruh hpnya di deket telinga.
"Ada apa?" tanyanya dengan suara datar.
" .... "
"Apa? Gavin mengintai Anabelle di depan kantornya," ulang Farhan tak percaya, kenapa Gavin mengintai Anabelle. Verly yang gak sengaja curi dengar pun beralih menatap ke arah Farhan yang tengah serius menelfon.
" .... "
"Jadi, Gavin sengaja buntutin Anabelle?" tanyanya lagi.
" .... "
"Okey, kalau gitu pantau terus dan cari hubungan mereka berdua. Aku yakin, mereka ada hubungan spesial, gak mungkin jika Gavin sampai rela menunggu berjam-jam dan membuntuti Anabelle kalau gak ada sesuatu."
" .... "
"Okey, kamu terus cari tahu tentang mereka. Dan segera lapor jika ada perkembangan."
Dan setelah itu, Farhan pun menutup telfonnya begitu saja.
"Kamu lagi mencari tau tentang Gavin?" tanya Verly.
"Iya, aku yakin jika Gavin itu sudah menikah. Aku gak mau Vero di bodoh-bodohi terlalu lama," jawabnya dengan gamblang.
"Sebenarnya aku juga curiga dari awal," ujar Verly.
"Curiga kenapa?" tanya Farhan.
"Kayak ada yang gak beres aja, beda aja gitu rasanya lihat Gavin setiap kali menghampiri Vero. Apalagi sejak kedatangan Anabelle yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan Vero. Mereka seperti saling berkaitan, hanya saja Vero gak merasakan karena dia terlalu cuek dan terlalu percaya pada orang lain, gak mudah menaruh curiga," ucap Verly.
"Ya, kamu benar. Vero terlalu baik, hingga mudah di manfaatkan oleh orang lain. Untuk itu, kita harus bantu Vero, jangan sampai karir Vero hancur gara-gara masalah ini," tutur Farhan dan Verly mengangguk setuju.
"Ya, aku pasti akan membantu Vero sebisa aku," ujar Verly yang juga gak mau karir yang di bangung oleh Vero hancur begitu saja.
"Aku harus pergi dulu karena ada urusan, kalau ada apa-apa sama Vero, langsung hubungi aku."
"Okey, siap."
Dan setelah itu, Farhan langsung pergi dari sana. Sedangkan Verly masih menatap Vero yang tengah beradu acting.
Keesokan harinya, Anabelle berangkat kerja dengan Tasya. Anabelle memilih untuk nyantai, sehingga Tasyalah mendapatkan bagian mengemudi hari ini.
"Kita makan di mana?" tanya Tasya, karena mereka belum ada yang sarapan pagi.
"Di kafe aja deket kantor," jawab Anabelle.
"Okay."
"Kemaren aku di ikuti sama Mas Gavin."
"What? Saat kamu pulang kantor?" tanyanya.
"Iya, untungnya aku sadar, jadi aku langsung tancap gas dan memanfaatkan skill mengemudiku, aku sampai nerobos lampur merah, dan yah akhirnya aku selamat dari Mas Gavin, karena dia terjebak lampu merah dan gak bisa nyusul aku."
"Syukurlah, kamu harus hati-hati lagi.. Jangan sampai gegabah."
"Iya. Kemaren gimana makan malamnya?" tanya Anabelle, karena tadi malem Anabelle tidur duluan dan tadi pagi saat bangun, ia sudah melihat Tasya yang sudah selesai mandi dan senyam senyum sendiri main hp.
"Jam sepuluh aku sudah ada di rumah, tapi aku lihat kamu tidur nyenyak jadi aku gak ganggu, langsung masuk kamarku sendiri."
"Masih belum ada perkembangan dari hubungan kamu?"
"Belum, tapi aku suka yang seperti ini, lebih nyaman aja buat aku."
"Syukurlah kalau kamu nyaman dengan hubungan seperti ini. Aku harap kamu dan Bagas berjodoh dan tidak mengalami hal seperti yang aku alami."
"Iya."
Tak terasa mereka pun sudah sampai di kafe dekat kantor, Tasya dan Anabelle segera turun dari mobil untuk memesan makanan, mereka tidak boleh melewatkan sarapan atau pekerjaannya akan tertunda karean rasa lapar yang menghambatnya.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Tasya dan Anabelle memainkan hpnya. Tasya yang sibuk chatan dengan Bagas yang sudah tiba di kantor lebih dulu sedangkan Anabelle sibuk chatan dengan Alvaro yang berjanji nanti siang akan ke kantor buat menemui Anabelle sekaligus membawakan makan siang buat mereka. Siapa lagi kalau bukan Tasya dan Bagas.
