
Vero pergi dari sana dengan deraian air mata, ia benci, benci pada dirinya sendiri yang lemah seperti ini. Jujur, ia masih sangat mencintai Gavin, hanya saja ia gak bisa bertahan dengan hubungan ini, ia gak mau melukai Anabelle terlalu dalam. Walaupun mungkin Anabelle sudah tak lagi mencintai Gavin, tetap saja, ia tak bisa meneruskan hubungan ini. Hubungan yang sudah membuat hati wanita lainnya terluka karenanya.
Vero pergi ke kantor Anabelle, ia ingin meminta penjelasan kenapa Anabelle menyembunyikan semuanya darinya. Andai ia tau dari awal, mungkin sudah dari dulu, ia memilih untuk memutuskan Gavin. Bukan malah mempertahankannya sampai detik ini.
Sesampai di depan kantor Anabelle, Vero langsung turun gitu aja. Sayangnya kedatangannya, tidak membuahkan hasil karena ternyata saat ini, Anabelle tengah pergi karena ada urusan di luar kantor dan gak tau kapan pulangnya. Vero pun mencoba menelfon nomer Anabelle tapi nomernya gak aktiv, akhirnya Vero memilih untuk menunggu di sana. Menunggu di dalam mobil berharap jika Anabelle segera pulang. Ia gak akan tenang, jika ia belum meminta maaf sama Anabelle setelah apa yang terjadi.
Saat Vero tengah menunggu, hpnya berdering, ada telfon dari Verly. Vero pun segera mengangkatnya.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Kamu dimana?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Vero.
"Di depan kantor Ana."
"Ngapain?"
"Pengen ketemu Ana."
"Oh, kamu kapan pulang?"
"Enggak tau."
"Kok gak tau,"
"Ana gak ada di kantornya, nomernya juga gak aktiv."
"Terus kamu nunggu di mobil gitu?"
"Hm."
"Mau sampai kapan?"
"Sampai Anabelle kembali ke kantor."
"Bagaimana jika dia gak kembali?"
"Jika sampai sore dia gak balik, aku akan pergi ke rumahnya."
"Emang kamu tau rumahnya?"
"Tau, Anabelle pernah bilang ke aku."
"Enggak usah. Mas Farhan masih ada di sana?"
"Dia sudah pulang dari tadi, ada urusan katanya."
"Hm."
"Gimana dengan Gavin?"
"Aku sudah putus dengannya?"
"Benarkah?"
"Ya. Emang kamu berharap aku gimana? Bukankah itu yang kamu mau. Aku putus dengan Gavin."
"Iya sih, aku gak suka kamu berhubungan dengan pria seperti dia. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik."
"Ya, I know. Aku juga tak mau buang-buang waktu untuk terus berkencang dengan pria tak setia seperti dia."
"Syukurlah. Aku tutup dulu telfonnya, kalau ada apa apa, segera hubungi aku. Atau jika kamu kesepian, kamu telfon aku, aku akan segera meluncur ke sana."
"Iya."
Dan setelah itu panggilan pun terputus. Vero menaruh hpnya gitu aja, ia mendengarkan musik sedih yang menggambarkan isi hatinya.
Vero menangis, kenapa dalam hal percintaan, dia selalu gagal. Apakah dirinya emang gak pantas di cintai?
Tuhan ...
Aku hanya ingin di cintai dengan tulus, kenapa susah banget. Kenapa susah banget menemukan laki laki yang tulus yang mencintai aku?
Saat Vero tengah menangis, ia melihat Anabel turun dari mobil bersama Alvaro.
Vero pun segera turun dari mobil dan menghampiri Anabelle yang ingin memasuki kantor.
"An," panggil Vero. Merasa ada yang manggil namanya, Anabelle menoleh ke asal suara dan ia melihat Vero yang tengah menghampirinya dengan mata yang sembab.
"Al, kamu duluan ya. Aku mau menemui Vero dulu," tutur Anabelle, Alvaro menganggukkan kepala, lalu masuk ke dalam. Lagian ia gak mau menganggu pembicaraan para kaum hawa.