
Di tempat yang beda, Vero dan Verly yang menonton vidio itu tak menyangka, jika Anabelle akan membela Vero sampai segitunya. Padahal Vero sudah menghancurkan rumah tangga Anabelle, namun Anabelle masih berbaik hati mau membela dirinya dan menerima hujatan dari orang-orang penentang para pelakor.
"Ana, emang orang yang baik. Dia bahkan tidak peduli dengan dirinya sendiri, dia tetap membela kamu, walaupun ia tau, pada akhirnya ia akan menerima caci maki dari sebagian orang yang gak terima karena dia membela selingkuhan suaminya," ucap Verly.
"Iya, aku semakin menyesal kenapa aku begitu bodoh. Andai dulu aku mencari tau Gavin lebih dalam lagi, mungkin kejadian ini tak akan terjadi. Aku seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih orang lain masuk dalam kehidupanku apalagi dengan status sebagai kekasih," ujar Vero.
"Anggap aja ini pelajaran buat kamu ke depannya, agar saat ada yang mengajak kamu pacaran lagi, kamu harus benar-benar memastikan jika dia emang beneran single, belum punya kekasih apalagi istri. Kalau perlu kamu harus menyewa detektif, untuk mencari tau semua tentang laki-laki yang mencoba untuk mendekati kamu lagi. Aku juga mungkin akan melakukan hal yang sama, aku rela mengeluarkan uang banyak, asal aku bisa aman dan tenang saaat menjalani hubungan dengan orang lain," papar Verly.
"Iya, aku setuju. Untung yang jadi istri sah itu Anabelle. Andai wanita lain, mungkin nasib aku gak akan seberuntung ini. Bisa jadi aku sudah jadi bulan-bulanannya bahkan mungkin karir aku pun akan di hancurkan sehancur-hancurnya. Berbeda dengan Anabelle, dia membela aku demi menyelamatkan karir aku. Ais, aku semakin membenci Gavin. Andai dia ada di depanku saat ini, aku ingin sekali menghajarnya sampai puas. Gara-gara dia aku dan Anabelle harus merasakan rasa sakit. Gara-gara kebodohan Gavin, aku harus di cap sebagai pelakor, perusak rumah tangga orang. Padahal aku gak ada maksud seperti itu. Mana kau tau, jika Gavin itu sudah menikah. Huh, bodohnya aku." Vero memukul mukul kepalanya sendiri sangking gemasnya. Karean ia tidak berfikir panjang saat menerima Gavin jadi kekasihnya dulu.
"Aku mau mandi dulu, kamu siapkan aja tempatnya ya," pinta Vero dan Verly pun menganggukkan kepalanya. Vero lalu pergi ke kamar untuk mandi dan Verly menyiapkan tempat buat untuk Vero melakukan live nanti.
Ya, beginilah kalau jadi publik figur. Tidak bisa menyimpan masalah pribadi, semuanya harus di kasih tau ke publik. Kalau sudah gini, enakan jadi orang biasa aja. Punya masalah, tidak sampai dunia tau. paling cukup orang-orang di dekatnya aja atau orang-orang di sekitarnya yang tau permasalahannya.
Beda sama artis, sepintar-pintarnya dia menyimpan rahasia, pasti akan ada aja yang membongkarnya. Apalagi jika ada paparazi yang nakal, yang rela menyamar hanya demi mencari sebuah berita untuk di tayangkan. Tidak peduli, berita itu nantinya akan merugikan pihak lain, yang penting ia dapat bayaran dari berita yang ia peroleh.
Setelah satu jam lamanya, Verly menunggu. Vero datang dengan tampilan biasa aja, memakai kaos warna hitam dan celana panjang yang juga berwarna hitam. Rambutnya di ikat jadi satu, tanpa memakai make up, hanya pembersih wajah, dan lipstik agar tidak pucat. Matanya juga sedikit bengkak tapi walaupun begitu, Vero tetap terlihat cantik, bahkan saat ini, Vero terlihat masih seperti anak SMA. Wajahnya segar dan tubuhnya yang kurus dan putih membuat Vero benar-benar bak seperti seorang remaja.