Saat makanan datang, barulah Tasya dan Anabelle mulai menyantap makanan mereka. Namun tiba-tiba saja, mereka di kagetkan dengan kedatangan Farhan.
"Anabelle," panggil Farhan.
"Loh Mas Farhan, makan di sini juga?" tanyanya.
"Iya, boleh aku gabung. Soalnya aku gak enak makan sendirian?" tanyanya sopan.
"Boleh-boleh, bisa kebetulan gini. Vero sama Verly mana?" tanya Anabelle sambil menggeser tempat duduknya.
"Mereka gak ikut, masih ada di apartemennya. Maklum tadi pulang jam empat pagi, mungkin mereka masih tidur, setelah dari kemaren siang mereka syuting, dan baru berakhir pagi ini," ujar Farhn menjelaskan. Memang banyak gambar dan vidio yang di ambil, jadinya memakan waktu yang cukup lama. Dan nanti akan ad syuting lagi tapi jam tiga sampai jam sebelas malam.
"Oh, gitu. Mau saya pesankan makanan?"
"Enggak usah, saya bisa pesan sendiri," tolak Farhan secara halus karena gak mau ganggu makan Anabelle.
"Oh, okay." Anabelle pun tak memaksanya, ia memilih menikmati hidangannya begitupun dengan Tasya.
"Anabelle katanya kamu sudah menikah ya? Maaf jika aku ikut campur, aku gak sengaja denger saat Vero dan Verly membahas kamu waktu itu," ucap Farhan. Ia sudah memesan makanannya dan tinggal menunggu di antarkan pesanannya.
"Iya," jawab Anabelle pendek.
"Oh, untung aku gak jatuh cinta sama kamu terlalu dalam," dustanya membuat Anabelle dan Tasya melongo mendengar ucapan Farhan. Mereka meantap Farhan dengan alis berkerut.
"Iya, awalnya aku menyukai kamu, tapi setelah tau status kamu, akhirnya aku mundur, aku gak mau merusak rumah tangga kamu," ujarnya.
"Rumah tangga saya sudah rusak dari dulu," ucap Anabelle tanpa sadar.
"Kenapa?" tanyanya.
"Siapa yang mau bertahan jika suaminya tukang selingkuh," tuturnya, Tasya menginjak kaki Anabelle membuat Anabelle kesakitan.
"Aw."
"Kenapa, An?" tanya Farhan panik gara-gara Anabelle teriak.
"Enggak, papa, lidah saya kegigit mungkin karena makan sambil bicara," bohongnya membuat Farhan tak enak hati.
"Maaf," ucap Farhan dan gak ngajak bicara Anabelle lagi taku jika Anabelle nanti gak sengaja menggigit lidahnya sendiri.
Sedangkan Anabelle menatap tajam ke arah Tasya, karena Tasya dengan sengaja menginjak kakinya sampai sakit. Namun Tasya yang di tatap tajam seperti itu, malah terlihat cuek dan biasa aja.
Setelah pesanan Farhan datang, Farhan pun ikut makan. Sehingga kini mereka benar benar tak ada yang saling bicara dan sama sama menikmati hidangan yang ada.
Setelah selesai makan, Anabelle dan Tasya pamit lebih dulu karena harus bekerja, tak lupa mereka membayar lebih dulu makanannya sebelum pergi dari sana.
"Kamu kenapa sih, nginjek kaki aku kenceng banget, sakit tau gak," ucap Anabelle kesal saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kamu gak perlu jawab jika orang lain menanyakan tentang masalah kehidupan pribadi, kamu gak perlu cerita ke banyak orang tentang permasalahan rumah tangga kamu, Bell," geram Tasya.
"Maaf, tadi aku keceplosan," balas Anabelle merasa bersalah.
"Mas Farhan tadi seakan sengaja memancing kamu, kayaknya dia mulai curiga sama kamu dan Gavin. Bagaimanapun dia itu manajer Vero, tentu dia akan cari tau tentang pacar Vero, yang tak lain suami kamu. Kayaknya dia menaruh curiga sama kamu."
"Curiga kenapa?"
"Ya mana aku tau, mungkin dia tau hubungan kamu sama Gavin. Entahlah, aku gak bisa nebak-nebak, takut salah juga," sahut Tasya.
Anabelle memilih diam, dia juga bingungĀ mau ngrespon gimana. Tak lama kemudian, mereka pun sudah sampai di depan kantor. Anabelle dan Tasya segera turun dari mobil dan memasuki kantor tempat mereka bekerja menghasilkan pundi pundi uang.