Anabelle - Love and Regret

Anabelle - Love and Regret
Talak Dari Gavin



Anabelle merasa bahagia setelah akhirnya ia lepas dari pernikahannya dengan Gavin. Ia sudah memegang surat cerainya, dan yang bikin ia senang karena Gavin memberikan sebuah cek senilai lima milliar. Dan uang itu bisa ia gunakan untuk memperbesar usahanya. Yah, Anabelle tak akan menolak uang itu karena memang Gavin memberikannya dengan sukarela bukan dirinya yang minta. Bukankah rezeki tidak bisa ditolak. Tapi entah kenapa, di sudut hatinya yang paling dalam, Anabelle merasa sedih. Seperti ada sesuatu yang hilang darinya.


"Aku kenapa? Seharusnya aku bahagia, tapi kenapa hatiku terasa sakit dan nyeri?" tanya Anabelle pada dirinya sendiri.


"Aku gak mau nangis, tapi kenapa air mata ini keluarĀ  dengan sendirinya. Kenapa hatiku sakit?" Anabelle menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


Anabelle tau jika kini Gavin sudah jatuh bangkrut, perusahaan, pabrik, rumah, mobil dan semuanya sudah di jual habis tak tersisa. Sebenarnya ada rasa kasihan dalam dirinya, ia gak tega saat tau jika Gavin menjual semuanya tanpa sisa. Namun saat mengingat pengkhianatan yang Gavin lakukan padanya, membuat hati Anabelle membeku. Ia membuang jauh-jauh rasa kasihan itu.


Tapi saat, Anabelle membaca email dari Gavin, lagi-lagi hatinya tersentuh dan menangis. Terlebih saat pengacarnya memberikan ia cek dan surat cerai, hati Anabelle semakin sakit dan nyeri. Ia terus menangis, padahal ia tidak ingin menangis. Namun air mata keluar tanpa bisa ia cegah.


Anabelle bahkan masih ingat dengan jelas isi surat itu.


"Assalamualaikum, Sayangku, Istriku, Wanita yang sangat aku cintai.


Bagaimana kabar kamu hari ini? Aku harap kamu baik-baik aja ya.


Sayang, aku cuma mau bilang sama kamu. Aku, Gavin Pranata. Ingin meminta maaf atas semua kesalahan aku selama ini.


Aku ingin minta maaf, atas apa yang aku perbuat selama ini.


Aku minta maaf karena sudah mengkhianati kamu, menghianati cinta kita dan mengkhianati pernikahan suci kita.


Aku minta maaf, Sayang. Karena aku sudah terbuai akan kecantikan wanita lain, sampai aku melupakan dirimu, istriku.


Sayang, aku telah menyadari kesalahan yang sudah aku perbuat.


Dan semakin aku mengingatnya, aku semakin merasa malu sama kamu dan Vero. Aku malu karena aku sudah menyakiti kalian berdua.


Kalian adalah korban dari keegoisan aku.


Maafin aku, karena imanku yang terlalu lemah, aku mudah tergoda oleh kemolekan wanita lain. Maafkan aku, yang sudah terjerat hawa naf su hingga membuat kamu tersakiti.


Maafin aku sayang.


Aku sangat menyesal. Aku memahami kemarahan kamu dan Vero. Aku sadar, terlalu banyak kesalahan yang telah aku lakukan. Aku terlalu sombong, aku terlalu memuja harta dan wanita cantik.


Kini, Tuhan sudah mengambil semuanya dariku.


Namun aku tidak menyesalinya. Yang aku sesali hanya satu, aku yang sudah menanamkan luka di hati kamu hingga kamu menderita karenaku. Itu yang aku sesali.


Sayang, setelah apa yang terjadi. Aku menyadari kesalahan aku selama ini. Untuk itu, aku menerima gugatan cerai darimu. Aku gak akan menghalang-halangi kamu untuk berpisah dariku. Aku sadar, aku salah. Dan aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu apalagi kesempatan kedua.


Aku akan menerima semuanya dengan lapang dada. Aku akan pergi jauh dan memulai semuanya dari nol. Aku akan mencoba untuk memperbaiki kehidupan aku lagi. Selama ini aku sudah jauh dari Tuhanku. Untuk itu, aku ingin mendekatkan diriku sama Tuhan dan fokus beribadah.


Aku juga sudah menjual semua aset hartakku dan untuk uang rumah, aku memberikannya kepadamu karena itu hakmu, Sayang. Aku tidak mengambil sepeserpun dari hasil uang rumah yang kita tempati selama ini.


Sayang, percayalah. Aku sangat mencintai kamu, aku sangat menyayangi kamu, dari dulu bahkan hingga detik ini, rasa cintaku tidak berubah. Aku minta maaf jika selama ini, ternyata rasaku kepada Vero, bukanlah sebuah cinta, melainkan sebuah kekaguman semata. Aku sudah salah mengartikannya selama ini.


Sayangku, Anabelle ...


Terima kasih sudah hadir dalam hidup aku.


Terima kasih karena selama kita bersama, aku selalu puas dengan semua pelayanan darimu.


Kamu begitu pandai memperhatikan aku sedetail mungkin, dari baju kerja, sarapan pagi, bekal makanan dan kamu pun selalu menyempatkan waktu, untuk mendengar segala keluh kesah aku. Kamu tidak pernah mengeluh dengan semua sifat-sifat aku selama ini.


Kamu selalu mengalah dan selalu mengutamakan aku dan menjadikan aku perioritas dalam hidupmu.


Cintaku, Anabelle ...


Saat ini kamu masih sah jadi istriku, karena aku belum mentalak kamu dan hakim pun belum mengetuk palu.


Untuk itu, izinkan aku memanggilmu istriku untuk terakhir kalinya.


Istriku, Anabelle ...


Saat aku membuat surat ini, jujur hatiku begitu sakit.


Ingin rasanya aku menemuimu dan memelukmu untuk melepas rasa rinduku, dan rasa sesak yang ada di hati ini.


Namun, aku sadar.


Kamu tidak akan memberikan aku kesempatan untuk bertemu denganmu lagi.


Apalagi mengizinkan aku untuk memelukmu tuk terakhir kalinya.


Anabelle ...


Aku cuma berharap, setelah lepas dariku. Kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu. Aku cuma bisa mendoakan yang terbaik buat kamu, semoga kelak kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari aku, laki-laki yang sholeh, laki-laki yang setia, laki-laki yang tulus mencintai kamu dan laki-laki yang bisa membuat kamu nyaman dan bahagia setiap harinya.


Anabelle ...


Dengan surat ini, aku ingin mengatakan bahwa mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku.


Aku mentalak kamu dengan talak satu. Semoga kamu bahagia dengan laki-laki pilihanmu.


Dariku, mantan suami yang masih mencintaimu.


--


Membaca surat yang di kirim via email itu, air mata Anabelle langsung bercucuran. Ia tak menyangka jika pada akhirnya pernikahannya berakhri dalam sebuah perceraian dan kini ia dan Gavin sudah resmi menjadi mantan. Tak ada lagi tanggung jawab di antara keduanya.


Bahkan sampai detik ini, Anabelle bahkan masing mengingat jelas isi suratnya. Padahal, Anabelle hanya membaca satu kali, namun isi surat itu, seakan begitu lekat di otaknya. Hingga ia pun bisa hafal di luar kepala.


Tasya yang melihat Anabelle menangis pun hanya bisa menghiburnya dengan kata-kata. Bagaimanapun tidak ada wanita yang baik-baik saja setelah bercerai. Sedikit banyak, hatinya pasti akan terluka.


Namun seiring berjalannya waktu, Tasya percaya jika Anabelle pasti akan melupakan rasa sakitnya dan bisa bangkit kembali untuk menata kehidupannya yang lebih cerah.